REVIEW - CHECK OUT SEKARANG, PAY LATER
Check Out Sekarang, Pay Later adalah tontonan menyenangkan, yang secara sengaja terlihat, terdengar, dan terasa murahan. Justru dari situlah filmnya memperoleh identitas kuat. Sayangnya hadir batu sandungan berupa ambisi untuk menjadi suatu hal lain yang memiliki "warna" luar biasa berbeda. Sederhananya, ada krisis identitas.
Ada dua cabang cerita yang awalnya berjalan sendiri-sendiri. Pertama tentang Tina (Amanda Manopo) yang terjerat utang pinjol akibat ketagihan belanja. Rumahnya pun disatroni Sintong (Sastra Silalahi) dan Yopie (Arnold Kobogau), dua penagih utang dari perusahaan Duit Darurat. Cerita kedua adalah soal Mail alias DJ Smile (Devano) yang mendapati adiknya, Adam (Richard Derick), telah ketagihan judol.
Naskah yang ditulis sang sutradara, Ardy Octaviand, bersama Widya Arifianti mengupas peliknya kehidupan manusia urban korban keganasan setan bernama "konsumerisme". Lagu koplo jedag-jedug dan visual "bling-bling" dipakai untuk mencuatkan kenorakan estetika yang sempurna mewakili narasinya. Murah, ringan, kaya warna.
Sampai terjadi tragedi yang saking kelamnya, seolah mengkhianati estetika tadi. Filmnya pun mulai berupaya menyeimbangkan dua tone berseberangan, yang berisiko memancing kebingungan penonton. Saya bingung mesti merasakan apa, saat selepas menumpahkan lelucon bodoh, filmnya segera melempar insiden bernuansa serius.
Caper (begitulah judulnya disingkat atas nama marketing) ibarat dua film yang dipaksa menyatu: komedi farce ringan dan drama humanis yang ingin memotret beratnya hidup generasi masa kini. Benar bahwa alurnya menyimpan relevansi kala membicarakan konsumerisme, juga bagaimana kelas pekerja terjebak skema licik para lintah penguasa. Filmnya lupa bahwa untuk menjadi relevan tidak melulu perlu ada keseriusan.
Cukup disayangkan, sebab begitu memasuki babak kedua, Caper mulai tancap gas dalam menghantarkan hiburan. Kisahnya telah mencapai menu utama tatkala jajaran karakter di atas mulai menemukan persamaan nasib, komedinya pun tak lagi ragu menampilkan peristiwa-peristiwa absurd.
Para pelakonnya paham betul performa seperti apa yang mesti mereka tampilkan. Amanda Manopo sepenuhnya menanggalkan citra glamor demi totalitas berkomedi, Devano di perannya yang paling berwarna, hingga Arnold Kobogau yang tampil berlawanan dengan figur antagonis intimidatif di Timur, semua piawai memancing tawa.
Penonton serial Pay Later (2024), yang kendati punya judul, cerita, pemain, serta kru mirip, tak punya koneksi apa pun dengan Caper, mungkin bakal kecewa mendapati Fajar Sadboy (memerankan Umsky, adik Tina) hanya diberi porsi seadanya, tapi toh si komedian muda mampu memanfaatkan ciri khasnya untuk mencuri perhatian di tiap kemunculan.
Klimaksnya membawa para protagonis melangsungkan misi nekat untuk membajak stasiun televisi yang eksekusinya terlampau disederhanakan, padahal usaha susah payah yang karakternya mesti lalui justru berpeluang diubah jadi wujud hiburan tersendiri.
Setidaknya, seperti yang para pembuatnya harapkan, konklusi Caper kental akan relevansi, kala menyentil kebenaran pahit perihal penguasa yang sampai kapan pun bakal menemukan celah untuk mencurangi rakyat jelata. Tapi di sisi lain, rakyat jelata juga akan selalu mendapatkan jalan guna melawan penguasa.

%20(1).png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar