REVIEW - 5 CENTIMETERS PER SECOND
Jika 5 Centimeters Per Second versi animasi (2007) ibarat kilasan memori-memori, maka adaptasi live action karya Yoshiyuki Okayama ini merupakan medium yang memfasilitasi penonton meresapi momen kala suatu peristiwa terjadi. Pendekatan berlainan tersebut, ditambah kesediaan naskahnya memperkaya cerita gagasan Makoto Shinkai ketimbang patuh begitu saja, berhasil menjustifikasi eksistensinya.
Dibungkus dalam nuansa klasik lewat visual berteksturnya, yang juga piawai menangkap lanskap alam dengan indah termasuk senja ungu khas Makoto Shinkai, filmnya masih menyoroti persinggungan dua hati milik Takaki Tōno (Haruto Ueda memerankan versi bocah, Yuzu Aoki versi remaja, Hokuto Matsumura versi dewasa) dan Akari Shinohara (Noa Shiroyama, Mitsuki Takahata). Sebesar apa pun keinginan mereka menyatu, takdir seolah terus coba memisahkan.
Secara garis besar jalinan ceritanya masih serupa. Masih tentang hidup Takaki, yang selepas perpisahan dengan Akari semasa SD, hanya mengenal kesendirian sendu, kendati seiring waktu matanya pernah beberapa kali berserobok dengan perempuan lain, sebutlah Kanae Sumida (Nana Mori) semasa SMA, maupun Risa Mizuno (Mai Kiryû) yang ditemuinya di lingkungan kerja.
Naskah buatan Fumiko Suzuki secara cerdik bukan mengubah "apa yang diceritakan", tapi bagaimana cerita itu disampaikan. Misal terkait alur yang tidak lagi dibagi jadi tiga segmen pendek, melainkan untaian-untaian panjang yang saling berkelindan dan bertransisi begitu mulus.
Keputusan paling jeli yang naskahnya perbuat adalah membalik struktur materi aslinya. Alhasil, reuni singkat Takaki dan Akari di tengah badai salju, yang memberi ruang putar bagi lagu One More Time, One More Chance yang emosional, ditempatkan di penghujung durasi, memposisikannya selaku puncak emosi di mana penonton sudah dibuat terikat dengan perjalanan berliku dua protagonisnya.
Bermodalkan durasi dua kali lebih panjang (63 menit berbanding 123 menit), guliran di beberapa titik memang agak berlarut-larut, tapi penokohan tiap individu, pula dinamika antara mereka, jadi kian berkembang. Hubungan masa kecil Takaki dan Akari jadi yang paling terdampak, sebab kita diberi lebih banyak kesempatan menghabiskan waktu mengobservasi kebersamaan mereka yang demikian hangat.
Secara individual, Takaki pun bukan lagi laki-laki penuh ragu yang sebatas mengakrabi satu rasa. Kepiluan tetap mendominasi, tapi cakupan emosinya meluas. Sesekali senyum simpul mampir ke wajah Takaki, membuatnya nampak lebih manusiawi. Takaki versi live action bukan laki-laki yang membiarkan kebimbangan mengakar terlampau kuat. Dia cuma manusia biasa yang tak berdaya mengangkangi sang takdir.
Di satu kesempatan, Akari sempat mencuri dengar obrolan dua bocah mengenai peluang pertemuan manusia yang konon hanya 0,0003%. Begitulah yang menimpa dirinya dan Takaki. Kendati fisik keduanya sudah sedemikian dekat, walaupun ada beberapa figur yang dapat menjadi jembatan penghubung, tatkala takdir berkata lain, mereka cuma bisa saling merenggang.
Akari lebih banyak dieksplorasi di sini, membuat 5 Centimeters Per Second versi live action tak lagi jadi cerita perseorangan, melainkan kisah sepasang manusia, yang serupa dua satelit nirawak Voyager 1 dan Voyager 2, meski mengudara dalam waktu berdekatan (16 hari), namun seiring terus terbang menjauh satu sama lain di tengah ketidakpastian luar angkasa, sembari membawa cerita lalu yang kelak mungkin bakal didengar "makhluk asing". Cerita tersebut bukan sebatas kenangan yang mungkin memudar, tapi bagian diri yang telah terpatri abadi.

.png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar