DAERAH TERLARANG (2016)

10 komentar
Saya tahu, pasti kalian semua akan berujar "Ngapain mas mau nonton film ginian?" atau "Dari trailer-nya udah kelihatan bakal jelek". Yes, I know that. Tapi mau bagaimana lagi, sudah jadi tugas saya supaya anda tidak khilaf membuang puluhan ribu rupiah dan 80 menit waktu berharga yang dapat berujung pada ledakan amarah tak terkendali bahkan kegilaan sesaat. Tapi sekali lagi, dengan mengusung slogan "kami tonton supaya kalian tidak menonton", saya  dan sedikit reviewer masokis dari Indonesian Film Critics  bakal selalu meluangkan waktu dan tenaga untuk menonton sajian semacam "Daerah Terlarang" ini. Sajian yang merendahkan nilai-nilai filmmaking.

Bertempat di lokasi syuting film horror, "Daerah Terlarang" bertutur tentang teror pocong di tempat tersebut. Sang pocong bernama Mimin (Mitha Hardiyanti)  jika anda pernah menonton sinetron "Jadi Pocong" yang tayang pada akhir 90-an pasti tahu asal nama Mimin. Pocong Mimin rupanya adalah hantu inkonsisten. Awalnya ia meneror proses pengambilan gambar, muncul di hadapan para pemain seperti duo Hansip, Fico si budek (Fico Fachriza) dan Bedu si tonggos (Bedu), bahkan sempat tertangkap kamera. Namun entah bagaimana Mimin juga menampakkan diri di depan aktor lain yang belum tiba di lokasi. 
Naskahnya ditulis oleh TB Ule Sulaeman ("Bangkit dari Kubur", "Ada Apa dengan Pocong?" yang sejauh ini telah berpengalaman menulis delapan naskah horror termasuk film ini. Tapi nyatanya berbekal pengalaman tersebut, sang penulis masih menghasilkan karya bodoh pula nonsensical. (SPOILER) Modus operandi Mimin adalah muncul, lalu meminta tolong pada korbannya untuk dicarikan cincin miliknya. Lalu di akhir film, Mimin merasuki salah seorang pemain, menunjukkan jalan menuju letak cincin tersebut jatuh. Jadi untuk apa ia meminta tolong kalau tempat hilangnya cincin saja sudah diketahui??? (END OF SPOILER) Bisa jadi saya salah tangkap. Bisa jadi yang merasuki bukan Mimin. Bisa jadi, tapi saya tak peduli. 

TB Ule Sulaeman seperti terlalu malas mengembangkan cerita bagi film berdurasi 80 menit (terasa seperti 180 menit). Bayangkan, film tersusun oleh repetisi sebagai berikut: pocong Mimin menakuti karakter manusia, mereka ketakutan, berteriak lalu pura-pura pingsan, dengan variasi terletak pada tingkah karakter sebelum pingsan. Bisa lari, bisa menambah volume teriakan, bisa langsung pingsan. Begitu seterusnya. Kalau dihitung mungkin sampai 15 kali adegan pingsan baik dengan konteks "pura-pura" maupun sungguhan  walau di tiap situasi para aktor tetap tak sanggup menghadirkan pingsan yang meyakinkan. 
George Hutabarat bertindak selaku sutradara, dan beliau ini pula yang berjasa atas kehadiran satu lagi horror busuk rilisan 2016 berjudul "Video Maut" (read the review here). George memang hebat. Hanya dia sutradara yang mampu dua kali dalam setahun menggerakkan hati saya memberi nilai setengah. Kali ini, sang sutradara mesti menangani horror berbalut komedi, yang mana keduanya gagal berakhir decent. Tanpa memperhatikan timing, hasilnya justru terbalik. Penampakan pocong menghasilkan tawa khususnya akibat desain pocong yang kualitasnya seperti bubur basi, mengingatkan pada "Genderuwo" (2007) milik KKD. Sedangkan gelontoran komedi terdengar mengerikan, membuat saya ingin menutup mata, telinga sampai hidung. Kedua aspek baik penampakan maupun humor hambar hadir bergantian tiap menit tanpa memberi waktu bagi saya untuk menghela nafas.

Menyaksikan akting jajaran pemainnya bak tengah menonton sinetron di layar lebar. Natalie Sarah masih mengandalkan suara pengiris gendang telinga, sedangkan Mohammad Safari paling sempurna membawa gaya sinetron ke film saat diharuskan bicara sendiri mengungkapkan kekesalan hati. Umpatan-umpatan Safari pun kuat memancarkan aura keagungan sinetron. Departemen akting makin kacau nan mengesalkan akibat pembawaan annoying Ryan Febrian terhadap tokoh pria feminin. Paling disayangkan adalah Fico. Komika satu ini nampak berusaha keras mencairkan suasana melalui lawakan-lawakan improvisasi yang sesungguhnya cukup efektif sesekali memancing senyum (the only good thing here). Tapi sebaik apapun Fico, "Daerah Terlarang" memang sudah tak tertolong lagi.


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID

10 komentar :

Comment Page:
Dms Banjarmasin mengatakan...

terima kasih om, supaya kami tidak terjerumus nonton film film gak jelas begini....

Anna B mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
yazuli al amin mengatakan...

Semoga tahun ini ada horor yang bagus....

Ngomong2 ternyata masih ada film Acha yg akan tayang malu2 kucing karya Monti tiwa November nnti

Rasyidharry mengatakan...

Haha doakan terus kuat

Rasyidharry mengatakan...

Ada harapan di "Rumah Malaikat" kok

Yes, "Shy Shy Cat", biar gimana,, Monty tetep menjanjikan

Gilang Apsara mengatakan...

Swiss Army Man, udah nonton bang?

Anna B mengatakan...

Tapi tema "Rumah malaikat" kayaknya mirip The Orphanage dah

Rasyidharry mengatakan...

Selama bagus & bukan carbon copy di eksekusi nggak masalah kok sebenernya

Rasyidharry mengatakan...

Begitu nonton pasti review, just wait :)

atiqoh nur mengatakan...

Bang. Kalau bisa tambahin trailernya. ☺☺