PLAGIARISME OLEH DAPUR SASTRA DAN TEATER STKS (DSTSKS) BANDUNG

23 komentar

UPDATE: Pihak DSTSTKS sudah menyampaikan permintaan maaf resmi di akun instagramnya.

Saya selalu senang hati membantu siapa pun yang ingin berkarya. Dari hal "remeh" seperti lawan diskusi sampai turun langsung dalam proses. Bagi pembaca blog ini mungkin ingat saya pernah posting soal pementasan teater berjudul Yang Terucapkan Saat Kita Mengucapkan Cinta (di sini) Sebuah drama musikal yang naskahnya saya tulis sendiri dan dipentaskan oleh Keluarga Rapat Sebuah Teater 4 Maret 2017 lalu. Info mengenai pementasan ini tentunya saya sebarkan pula di Twitter selaku media promosi. Kemudian pada 19 Maret, akun Twitter @yanuarprastito mengirim DM pada saya. Intinya, dia dari UKM Dapur Sastra dan Teater Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (DSTSTKS) Bandung meminta naskah pertunjukan tersebut dengan alasan alat belajar penulisan naskah. Tanpa ragu saya kirimkan, walau berbentuk draft  awal karena naskah final kebetulan saya simpan di Harddisk eksternal. Berikut isi perbincangan yang bagian awal sebagai "permintaan naskah untuk belajar telah dihapus entah kenapa.
Sekedar informasi, permintaan serupa sudah beberapa kali saya terima untuk naskah-naskah lain, baik lewat media sosial atau mendatangi langsung. Selalu saya berikan. Karena apa? Saya dengan senang hati membantu para penulis naskah yang ingin belajar, sebab sebagaimana kita tahu, termasuk di film Indonesia, naskah kerap jadi kelemahan (bukan berarti naskah saya bagus). Tapi alangkah kagetnya, tengah malam tadi, saya menerima pesan dari Afra Imani Nasution yang mana salah satu sutradara drama musikal tersebut (satunya Arswendi Dharmaputra, keduanya juga turut serta menyempurnakan naskah saya) bahwa DSTSTKS telah mementaskan naskah tersebut pada 23 Mei 2017 tanpa meminta izin saya atau dia, tanpa mencantumkan kredit. Lebih parahnya lagi, poster mereka pun menjiplak logo pertunjukan kami dari KRST (di pojok kiri atas poster kami). Gambar didapat dari akun Instagram @dstks dan @dyahnk_ Bisa kalian lihat kesamaan dan ketiadaan kredit untuk penulis naskah (poster DSTKS di kiri, poster kami KRST di kanan). 
Benar pementasan sudah lewat, tapi poinnya adalah ketiadaan izin dan pencantuman kredit, baik untuk naskah maupun poster. Bukan bermaksud berkeluh kesah, tapi asal kalian tahu wahai anggota UKM DSTSTKS  yang saya harap tidak tumbuh jadi pembuat film kacrut macam Hantu Cantik Kok Ngompol?  naskah tersebut adalah hasil proses panjang. Saya mulai menulisnya sekitar bulan Juli 2016 kemudian baru usai sekitar November. Empat bulan. Dan tahap casting hingga pentas berlangsung empat bulan berikutnya. Itu bukan proses mudah kawan. Delapan bulan bukan waktu singkat. Dan kalian seenaknya mencatut naskah dan poster kami, mementaskannya dua bulan pasca menerimanya? 

Saya tidak akan menolak bila secara layak kalian meminta izin mengadaptasi. Hell, saya bahkan bakal membantu kalau diperlukan tanpa bayaran sepeser pun. Kalian masih muda (dari informasi akun Instagram, rata-rata tim berusia 19-21 tahun). Jalan berkarya kalian masih panjang. Dan seperti yang sutradara kalian, Zulfa Rosyida (@zulfarhs) tuturkan, "Sederhana dalam sikap, kaya dalam karya", kekayaan karya seni sangat mungkin kalian raih ke depannya. TAPI PLAGIARISME ADALAH HAL TERENDAH DALAM BERKARYA! Dari beberapa daftar cast saya melihat ada tokoh baru yang berarti kalian melakukan adaptasi, namun bukan berarti bisa meniadakan izin dan kredit. Kredit itu penting kawan. Bayangkan kalian punya anak, kemudian anak tersebut, buah hati kalian, darah daging kalian, diakui orang lain sebagai anaknya. Bilang kalau kalian bakal santai-santai saja. 

Saya ingin sekali bersumpah serapah. Tapi sudahlah. Kalian masih muda, masih tidak berpikir panjang. Mungkin senior kalian lalai mengajarkan soal ini? Entah. Yang Terucapkan Saat Kita Mengucapkan Cinta berarti banyak bagi saya. Itu naskah terakhir saya bagi Keluarga Rapat Sebuah Teater (KRST) setelah tujuh tahun belajar di sana sebelum saya menyerahkan tugas penulisan pada yang muda. Itu pentas besar (begitu kami menyebut rutinitas tahunan pentas di Taman Budaya Yogyakarta) terakhir saya bersama mereka. Melalui tulisan ini saya hanya berharap respon kalian. Saya tidak akan meminta royalti uang atau apalah. Itu tidak penting. Bukan itu substansinya. Hubungi saya, jelaskan semuanya. Saya mendengarkan dengan kepala dingin. You know where to reach me. Lha minta naskah untuk dijiplak saja bisa, masa mengklarifikasi soal itu tidak? Atau jika pembaca ada yang kebetulan mengenal anggota DSTSTKS mungkin bisa menyampaikan tulisan ini. Kalian "berhutang" bukan pada saya saja, tapi ke lebih dari 50 orang yang terlibat dalam Yang Terucapkan Saat Kita Mengucapkan Cinta

Salam seni, Salam budaya.

23 komentar :

  1. Minta sama tim mas buat di share, kalo perlu masuk di grup trus di share

    Orang kayak gini punya potensi jadi koruptor, tidak tau menghargai, dan percaya, mereka bakal dibelain ama senior sundal mereka.

    Gak suka liat orang kayak gini, sok sok an kerja keras, giliran ada yg mirip naskah curian mereka malah marah

    Percayalah, mereka belum dewasa sama sekali

    Percayalah, mereka berpikir orang paling berpengalaman dalam hal ini

    Pokoknya saya bakal share ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ini masih nunggu respon pihak bersangkutan. Yah ginilah anak kecil kalo kurang diajarin.

      Makasih banyak ya bantuannya :)

      Hapus
    2. "kurang diajarin"

      halus sekali :D

      Hapus
    3. mngkin ente mesti minta komisi, banyak komisi

      Hapus
    4. Nggak apa, toh pentas mereka nggak kasih htm ke pnonton, dan concern saya di sini suh cuma mengajarkan soal copyright. Anggap aja peringatan awal, kalau ke depan ulangi lagi, di industri, mereka yang tanggung :)

      Hapus
  2. saya akan share, biar mempercepat klarifikasi

    emang paling gedek kalo ada plagiat, banyak film indonesia yang plagiat dan film nya sampah dan dicemooh

    tapi liat sweet 20 adaptasi resmi dan standar nya baik, ga dicemooh juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, padahal susahnya apa ambil royalti apalagi kalau bentuknya cuma izin tanpa dana.

      Makasih ya :)

      Hapus
    2. klo gak salah sweet 20 dipuji ama aktor asliny

      Hapus
    3. karena adaptasi resmi jadi kualitas pun terjaga oleh pihak korea nya
      ga asap jiplak kaya yg dulu film yg chelsea islan

      Hapus
    4. Love You Love You Not? Itu resmi juga kok, cuma ya kualitasnya gitu :)

      Hapus
  3. Apakah tidak ingin dibuat efek jera mas? Plagiat itu bisa jadi penyakit yang berkepanjangan jika tidak ada hukuman. IMHO. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti coba dibuat jera. Gimananya tunggu klarifikasi :)

      Hapus
  4. Sabar Bro,....doakan mereka segera tumbuh keberaniannya, serta bertanggung-jawab untuk menjelaskan, dan tentunya meminta maaf, secara tertulis,...Organisasi-nya. maka dengan demikian mereka akan menjadi calon-calon seniman yang jujur dan berani.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyo mas, alhamdulillah sudah ada pernyataan resmi

      Hapus
    2. ntah kenapa ane malah inget Wall of Wallstreet

      Hapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. udah ga sabar nunggu review dunkirk
    pasti nonton sih karna nolan ga mungkinn mengecewakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. setelah baca review

      tetep akan nonton , hanya menurunkan ekspetasi aja
      sama kaya pas nonton interstellar

      mau gimanapun, film nolan menarik ditonton

      Hapus
    2. Nah betul ini. Mau sehancur apa, Nolan pasti menawarkan hal menarik yang perlu ditonton :

      Hapus
  7. mintak ulasan Okja dong bung Rasyid. mengharu ane nyicip tuh pilem.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah sayangnya masih di tempat minim koneksi yang nggak kuat streaming

      Hapus
    2. Anonim10:05 PM

      Klo the age of shadows kenapa ngga di review bang??? Bagus sih menurutku... Film nya Kim jee won yg ngecewain cuma the last stand aja sih...

      Hapus