BEYOND SKYLINE (2017)

16 komentar

Beyond Skyline dibuka saat seorang wanita (Lindsey Morgan) tengah terbaring dalam perawatan, yang identitasnya baru terungkap pada penghujung. Bahkan besar kemungkinan "rahasia" tersebut dapat penonton pahami di pertengahan, ketika tanpa urgensi, sang wanita sekilas muncul lagi, memperlihatkan betapa buruknya naskah buatan Liam O'Donnell yang juga menduduki kursi sutradara. Dan serupa The Brothers Strauese, duo sutradara Skyline, walau O'Donnell bukanlah pencerita handal, kisah fiksi ilmiah mengenai alien kentara merupakan passion-nya.


Itulah mengapa tatkala efek visualnya buruk, O'Donnell mampu mengemas momen invasi secara menghibur, membangkitkan sisi kanak-kanak kalangan penonton seperti saya, yang terobsesi akan makhluk asing berukuran masif. Tidak peduli seberapa besar usaha anggota LAPD bernama Mark (Frank Grillo) untuk melindungi Trent (Jonny Weston) dalam hubungan renggang ayah-anak yang dipaparkan dangkal, perhatian tetap tertuju pada alien pemburu otak manusia dan ibu hamil yang menyerang dengan mecha berwujud monster raksasa. Dalam semangat film kelas B, O'Donnell tak segan menampilkan mereka di siang bolong walau kurang didukung CGI memadahi.
Namun itu hanya penggerak sementara. Perlu jalinan cerita menarik, intensitas, atau aksi seru demi menjaga atensi penonton. Beyond Skyline lemah terkait ketiganya. Alurnya setipis kertas, apalagi begitu Mark dan kawan-kawan singgah di pesawat luar angkasa, berputar di lingkup "Frank Grillo berjalan menyusuri satu per satu ruangan" dan "alien memandangi layar". Sekalinya adegan aksi merangsek, O'Donnell gagal memanfaatkan maskulinitas Grillo, yang kita ingat betul sanggup merepotkan Captain America di The Winter Soldier hingga memikul beban menghidupkan The Purge: Anarchy seorang diri.

O'Donnell bersama sinematografer Christopher Probst kurang cakap mengemas sudut kamera supaya adegan aksi tereskalasi dari sebatas baku hantam generik menjadi sajian pemacu adrenalin. Demikian pula bumbu horor/thriller yang urung mencapai kengerian tinggi sebagaimana dijanjikan momen klaustrofobik sewaktu Frank dan Audrey (Bojana Novakovic) menerima pesan misterius untuk jangan menatap sinar. Bicara soal Bojana Novakovic, sayangnya sang aktris kerap melucuti potensi tensi akibat akting kaku dengan teriakan-teriakan yang tidak jelas maksudnya. 
Penulisan O'Donnell tambah berantakan tatkala coba melebarkan mitologi, seperti ketiadaan paparan mengenai otak manusia yang dapat melawan kontrol alien. Bahkan guna mencapai titik terbaik film, tepatnya saat setting berpindah ke Laos (pengambilan gambar dilakukan di Yogyakarta dan Batam), Beyond Skyline harus terlebih dahulu melewati beragam bentuk penulisan naskah buruk, sebutlah perselisihan aparat lokal melawan kartel narkoba pimpinan Sua (Iko Uwais) yang sekedar tempelan, sampai fakta bahwa peristiwa di dua lokasinya bagai dua cerita berbeda yang dipaksa menyatu.

Bukan didorong nepotisme, tetapi Iko Uwais dan Yayan Ruhian memang aspek terbaik Beyond Skyline. Aksi keduanya hadir agak terlambat dan terlampau singkat, namun mendapati mereka menghabisi sederet alien disokong koreografi garapan Yayan Ruhian menghasilkan kepuasan penebus segala kelemahan sebelumnya. Ini menegaskan, betapa Iko juga Yayan dapat seketika melambungkan kualitas suatu sajian laga, termasuk Beyond Skyline yang berakhir sebagai B-movie menghibur, atau setidaknya guilty pleasure.

16 komentar :

Comment Page:
Dana Saidana mengatakan...

Jd kemunculan Iko Uwais relatif sebentar ya Bang.
Tapi kalo di poster bioskop kita nama Iko Uwais ada diurutan pertama ya Bang.

Rasyidharry mengatakan...

Iko masuk setengah akhir film.
Oh jelas, kan biar menarik penonton Indonesia. Wajahnya juga digedein. Kalau poster internasional ya cuma nama Frank Grillo

Badminton Battlezone mengatakan...

Entah knapa kmrn pas saya lihat film ini transisinya terkesan berantakan,sehingga penonton bingung dgn alur critanya. Dari bingung dari lokasi america tiba2 bisa terdampar di asia (candi),ditambah alien tersebut seharusnya memakan otak pikiran,tapi seolah2 bisa mempunyai perasaan juga hahaha.tp ini opini saya

agoesinema mengatakan...

Jadi ragu utk nonton.
Bang ada niat mereview Molulo Jodoh Tak bisa dipaksakan nggak?

Rasyidharry mengatakan...

@Badminton Memang nulisnya kacau kok itu naskah haha

@agoesinema Wah masih ragu deh itu

Ungki Haeri mengatakan...

Mas Rasyid ada rencana buat review film Gerald's Game yang di sadur dari novel Stephen King??

Anonim mengatakan...

Dilihat dari reviewnya, ini sebenarnya bintang 2 atau bintang 3? Dan kenapa bintang 3? No offense ya tapi dengan kata mas rasyid cgi buruk, naskah berantakan, dan alur setipis kertas, apakah layak dapat bintang 3? Penilaian bintangnya bisa dijelaskan bagaimana?

Muhammad Faisal Aulia mengatakan...

Serius bang naskah nya berantakan? Alangkah bijaknya, kita selaku penonton turut tenggelam dalam kesenangan serupa tanpa menagih keseriusan maupun kekelaman yang tidak wajib ada.

Rasyidharry mengatakan...

@Ungki Ada, nggak sekarang tapi hehe

@Anonim Bintang 3 itu biasanya buat film yang kurangnya banyak, tapi karena beberapa alasan layak tonton. Start-nya oke, desain alien asyik, Iko & Yayan scene stealer. Masih layak.

@Muhammad haha nice quoting. Kalau ini penontonnya mau senang-senang, eh filmnya berusaha serius di naskah yang kacau, masukin mitologi, ayah-anak, human resistance yang jutru kartel narkoba, tapi nggak ada yang bener.

Rasyidharry mengatakan...

@Anonim Dan nggak bisa dihitung secara kuantitas ya. Misal 2 hal positif, 3 hal negatif, berarti overall negatif. Bobotnya beda-beda :)

Anonim mengatakan...

Mungkin karena pengaruh kelas film-nya juga kali ya jadi ekspektasi serta toleransi lebih diutamakan. Istilahnya lebih banyak maklumnya. Dan bahkan untuk rilis internasional lgsg dlm bentuk home video, sedangkan rilis bioskop hanya untuk indonesia saja.

Ini kan kelas B-movie alias indie film yg budgetnya minim dan bukan sefantastis macam film dri distribusi ternama fox, sony, Warnerbros,universal, dkk atau garapan sutradara2 sekelas michael bay atau christoper nolan.

Kalau seandainya film ini bukan indie dengan segala kemakluman, apakah bintangnya masih 3?

Karena memang film itu kan subjektif, kalau suka sutradara cenderung reviewnya lebih positif, kalau suka studionya cenderung reviewnya lebih positif, kalau suka aktornya bahkan kalau fanatik, reviewnya pun jadi positif. Seperti kasus blade runner 2049 dan dunkirk yang sampai saat ini ada dua kubu yang mengatakan hal berbeda.

Anonim mengatakan...

Tapi bukan berarti indie movie semuanya kurang ya, masih banyak film indie lain yang bagus dan bahkan sampai jalan2 ke festival film. But mereka punya kekuatan lain yaitu punya naskah yg kuat walau budgetnya minim sehingga dapat membuat penonton terpesona walau tidak menyajikan CGI amazing layaknya film2 blockbuster dengan budget fantastis

Selama ini saya sering mengikuti review mas rasyid. Dan ada beberapa film blockbuster yg sebenarnya masih fine oke dan sangat layak tonton tapi ratingnya tidak mencerminkan hal tersebut karena entah unsur apa. Dan aja juga yang sebenarnya biasa biasa tapi ratingnya fantastis. Mungkin kesubjektifan? Fans sutradara misalnya?

Rasyidharry mengatakan...

Tergantung ngomongin apa. Misal film big studio dengan big budget tapi CGI-nya jelek ya lebih nggak bisa ditoleransi. Nah itu betul, film indie kan cenderung punya kebebasan eksplorasi cerita, nggak semua, tapi mayoritas begitu.

Faktor sutradara jelas nggak. Sutradara Hollywood favorit saya Nolan & Tarantino, dan kemarin Dunkirk kasih review biasa aja. Kalau ada perbedaan opini, murni karena beda cara pandang ke filmnya. Pengalaman personal sampai referensi berpengaruh, dan harus dilibatkan, kalau nggak review semua orang bakal seragam. :)

ray tamao mengatakan...

Bang rasyid ud nonton stranger things season 1-2. Dua kata aja untuk serial ini "luar biasa". Skalian di review hahaha..

Imam Raharja mengatakan...

@ray stranger things emang keren asyk... Tapi lebih addict 13 reason why.. Hehe bang rasyd review serialnya haha

Rasyidharry mengatakan...

@ray Jauh lebih suka season 1, yang kedua masih fun, tapi nggak sesegar sebelumnya, dan karakternya sering annoying

@Imam Bener, 13 Reasons Why itu super adiktif :D