Tampilkan postingan dengan label Iko Uwais. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iko Uwais. Tampilkan semua postingan

STUBER (2019)

Di tengah kurangnya asupan film bagus (sejak The Lion King belum sekalipun saya memberi penilaian positif), saya tak menempatkan ekspektasi tinggi terhadap Stuber, mengingat belakangan, buddy action comedy bermutu semakin jarang. Sampai Dave Bautista dan Kumail Nanjiani datang, memperlihatkan bagaimana semestinya sub-genre satu ini diperlakukan.

Victor (Dave Bautista) adalah polisi tangguh yang terobsesi meringkus bandar narkoba bernama Tedjo (Iko Uwais). Obsesi itu merenggangkan hubungannya dengan sang puteri, Nicole (Natalie Morales). Bahkan Victor melupakan malam pameran karya seni Nicole, lalu menjadwalkan operasi lasik beberapa jam sebelumnya, membuat penglihatannya terganggu sepanjang hari. Berusaha memastikan kehadiran ayahnya, Nicole memaksa Victor mengunduh Uber.

Seperti kita ketahui bersama, kedatangan Victor bakal terganggu. Gangguan itu berbentuk laporan dari seorang informan bahwa malam itu Tedjo akan melakukan transaksi. Akibat kondisi mata yang tak memungkinkannya menyetir, Victor pun memesan Uber. Di situlah ia bertemu Stu (Kumail Nanjiani), sopir Uber yang susah payah mempertahankan rating empat, sebab kurang dari itu, ia akan kehilangan pekerjaan.

Stu tidak kalah buru-buru. Selepas mengakhiri hubungan dengan pacarnya, Becca (Betty Gilbin), gadis yang diam-diam Stu cintai, memintanya datang untuk berhubungan seks (sambil mabuk dan menonton When Harry Met Sally). Intinya, Becca ingin menjadikan Stu pelampiasan. Sebuah bumper. Sial bagi Stu, ini bukan perjalanan bintang lima mulus sebagaimana dia harapkan.

Alih-alih melesat menuju rumah Becca, Stu terjebak bersama Victor dalam satu hari gila penuh baku tembak, kejar-kejaran mobil, dan mayat-mayat bergelimpangan. Karena kondisi penglihatan Victor tengah memburuk, kebutuhannya akan bantuan Stu jadi suatu hal logis. Setidaknya, elemen itu bisa meminimalisir rasa janggal di benak penonton, karena keduanya sama-sama terpaksa, tidak berdaya, dan tak punya opsi lain.

Buddy movie wajib punya dua protagonis dengan kepribadian berlawanan, dan Stuber memenuhi itu, bahkan menjadikan perbedaan mereka jalan menyentil konsep maskulinitas. Bagi Victor laki-laki tidak boleh menangis, hatinya mesti sekeras batu, dan menganggap kelembutan sebagai kelemahan. Sebaliknya, Stu adalah sosok sensitif yang cenderung mengandalkan otak, pula percaya jika laki-laki berhak meneteskan air mata.

Naskah karya Tripper Clancy (Four Against the Bank, Hot Dog) belum maksimal memanfaatkan ciri menarik para protagonis, di mana Stuber cenderug menggambarkan gesekan mereka lewat adu mulut repetitif nan seadanya, ketimbang gambaran kreatif saat Victor dan Stu saling mengisi lewat keunggulan masing-masing, semisal saat Stu membantu Dave menggali informasi dengan cara “menyiksa” seorang penjahat.

Daya bunuh humornya juga terpengaruh, karena perihal mengocok perut pun filmnya main aman. Leluconnya minim kegilaan pendukung premis “kacaunya”, pula tak seberapa segar selaku pemicu tawa-tawa tak terduga. Untung ada Dave dan Kumail. Kunci sukses keduanya terletak di keengganan tampak konyol secara berlebih. Bahkan mereka bak tidak sedang melawak, tapi menunjukkan respon wajar kala dua orang terjebak dalam situasi yang sukar dipercaya. Khususnya Kumail. Didasari kebutuhan membangun dinamika, tokoh utama buddy comedy wajib diisi satu figur serius dan seorang “badut”, dan saya lelah melihat para badut bersikap seolah mereka adalah manusia terbodoh di dunia. Kumail berbeda. Stu histerikal, namun sesuai kondisi dan situasi.

Satu elemen lagi yang menghalangi Stuber menjadi “perjalanan bintang lima” adalah adegan aksinya. Baku hantam komedik Stu melawan Victor di pusat perbelanjaan memang percampuran sempurna aksi dengan komedi, namun selain itu, gampang dilupakan. Koreografi garapan Iko (memadukan bela dirinya dan street fighting brutal milik Dave) dilemahkan oleh penyutradaraan Michael Dowse (FUBAR, Goon, What If) yang terjangkit penyakit  quick cuts dan close up”. Bicara soal Iko, meski hanya diberi screen time pada sekuen pembuka dan klimaks, tidak seperti Triple Threat, Stuber menghormati sang aktor, di mana kehadirannya berpengaruh, pun ia berkesempatan membuat Dave Bautista babak belur.  

TRIPLE THREAT (2019)

Triple Threat menjual janji menggiurkan berupa penyatuan tiga jagoan bela diri Asia: Tony Jaa, Iko Uwais, dan Tiger Chen. Bahkan trailer-nya ditutup oleh money shot keren di mana ketiganya berjalan beriringan dibalut gerak lambat. Tapi bukan saja money shot itu urung ditemukan di hasil akhir filmnya (hanya sekilas nampak selepas ending), Triple Threat mengkhianati esensi film aksi ensemble dengan mengemas babak pamungkasnya bak panggung solo.

Salah satu aturan tidak tertulis bagi film semacam ini adalah membuat penonton bersorak kala para jagoan akhirnya bersedia mengesampingkan perbedaan untuk bersatu melawan musuh yang lebih tangguh. Tengok saja baku hantam puncak milik The Raid atau SPL II: A Time for Consuquences sebagai contoh gampang. Tanpanya, meski didukung penampil papan atas, kepuasan menonton takkan mencapai titik tertinggi.

Terjadinya hal itu dalam Triple Threat amat disayangkan, mengingat karya penyutradaraan Jesse V. Johnson (Green Street Hooligans 2, Accident Man) ini merupakan salah satu suguhan aksi dengan jajaran ensemble cast paling menarik sejak The Expendable. Di samping tiga aktor utama, turut hadir Scott Adkins, Michael Jai White, Jeeja Yanin, dan Michael Bisping. Serupa trio Iko-Tiger-Tony, mereka adalah bintang laga berkemampuan bela diri mumpuni (Silahkan buktikan di Chocolate, Blood and Bone, Undisputed II: Last Man Standing, atau Ninja).

Alur dalam naskah buatan Joey O’Bryan (Motorway, Fulltime Killer), Fangjin Song, dan Paul Staheli (Pressure, Guardians of the Tomb) bukan cuma tipis, juga kelewat bodoh, bahkan untuk ukuran film kelas b. Berlatar sebuah negara fiktif di Asia Tenggara, kisahnya dimulai dengan mengenalkan Xian (Celina Jade), puteri konglomerat Cina yang menyisihkan hartanya guna menumpas korupsi dan sindikat kriminal.

Kemudian kita diajak berpindah ke pedalaman hutan, menyaksikan sekelompok pasukan bersenjata menyerbu sebuah kamp. Payu (Tony Jaa) dan Long Fei (Tiger Chen) bersedia turut serta sebagai penunjuk jalan karena mengira sedang terlibat suatu misi kemanusiaan. Rupanya itu hanya kedok untuk membebaskan teroris beringas bernama Collins (Scott Adkins), supaya ia dapat membungkam Xian, yang keberadaannya mengancam eksistensi sindikat. Mengapa repot-repot begitu jika anda adalah kriminal super kaya yang mampu merekrut seluruh pembunuh nomor satu yang tersedia?

Apabila belum cukup absurd, tunggu sampai Jaka (Iko Uwais) tereret ke dalam konflik. Jaka merupakan salah satu penghuni kamp. Dia selamat dari serbuan, namun malang, istrinya tewas tertembak. Jaka memulai perjalanan balas dendamnya dengan mencari Payu dan Long Fei, tapi justru memilih bergabung setelah menyadari jika keduanya hanya korban yang juga ingin menuntut balas. Andai kisahnya benar-benar sesederhana itu.

Ketimbang langsung membuat ketiganya bertarung bersama, trio penulisnya memilih membuat menyusun Jaka suatu rencana rumit, yang semata hanya berguna supaya filmnya bisa bergulir selama 90 menit. Wajar jika anda kesulitan memahami destinasi rencana Jaka, sebab bila menghabisi pembunuh sang istri merupakan tujuannya, hal itu mampu dilakukan tanpa harus melalui skema berbelit yang akan membuat para penganut teori konspirasi pusing tujuh keliling.

Tapi mari lupakan kebodohan alurnya. Saya menonton Triple Threat karena ingin melihat para jagoan laga nomor satu berkumpul memamerkan kebolehan berkelahi. Tiger dan Tony menampilkan koreografi kelas wahid seperti biasa, meski porsinya terlampau singkat dan sang sutradara belum piawai mengglorifikasi gerakan aktornya. Setidaknya, gerak kamera Jonathan Hall (Zombeavers, Burying the Ex) bersedia mempelihatkan semua baku hantam tanpa perlu dibungkus penyuntingan frantic khas film aksi Hollywood belakangan. Sayang, adu jurusnya mesti berbagi jatah dengan ledakan dan baku tembak medioker, yang di satu titik sempat keliru menerapkan efek suara senapan otomatis untuk pistol.

Kalau anda datang demi Iko Uwais, bersiaplah kecewa. Tanpa menghitung Star Wars: The Force Awakens, Triple Threat adalah film yang paling gagal perihal memanfaatkan gerak silat secepat kilat milik sang bintang. Iko urung diberi kesempatan bersinar, pun kemenangannya di beberapa pertarungan harus melibatkan bantuan senjata api atau kebetulan-kebetulan yang melapangkan jalannya.

Di antara tiga tokoh utama, Jaka jadi satu-satunya yang mengusung alasan personal, tapi lucunya, ia tak berkesempatan melancarkan serangan penutup. Jangankan itu, ia bahkan tidak dilibatkan di pertarungan final. Muay Thai milik Tony Jaa dan roundhouse kick khas Soctt Adkins tetap menghibur mata, tapi kembali, olahan Jesse V. Johnson mengurangi dampaknya, dan perlu saya tekankan lagi, Triple Threat adalah film aksi ensemble. Haram hukumnya menutup film semacam ini tanpa melibatkan seluruh protagonis di momen puncak. Sekalian saja membuat Tom-Yum-Goong 3 atau Ong Bak 4.

THE NIGHT COMES FOR US (2018)

The Night Comes for Us dibuat oleh pria dewasa gila yang mewujudkan mimpi basah masa kecilnya (dan beberapa kalangan penonton). Jagoan kelewat tangguh yang nyaris tak terkalahkan dengan teman-teman yang bersedia pasang badan, karakter-karakter dengan tampilan, kemampuan, serta latar belakang keren, dan tentunya perkelahian demi perkelahian. Sewaktu bocah, kartun dengan formula di atas jadi kegemaran saya. Serahkan kartun itu pada orang di balik Rumah Dara dan Safe Haven, jadilah sajian laga yang hanya setingkat lebih “realistis” dibanding Riki-Oh: The Story of Ricky.

Saya membubuhkan tanda petik pada kata “realistis” karena sejatinya, dari perspektif umum, film kedua Timo Tjahjanto sepanjang 2018 ini jelas tidak memerlukan logika, baik dalam pembuatan maupun proses penonton menikmatinya. Di sini, seseorang masih bisa melancarkan pukulan meski ususnya berhamburan. Dunia yang Timo bangun adalah dunia sarat kekerasan di mana sadisme dan pembunuhan merupakan makanan sehari-hari manusia di dalamnya . Wajar, sebab dalam dunia ini Triad memegang kendali. Bahkan protagonis kita jadi salah satu pentolannya sebelum membelot.

Ito (Joe Taslim) merupakan salah satu anggota Six Seas, enam pria dan wanita pilihan dengan identitas misterius yang bertugas menjaga keteraturan. “Menjaga keteraturan” di sini berarti menghalalkan segala cara agar semua pihak tunduk pada Triad, termasuk membantai seisi kampung. Tapi ketika diharuskan membunuh gadis cilik bernama Reina (Asha Kenyeri Bermudez), Ito menahan pelatukan, lalu berbalik menghabisi anak buahnya. Menolak tinggal diam, Triad mengirim para pembunuh terbaiknya, termasuk Arian (Iko Uwais), yang sudah bagaikan saudara kandung Ito.

Berikutnya adalah 2 jam pertarungan yang hanya sesekali melambat ketika Timo merasa perlu menyelipkan sedikit flashback, sedikit pembangunan karakter, dan lebih banyak kesempatan bagi penonton bernapas. Cerita tulisan Timo tak mendalam. Sebatas eksposisi dingin tanpa emosi, kecuali saat Reina dan Ito duduk bersama selepas lolos dari usaha pembunuhan. Setitik hati film ini muncul ketika sejenak beralih menuju kisah mengenai bocah polos yang menyaksikan kebrutalan dunia tersaji di hadapannya, dan bukan mustahil, bakal mempengaruhi pertumbuhannya.

Tapi itu cerita di lain hari. The Night Comes for Us tak punya, atau tepatnya tak meluangkan waktu, bagi eksplorasi dramatik. Karena ini adalah proses Timo meluapkan visi gilanya sekaligus menguji sejauh mana dia bisa membungkus tiap kematian sekreatif mungkin. Bola-bola biliar, taser pemicu tarikan picu senapan, hingga tulang sapi cuma segelintir contoh. Pastinya semua berujung muncratan darah bahkan potongan tubuh berhamburan. Ketika seseorang terkena ledakan, kita melihat serpihan tubuh mereka.

Gerak kamera Gunnar Nimpuno (Modus Anomali, Pendekar Tongkat Emas, Killers) mungkin belum semumpuni Matt Flannery dalam dwilogi The Raid soal menangkap koreografi buatan Iko Uwais—yang seperti biasa, rumit nan kaya variasi—tapi cukup sebagai pemberi dinamika serta membuat penonton merasakan dampak dari beberapa pukulan dan tusukan. Sementara musik garapan duet maut Fajar Yuskemal-Aria Prayogi  (The Raid, Headshot) yang memadukan nomor elektronik dan klasik ditambah pilihan-pilihan lagu menarik dari Timo (Benci untuk Mencinta dari Naif paling menonjol) setia mengiringi di belakang.

Sulit memilih mana pertarungan terbaik, tapi 3 di antaranya begitu berkesan. Pertama saat Fatih (Abimana Aryasatya), Bobby (Zack Lee), dan Wisnu (Dimas Anggara) menghadapi pasukan suruhan Yohan (Revaldo dalam comeback luar biasa). Zack Lee menggila sedangkan Abimana menambahkan bobot dramatik plus kematangan menangani dialog yang tak terduga muncul di film macam ini.

Kedua, sewaktu duo pembunuh lesbian anggota Lotus (satu lagi sebutan yang menarik digali bila ada film lanjutan), Elena (Hannah Al Rashid) dan Alma (Dian Sastrowardoyo) mengepung The Operator (Julie Estelle). Bermula di kamar lalu berlanjut ke lorong penuh potongan tubuh manusia, sekuen ini membuktikan kebolehan ketiga aktris. Dian lewat kesintingan yang belum pernah ia tampakkan (termasuk improvisasi menjilat tangah Hannah), Hannah yang meyakinkan melakoni koreografi, juga Julie Estelle yang sekali lagi membuktikan bahwa ia aktris laga nomor satu Indonesia saat ini. Karakter yang bisa memutus jari tangannya sedemikian santai seperti The Operator jelas perlu dibuatkan filmnya sendiri.

Ketiga tentu saja klimaks Joe melawan Iko yang bagai rangkuman keseluruhan film: brutal sekaligus berwarna. Joe dengan gaya bertarung lebih eksplosif dan Iko lewat kecepatan taktis yang tak kalah “meledak”, sama-sama  menembus batas, baik dari sisis karakternya yang bertarung hingga titik (atau banjir?) darah penghabisan, maupun perjuangan keduanya selaku aktor. Ketiadaan alur mumpuni berpotensi menjadikan perjalanan filmnya melelahkan khususnya di pengalaman menonton pertama, namun The Night Comes for Us merupakan satu dari sedikit sajian laga modern yang akan dengan senang hati saya kunjungi lagi kala membutuhkan hiburan, baik menyeluruh atau parsial guna menikmati pertarungannya secara terpisah.

MILE 22 (2018)

Melalui Mile 22, Peter Berg (Battleship, Lone Survivor, Deepwater Horizon) jelas ingin membuat The Raid versinya. Berg sendiri mengaku, bekerja bersama Iko Uwais merupakan alasannya membuat film ini. Menurut Gareth Evans, bukan saja aktor, Iko adalah pengarah laga (peran yang juga dilakoni di Mile 22) yang piawai menciptakan koreografi yang tampak menawan di kamera. Artinya, agar kemampuan itu terfasilitasi, gerakan buatannya perlu diperlihatkan seutuh mungkin, alih-alih dimutilasi oleh penyuntingan liar, trik malas yang jamak dipakai, termasuk di sini. Tapi kita sedang membicarakan Iko Uwais. Tidak ada yang bisa menghentikannya melambungkan kualitas sekuen aksi. Dampaknya bisa berkurang, namun tak bisa dilenyapkan. Ditambah kesediaan Berg menyipratkan darah, setiap laga yang melibatkan Iko dalam Mile 22 jauh lebih baik dibanding gabungan semua film aksi generik Hollywood.

Pertanyaannya, apa tujuan penyuntingan liarnya dipilih? Apalagi teknik itu dipakai bukan cuma di tengah baku hantam, melainkan keseluruhan film, menghasilkan momen-momen blink-it-and-you’ll-miss-it, yang berfungsi sebagai penjelas. Penonton dituntut menjaga fokus—yang mana melelahkan bila dilakukan terus menerus selama 94 menit—bila enggan tersesat. Untunglah, seperti telah disinggung, Berg ingin membuat The Raid versinya, yang berarti, mempunyai alur sesederhana mungkin. Sekelompok agen rahasia menempuh perjalanan 22 mil guna mengantar aset yang menyimpan kode perangkat keras berisi lokasi senjata pemusnah masal, sembari menghadapi pasukan yang dikirim musuh. Sesederhana itu.

Salah satu agen, James Silva (Mark Wahlberg), merupakan pria temperamental pengidap ADHD, yang sulit berdiam diri, dan bila suasana terlalu intens, memainkan karet gelang pemberian mendiang sang ibu yang selalu ia kenakan di tangan. Itu dia. Salah satu alasan Berg menerapkan kesan manic bagi temponya yaitu untuk menyelaraskan pergerakan film dengan kondisi mental protagonis. Perlukah? Tentu tidak. Lagipula Mile 22 tidak dituturkan melalui sudut pandang James dan berpusat pada dirinya seorang. James perlu berbagi porsi dengan beberapa tokoh lain.

Pertama Alice Kerr (Lauren Cohan), anggota tim James yang diberi subplot perihal kesulitannya menjaga hubungan dengan sang puteri pasca bercerai. Kisah sampingan ini coba menggambarkan bahwa profesi dalam bidang spionase tak memungkinkan orang-orangnya menjalani hidup normal, namun hanya tampil sekilas tanpa resolusi maupun dampak emosi. Tokoh kedua tentu saja Li Noor (Iko Uwais), polisi Indocarr yang mengkhianati bangsanya dengan membocorkan rahasia pada pihak Amerika.

Ya, anda tidak salah baca. Ketika negara lain seperti Rusia disebut memakai nama aslinya, Indonesia berubah menjadi Indocarr. Rumor menyebutkan, naskah buatan Lea Carpenter awalnya menggunakan nama Indonesia, pun filmnya sempat berniat mengambil gambar di sini. Sayang rencana itu batal akibat semrawutnya kondisi Jakarta serta ketiadaan insentif dari pemerintah. Alhasil, proses dipindah ke Bogota, Kolombia. Bisa dipahami, walau semestinya mereka bisa memikirkan alternatif nama yang lebih baik, sebab Indocarr terdengar seperti showroom mobil.

Memerankan sosok misterius, gaya kalem jelas cocok dilakoni Iko untuk sekarang, hingga kapasitas akting dramatiknya pelan-pelan meningkat suatu hari nanti. Paling tidak saya lebih nyaman menyaksikannya mengucap sepatah dua patah kata daripada akting berlebihan Mark Wahlberg, dengan mata melotot yang menggelikan serta pengucapan kalimat dibuat-buat selaku usaha mati-matian mengesankan sosok hiperaktif. Sedangkan pada porsi laga jelas Iko tak tertandingi. Menjalani mayoritas stunt-nya dengan tangan diborgol, dia menyayat tubuh lawan, meremukkan tulang mereka, bergerak indah bak penari menarikan tarian mematikan, membuktikan kapasitas sebagai bintang laga terbaik masa kini.

Kembali menyinggung persoalan penyuntingan kilat dan keliaran tempo, tampaknya tujuan Berg memilih teknik tersebut supaya mengurangi penurunan tensi, menjaga filmnya sepadat mungkin. Sense of urgency. Itu yang dicari, dan itu pula yang berhasil diciptakan. Walau kadang terasa bagai tes daya tahan, selama anda mampu bertahan, Mile 22 akan menjadi sajian laga spionase cepat, liar sekaligus cekatan, yang menolak melepaskan penonton dari cengkeraman intensitasnya. Berg paham betul alurnya setipis kertas, lalu memilih memacu filmnya agar penonton tidak berkesempatan menyadari itu kemudian merasa bosan.

BEYOND SKYLINE (2017)


Beyond Skyline dibuka saat seorang wanita (Lindsey Morgan) tengah terbaring dalam perawatan, yang identitasnya baru terungkap pada penghujung. Bahkan besar kemungkinan "rahasia" tersebut dapat penonton pahami di pertengahan, ketika tanpa urgensi, sang wanita sekilas muncul lagi, memperlihatkan betapa buruknya naskah buatan Liam O'Donnell yang juga menduduki kursi sutradara. Dan serupa The Brothers Strauese, duo sutradara Skyline, walau O'Donnell bukanlah pencerita handal, kisah fiksi ilmiah mengenai alien kentara merupakan passion-nya.


Itulah mengapa tatkala efek visualnya buruk, O'Donnell mampu mengemas momen invasi secara menghibur, membangkitkan sisi kanak-kanak kalangan penonton seperti saya, yang terobsesi akan makhluk asing berukuran masif. Tidak peduli seberapa besar usaha anggota LAPD bernama Mark (Frank Grillo) untuk melindungi Trent (Jonny Weston) dalam hubungan renggang ayah-anak yang dipaparkan dangkal, perhatian tetap tertuju pada alien pemburu otak manusia dan ibu hamil yang menyerang dengan mecha berwujud monster raksasa. Dalam semangat film kelas B, O'Donnell tak segan menampilkan mereka di siang bolong walau kurang didukung CGI memadahi.
Namun itu hanya penggerak sementara. Perlu jalinan cerita menarik, intensitas, atau aksi seru demi menjaga atensi penonton. Beyond Skyline lemah terkait ketiganya. Alurnya setipis kertas, apalagi begitu Mark dan kawan-kawan singgah di pesawat luar angkasa, berputar di lingkup "Frank Grillo berjalan menyusuri satu per satu ruangan" dan "alien memandangi layar". Sekalinya adegan aksi merangsek, O'Donnell gagal memanfaatkan maskulinitas Grillo, yang kita ingat betul sanggup merepotkan Captain America di The Winter Soldier hingga memikul beban menghidupkan The Purge: Anarchy seorang diri.

O'Donnell bersama sinematografer Christopher Probst kurang cakap mengemas sudut kamera supaya adegan aksi tereskalasi dari sebatas baku hantam generik menjadi sajian pemacu adrenalin. Demikian pula bumbu horor/thriller yang urung mencapai kengerian tinggi sebagaimana dijanjikan momen klaustrofobik sewaktu Frank dan Audrey (Bojana Novakovic) menerima pesan misterius untuk jangan menatap sinar. Bicara soal Bojana Novakovic, sayangnya sang aktris kerap melucuti potensi tensi akibat akting kaku dengan teriakan-teriakan yang tidak jelas maksudnya. 
Penulisan O'Donnell tambah berantakan tatkala coba melebarkan mitologi, seperti ketiadaan paparan mengenai otak manusia yang dapat melawan kontrol alien. Bahkan guna mencapai titik terbaik film, tepatnya saat setting berpindah ke Laos (pengambilan gambar dilakukan di Yogyakarta dan Batam), Beyond Skyline harus terlebih dahulu melewati beragam bentuk penulisan naskah buruk, sebutlah perselisihan aparat lokal melawan kartel narkoba pimpinan Sua (Iko Uwais) yang sekedar tempelan, sampai fakta bahwa peristiwa di dua lokasinya bagai dua cerita berbeda yang dipaksa menyatu.

Bukan didorong nepotisme, tetapi Iko Uwais dan Yayan Ruhian memang aspek terbaik Beyond Skyline. Aksi keduanya hadir agak terlambat dan terlampau singkat, namun mendapati mereka menghabisi sederet alien disokong koreografi garapan Yayan Ruhian menghasilkan kepuasan penebus segala kelemahan sebelumnya. Ini menegaskan, betapa Iko juga Yayan dapat seketika melambungkan kualitas suatu sajian laga, termasuk Beyond Skyline yang berakhir sebagai B-movie menghibur, atau setidaknya guilty pleasure.