Tampilkan postingan dengan label Iko Uwais. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iko Uwais. Tampilkan semua postingan
STUBER (2019)
Rasyidharry
Di tengah kurangnya asupan film
bagus (sejak The Lion King belum
sekalipun saya memberi penilaian positif), saya tak menempatkan ekspektasi
tinggi terhadap Stuber, mengingat
belakangan, buddy action comedy bermutu
semakin jarang. Sampai Dave Bautista dan Kumail Nanjiani datang, memperlihatkan
bagaimana semestinya sub-genre satu
ini diperlakukan.
Victor (Dave Bautista) adalah
polisi tangguh yang terobsesi meringkus bandar narkoba bernama Tedjo (Iko
Uwais). Obsesi itu merenggangkan hubungannya dengan sang puteri, Nicole
(Natalie Morales). Bahkan Victor melupakan malam pameran karya seni Nicole,
lalu menjadwalkan operasi lasik beberapa jam sebelumnya, membuat penglihatannya
terganggu sepanjang hari. Berusaha memastikan kehadiran ayahnya, Nicole memaksa
Victor mengunduh Uber.
Seperti kita ketahui bersama,
kedatangan Victor bakal terganggu. Gangguan itu berbentuk laporan dari seorang
informan bahwa malam itu Tedjo akan melakukan transaksi. Akibat kondisi mata
yang tak memungkinkannya menyetir, Victor pun memesan Uber. Di situlah ia
bertemu Stu (Kumail Nanjiani), sopir Uber yang susah payah mempertahankan
rating empat, sebab kurang dari itu, ia akan kehilangan pekerjaan.
Stu tidak kalah buru-buru. Selepas
mengakhiri hubungan dengan pacarnya, Becca (Betty Gilbin), gadis yang diam-diam
Stu cintai, memintanya datang untuk berhubungan seks (sambil mabuk dan menonton
When Harry Met Sally). Intinya, Becca
ingin menjadikan Stu pelampiasan. Sebuah bumper. Sial bagi Stu, ini bukan
perjalanan bintang lima mulus sebagaimana dia harapkan.
Alih-alih melesat menuju rumah
Becca, Stu terjebak bersama Victor dalam satu hari gila penuh baku tembak,
kejar-kejaran mobil, dan mayat-mayat bergelimpangan. Karena kondisi penglihatan
Victor tengah memburuk, kebutuhannya akan bantuan Stu jadi suatu hal logis. Setidaknya,
elemen itu bisa meminimalisir rasa janggal di benak penonton, karena keduanya sama-sama
terpaksa, tidak berdaya, dan tak punya opsi lain.
Buddy movie wajib punya dua protagonis dengan kepribadian
berlawanan, dan Stuber memenuhi itu,
bahkan menjadikan perbedaan mereka jalan menyentil konsep maskulinitas. Bagi Victor
laki-laki tidak boleh menangis, hatinya mesti sekeras batu, dan menganggap
kelembutan sebagai kelemahan. Sebaliknya, Stu adalah sosok sensitif yang cenderung
mengandalkan otak, pula percaya jika laki-laki berhak meneteskan air mata.
Naskah karya Tripper Clancy (Four Against the Bank, Hot Dog) belum maksimal
memanfaatkan ciri menarik para protagonis, di mana Stuber cenderug menggambarkan gesekan mereka lewat adu mulut repetitif
nan seadanya, ketimbang gambaran kreatif saat Victor dan Stu saling mengisi
lewat keunggulan masing-masing, semisal saat Stu membantu Dave menggali
informasi dengan cara “menyiksa” seorang penjahat.
Daya bunuh humornya juga terpengaruh,
karena perihal mengocok perut pun filmnya main aman. Leluconnya minim kegilaan
pendukung premis “kacaunya”, pula tak seberapa segar selaku pemicu tawa-tawa
tak terduga. Untung ada Dave dan Kumail. Kunci sukses keduanya terletak di keengganan
tampak konyol secara berlebih. Bahkan mereka bak tidak sedang melawak, tapi menunjukkan
respon wajar kala dua orang terjebak dalam situasi yang sukar dipercaya. Khususnya
Kumail. Didasari kebutuhan membangun dinamika, tokoh utama buddy comedy wajib diisi satu figur serius dan seorang “badut”, dan
saya lelah melihat para badut bersikap seolah mereka adalah manusia terbodoh di
dunia. Kumail berbeda. Stu histerikal, namun sesuai kondisi dan situasi.
Satu elemen lagi yang menghalangi Stuber menjadi “perjalanan bintang lima”
adalah adegan aksinya. Baku hantam komedik Stu melawan Victor di pusat
perbelanjaan memang percampuran sempurna aksi dengan komedi, namun selain itu,
gampang dilupakan. Koreografi garapan Iko (memadukan bela dirinya dan street fighting brutal milik Dave)
dilemahkan oleh penyutradaraan Michael Dowse (FUBAR, Goon, What If) yang terjangkit penyakit “quick
cuts dan close up”. Bicara soal
Iko, meski hanya diberi screen time pada
sekuen pembuka dan klimaks, tidak seperti Triple
Threat, Stuber menghormati sang aktor, di mana kehadirannya berpengaruh,
pun ia berkesempatan membuat Dave Bautista babak belur.
Juli 25, 2019
Action
,
Betty Gilbin
,
Comedy
,
Cukup
,
Dave Bautista
,
Iko Uwais
,
Kumail Nanjiani
,
Michael Dowse
,
Natalie Morales
,
REVIEW
,
Tripper Clancy
TRIPLE THREAT (2019)
Rasyidharry
Triple Threat menjual janji menggiurkan berupa penyatuan tiga
jagoan bela diri Asia: Tony Jaa, Iko Uwais, dan Tiger Chen. Bahkan trailer-nya ditutup oleh money shot keren di mana ketiganya
berjalan beriringan dibalut gerak lambat. Tapi bukan saja money shot itu urung ditemukan di hasil akhir filmnya (hanya
sekilas nampak selepas ending), Triple Threat mengkhianati esensi film
aksi ensemble dengan mengemas babak
pamungkasnya bak panggung solo.
Salah satu aturan tidak tertulis
bagi film semacam ini adalah membuat penonton bersorak kala para jagoan
akhirnya bersedia mengesampingkan perbedaan untuk bersatu melawan musuh yang
lebih tangguh. Tengok saja baku hantam puncak milik The Raid atau SPL II: A Time
for Consuquences sebagai contoh gampang. Tanpanya, meski didukung penampil
papan atas, kepuasan menonton takkan mencapai titik tertinggi.
Terjadinya hal itu dalam Triple Threat amat disayangkan,
mengingat karya penyutradaraan Jesse V. Johnson (Green Street Hooligans 2, Accident Man) ini merupakan salah satu
suguhan aksi dengan jajaran ensemble cast
paling menarik sejak The Expendable.
Di samping tiga aktor utama, turut hadir Scott Adkins, Michael Jai White, Jeeja
Yanin, dan Michael Bisping. Serupa trio Iko-Tiger-Tony, mereka adalah bintang
laga berkemampuan bela diri mumpuni (Silahkan buktikan di Chocolate, Blood and Bone, Undisputed II: Last Man Standing, atau Ninja).
Alur dalam naskah buatan Joey O’Bryan
(Motorway, Fulltime Killer), Fangjin
Song, dan Paul Staheli (Pressure,
Guardians of the Tomb) bukan cuma tipis, juga kelewat bodoh, bahkan untuk
ukuran film kelas b. Berlatar sebuah negara fiktif di Asia Tenggara, kisahnya
dimulai dengan mengenalkan Xian (Celina Jade), puteri konglomerat Cina yang
menyisihkan hartanya guna menumpas korupsi dan sindikat kriminal.
Kemudian kita diajak berpindah ke
pedalaman hutan, menyaksikan sekelompok pasukan bersenjata menyerbu sebuah kamp.
Payu (Tony Jaa) dan Long Fei (Tiger Chen) bersedia turut serta sebagai penunjuk
jalan karena mengira sedang terlibat suatu misi kemanusiaan. Rupanya itu hanya
kedok untuk membebaskan teroris beringas bernama Collins (Scott Adkins), supaya
ia dapat membungkam Xian, yang keberadaannya mengancam eksistensi sindikat.
Mengapa repot-repot begitu jika anda adalah kriminal super kaya yang mampu merekrut
seluruh pembunuh nomor satu yang tersedia?
Apabila belum cukup absurd, tunggu
sampai Jaka (Iko Uwais) tereret ke dalam konflik. Jaka merupakan salah satu
penghuni kamp. Dia selamat dari serbuan, namun malang, istrinya tewas
tertembak. Jaka memulai perjalanan balas dendamnya dengan mencari Payu dan Long
Fei, tapi justru memilih bergabung setelah menyadari jika keduanya hanya korban
yang juga ingin menuntut balas. Andai kisahnya benar-benar sesederhana itu.
Ketimbang langsung membuat
ketiganya bertarung bersama, trio penulisnya memilih membuat menyusun Jaka
suatu rencana rumit, yang semata hanya berguna supaya filmnya bisa bergulir
selama 90 menit. Wajar jika anda kesulitan memahami destinasi rencana Jaka,
sebab bila menghabisi pembunuh sang istri merupakan tujuannya, hal itu mampu dilakukan
tanpa harus melalui skema berbelit yang akan membuat para penganut teori
konspirasi pusing tujuh keliling.
Tapi mari lupakan kebodohan
alurnya. Saya menonton Triple Threat
karena ingin melihat para jagoan laga nomor satu berkumpul memamerkan kebolehan
berkelahi. Tiger dan Tony menampilkan koreografi kelas wahid seperti biasa,
meski porsinya terlampau singkat dan sang sutradara belum piawai mengglorifikasi
gerakan aktornya. Setidaknya, gerak kamera Jonathan Hall (Zombeavers, Burying the Ex) bersedia mempelihatkan semua baku
hantam tanpa perlu dibungkus penyuntingan frantic
khas film aksi Hollywood belakangan. Sayang, adu jurusnya mesti berbagi
jatah dengan ledakan dan baku tembak medioker, yang di satu titik sempat keliru
menerapkan efek suara senapan otomatis untuk pistol.
Kalau anda datang demi Iko Uwais,
bersiaplah kecewa. Tanpa menghitung Star
Wars: The Force Awakens, Triple
Threat adalah film yang paling gagal perihal memanfaatkan gerak silat
secepat kilat milik sang bintang. Iko urung diberi kesempatan bersinar, pun
kemenangannya di beberapa pertarungan harus melibatkan bantuan senjata api atau
kebetulan-kebetulan yang melapangkan jalannya.
Di antara tiga tokoh utama, Jaka
jadi satu-satunya yang mengusung alasan personal, tapi lucunya, ia tak
berkesempatan melancarkan serangan penutup. Jangankan itu, ia bahkan tidak
dilibatkan di pertarungan final. Muay Thai milik Tony Jaa dan roundhouse kick khas Soctt Adkins tetap
menghibur mata, tapi kembali, olahan Jesse V. Johnson mengurangi dampaknya, dan
perlu saya tekankan lagi, Triple Threat
adalah film aksi ensemble. Haram
hukumnya menutup film semacam ini tanpa melibatkan seluruh protagonis di momen
puncak. Sekalian saja membuat Tom-Yum-Goong 3 atau Ong Bak 4.
Maret 23, 2019
Action
,
Celina Jade
,
Fangjin Song
,
Iko Uwais
,
Jeeja Yanin
,
Jesse V. Johnson
,
Joey O’Bryan
,
Jonathan Hall
,
Kurang
,
Michael Bisping
,
Michael Jai White
,
Paul Staheli
,
REVIEW
,
Scott Adkins
,
Tiger Chen
,
Tony Jaa
THE NIGHT COMES FOR US (2018)
Rasyidharry
The Night Comes for Us dibuat oleh pria dewasa gila yang
mewujudkan mimpi basah masa kecilnya (dan beberapa kalangan penonton). Jagoan
kelewat tangguh yang nyaris tak terkalahkan dengan teman-teman yang bersedia
pasang badan, karakter-karakter dengan tampilan, kemampuan, serta latar
belakang keren, dan tentunya perkelahian demi perkelahian. Sewaktu bocah,
kartun dengan formula di atas jadi kegemaran saya. Serahkan kartun itu pada
orang di balik Rumah Dara dan Safe Haven, jadilah sajian laga yang
hanya setingkat lebih “realistis” dibanding Riki-Oh:
The Story of Ricky.
Saya membubuhkan tanda petik pada
kata “realistis” karena sejatinya, dari perspektif umum, film kedua Timo
Tjahjanto sepanjang 2018 ini jelas tidak memerlukan logika, baik dalam
pembuatan maupun proses penonton menikmatinya. Di sini, seseorang masih bisa
melancarkan pukulan meski ususnya berhamburan. Dunia yang Timo bangun adalah
dunia sarat kekerasan di mana sadisme dan pembunuhan merupakan makanan
sehari-hari manusia di dalamnya . Wajar, sebab dalam dunia ini Triad memegang
kendali. Bahkan protagonis kita jadi salah satu pentolannya sebelum membelot.
Ito (Joe Taslim) merupakan salah
satu anggota Six Seas, enam pria dan wanita pilihan dengan identitas misterius
yang bertugas menjaga keteraturan. “Menjaga keteraturan” di sini berarti
menghalalkan segala cara agar semua pihak tunduk pada Triad, termasuk membantai
seisi kampung. Tapi ketika diharuskan membunuh gadis cilik bernama Reina (Asha
Kenyeri Bermudez), Ito menahan pelatukan, lalu berbalik menghabisi anak
buahnya. Menolak tinggal diam, Triad mengirim para pembunuh terbaiknya,
termasuk Arian (Iko Uwais), yang sudah bagaikan saudara kandung Ito.
Berikutnya adalah 2 jam pertarungan yang hanya sesekali melambat ketika Timo merasa perlu menyelipkan
sedikit flashback, sedikit
pembangunan karakter, dan lebih banyak kesempatan bagi penonton bernapas. Cerita
tulisan Timo tak mendalam. Sebatas eksposisi dingin tanpa emosi, kecuali saat
Reina dan Ito duduk bersama selepas lolos dari usaha pembunuhan. Setitik hati
film ini muncul ketika sejenak beralih menuju kisah mengenai bocah polos yang menyaksikan
kebrutalan dunia tersaji di hadapannya, dan bukan mustahil, bakal mempengaruhi
pertumbuhannya.
Tapi itu cerita di lain hari. The Night Comes for Us tak punya, atau
tepatnya tak meluangkan waktu, bagi eksplorasi dramatik. Karena ini adalah
proses Timo meluapkan visi gilanya sekaligus menguji sejauh mana dia bisa
membungkus tiap kematian sekreatif mungkin. Bola-bola biliar, taser pemicu tarikan picu senapan,
hingga tulang sapi cuma segelintir contoh. Pastinya semua berujung muncratan
darah bahkan potongan tubuh berhamburan. Ketika seseorang terkena ledakan, kita
melihat serpihan tubuh mereka.
Gerak kamera Gunnar Nimpuno (Modus Anomali, Pendekar Tongkat Emas,
Killers) mungkin belum semumpuni Matt Flannery dalam dwilogi The Raid soal menangkap koreografi
buatan Iko Uwais—yang seperti biasa, rumit nan kaya variasi—tapi cukup sebagai pemberi
dinamika serta membuat penonton merasakan dampak dari beberapa pukulan dan
tusukan. Sementara musik garapan duet maut Fajar Yuskemal-Aria Prayogi (The
Raid, Headshot) yang memadukan nomor elektronik dan klasik ditambah
pilihan-pilihan lagu menarik dari Timo (Benci
untuk Mencinta dari Naif paling menonjol) setia mengiringi di belakang.
Sulit memilih mana pertarungan
terbaik, tapi 3 di antaranya begitu berkesan. Pertama saat Fatih (Abimana
Aryasatya), Bobby (Zack Lee), dan Wisnu (Dimas Anggara) menghadapi pasukan
suruhan Yohan (Revaldo dalam comeback
luar biasa). Zack Lee menggila sedangkan Abimana menambahkan bobot dramatik plus
kematangan menangani dialog yang tak terduga muncul di film macam ini.
Kedua, sewaktu duo pembunuh lesbian
anggota Lotus (satu lagi sebutan yang menarik digali bila ada film lanjutan),
Elena (Hannah Al Rashid) dan Alma (Dian Sastrowardoyo) mengepung The Operator
(Julie Estelle). Bermula di kamar lalu berlanjut ke lorong penuh potongan tubuh
manusia, sekuen ini membuktikan kebolehan ketiga aktris. Dian lewat kesintingan
yang belum pernah ia tampakkan (termasuk improvisasi menjilat tangah Hannah),
Hannah yang meyakinkan melakoni koreografi, juga Julie Estelle yang sekali lagi
membuktikan bahwa ia aktris laga nomor satu Indonesia saat ini. Karakter yang
bisa memutus jari tangannya sedemikian santai seperti The Operator jelas perlu
dibuatkan filmnya sendiri.
Ketiga tentu saja klimaks Joe
melawan Iko yang bagai rangkuman keseluruhan film: brutal sekaligus berwarna.
Joe dengan gaya bertarung lebih eksplosif dan Iko lewat kecepatan taktis yang
tak kalah “meledak”, sama-sama menembus batas,
baik dari sisis karakternya yang bertarung hingga titik (atau banjir?) darah
penghabisan, maupun perjuangan keduanya selaku aktor. Ketiadaan alur mumpuni berpotensi
menjadikan perjalanan filmnya melelahkan khususnya di pengalaman menonton pertama,
namun The Night Comes for Us
merupakan satu dari sedikit sajian laga modern yang akan dengan senang hati saya
kunjungi lagi kala membutuhkan hiburan, baik menyeluruh atau parsial guna
menikmati pertarungannya secara terpisah.
Oktober 20, 2018
Abimana Aryasatya
,
Action
,
Bagus
,
Dian Sastrowardoyo
,
Dimas Anggara
,
Gunnar Nimpuno
,
Hannah Al-Rashid
,
Iko Uwais
,
Indonesian Film
,
Joe Taslim
,
Julie Estelle
,
REVIEW
,
Timo Tjahjanto
,
Zack Lee
MILE 22 (2018)
Rasyidharry
Melalui Mile 22, Peter Berg (Battleship,
Lone Survivor, Deepwater Horizon) jelas ingin membuat The Raid versinya. Berg sendiri mengaku, bekerja bersama Iko Uwais
merupakan alasannya membuat film ini. Menurut Gareth Evans, bukan saja aktor,
Iko adalah pengarah laga (peran yang juga dilakoni di Mile 22) yang piawai menciptakan koreografi yang tampak menawan di kamera.
Artinya, agar kemampuan itu terfasilitasi, gerakan buatannya perlu
diperlihatkan seutuh mungkin, alih-alih dimutilasi oleh penyuntingan liar, trik
malas yang jamak dipakai, termasuk di sini. Tapi kita sedang membicarakan Iko
Uwais. Tidak ada yang bisa menghentikannya melambungkan kualitas sekuen aksi. Dampaknya
bisa berkurang, namun tak bisa dilenyapkan. Ditambah kesediaan Berg menyipratkan
darah, setiap laga yang melibatkan Iko dalam Mile 22 jauh lebih baik dibanding gabungan semua film aksi generik
Hollywood.
Pertanyaannya, apa tujuan
penyuntingan liarnya dipilih? Apalagi teknik itu dipakai bukan cuma di tengah
baku hantam, melainkan keseluruhan film, menghasilkan momen-momen blink-it-and-you’ll-miss-it, yang
berfungsi sebagai penjelas. Penonton dituntut menjaga fokus—yang mana
melelahkan bila dilakukan terus menerus selama 94 menit—bila enggan tersesat.
Untunglah, seperti telah disinggung, Berg ingin membuat The Raid versinya, yang berarti, mempunyai alur sesederhana
mungkin. Sekelompok agen rahasia menempuh perjalanan 22 mil guna mengantar aset
yang menyimpan kode perangkat keras berisi lokasi senjata pemusnah masal, sembari
menghadapi pasukan yang dikirim musuh. Sesederhana itu.
Salah satu agen, James
Silva (Mark Wahlberg), merupakan pria temperamental pengidap ADHD, yang sulit berdiam
diri, dan bila suasana terlalu intens, memainkan karet gelang pemberian
mendiang sang ibu yang selalu ia kenakan di tangan. Itu dia. Salah satu alasan
Berg menerapkan kesan manic bagi temponya
yaitu untuk menyelaraskan pergerakan film dengan kondisi mental protagonis. Perlukah?
Tentu tidak. Lagipula Mile 22 tidak
dituturkan melalui sudut pandang James dan berpusat pada dirinya seorang. James
perlu berbagi porsi dengan beberapa tokoh lain.
Pertama Alice Kerr (Lauren Cohan),
anggota tim James yang diberi subplot perihal kesulitannya menjaga hubungan
dengan sang puteri pasca bercerai. Kisah sampingan ini coba menggambarkan bahwa
profesi dalam bidang spionase tak memungkinkan orang-orangnya menjalani hidup
normal, namun hanya tampil sekilas tanpa resolusi maupun dampak emosi. Tokoh
kedua tentu saja Li Noor (Iko Uwais), polisi Indocarr yang mengkhianati
bangsanya dengan membocorkan rahasia pada pihak Amerika.
Ya, anda tidak salah baca. Ketika
negara lain seperti Rusia disebut memakai nama aslinya, Indonesia berubah
menjadi Indocarr. Rumor menyebutkan, naskah buatan Lea Carpenter awalnya
menggunakan nama Indonesia, pun filmnya sempat berniat mengambil gambar di
sini. Sayang rencana itu batal akibat semrawutnya kondisi Jakarta serta
ketiadaan insentif dari pemerintah. Alhasil, proses dipindah ke Bogota, Kolombia.
Bisa dipahami, walau semestinya mereka bisa memikirkan alternatif nama yang
lebih baik, sebab Indocarr terdengar seperti showroom mobil.
Memerankan sosok misterius, gaya
kalem jelas cocok dilakoni Iko untuk sekarang, hingga kapasitas akting
dramatiknya pelan-pelan meningkat suatu hari nanti. Paling tidak saya lebih
nyaman menyaksikannya mengucap sepatah dua patah kata daripada akting
berlebihan Mark Wahlberg, dengan mata melotot yang menggelikan serta pengucapan
kalimat dibuat-buat selaku usaha mati-matian mengesankan sosok hiperaktif.
Sedangkan pada porsi laga jelas Iko tak tertandingi. Menjalani mayoritas stunt-nya dengan tangan diborgol, dia
menyayat tubuh lawan, meremukkan tulang mereka, bergerak indah bak penari
menarikan tarian mematikan, membuktikan kapasitas sebagai bintang laga terbaik
masa kini.
Kembali menyinggung persoalan
penyuntingan kilat dan keliaran tempo, tampaknya tujuan Berg memilih teknik
tersebut supaya mengurangi penurunan tensi, menjaga filmnya sepadat mungkin. Sense of urgency. Itu yang dicari, dan
itu pula yang berhasil diciptakan. Walau kadang terasa bagai tes daya tahan,
selama anda mampu bertahan, Mile 22
akan menjadi sajian laga spionase cepat, liar sekaligus cekatan, yang menolak
melepaskan penonton dari cengkeraman intensitasnya. Berg paham betul alurnya
setipis kertas, lalu memilih memacu filmnya agar penonton tidak berkesempatan
menyadari itu kemudian merasa bosan.
Agustus 22, 2018
Action
,
Iko Uwais
,
Lauren Cohan
,
Lea Carpenter
,
Lumayan
,
Mark Wahlberg
,
Peter Berg
,
REVIEW
,
Thriller
BEYOND SKYLINE (2017)
Rasyidharry
Beyond Skyline dibuka saat seorang wanita (Lindsey Morgan) tengah terbaring dalam perawatan, yang identitasnya baru terungkap pada penghujung. Bahkan besar kemungkinan "rahasia" tersebut dapat penonton pahami di pertengahan, ketika tanpa urgensi, sang wanita sekilas muncul lagi, memperlihatkan betapa buruknya naskah buatan Liam O'Donnell yang juga menduduki kursi sutradara. Dan serupa The Brothers Strauese, duo sutradara Skyline, walau O'Donnell bukanlah pencerita handal, kisah fiksi ilmiah mengenai alien kentara merupakan passion-nya.
Itulah mengapa tatkala efek visualnya buruk, O'Donnell mampu mengemas momen invasi secara menghibur, membangkitkan sisi kanak-kanak kalangan penonton seperti saya, yang terobsesi akan makhluk asing berukuran masif. Tidak peduli seberapa besar usaha anggota LAPD bernama Mark (Frank Grillo) untuk melindungi Trent (Jonny Weston) dalam hubungan renggang ayah-anak yang dipaparkan dangkal, perhatian tetap tertuju pada alien pemburu otak manusia dan ibu hamil yang menyerang dengan mecha berwujud monster raksasa. Dalam semangat film kelas B, O'Donnell tak segan menampilkan mereka di siang bolong walau kurang didukung CGI memadahi.
Namun itu hanya penggerak sementara. Perlu jalinan cerita menarik, intensitas, atau aksi seru demi menjaga atensi penonton. Beyond Skyline lemah terkait ketiganya. Alurnya setipis kertas, apalagi begitu Mark dan kawan-kawan singgah di pesawat luar angkasa, berputar di lingkup "Frank Grillo berjalan menyusuri satu per satu ruangan" dan "alien memandangi layar". Sekalinya adegan aksi merangsek, O'Donnell gagal memanfaatkan maskulinitas Grillo, yang kita ingat betul sanggup merepotkan Captain America di The Winter Soldier hingga memikul beban menghidupkan The Purge: Anarchy seorang diri.
O'Donnell bersama sinematografer Christopher Probst kurang cakap mengemas sudut kamera supaya adegan aksi tereskalasi dari sebatas baku hantam generik menjadi sajian pemacu adrenalin. Demikian pula bumbu horor/thriller yang urung mencapai kengerian tinggi sebagaimana dijanjikan momen klaustrofobik sewaktu Frank dan Audrey (Bojana Novakovic) menerima pesan misterius untuk jangan menatap sinar. Bicara soal Bojana Novakovic, sayangnya sang aktris kerap melucuti potensi tensi akibat akting kaku dengan teriakan-teriakan yang tidak jelas maksudnya.
Penulisan O'Donnell tambah berantakan tatkala coba melebarkan mitologi, seperti ketiadaan paparan mengenai otak manusia yang dapat melawan kontrol alien. Bahkan guna mencapai titik terbaik film, tepatnya saat setting berpindah ke Laos (pengambilan gambar dilakukan di Yogyakarta dan Batam), Beyond Skyline harus terlebih dahulu melewati beragam bentuk penulisan naskah buruk, sebutlah perselisihan aparat lokal melawan kartel narkoba pimpinan Sua (Iko Uwais) yang sekedar tempelan, sampai fakta bahwa peristiwa di dua lokasinya bagai dua cerita berbeda yang dipaksa menyatu.
Bukan didorong nepotisme, tetapi Iko Uwais dan Yayan Ruhian memang aspek terbaik Beyond Skyline. Aksi keduanya hadir agak terlambat dan terlampau singkat, namun mendapati mereka menghabisi sederet alien disokong koreografi garapan Yayan Ruhian menghasilkan kepuasan penebus segala kelemahan sebelumnya. Ini menegaskan, betapa Iko juga Yayan dapat seketika melambungkan kualitas suatu sajian laga, termasuk Beyond Skyline yang berakhir sebagai B-movie menghibur, atau setidaknya guilty pleasure.
November 01, 2017
Bojana Novakovic
,
Christopher Probst
,
Cukup
,
Frank Grillo
,
Iko Uwais
,
Jonny Weston
,
Liam O'Donnell
,
Lindsey Morgan
,
REVIEW
,
Science-Fiction
,
Yayan Ruhian
Langganan:
Postingan
(
Atom
)











