HUJAN BULAN JUNI (2017)

12 komentar
Hujan Bulan Juni selaku adaptasi novel puitis berjudul sama buatan Sapardi Djoko Darmono dari luar tampak sederhana tapi mengandung pergolakan rumit nan filosofis soal cinta di dalam. Mengisahkan Sarwono (Adipati Dolken) dan Pingkan (Velove Vexia), sepasang kekasih yang mengajar di Universitas Indonesia. Sarwono yang memilih puisi sebagai cara mengungkapkan segala isi hati kepada Pingkan mulai khawatir begitu sang kekasih bakal melanjutkan kuliah di Jepang selama dua tahun. Alasannya Katsuo (Koutaro Kakimoto, putera Tetsuo Kurata alias Kotaro Minami), pria Jepang sesama alumni UI yang akan menemani Pingkan selama masa studinya. 

Ini bukan semata konflik saling cemburu saling curiga yang kerap dijumpai dalam karya romansa populer. Seperti gaya bahasa metaforik multitafsir Sapardi, skenario karya Titien Wattimena menjadikan puisi media penyusun analogi guna merangkum setumpuk pemikiran serta problematika kompleks. Ada masalah perbedaan suku pula keyakinan yang menyeret keluarga Pingkan (Sarwono adalah Jawa-Islam, Pingkan Manado-Kristen), keresahan terkait kesetiaan, sampai gagasan-gagasan Sarwono terkait cinta. Betapa sulit menuturkan beragam hal tersebut melalui paparan narasi tersurat. 
Ketersiratan membantu menyingkat penyampaian sembari menjangkau makna terdalam. Tentu butuh kesediaan penonton menguraikan benang berbentuk kalimat bersayap maupun simbolisme. Sebutlah perjalanan ke Manado yang notabene rumah Pingkan. Di sana pikiran Sarwono diganggu dua pria. Benny (Baim Wong) jadi perwakilan masa lalu Pingkan, dan Katsuo yang segera mengisi rutinitas Pingkan di masa depan. Sementara Pingkan mesti bergulat dengan jati dirinya sebagai keturunan Manado. Proses tersebut makin berarti sebab hadir di rumah atau kampung halaman selaku tempat segalanya bermula, layaknya menyusuri ruang paling dalam sekaligus paling nyata karakternya.

Pun pemakaian sajak Sapardi memberi kenikmatan tersendiri. Mendengarkan lantunan bait demi bait senantiasa mengundang decak kagum atas pengolahan kata sang penulis. Demikian indahnya, tanpa perlu memikirkan interpretasi pasti pun hati ini bisa kembang-kempis dibuatnya. Mendukung usaha Hujan Bulan Juni memvisualkan puisi, sinematografi Faozan Rizal memproduksi jalinan gambar yang menyimpan tuturan di balik keindahan. Kelopak bunga sakura, debur ombak, nyala neon berbentuk salib, masing-masing bagai punya kisah untuk diceritakan. Kisah yang mewakili rasa dua tokoh utama.
Penyutradaraan Hestu Saputra (Cinta Tapi Beda, Air Mata Surga) juga mencapai titik terbaik, menuangkan sensitivitas dalam keintiman Sarwono dan Pingkan lewat kedekatan batin ketimbang fisik. Bentuk olah rasa serupa dilakukan oleh Adipati Dolken dan Velove Vexia. Adipati dengan kelembutan natural yang menyimpan kerapuhan guna menjauhkan Sarwono dari kesempurnaan, Velove dengan energi ditambah keanggunan sehingga Pingkan layak dipuja. Mereka mulus bicara lewat hati, bercinta menggunakan kata. Sedangkan Baim Wong bersama Surya Saputra berjasa menyuntikkan humor segar yang menambah dinamika kunjungan ke Manado.

Sayangnya transformasi bahasa sajak ke sinema belum sepenuhnya lancar. Terdapat dua kelemahan di dua poin vital. Pertama monotonitas alur. Media novel tak menghadapi masalah ini karena membiarkan imaji pembaca bebas bermain. Tapi di film, puisi serta gambar indah tidak sanggup menyembunyikan repetisi momen "tukar puisi" Sarwono dan Pingkan. Kedua, menerjemahkan ambiguitas ending novelnya yang berupa sajak bukan perkara gampang. Kembali, film butuh visualisasi, memaksa ambiguitas tadi dilucuti. Hasilnya adalah penutup yang terburu-buru, dipaksakan, bahkan seperti kebingungan menentukan arah. 

12 komentar :

Comment Page:
Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Film dengan sentuhan puisi kayak AADC pasti emang asik buat divisualisasikan. Terutama sinematografinya itu lho bikin eyegasm. Tapi bunga sakura yang di pantai itu CGI ya, Bang ?

Btw novel Hujan Bulan Juni kata-katanya emang berat bukan Bang sampe ada beberapa bagian dalem novel yang sulit diinterpretasikan ke film ?

Alvan Muqorrobin Assegaf mengatakan...

Bang rasyid gk pingin reviewfilm Gasing Tengkorak nih. Butuh tuntunan nih bang biar gk nyesel kli mutusin nonton.

Rasyidharry mengatakan...

@Pramudya Lebih deket ke 'Aach...Aku Jatuh Cinta' sebenernya. Campuran, yang jatuh iya, yang dipungut dari air kelihatannya asli.

Ya multitafsir emang kalimat novelnya. Pasti susah, mengubah puisi metaforik ke narasi realis yang linier.

Rasyidharry mengatakan...

@Alvan Udah nonton kemaren, nanti habis solat jumat ditulis, biar diberi kekuatan dan ketabahan

Banumustafa24 mengatakan...

@Alvan Udah nonton kemaren, nanti habis solat jumat ditulis, biar diberi kekuatan dan ketabahan

hahahaha, dari balasannya saja udah menyimpulkan ya bang

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

@Bang Rasyid Oiya saya lupa itu style-nya oldies-oldies gimana gitu. Tapi biarpun ada yang tak tersampaikan secara utuh, overall tulisan dalam novel udah diterjemahkan dengan baik ke dalam layar lebar kan, Bang ?

Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

review flatliner ga bro?

Ungki Haeri mengatakan...

Mas Rasyid apakah ntar bkal nge-review film My Generation? liat trailernya kyanya kental dengan nuansa liberty and diversity, brusan liay di tv kata sang sutradara Upi juga ini film kids zaman now banget, hehe bklan mendeskripsikan perspektif dua sudut pandang antara orang tua dan anak, nunggu banget filmnya...

Rasyidharry mengatakan...

@Banumustafa yap, tunggu aja :D

@Pramudya Baik kok, macam sajak novelnya, cara filmnya berpesan itu subtle. Tersirat.

@Teguh Nggak, pilih Thank You For Your Service

@Ungki Jelas. Bagusnya Upi, gaya "semau gue" bikin filmnya asyik. Kurangnya, karena "semau gue" itu kadang bikin beberapa filmnya ngaco haha

Redo Anggara mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Redo Anggara mengatakan...

Tapi kenapa saya bosan ya dgn jalan cerita nya..perpaduhan puisi dan plot ceritanya tdk benar2 menyatuh dan terkait karakter utama nya terasa kurang kuat chamestry nya yg membuat urung peduli dari penonton buat hubungan kedua nya dan merihal konflik perbedaan adat dan keyakinan pun kurang di singgung lebih dalam lagi di sini .

Rasyidharry mengatakan...

Ya itulah sisi negatifnya, berusaha bahas banyak hal filosofis & kompleks yang di novel bisa diakali lewat puisi bersayap. Tapi buat film yang berusaha mengadaptasi gaya novelnya semirip mungkin (which is really hard), filmnya lumayan berhasil. Khususnya buat penonton yang personally pernah/sedang mengalami konflik serupa :)