ROAD TO INFINITY WAR: MCU MOVIES RANKED FROM WORST TO BEST

41 komentar
Menyambut perilisan Avengers: Infinity War yang tinggal hitungan hari, saya akan melakukan sesuatu yang (sulit dipercaya) belum sempat saya lakukan. Membuat peringkat film rilisan Marvel Cinematic Universe (MCU). Beberapa film, khususnya Phase One serta beberapa Phase Two saya tonton ulang demi menyegarkan ingatan. Peringat ini disusun berdasarkan urutan terbawah (terburuk) sampai teratas (terbaik).

18. The Incredible Hulk
Klimaks tatkala Hulk dan Abomination bertarung sambil menghancurkan kota tersaji menyenangkan, tapi tidak dengan paruh sebelumnya yang berusaha terlalu keras tampil serius. Satu hal yang kurang pas mengingat protagonisnya adalah monster hijau berotot yang gemar mengamuk. Bahkan sejak kredit pembuka, bisa dilihat kebingungan Marvel Studios membungkus filmnya saat mereka sendiri belum menemukan pijakan pasti.

17. Iron Man 2
Film yang dilukai oleh keberhasilan pendahulunya. Tidak buruk, melainkan film generik dengan alur generik ditambah penjahat generik dalam wujud Ivan Vanko yang menyia-nyiakan motivasi personal karakter dan kapasitas akting Mickey Rourke. Sama seperti penampilan Robert Downey Jr., klimaksnya masih menyenangkan disimak, begitu pula kerennya aksi perdana Black Widow.

16. Thor: The Dark World
Beberapa lubang menganga di alur, Malekith sebagai musuh medioker, tapi sulit dipungkiri deretan humornya cukup mengundang tawa, ditambah pertarungan puncak yang melibatkan portal antar dimensi dengan sedikit bumbu slapstick jauh lebih menghibur serta kreatif dibanding sekedar serbuan sepasukan monster tanpa kepribadian.

15. Avengers: Age of Ultron
Diawali aksi keren serta perkenalan menjanjikan trio karakter baru: Ultron, Scarlet Witch, Quicksilver, kejatuhan Age of Ultron disebabkan dua usaha berlebih. Marvel terlalu bernafsu menyertakan tease bagi film-film berikutnya, sedangkan Joss Whedon berusaha keras menjadi...well, Joss Whedon. Acap kali humornya dipaksakan, pun Ultron amat mudah dikalahkan. Menghibur? Jelas. Tapi penantian sekian lama gagal terbayar lunas.

14. Spider-Man: Homecoming
Bagaimana bila John Hughes (The Breakfast Club, Ferris Bueller’s Day Off) membuat film pahlawan super? Homecoming adalah jawabannya. Membawa persoalan menumpas kejahatan ke setting kehidupan SMA, urusan drama-komedi remaja film ini tampil apik. Walau sayangnya elemen aksi gagal menyaingi. Setidaknya kita mendapat Vulture, salah satu penjahat terbaik MCU dengan teror terbesar justru hadir lewat “interogasi” seorang ayah terhadap kekasih puterinya yang dibumbui akting intimidatif Michael Keaton.

13. Thor
Kenneth Branagh membawa elemen Shakesperian soal perebutan tahta kerajaan, pengkhianatan, dan percintaan dalam lingkup dunia para dewa dan monster. Asgard, seperti seharusnya, bak kerajaan negeri dongeng. Pilihan pemainnya luar biasa, dengan Tom Hiddleston tentu saja menjadi bintang pertunjukan. Pertarungan antara Thor, yang baru saja memperoleh Mjolnir miliknya lagi melawan Destroyer dikemas bombastis.

12. Captain America: The Winter Soldier
Menempatkan The Winter Soldier di posisi ini jelas bertentangan dengan opini populer. Di sinilah Steve mulai menjauh dari sosok prajurit taat aturan. Nuansa serius pembungkus gaya spionase ditambah thriller politik, meski memberi warna berbeda bagi MCU pun digarap solid, sejatinya tak sepenuhnya baru di ranah blockbuster. Belum lagi Winter Soldier yang penokohannya kurang digali.

11. Thor: Ragnarok
Salah satu film pahlawan super paling eksperimental. Waititi memberi sentuhannya pada MCU, mendobrak segala formula dengan mengubah film Thor jadi komedi seutuhnya, sesuatu yang bahkan tergolong berani untuk MCU. Hasilnya adalah tawa tanpa henti pemberi nafas baru bagi franchise terlemah Marvel. Apabila The Dark Knight berada di ujung kiri genre pahlawan super lewat gaya realistis plus nuansa kelam, maka Thor: Ragnarok ada di ujung kanan, menyelam ke dalam totalitas komedi serta dunia fantasi berisi dewa, monster penjaga neraka, juga naga.

10. Iron Man
Film yang memperlihatkan kalau menjadi pahlawan super, dengan semua tanggung jawab menyelamatkan dunia beserta umat manusia, bukan berarti tak bisa terlihat keren sambil bersenang-senang. Tontonan rock ‘n roll yang menata ulang karir Robert Downey Jr. plus memberi pondasi bagi ambisi Marvel Studios, dipandu naskah yang cukup solid mengarahkan transformasi seorang Tony Stark.

9. Iron Man 3
Satu lagi opini kurang populer, bahwa Iron Man 3 adalah film Iron Man terbaik. Premis soal Tony Stark yang jarang mengenakan kostum sepanjang film terdengar seperti ide buruk tapi Shane Black mampu menjadikannya perpaduan menghibur antara buddy movie dengan sedikit spionase sambil mengobservasi sisi kemanusiaan Tony yang mengalami gangguan kecemasan. Kejutan tentang Mandarin, walau mencoreng identitas tokohnya, adalah twist yang baik dipandang dari sisi penceritaan. Sajian yang berani nan radikal.

8. Captain America: The First Avenger
Film yang semakin lama—semakin kita mengenal Steve Rogers alias Captain America—semakin baik. Melihat pahlawan bangsa, bahkan dunia, yang segera berhadapan satu lawan satu dengan si Titan Gila, memulai perjalanan dari seorang bocah ceking Brooklyn yang bermimpi bisa ikut berperang demi kedamaian dunia menimbulkan kesan sentimentil tersendiri. Mengapa Capt. layak jadi pemimpin Avengers? Film ini menjawabnya. Mengapa ia sebegitu ngotot membela Bucky di Civil War? Film ini menjawabnya (he lost his best friend twice!). Pun ini sajian MCU paling romantis, lengkap dengan konklusi mengharukan soal janji dansa yang tertunda.

7. Doctor Strange
Tatkala mayoritas film blockbuster (termasuk beberapa judul MCU sendiri) terjebak keklisean klimaks berupa pertarungan bombastis yang melibatkan sorotan cahaya pembelah langit, Doctor Strange menghadirkan kreativitas. Alih-alih memanfaatkan ilmu sihir demi menunjang otot, Strange mengandalkan otak, lalu memilih jalan “damai” berupa perundingan. Kreatif. Sama kreatifnya dengan berbagai sekuen yang melibatkan lompatan antar dimensi, khususnya saat kali pertama Strange mengalami proyeksi astral, yang menjawab alasan pemilihan Scott Derrickson si sutradara horor untuk menangani film ini.

6. The Avengers
Inilah saat Marvel mengalahkan kemustahilan, mewujudkan impian para penggemar berkat kejelian Joss Whedon yang mampu membagi porsi tiap karakter sama rata (kecuali Hawkeye tentunya). Dialog-dialog humor pintarnya menghasilkan interaksi menarik antar karakter sekaligus mematenkan gaya komedik film-film MCU ke depan hingga kini. Pertarungan puncak di New York digarap luar biasa dengan beragam momen ikonik dari shot seluruh anggota Avengers di satu layar, tracking shot menyoroti aksi tiap-tiap karakter, sampai kalimat “I’m always angry” dari Bruce Banner.

5. Guardians of the Galaxy
Saya beranggapan bahwa naskah baik tak harus memiliki plot rumit atau penelusuran latar belakang karakter yang jauh mundur ke belakang. Hasil tulisan James Gunn ini contohnya. Mengandalkan komedi berbentuk kalimat-kalimat kocak nan cerdas, ia mampu mengenalkan masing-masing anggota Guardians secara jelas lengkap dengan kepribadian mereka yang beragam. Pun dalam sekejap, sosok-sosok antah berantah ini jadi idola baru dunia. Belum lagi ditambah warna-warni sinematografi plus pilihan musik asyik, yang mempengaruhi gaya rilisan-rilisan MCU berikutnya.

4. Ant-Man
Isu ayah-anak beberapa kali muncul di MCU, tapi Ant-Man adalah yang paling hangat dan menyentuh. Tengok adegan saat Hope dan Hank akhirnya berbaikan. Superhero mana lagi yang mengenakan kostum, bertarung, bukan demi menyelamatkan dunia tapi untuk sang puteri? Menyajikan setting pertempuran unik Ant-Man menjawab permasalahan yang mencuat di banyak kisah superhero berkat klimaks yang tak perlu menghancurkan seisi kota dan memakan banyak korban sipil.

3. Black Panther
Film MCU dengan subteks terdalam sekaligus mengandung relevansi tinggi, yang sanggup mematahkan anggapan suguhan dengan bintang kulit hitam sulit meraup kesuksesan. Black Panther bukan sekedar film, tapi event global. Ragam kultur Afrika tumpah ruah, membentuk budaya baru Wakanda yang terpapar indah. Belum lagi keberadaan Erik Killmonger selaku salah satu villain terbaik MCU. Satu lagi perjudian Marvel Studios terbayar lunas.

2. Guardians of the Galaxy Vol. 2
Dari suguhan terlucu MCU di film pertama, James Gunn memberi sekuel yang meski tak kalah lucu, justru menjadi persembahan paling mengharukan dari Marvel Studios. Semakin menggila di komedi, para Guardians pun makin lekat di hati, sehingga kepedualian terhadap mereka sungguh memuncak tatkala klimaks. Pun kematian hingga pemakaman Yondu yang dihiasi letusan kembang api di angkasa menjadi konklusi bittersweet. Oh, and Baby Groot!!!

1. Captain America: Civil War
Ini dia film terbaik Marvel Cinematic Universe! Benturan ideologi Captain America-Iron Man berhasil dituturkan berimbang, perkenalan memikat bagi tokoh-tokoh baru seperti Black Panther dan Spider-Man, hingga Baron Zemo yang bukan saja layak disejajarkan dengan Loki sebagai villain terbaik, pula unggul di beberapa aspek. Tanpa pasukan, tanpa kekuatan super, dan hanya lewat satu film, ia mencapai apa yang seluruh penjahat MCU gagal capai: memecah belah Avengers. Civil War berakhir dengan tercapainya tujuan Zemo. Jangan lupakan pertarungan di bandara. Perhatikan pilihan sudut kamera dan timing Russo Bersaudara. Simak pula bagaimana keduanya sempurna menghidupkan panel komik ke realita. Mereka yang mencela adegan itu karena dianggap “kebanyakan ngelawak”, mungkin perlu belajar lagi soal sekuen aksi.

41 komentar :

Comment Page:
Aan mengatakan...

Jauh banget film komik marvel dibanding keluaran dc.belom termasuk spiderman...x men...juga deadpool...taon ini kayaknya 4 film marvel nongol...

Lucass mengatakan...

Saya kurang setuju sih ant man di urutan empat, mnurut saya layak di urutan 17 ato 18 krena filmnya paling biasa diantara yg lain, justru winter soldier lah yg layak di empat

Rasyidharry mengatakan...

Kenapa di urutan keempat udah dijelaskan kok alasannya. Ditambah soa efek visual, coba cari film superhero lain yang memenuhi alasan itu. Nggak ada. Makanya beda, dan nggak biasa :)

Dimas Andi Shadewo mengatakan...

Bener juga, makin ke sini Capt America First Avenger punya pengaruh yg kuat dalam dunia MCU

Billy Simamora mengatakan...

So far cukup setuju sama listnya.. gak setuju secara total, Krn alih alih Hulk, gw pribadi lebih memilih Thor Dark World yg di urutan 18.. Utk civil war juga scr pribadi gak merasa itu yg terbaik.. tapi intinya kita tunggu besok, smg aja Infinity War bisa jadi nomor 1 or setidaknya top three lahh..

Ditunggu besok review-nya bang, biar bisa diskusi langsung setelah nonton wkwk

Banumustafa24 mengatakan...

Wow, sepertinya banyak juga film MCU yang ratingnya berubah dari artikel yang lo buat sebelumnya, bang. hehehe

Rasyidharry mengatakan...

@Dimas Yap, dulu berasa biasa, sekarang jadi pondasi yang kuat banget.

@Billy Ya kalo Thor: The Dark World & Hulk mah dibolak-balik sama aja. Intinya termasuk yang terbawah haha.

@Banu Really? Malah nggak ingat pernah bikin artikel tentang ini sebelumnya haha

Banumustafa24 mengatakan...

Maksud saya artikel untuk review film masing-masingnya, saya agak kaget loh Thor Ragnarok peringkat 11, padahal kapan hari lo ngasih ratingnya 4/5, bang. hehehe

Rasyidharry mengatakan...

Oh, kalau yang dihitung rating, dari nomor 12-2 juga semuanya 4 haha

M Riefqi mengatakan...

iron man 1 di 10 besar
iron man 1 jauh jauh jauh lebih bgs dari dri iron man 3

M Riefqi mengatakan...

salah.. salah
iron man 1 maunya di nmr 5

Rasyidharry mengatakan...

@M.Riefqi Bisa dipahami. Kebanyakan orang juga bakal bilang Iron Man 1 > Iron Man 3, apalagi itu film yang memperkenalkan kerennya RDJ sebagai Tony Stark. Kenapa Iron Man 3 ada di atas? Karena keberaniannya hancurin semua rule & ekspektasi.

Sutanto mengatakan...

Setuju kalo Iron Man 3 ada di atas Iron Man 1. Dengan alasan yg sama.

Tapi Civil War bagi saya ada di deretan terburuk dengan plot yg terlalu dipaksakan, logika cerita yg konyol, jokes salah tempat yg menghancurkan emosi cerita, action sequences yg minim ketegangan, dan beberapa karakter yg cuma numpang lewat. Alih-alih epic dan menegangkan, justru berakhir bodoh, kocak, dan bikin geleng-geleng kepala dari awal sampai akhir.

Selain itu, Ragnarok pun ada di deretan terburuk bagi saya. Well, film tersebut lebih mirip parodi daripada adaptasi komiknya. Bayangkan sebuah Kisah Tragedi Shakespeare difilmkan dengan props warna warni, seribu kembang api, dan jokes murahan tanpa henti selama 5 menit sekali dari awal sampai akhir. Sekalipun itu bukan film tragedi, jokes sebegitu banyaknya tetap saja berlebihan bagi sebuah film komedi. Tidak efektif, kebanyakan meleset, dan bikin tepok jidat sepanjang film.

So far, Black Panther dan Doctor Strange terbaik sih. Bukan tipikal film superhero biasa, premis yg unik, karakter yg unik, digarap dengan baik, plot yg solid, logika cerita yg terjaga, perfect lah.

Rasyidharry mengatakan...

Kok bisa sebuah film komedi jokes-nya kebanyakan? A comedy meant to be funny, elemen lain mah bonus. Unsur Shakesperian juga udah dilepas di Ragnarok. Itu Thor era Branagh.

Kalo Civil War, soal logika cerita dll boleh lah. Action sequence? Nope, cara Russo Bros balancing interaksi, timing, pilihan shot, semua bagus. Ini dari sudut pandang filmmaking ya, bukam preferensi personal 😁

Billy Simamora mengatakan...

Iron Man 3 kalo di atas Iron Man 1 setuju aja sih, setidaknya mereka layak sih 10 besar.. Btw gw salah satu orang yang suka dengan Iron Man 3, apalagi di bagian terakhir ketika kumpulan robot datang.. mungkin ada yang ga suka dan menurut gw juga wajar, tapi buat gw itu surprise dan gw suka..

Dari 18 film MCU yg udh rilis, gw paling menikmati seri film Captain America (but sorry, for me Civil War terburuk dari dua film Cap lainnya)

Utk Avengers 1 masih yg terbaik, yg Ultron gabisa dibilang buruk juga, ok lah.. Seri GotG juga menarik (khususnya dari komedinya wkwk)

Utk stand alone movie, gw pribadi bikin list Ant-Man > Black Panther > Doctor Strange > Spiderman > Hulk

Rasyidharry mengatakan...

Oh kalo Civil War dibilang terburuk di antara film Capt lain, itu wajar. Franchise Captain America emang paling superior. Trilogi yang tiap film punya keunggulan masing-masing dan beda-beda. Komplit.

Sutanto mengatakan...

"Kok bisa sebuah film komedi jokes-nya kebanyakan? A comedy meant to be funny."

Maaf, sepertinya Agan kurang paham perbedaan antara kualitas dan kuantitas. Semakin banyak jokes tidak berarti semakin lucu. Jokes itu yg penting kualitasnya, bukan kuantitasnya. Dalam film komedi itu jokes harus memiliki timing yg tepat untuk bisa menjadi lucu. Sehingga jumlahnya pun harus disesuaikan dengan cerita, bukan asal banyak. Kalau film terus dibombardir oleh jokes sebanyak mungkin, tidak memperhatikan kualitas jokes-nya, jelas itu akan lebih membuat jengkel daripada lucu.

Apalagi untuk film Ragnarok ini, bukan ide yg bagus untuk menjadikan event paling tragis dalam kisah Thor menjadi sebuah komedi, lihat bagaimana di ending kehancuran Asgard dibuat candaan. Seperti saya bilang ini lebih seperti parodi. Yang jadi masalah paling besar, film Ragnarok ini bukan film yg berdiri sendiri. Masih oke lah kalau Ragnarok ini adalah standalone movie. Tapi nyatanya tidak, ini film ketiga dari 2 prekuel sebelumnya yg serius dan juga menjadi bagian dari Cinematic Universe yg serius (bukan parodi). Lantas kehadiran film Ragnarok yg memparodikan kehancuran Asgard seolah menjadi paradoks di MCU. Jika kehancuran Asgard di Ragnarok dianggap lucu, apakah kehancuran bumi di Infinity War juga akan dianggap lucu? Menjadi sebuah inkonsistensi yg mengganggu di MCU.

Kalau alasannya untuk keberagaman tone, alangkah lebih bijaksana untuk mengkomedikan Spider-Man atau Ant-Man, daripada Thor, event Ragnarok pula. Haduh #TepokJidat

Sutanto mengatakan...

Adegan Airport itu lebih seperti pertunjukan sirkus memukau yang ter-adegan-kan dengan baik daripada sebuah pertempuran natural yg menguras emosi antar sesama superhero.

Setuju kalau dibilang Adegan Airport itu adalah adegan action yg bagus dari segi sinematografi, koreografi, dan visual effects. Tapi filmmaking bukan cuma itu bung, jangan lupa soal plot dan atmosfer cerita, karena ini film, bukan sirkus. Film bertujuan untuk menyampaikan cerita, bukan cuma memamerkan koreografi.

Boleh saja Adegan itu superior dari segi koreografi dan sinematografi, tapi tidak dari segi pembangunan plot, atmosfer, dan kesatuan cerita. Adegan Airport itu menjadi sebuah anomali yg mematahkan logika cerita dan merusak atmosfer film yg telah dibangun sebelumnya. Di mana seharusnya pertempuran antar superhero yg menjadi klimaks dari konflik2 sebelumnya itu memiliki atmosfer yg lebih gelap, lebih mengguncang, dan lebih menguras emosi daripada pertempuran membasmi musuh yg bisa jadi menyenangkan, tapi justru adegan ini dibalut dengan penuh candaan dan adegan konyol yg membuat adegannya menjadi tidak selaras dengan plot, bahkan terkesan konyol karena disana atmosfer dan logika ceritanya seolah 'dipatahkan'. Sekaligus juga membuat bingung apakah ini puncak dari sebuah perang saudara atau justru pertunjukan Sirkus Barnum versi superhero.

Bayangkan saja adegan lorong di The Raid diselingi dengan jokes serupa, jelas itu akan menurunkan tensi dan meruntuhkan atmosfer yg telah dibangun sebelumnya. Di mana seharusnya menegangkan malah menjadi konyol dan bodoh. Adegan action-nya tentu tetap bisa disebut luar biasa dari segi koreografi dan sinematografi, tapi secara keseluruhan, adegan itu tidak bisa disebut baik.

Namun memang sebagian fans yang sudah terlanjur dibuat 'orgasme' oleh kehadiran sejumlah karakter ikonik Marvel dalam satu adegan tampaknya tak lagi melihat plot sebagai hal yg terlalu penting. Hal yang wajar jika fans mengalami bias seperti itu. Lihat saja bagaimana fans DC begitu mengagung-agungkan Batman v Superman dengan mengabaikan segudang kebodohan dalam naskahnya, karena mereka sudah terlanjur dibuat 'orgasme' oleh kehadiran kedua tokoh ikonik yg bertemu utk pertamakalinya. Hal yg juga terjadi bagi fans Marvel di film Civil War. Sulit dipahami oleh orang yg memang bukan fans superhero seperti saya.

Saya tak perlu menyebut mereka semua harus belajar lagi soal plot dan atmosfer film. Biarkan saja mereka menikmati film favoritnya. Saya pun kadang mengabaikan hal-hal teknis seperti itu kalau sudah jatuh cinta pada sebuah brand/franchise film, video game, atau novel. Wajar-wajar saja. Kebetulan saya bukan fans berat superhero jadi saya lebih bisa melihat persoalan teknis secara jernih daripada preferensi pribadi.

Kenapa saya begitu kagum dengan Black Panther pun karena film itu memang luar biasa unik, beda, dan nyaris sempurna dari segala segi. Cukup pantas disandingkan dengan The Dark Knight milik Nolan. Saya suka film-film superhero macam itu yg bisa menjadi laris karena filmnya secara mengejutkan bagus. Bukan film macam BvS dan Civil War yg terlalu bertopang pada hype, referensi karakter, dan premis bombastis namun nyatanya lemah di sana sini. Saya juga tak terlalu berekspektasi pada Infinity War sebagai sebuah film, selain sebagai mesin uang.

Anonim mengatakan...

Di tunggu Review Infinity War nya bang.
Tiket udah di tangan nih.
Sebelum nonton, turunkan ekspektasi dikit hehehe.

Latif Fajrin mengatakan...

Punya blog review sendiri om?

Rasyidharry mengatakan...

@Sutanto Nah berarti bukan "kebanyakan", tapi "timing yang kurang oke". Tapi, kalau konteksnya full comedy, itu pun nggak masalah. Tinggal penempatan mana yang humor "selipan", mana yang punch line. Contohnya "Airplane!", itu 3-5 menit sekali juga ngelawak.

Konsekuensi komedi Ragnarok jadikan kiamatnya nggak emosional itu bener. Itu kekurangan filmnya. Tapi, adegan kiamat itu juga nggak dijadikan parodi kok, dibanding adegan lain, termasuk serius. Dan dari tema, momen Ragnarok sendiri nggak dimaksudkan untuk devastating, tapi momen penerimaan kalau Asgard itu bukan tempat, melainkan rakyat.

Adegan airport Civil War jelas nggak dimaksudkan untuk menguras emosi. Memang buat senang-senang. Yang emosional kan klimaks threesome itu. Dan saat saya sebut kata filmmaking, itu murni merujuk ke airport sequence, nggak menyinggung storytelling dan tetek bengek lain. Janganlah disamakan dengan The Raid, beda tujuan.

Lihat film, nikmati film, sebagaimana tujuan pembuatan. Ingin Civil War, yang jelas-jelas dibuat untuk fun entertainment, tampil kelam itu sama bodohnya dengan berharap TDK tampil ringan. Ada banyak cara kok memandang film:)

Jackman mengatakan...

Buat saya pribadi yang berada di urutan terbawah itu : Hulk, Ant Man, Thor ragnarok, GOTG, Dr Strange.

Dan tiba2 setelah baca list diatas, saya baru nyadar semua film2 tersebut belum bisa memuaskan saya secara maksimal.
Maaf, masih dibawah TDKR dan trilogi Spiderman nya Sam Raimi dalam hal kesan dan kepuasan untuk ukuran film superhero secara general.
Just opinion.
Jangan di bully ya
Hehehe...

Reza Deni Saputra mengatakan...

Bang tolong koreksi saya kalau gue salah. Bukannya yg direct Homecoming itu Jon Watts yaa? atau emang elu sengaja bang nyantumin nama John Hughes? soalnya di kalimat selanjutnya gue nggak nemuin ada petunjuk kalau itu lu lakuin secara sadar. Maksud gue sebagai pembaca, gue ngeliatnya kayak John Hughes yang direct Homecoming, padahal kan bukan? Sorry nih kalo ribet, soalnya ini masalah fakta hehe

susan mengatakan...

Kalo menurut saya sih, capt America prtama, first soldier, termasuk film MCU terlemah..haha

susan mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
susan mengatakan...

Sutanto : Kayaknya agan ini berharap semua film msti serius, tegang, dan emosional, kalaupun ada jokes ga harus mendominasi film itu ya? Ane sndiri sih setuju ama kata bg rosid, lihat, nikmati film sebagaimana tujuan pmbuatannya.. Walaupun saya bukan fans comic marvel tapi saya bener2 terhibur dan jadi ngefans ama film2 MCU. Ya karena itu, semua film MCU punya dasar/tema dn fokus yg kuat.. Dari btapa humornya ragnarok, gotg, antman sampai sebetapa seriusnya black panther dan lain2.. So.., just have fun :))

Anna B mengatakan...

Setuju ni, nikmati film sesuai tujuan dibuatnya film tersebut. Menurut saya yang sering bilang "Thor Ragnarok kan temanya kiamat, harusnya kelam dan sedih, masa malah tawa", menurut saya mereka adalah orang orang yang kayaknya belom pernah nonton atau ga suka ama komedi hitam, dimana film komedi hitam kan sering menertawakan hal-hal tabu tapi realita

Alini Pramestias mengatakan...

ada yang sama peringkatnya ada yg nggak... menurut aku, film bagus itu klo bisa buat kita nonton berulang2 dan feel atau emosinya dapet.

5 besar itu Ironman 1, GOTG1, Doctor Strange, Civil War, Avengers

Anonim mengatakan...

Sebaiknya si om ini punya blog film sendiri, biar ga ngoceh panjang lebar di kolom komen.

Kasihan.

Masalahnya, ada yg peduli gak?

Anonim mengatakan...

Kayaknya masnya lebih cocok nonton film DC dari pada marvel

Anonim mengatakan...

@Anna B: Thor Ragnarok pure comedy. Soal komedi hitam, cakupan penontonnya memang terbatas, enggak semua orang bisa ngerti 'kelucuan' dari Komedi jenis ini.

@Rasyid: faktor Black Panther & Doctor Strange masuk top 10, Saya secara otomatis Setuju dengan peringkat dari bang Rasyid haha.

Anonim mengatakan...


Marvel kan mau filmnya bisa di tonton semua kalangan,buktinya temanku semua bisa ngerti universenya marvel,tadi nntn infinity war sdh tau jalinan cerita dr film2 marvel yg lain,sebaliknya diajak nntn the dark knight dulu,byk yg ketiduran,gw doank yg menikmati tu film!!
Gw gak keberatan thor ragnarok dibuat begitu...dan senangnya,thanos tdk berakhir seperti stppenwolf!
Padahal dulu lbh suka DC,skrg lbh terhibur di Marvel.

Anonim mengatakan...

mungkin kalo si om itu ketemu Deadpool bakal dibilang "hidupmu terlalu kelam dan serius om, pasti lahir di semesta DC ya"

Anonim mengatakan...

Kalo versi ekstrimnya,om Sutanto itu bakal dikomentarin si Deadpool : "Hey dude, kapan loe terakhir ML? During Woodstock?"

Latif Fajrin mengatakan...

Sekalian review liga Champion juga disini om

uououo mengatakan...

Infinity war paling tepat di posisi 16 pas dibawah ultron karena jelek bgt. Serba kebetulan dan maksa.

uououo mengatakan...

Lu nnton aja infinity war pas opening scene. Gua mau tau perasaanlu gmn pas liat scene itu. Karna jujur gua mati rasa liat scene itu gegara ragnarok.

Robby mengatakan...

Setuju sama Ant Man,visualnya ituloh menarik banget,gak bosen dilihat dan meski filmnya komedik tapi ane juga tetep terharu di klimaks.Iron Man 3 juga memberikan kesan serupa,saya bener-bener simpatik dan suka sama karakter stark hanya di Iron man 3.Yang tidak setuju sih saya GOTG pertama ada di urutan 5 karena menurut saya GOTG biasa aja apalagi Ronan the Accusernya mati konyol,tapi mengingat GOTG belum pernah terdengar sebelumnya dan langsung sukses,maka saya anggap hebat sih.Kalau Doctor Strange sih keren,tapi agak gimana sama endingnya yang "cerdik" itu karena menurut saya itu bukan hal baru dan tak lebih dari izanami uchiha itachi ripoff wkwkwk.Oh ya saya kan belum nonton infinity war nih,kebetulan saya belum nonton ragnarok sama black phanter gara gara sibuk banget waktu itu,kira kira nyambung gak kalo di skip aja?

Rasyidharry mengatakan...

@Robby Ya, masalahnya di Ronan yang terlalu forgettable. Dance off-nya konyol, tapi pas sama tone filmnya yang emang tolol. Soal Strange yang mirip Izanami emang iya ya? Lupa cakupan kekuatannya haha

Tetep nyambung, tapi bakal ada beberapa detail yang susah nangkep. Soalnya opening Infinity War itu langsung lanjutin ending Ragnarok. Dan Black Panther, selain terlalu bagus buat dilewatin, punya peranan di klimaksnya.

Albert Yaputra mengatakan...

Ini Avengers Infinity War udah main, kira2 rangking berapa bang?

Rasyidharry mengatakan...

@Albert Sebenernya antara 1 atau 2, tapi karena after taste yang awet, pantas ada di nomor 1.