HOTEL MUMBAI (2018)

1 komentar
Memaparkan tragedi penembakan dan pemboman terkoordinir di Mumbai pada 26-29 November 2008, Htel Mumbai dengan gampang membuat saya mengutuk para pelaku yang merenggut nyawa 166 manusia, hanya karena satu kata: Kafir. Tapi itu bukan pencapaian besar. Selama sisi kemanusiaan kita terjaga, tak peduli seburuk apa filmnya, kebencian terhadap aksi terorisme tentu mudah tersulut.

Tugas yang lebih sulit adalah membuat penonton peduli terhadap karakernya serta merasa terikat dengan mereka, sesuatu yang kurang berhasil dilakukan Hotel Mumbai. Dampaknya, intensitas pun kerap terkikis. Ditulis naskahnya oleh John Collee (Happy Feet, Master and Commander: The Far Side of the World) dan sutradara Anthony Maras berdasarkan dokumenter Surviving Mumbai (2009), film ini berusaha menyatukan terlalu banyak hal: Thriller, studi karakter termasuk para teroris, hingga kisah kepahlawanan karyawan Hotel Taj Mahal Palace yang menolak kabur demi melindungi tamu. “Tamu adalah dewa”. Demikian semboyan mereka.

Ada dua sisi protagonis di sini. Pertama Arjun (Dev Patel), karyawan hotel yang tengah menanti kelahiran buah hati keduanya, kedua adalah pasangan suami-istri, David (Armie Hammer) dan Zahra (Nazanin Boniadi), yang berkunjung bersama bayi mereka, serta sang pengasuh, Sally (Tilda Cobham-Hervey). Deskripsi singkat tersebut cocok sebagai langkah awal membangun penokohan mumpuni, namun sebelum tumbuh kedekatan di antara penonton dan tokoh-tokoh itu, serangan terlanjur terjadi.

Nilai emosional dan ketegangannya pun menurun, meski sepanjang serangan di Hotel Taj Mahal, film ini telah melakukan segalanya dengan tepat, termasuk kejelian Anthony Maras mengatur timing juga mise-en-scène (tiap kali ia memanfaatkan latar luas seperti lobi, menempatkan korban di satu sisi sementara teroris diam-diam mengintai di sisi lain, hasilnya selalu mengagumkan), Hotel Mumbai tak pernah jadi presentasi menggugah. Tapi ini jelas merupakan sajian disturbing dan memarahkan, khususnya sewaktu Maras tak ragu menggambarkan kebrutalan serangannya. Kita melihat deretan teroris sampah itu bahkan tidak bergeming menembaki wanita tua yang terluka dan memohon agar diampuni, atau korban-korban tak berdaya lain.

Menariknya, Hotel Mumbai lebih sukses memotret pelaku ketimbang korbannya. Penyerangan di 12 titik ini didorong oleh ambisi berjihad. Alasannya adalah, sebagaimana kerap dinyatakan sang pemimpin (berasal dari Pakistan), kafir-kafir sudah menginvasi negeri mereka guna memancapkan kekuasaan kapitalisme, hidup makmur sementara para muslim lokal terjerat kemiskinan. Pada bagian ini, naskahnya solid menuturkan betapa kacau alasan teroris-teroris tersebut.

Hotel Mumbai menunjukkan bagaimana kemiskinan dan kelaparan dapat memancing amarah, iri dengki, dan tentunya kebodohan. Para teroris berusaha melenyapkan “kafir” yang dianggap tanpa rasa kemanusiaan dengan cara melakukan aksi keji tanpa rasa kemanusiaan. Sungguh tolol. Pertanyaan lain pun timbul, “Benarkah itu motif sesungguhnya?”. Atau sekadar rasa iri akibat ketidakmampuan menikmati kemewahan? Mereka terpana mendapati kemegahan hotel, menikmati makanan sisa selaki menghabisi ratusan nyawa, bahkan terungkap bahwa sang pemimpin menjanjikan sejumlah uang sebagai kompensasi keterlibatan mereka.

Elemen di atas jauh lebih kuat ketimbang aspek thriller-nya, yang meski solid, pelan-pelan kehilangan momentum akibat durasi yang terlampau lama, juga beberapa penyuntingan buruk. Cerita keluarga David-Zahra kurang bekerja maksimal, namun kisah tentang pengorbanan karyawan hotel jadi yang saya paling sayangkan. Karena narasi penutup mengenai aksi heroik mereka begitu menyentuh, membuat saya berharap unsur itu lebih disorot, sementara Dev Patel menyajikan performa apik, menghembuskan hati yang sayangnya urung filmnya maksimalkan.

1 komentar :

Comment Page:
Syahrul Tri mengatakan...

Baru banget nonton , menurut saya sih ini bagus yah , bagus banget, kita berasa ada di dalam atmosfer hotel dan berasa ingin keluar cepat cepat . Its thrilling and intense tapi ada beberapa moment yg memang benar benar menyentuh loh mas.yang main juga udah total semua ( dev patel is awesome) . Dan paling penting the message is delivered. Puas saya .