Tampilkan postingan dengan label Armie Hammer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Armie Hammer. Tampilkan semua postingan

REVIEW - DEATH ON THE NILE

Death on the Nile membawa Kenneth Branagh kembali memerankan detektif ciptaan Agatha Christie, Hercule Poirot, setelah Murder on the Orient Express lima tahun lalu. Dia pun masih duduk di kursi sutradara. Tercipta paralel menarik, saat sebagai sutradara, Branagh juga terasa bak detektif dengan kejelian mengobservasi. 

Sedangkan penonton diposisikan layaknya murid, yang diarahkan mesti melihat ke mana. Seolah kita dilatih untuk menumbuhkan kepekaan (atau obsesi?) dalam memperhatikan perkataan karakter, maupun tindak tanduk mereka hingga detail terkecil. 

Tapi bukan berarti ia menyuapi penonton. Saat ada karakter mengeluhkan hilangnya sebuah barang, kamera tidak berfokus padanya, tapi Branagh memastikan keluhan itu terdengar. Menganggapnya informasi penting atau tidak, sepenuhnya diserahkan pada kita. Itulah mengasyikkannya Death on the Nile. Sebuah film detektif di mana penonton dilibatkan secara aktif.

Kasus kali ini berlatar di Mesir, tepatnya di atas kapal S.S. Karnak yang melintasi sungai Nil, membawa kerabat-kerabat Linnet (Gal Gadot) dan Simon (Armie Hammer), yang baru menikah dan tengah berbulan madu.

Turut hadir di kapal adalah: Bouc (Tom Bateman), kawan Poirot, bersama ibunya, Euphemia (Annette Bening); Linus (Russell Brand dalam peran serius yang jarang ia lakoni), dokter sekaligus mantan kekasih Linnet; Andrew (Ali Fazal), sepupu Linnet yang juga pengacaranya; Marie (Jennifer Saunders), ibu baptis Linnet yang datang ditemani susternya, Mrs. Bowers (Dawn French); Salome (Sophie Okonedo) yang hadir sebagai penyanyi bersama Rosalie (Letitia Wright), keponakannya. Jacqueline (Emma Mackey), mantan tunangan Simon yang masih menyimpan sakit hati, muncul sebagai tamu tak diundang.

Kita tahu salah satu dari mereka bakal tewas, namun pembunuhan baru terjadi ketika film memasuki pertengahan durasi. Naskah hasil tulisan Michael Green meluangkan waktu memperkenalkan ensemble cast-nya, mengungkap bahwa semua menyimpan motif, yang mayoritas berkutat di persoalan cinta. Selain misteri pembunuhan, Death on the Nile merupakan tuturan romansa pahit. Pengkhianatan, cinta tak terjamah, cinta terlarang, dan lain-lain, mengukir luka di batin tiap karakter.

Tidak terkecuali Poirot. Sebagaimana film pertama, Poirot versi Branagh bukan sekadar detektif eksentrik. Sosoknya dimanusiakan, kerapuhannya ditonjolkan. Akting Branagh mencapai puncak ketika di babak akhir, Poirot yang sedang menyampaikan jawaban kasus, mendadak berhenti bicara. Sang detektif kesulitan membendung emosi. Melalui close-up, kamera menangkap mulusnya transisi emosi Branagh. 

Mesir merupakan latar sempurna, yang menjadikan filmnya tampil bagai tragedi romansa epik. Dibantu Haris Zambarloukos selaku penata kamera, Branagh mampu menyuguhkan tontonan yang terlihat lebih mahal dari bujet sebenarnya (angka 90 juta menjadi kecil bila melihat ensemble cast-nya). Piramida, bentangan sungai Nil, hingga kuil Karnak, takkan semegah ini tanpa pemahaman sutradara, akan bagaimana melahirkan pengalaman sinematik.

Sayangnya Branagh masih lemah dalam membungkus konklusi kasus. Ditambah lagi, walau aktif melibatkan penonton selama investigasi, Death on the Nile tak mempunyai "momen eureka". Momen di mana sang protagonis sadar telah memecahkan segala pertanyaan. Momen yang menjembatani antara kegelapan dan titik terang. Kekurangan itu serupa Murder on the Orient Express, tapi secara keseluruhan, Death on the Nile tetaplah sekuel yang superior.

HOTEL MUMBAI (2018)

Memaparkan tragedi penembakan dan pemboman terkoordinir di Mumbai pada 26-29 November 2008, Htel Mumbai dengan gampang membuat saya mengutuk para pelaku yang merenggut nyawa 166 manusia, hanya karena satu kata: Kafir. Tapi itu bukan pencapaian besar. Selama sisi kemanusiaan kita terjaga, tak peduli seburuk apa filmnya, kebencian terhadap aksi terorisme tentu mudah tersulut.

Tugas yang lebih sulit adalah membuat penonton peduli terhadap karakernya serta merasa terikat dengan mereka, sesuatu yang kurang berhasil dilakukan Hotel Mumbai. Dampaknya, intensitas pun kerap terkikis. Ditulis naskahnya oleh John Collee (Happy Feet, Master and Commander: The Far Side of the World) dan sutradara Anthony Maras berdasarkan dokumenter Surviving Mumbai (2009), film ini berusaha menyatukan terlalu banyak hal: Thriller, studi karakter termasuk para teroris, hingga kisah kepahlawanan karyawan Hotel Taj Mahal Palace yang menolak kabur demi melindungi tamu. “Tamu adalah dewa”. Demikian semboyan mereka.

Ada dua sisi protagonis di sini. Pertama Arjun (Dev Patel), karyawan hotel yang tengah menanti kelahiran buah hati keduanya, kedua adalah pasangan suami-istri, David (Armie Hammer) dan Zahra (Nazanin Boniadi), yang berkunjung bersama bayi mereka, serta sang pengasuh, Sally (Tilda Cobham-Hervey). Deskripsi singkat tersebut cocok sebagai langkah awal membangun penokohan mumpuni, namun sebelum tumbuh kedekatan di antara penonton dan tokoh-tokoh itu, serangan terlanjur terjadi.

Nilai emosional dan ketegangannya pun menurun, meski sepanjang serangan di Hotel Taj Mahal, film ini telah melakukan segalanya dengan tepat, termasuk kejelian Anthony Maras mengatur timing juga mise-en-scène (tiap kali ia memanfaatkan latar luas seperti lobi, menempatkan korban di satu sisi sementara teroris diam-diam mengintai di sisi lain, hasilnya selalu mengagumkan), Hotel Mumbai tak pernah jadi presentasi menggugah. Tapi ini jelas merupakan sajian disturbing dan memarahkan, khususnya sewaktu Maras tak ragu menggambarkan kebrutalan serangannya. Kita melihat deretan teroris sampah itu bahkan tidak bergeming menembaki wanita tua yang terluka dan memohon agar diampuni, atau korban-korban tak berdaya lain.

Menariknya, Hotel Mumbai lebih sukses memotret pelaku ketimbang korbannya. Penyerangan di 12 titik ini didorong oleh ambisi berjihad. Alasannya adalah, sebagaimana kerap dinyatakan sang pemimpin (berasal dari Pakistan), kafir-kafir sudah menginvasi negeri mereka guna memancapkan kekuasaan kapitalisme, hidup makmur sementara para muslim lokal terjerat kemiskinan. Pada bagian ini, naskahnya solid menuturkan betapa kacau alasan teroris-teroris tersebut.

Hotel Mumbai menunjukkan bagaimana kemiskinan dan kelaparan dapat memancing amarah, iri dengki, dan tentunya kebodohan. Para teroris berusaha melenyapkan “kafir” yang dianggap tanpa rasa kemanusiaan dengan cara melakukan aksi keji tanpa rasa kemanusiaan. Sungguh tolol. Pertanyaan lain pun timbul, “Benarkah itu motif sesungguhnya?”. Atau sekadar rasa iri akibat ketidakmampuan menikmati kemewahan? Mereka terpana mendapati kemegahan hotel, menikmati makanan sisa selaki menghabisi ratusan nyawa, bahkan terungkap bahwa sang pemimpin menjanjikan sejumlah uang sebagai kompensasi keterlibatan mereka.

Elemen di atas jauh lebih kuat ketimbang aspek thriller-nya, yang meski solid, pelan-pelan kehilangan momentum akibat durasi yang terlampau lama, juga beberapa penyuntingan buruk. Cerita keluarga David-Zahra kurang bekerja maksimal, namun kisah tentang pengorbanan karyawan hotel jadi yang saya paling sayangkan. Karena narasi penutup mengenai aksi heroik mereka begitu menyentuh, membuat saya berharap unsur itu lebih disorot, sementara Dev Patel menyajikan performa apik, menghembuskan hati yang sayangnya urung filmnya maksimalkan.

ON THE BASIS OF SEX (2018)

On the Basis of Sex dibuka oleh pemandangan ratusan pria dengan setelan jas rapi berjalan serentak. Mereka adalah mahasiswa baru Sekolah Hukum Harvard. Di antaranya, turut berjalan Ruth Bader Ginsburg (Felicity Jones). Tubuhnya mungil, tapi ia menonjol di tengah kerumunan. Bukan saja karena pakaian hijau yang ia kenakan, pula antusiasmenya sebagai satu dari sembilan wanita yang diterima tahun itu.

Namun On the Basis of Sex bukan “cuma” soal itu. Ya, kita melihat Ruth mengalami diskriminasi gender sejak menit pertama menjejakkan kaki di Harvard saat sang Dekan merujuk para mahasiswa sebagai “He” atau “Harvard MAN”. Tapi sekali lagi, film ini tak hanya mengenai Ruth. Film ini bukan membahas “aku” atau “kamu”, melainkan “kita”, sebagaimana seluruh gerakan memperjuangkan keadilan sosial termasuk pemberdayaan wanita semestinya digalakkan.

Membentangkan kisahnya sejak 1956 hingga awal 1970-an, On the Basis of Sex mengisahkan perjuangan Ruth—yang tahun lalu juga dirangkum oleh dokumenter peraih nominasi Oscar, RBG—mengubah Internal Revenue Code seksi 214, yang serupa banyak pasal hukum lain di Amerika Serikat, melakukan diskriminasi gender.

Pembangunan latarnya memaparkan cukup rintangan yang dialami Ruth guna membuat kita memahami semangat membaranya, seperti saat ia kesulitan mendapat pekerjaan akibat berbagai alasan, termasuk tuduhan bahwa sebagai lulusan terbaik Harvard pastilah ia bukan rekan yang menyenangkan, yang sesungguhnya bermuara pada kenyataan bahwa dirinya seorang wanita. Digarap oleh penulis debutan Daniel Stiepleman, alurnya mengalir layaknya film biografi kebanyakan yang melakukan lompatan-lompatan antar periode, namun dilakukan secara mulus, sebab tiap periode punya tujuan dan substansi jelas, bukan hanya paparan acak untuk mengisi durasi.

Saya mengagumi bagaimana filmnya menekankan pada kesetaraan alih-alih kepentingan satu golongan belaka. Walau jiwanya adalah tentang pembebasan hak wanita (sudah seharusnya demikian mengingat itulah isu yang paling “kritis”), tak ketinggalan pula filmnya membahas betapa pria pun kerap jadi korban diskriminasi. Apabila wanita dipandang selaku pelayan dan penjaga rumah, maka pria merupakan pencari nafkah di luar rumah, yang dianggap janggal bila memilih profesi perawat, guru, dan lain-lain.

Poin utamanya adalah keadilan sosial tanpa memandang gender. Itulah mengapa kita menemukan sosok Martin D. Ginsburg, suami Ruth yang diperankan oleh Armie Hammer dalam karisma likeable seperti biasa, yang sepenuhnya mendukung sang istri, meski ia sendiri belum sempurna dan sesekali memaklumi komentar kasual bernada seksis. Perpaduan Ruth dan Martin menambah bobot emosi lewat hembusan elemen drama romansa dan kisah keluarga.

Puncaknya saat Ruth bersama Martin dan puteri mereka, Jane (Cailee Spaeny), mengusut kasus Charles Moritz (Chris Mulkey). Charles adalah pria lajang yang menyewa perawat untuk menjaga sang ibu yang telah berusia 89 tahun, agar ia bisa terus bekerja. Dia mengajukan permintaan pemotongan pajak untuk jasa perawat tersebut, namun ditolak, sebab menurut undang-undang, hanya wanita, janda, atau suami dengan istri yang mesti mendapat perawatan intensif yang berhak menerima pemotongan.

Beberapa dialog sarat istilah hukum mungkin bakal membingungkan, tapi On the Basis of Sex berusaha semaksimal mungkin tidak mengalienasi penonton awam, dengan mengulangi penyampaian poin kunci beberapa kali sehingga mudah dicerna tanpa harus terdengar seperti eksposisi yang dipaksakan. Di samping itu, kalimat-kalimat tulisan Stiepleman kerpa menghasilkan pencerahan seputar mengapa banyak pasal hukum layak disebut diskriminatif. Misalnya tentang keistimewaan palsu yang diberikan pada wanita, tetapi sesungguhnya mengekang, di mana disebutkan bahwa “wanita cukup mengurus rumah, sehingga terhindnar dari kewajiban berat mencari nafkah yang mesti ditanggung pria”.

Ceritanya berkulminasi dalam wujud courtroom drama, yang meski tak terasa seperti puncak pertarungan (sesungguhnya ini baru awal perjuangan panjang Ruth), tetap terasa sebagai klimaks yang layak berkat kualitas berbagai departemen. Naskah Stiepleman urung menyederhanakan persidangan sebagai pertarungan hitam melawan putih. On the Basis of Sex mendorong kita mendukung Ruth sembari tetap memancing pemikiran. Para hakim bukan antagonis kejam, melainkan lawan debat objektif yang menguji keabsahan argumen Ruth dan timnya. Alhasil keberhasilan Ruth lebih bermakna karena ia sudah membuktikan kelayakannya.

Penyutradaraan Mimi Leder (Deep Impact, The Peacemaker, Pay It Forward) yang kembali pasca absen nyaris satu dekade, atau 18 tahun bila menghitung sejak rilisan layar lebar terakhirnya, menerapkan formula tradisional yang terbukti efektif menghantarkan emosi lewat reaction shot yang memancing respon emosi penonton. Kameranya banyak berfokus pada ekspresi wajah para pemain, dan Felicity Jones siap melaksanakan tugasnya lewat performa menggugah yang mengaduk perasaan, khususnya saat ia mulai menampar melalui pernyataan fakta, bahwa selama 100 tahun, negara terus menahan progres kemerdekaan hak wanita.

CALL ME BY YOUR NAME / I, TONYA / LADY BIRD

Ketiga judul di bawah berpeluang meraih kejayaan pada musim penghargaan 2018. Dari Call Me By Your Name, adaptasi novel berjudul sama karya André Aciman yang juga babak pamungkas trilogi tematik Desire milik sutradara Luca Guadagnino (I Am Love, A Bigger Splash), I, Tonya yang mengangkat kisah hidup fenomenal nan kontroversial Tonya Harding sang juara seluncur indah, sampai Lady Bird yang melebarkan sayap si "Ratu Indie" Greta Gerwig ke ranah penyutradaraan setelah membuat Nights and Weekends bersama Joe Swanberg pada tahun 2008.

Call Me By Your Name (2017)
Kredit pembuka berisi foto-foto Classical sculpture, musik klasik, sinematografi cantik Sayombhu Mukdeeprom yang menangkap musim panas di perkampungan Italia bagian Utara berdesain arsitektur cantik. Call Me By Your Name adalah romantika yang memperhatikan keindahan estetika, sama indahnya dengan cinta remaja 17 tahun bernama Elio (Timothée Chalamet) terhadap Oliver (Armie Hammer), pria berusia jauh lebih tua yang singgah sejenak guna membantu riset sang ayah. Benar tema LGBT diusung, tapi ini merupakan sajian universal soal tumbuh kembang dan kegugupan mendapati cinta pertama berseliweran dalam keseharian tanpa ada kepastian. Alur bergulir perlahan, memberi lebih banyak unsur untuk digali selain percintaan, juga kesempatan mengamati detail tiap fase yang Elio lalui. Chalamet penuh antusiasme, bergerak lincah layaknya bocah kegirangan yang coba mencuri perhatian si pujaan hati, pun memiliki kepekaan melakoni momen emosional. Jangankan nominasi, memenangkan Oscar pun layak. Sedangkan Armie Hammer dengan karisma, tubuh tegap, dan suara berat sempurna sebagai sosok cinta pertama. Keduanya beradu manis, bertukar kalimat romantis dari naskah James Ivory ("Call me by your name and I'll call you by mine" is the best line), dibalut kepiawaian Guadagnino menyusun sensualitas. (4.5/5)

I, Tonya (2017)
Tonya Harding (Margot Robbie) merupakan wanita fantastis (dan gila) dengan perjalanan hidup fantastis (dan gila). Metode tradisional kurang pas merangkum riwayatnya. Craig Gillespie (Lars and the Real Girl) menyadari itu, memadukan wawancara palsu ala mockumentary, komedi hitam pekat, serta gerak kamera dinamis kala menangkap aksi Tonya di arena seluncur es. Kita digiring menuju kekaguman serupa mereka yang dulu melihat langsung performa Tonya. Robbie, yang berlatih selama lima bulan termasuk sehari jelang pernikahan, berayun penuh percaya diri seolah tengah menggenggam dunia tanpa peduli publik berpikiran sebaliknya. Ekspresi seusai Triple Axel (gerakan super sulit yang dulu hanya bisa dilakukan Tonya) jadi puncak emosi yang bakal dikenang lama. Tonya memang gila, namun skenario Steven Rogers lebih menaruh atensi pada kegilaan publik akan pencitraan. Alhasil, bersalah atau tidaknya Tonya dalam penyerangan terhadap sang kompetitor, Nancy Kerrigan, tak lagi penting. Apalagi Rogers menonjolkan ambiguitas antara perspektif Tonya dan suaminya, Jeff (Sebastian Stan). Pun sisi liar protagonis dijabarkan selaku dampak perlakuan kasar ibunya, LaVona (Allison Janney), yang dialami sejak kecil. Apakah sejatinya LaVona mencintai sang puteri? Performa eksentrik Janney menjaga kompleksitas tersebut tetap melayang tak pasti. Satu hal pasti, Tonya addalah korban obsesi Amerika atas kesempurnaan "American Sweetheart" dan I, Tonya merupakan film paling bertenaga sepanjang 2017. (4.5/5)

Lady Bird (2017)
Sebuah ode untuk rumah, kenangan, dan orang-orang yang kita ditinggalkan saat kita pergi melanglang buana menggapai mimpi. Lady Bird (Saoirse Ronan), siswi sekolah Katolik di Sacramento, ingin berkuliah di New York, tapi himpitan finansial ditambah ketakutan sang ibu, Marion (Laurie Metcalf), akan bahaya lingkungan kota besar, menghalangi realisasi mimpinya. Gerwig menyajikan observasi soal pertentangan ketimbang permusuhan. Marion bukan antagonis yang mengekang harapan Lady Bird. Naskah buatan Gerwig menyediakan alasan yang menjadikan sikap keras Marion sangat bisa dipahami. Sementara para pengajar sekolah Katolik dilukiskan sebagai sosok religius, namun tidak kolot. Suster Sarah Joan (Lois Smith) misalnya, justru tertawa kala jadi korban keisengan Lady Bird. Daripada menghakimi, Gerwig berlaku bijak, mengajak memahami semua sisi. Penyutradaraannya pun berenergi, kerap mendadak berganti tone, berprogresi cepat layaknya burung yang terbang lincah dari dahan ke dahan. Beberapa momen tampil sekilas bak sketsa komedi, untuk kemudian membentuk keping-keping puzzle yang menyusun lengkap tiap sendi kehidupan tokoh utama (plus kehidupan remaja akhir secara umum). Ronan turut melaju bersama pengarahan dinamis Gerwig, memerankan karakter yang paling menunjang potensinya, membawa Lady Bird mengalahkan rentetan ketidakpastian hingga tiba di cabang pohon yang diinginkan. (4/5)

CARS 3 (2017)

Dari semua rilisan Pixar, Cars termasuk salah satu yang paling ditujukan bagi pangsa penonton junior (baca: menjual merchandise). Itu sebabnya dua film pertama kerap jadi kambing hitam. Padahal, andai bersedia menilik lagi, Cars punya konsep pintar soal penerapan kultur serta tetek bengek mobil pada kehidupan manusia, sementara Cars 2 cukup menghibur selaku homage terhadap spionase 70an. Bukan tontonan mengharukan merupakan "kesalahan", satu anggapan yang sejatinya kurang tepat apalagi mengingat Cars adalah animasi anak. Sampai tiba babak pamungkas trilogi, kala Pixar terjebak antara membuat tontonan bocah atau coba memberi sentuhan pendewasaan.

"Kami ingin tetap meraup keuntungan hasil penjualan merchandise, tapi merasa wajib menjaga reputasi menghasilkan karya berbobot", mungkin begitu pikir para petinggi Pixar. Jadilah Cars 3 menyoroti Lightning McQueen (Owen Wilson) si legenda kejuaraan balap Piston yang kini mulai meredup, dikalahkan mobil-mobil muda yang jauh lebih prima. Tidak keliru, malah sesuai jalur natural perkembangan sang protagonis. Lalu hadir Cruz Ramirez (Cristela Alonzo), mobil wanita muda yang awalnya bertugas melatih McQueen, sebelum terungkap ia memiliki mimpi masa lalu yang gagal terwujud, membawa kisah trilogi ini full circle, kembali ke awal segalanya, melengkapi perjalanan tokoh utama.
Butuh waktu lama untuk filmnya mencapai poin utama penceritaan. Terlalu lama malah. Sebelum akhirnya membawa McQueen pada kesadaran bahwa kelemahan fisik akibat usia bisa diatasi oleh kecerdikan hasil tempaan pengalaman, naskah ciptaan trio Kiel Murray, Bob Peterson, dan Mike Rich mondar-mandir menyoroti hal-hal yang kurang mendukung proses belajar McQueen. Latihan di tepi pantai, keikutsertaan dalam demolition derby (salah satu sekuen paling menarik) jadi sekedar selingan. Benar beberapa berguna membangun penokohan Cruz, tapi berujung mengorbankan kesolidan proses McQueen. Saat tiba waktunya McQueen disorot, film telah melewati separuh durasi, menghasilkan paruh kedua yang dipenuhi beragam progres instan nan penuh sesak. 

Balik soal tujuan filmnya, apa yang dapat dinikmati penonton anak? Terselip tuturan gender yang cukup bermakna, namun untuk kisah McQueen sendiri, bukan lagi coming-of-age, melainkan growing old. Lebih tepat dilontarkan bagi kalangan dewasa kecuali anda berniat memberi pelajaran "saat kamu tua nanti, sadari kelemahanmu, berikan tongkat estafet pada yang lebih muda". Pula teknis visual yang cenderung fokus menghadirkan genangan air, pepohonan, atau gundukan tanah hyper realistic daripada gempuran keceriaan warna-warni yang bakal lebih selaras dengan dunia mobil imajinatif filmnya. Bocah takkan peduli pemandangan demikian. Setidaknya beberapa humor cukup menggelitik.
Bolehkah menciptakan animasi berkonten dewasa teruntuk penonton dewasa? Jelas boleh. Pixar khususnya, telah berulang kali sukses melakukannya (Up and Inside Out are among the best animated movies for adult). Namun Cars bukan sarana tepat. Cars adalah luapan tingkat tinggi meracik dunia imajiner alih-alih media paparan kontemplasi yang sepenuhnya mencuri kemeriahan daya imajinasi itu. Dan kalau mau menyentuh ranah dewasa yang lebih cerdas, mengapa Jackson Storm (Armie Hammer) tetap dijadikan sosok klise antagonis "hitam"? Perseteruan kontras hitam melawan putih tidak sesuai usaha tampil dewasa dan pintar. This is a sport competition. There's no need to makes it a battle between good and evil unless it's for children

Sebagaimana McQueen tak lagi menjadikan balapan aktivitas menggembirakan, Cars 3 ikut mengesampingkan kemasan momen balapan menarik yang bagai dikerjakan setengah hati, asal menyuguhkan mobil melaju sampai garis finish. Kecuali demolition derby, adu kecepatan mobil lainnya berlalu minim impresi Terkait fokus ke arah drama, tiada pula film ini menyimpan kekuatan rasa. Meski peristiwa kecelakaan McQueen di awal cukup mencengkeram hati, sisanya hanya kekosongan drama kontemplasi yang disajikan setengah matang. Cars 3 jadi usaha Pixar memaksakan diri menjaga reputasi sebagai studio penghasil animasi dengan cerita pintar sekaligus penuh emosi penyentuh ragam sendi kehidupan. Terlalu dewasa bagi anak, terlalu di permukaan bagi penonton dewasa pencari makna mendalam, terlalu membosankan bagi pencari hiburan seru. Diperuntukkan bagi siapa Cars 3?

FREE FIRE (2016)

"Free Fireto shootout is like Steven Spielberg's "Duel" to car chase. Keduanya sama-sama mengambil momen paling ditunggu dalam film aksi, kemudian mengembangkannya menjadi materi feature. Sutradara merangkap penulis naskah Ben Wheatley (Kill List, Sightseers, A Field in England) seolah berkata pada penonton, "Kalian suka baku tembak? Silahkan nikmati 90 menit parade desingan peluru". Pasca horor psikologis, horor psychedelic, komedi hitam, sampai satir dystopian drama, Free Fire makin memperkaya warna filmografi sang sineas asal Inggris. 

Bertempat di sebuah gudang di Boston tahun 1978, filmnya mengisahkan dua anggota IRA (Irish Republican Army), Chris (Cillian Murphy) dan Frank (Michael Smiley) yang hendak membeli senjata dari Vernon (Sharlto Copley). Turut hadir pula Justine (Brie Larson) selaku penghubung dua belah pihak. Namun bahkan sejak dibuka oleh Ord (Armie Hammer) pertemuan ini sudah bermasalah ketika Vernon tidak membawa senjata sesuai pesanan. Konflik makin memanas akibat terungkapnya sebuah fakta, memecah baku tembak di antara mereka. Tidak ada pahlawan di sini, hanya dua kubu kriminal yang tak segan menumpahkan peluru. 
Penggemar Quentin Tarantino dan karya-karya awal Guy Ritchie (Lock, Stock and Two Smoking Barrels, Snatch) akan terpuaskan oleh bagaimana Wheatley membangun intensitas di satu lokasi berisi tokoh-tokoh gila yang gemar bersumpah serapah dan bertingkah kasual sembari saling tembak bak sedang menikmati keseruan bermain bersama teman. Wheatley memang tidak berniat menjadikan Free Fire gelaran serius. Entah gaya deadpan Armie Hammer, kepiawaian Sharlto Copley memerankan tokoh bodoh, sikap histeris Brie Larson di beberapa kesempatan, maupun komedi hitam berupa barter peluru yang bagai menggantikan bahasa verbal pertengkaran karakter  adegan Justine dan Harry (Jack Reynor) adalah contoh terbaik  setia memancing tawa.

Naskah hasil tulisan Ben Wheatley bersama Amy Jump amat kaya dalam perbendaharaan kalimat, alhasil karakternya seperti memiliki ratusan cara guna mengungkapkan ejekan atau luapan perasaan. Walau sejatinya mayoritas karakter tampak homogen, tidak seberwarna kata-kata yang terlontar dari mulut mereka, tak jadi masalah sewaktu interaksinya konsisten menciptakan banter menarik. 
Seperti telah disebut, Free Fire adalah usaha transformasi satu aspek film aksi (shootout) menjadi sorotan utama. Peristiwa yang umumnya berlangsung 10 sampai 15 menit diperpanjang berkali lipat, dan tak pelak memunculkan masalah terkait tensi. Pembukaannya efektif menanam benih konflik yang dieskalasi bertahap sebelum memuncak saat tembakan pertama meletus. Berikutnya, repetisi gagal dihindari, sebab Free Fire memang punya alur tipis yang disusun potongan-potongan situasi yang bisa menarik andai Wheatley menekankan pentingnya suatu tujuan, fokus di pergulatan untuk mencapainya. Tapi kecuali momen "berebut telepon", sederet usaha karakter (menggapai koper, bergegas menuju tempat perlindungan, dll.) tenggelam dalam baku tembak acak yang meski "berisik", minim variasi dan gaya.

Free Fire jelas mengasyikkan, namun kurang soal balutan ketegangan akibat ketiadaan "ancaman" pada shootout-nya. Karakternya kerap kena tembak, terpaksa susah payah menyeret tubuhnya ke sana kemari karena terluka, namun tak sampai meregang nyawa. Penonton pun akan santai saja mendapati seseorang tertembak, toh ia bakal baik-baik saja, setidaknya hingga 15 menit terakhir kala Wheatley mulai menggandakan skala, memakai cara lain selain lesatan liar peluru, serta menyelipkan adegan brutal nan menyakitkan. Andai second act-nya memiliki kegilaan serupa, niscaya Free Fire lebih menggigit. But this is still such a hillarious, chaotic yet fun "bang bang bang" parade.