REVIEW - SCREAM VI

15 komentar

Tidak ada seri slasher dengan konsistensi sebaik Scream, di mana installment terlemahnya (Scream 3) pun masih menyuguhkan hidangan pembantaian solid. Semua berkat keseimbangan. Tatkala slasher lawas luput memperhatikan cerita, sedangkan judul-judul modern cenderung melupakan cara gila dalam mencabut nyawa, Scream menawarkan semuanya. 

Scream VI pun demikian. Body count serta variasinya ditingkatkan, sementara formula klasiknya coba diutak-atik. Jika di Scream (2022) Tara (Jenna Ortega) mendobrak pakem ketika berhasil selamat dari kejaran Ghostface di sekuen pembuka, kali ini Laura (Samara Weaving) tidak bernasib sama. Tapi kematiannya segera disusul oleh momen yang menegaskan bahwa film keenam ini bukan sekadar pengulangan, dan Scream senantiasa berinovasi.

Para penyintas film sebelumnya kembali dan menyebut diri mereka sebagai "core four". Tapi ketika Tara, Chad (Mason Gooding), dan Mindy (Jasmin Savoy Brown) nampak beranjak dari trauma mereka, tidak dengan Sam (Melissa Barrera). Selain masih melihat sosoknya, Sam khawatir sisi haus darah sang ayah menurun kepadanya. Apakah itu internalisasi dari tudingan publik bahwa ialah pelaku pembantaian di Woodsboro sesungguhnya, atau Sam memang menyimpan tendensi sebagai pembunuh?

Sampai kapan pun Sidney (Neve Campbell) adalah protagonis terbaik Scream, namun harus diakui, ambiguitas moral Sam membuatnya lebih sejalan dengan modernisasi yang franchise-nya tuju. Itulah pencapaian terbesar Scream VI. Sewaktu jajaran generasi barunya merupakan titik lemah di tengah penghormatan bagi heroisme Sidney-Gale-Dewey tahun lalu, kali ini mereka telah menjadi karakter yang utuh. 

Naskah buatan James Vanderbilt dan Guy Busick mengembalikan ikatan kuat antar penyintas, dalam kisah soal sekumpulan muda-mudi rapuh yang berbagi luka dan trauma. Kesan tersebut terakhir kali muncul di Scream 2 (1997), sebelum pelan-pelan lenyap karena tokoh-tokohnya semakin ahli dalam menangani teror Ghostface. Tentu akting kuat, terutama dari Melissa Barrera dan Jenna Ortega, juga berkontribusi. 

Di sinilah absennya Sidney mungkin patut disebut "blessing in disguise". Sekali lagi, Sidney adalah protagonis terbaik Scream, pun kembalinya si final girl legendaris di installment mendatang akan selalu disambut, namun sebagaimana telah nampak di film kelima, setumpuk pengalaman Sidney menghadapi Ghostface membuatnya terlampau hebat untuk ambil bagian. Sehingga pilihan membatasi porsi Gale (Courteney Cox), yang dalam kemunculan singkatnya bisa memojokkan sang pembunuh, jadi keputusan tepat.

Proses mengoper tongkat estafet turut terjadi di balik kamera. Duo Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett yang kembali menduduki sutradara telah sepenuhnya lepas dari bayang-bayang Wes Craven. Disokong naskah yang menyediakan variasi sekuen pembunuhan kreatif, pula musik bombastis gubahan Brian Tyler dan Sven Faulconer, kedua sutradara terbukti piawai mengolah sekuel slasher yang meningkatkan skala para pendahulunya. 

Kesan "lebih besar" begitu terasa ketika tempat publik tidak lagi berstatus zona aman". Ghostface bisa menghabisi korban di mana pun, siapa pun, berapa pun jumlahnya. Sedangkan walau tetap dibarengi sentuhan humor gelap, pendekatannya lebih menekankan pada pembangunan intensitas (sekuen kejar-kejaran yang berpuncak di tangga jadi contoh terbaik). 

Bukannya Scream VI tanpa kelemahan. Durasi 122 menit (paling panjang di serinya) berujung menyisakan setumpuk ruang kosong yang mubazir, seiring durasi modifikasi formulanya agak mengendur sehingga alurnya kembali menjamah pola-pola familiar, pun penambahan body count agak percuma sewaktu filmnya terlalu bermain aman dalam hal membunuh tokoh utama (meski poin ini juga upaya mendobrak pakem). 

Tapi dengan keseimbangan antara penceritaan dengan serangkaian banjir darah brutal (termasuk klimaks memuaskan yang mewakili proses karakternya bangkit dari ketakutan), Scream VI memberi contoh bagaimana semestinya slasher beradaptasi di era modern tanpa melupakan akarnya.

(Catchplay+) 

15 komentar :

Comment Page:
Anonim mengatakan...

evil dead rise lebih seru daripada scream 6 yang ambigu

Anonim mengatakan...

Buat elu..buat yang lain belum tentu..

Anonim mengatakan...

Nunggu review across the spider-verse

Anonim mengatakan...

Jelek banget ini film scream 6

Film spiderman across the verse 2 lebih horror daripada scream 6

gue udah nonton : jelek ini film makanya nggak tayang di bioskop karena brutalnya ngasal aja

Anonim mengatakan...

ini film apaan sih

Anonim mengatakan...

Skor film scream 6 : 7/10

Anonim mengatakan...

lumayan namun kurang menggigit akhir filmnya

Anonim mengatakan...

mau teriak kagak jadi

Anonim mengatakan...

semesta SCREAM, SCREAM VII berlanjut 2025

Anonim mengatakan...

Bad Movie

Anonim mengatakan...

Njirrr elek banget ini film

Anonim mengatakan...

film komedi alay lebay terbaik

Anonim mengatakan...

wow semesta scream semakin mewah dan puzzlenya makin badass

Anonim mengatakan...

lanjut nih scream 7 lebih menyenangkan

Anonim mengatakan...

Franchise Semakin Jelek Film nya