REVIEW - KUYANG: SEKUTU IBLIS YANG SELALU MENGINTAI

21 komentar

Masalah banyak horor Indonesia terletak pada ketidakmampuan (atau ketidakmauan?) pembuatnya untuk secara serius mengolah mitologi mistis tanah air, yang seperti kita tahu, amat beragam. Alhasil, sajian dangkal yang hanya diisi penampakan ala kadarnya dari para hantu mendominasi layar bioskop. Untunglah Kuyang: Sekutu Iblis yang Selalu Mengintai cenderung hadir sebagai solusi alih-alih bagian dari masalah. 

Alim Sudio bertugas menulis naskahnya yang mengadaptasi novel berjudul sama buatan Achmad Benbela, dan selama 97 menit durasi, ragam budaya klenik Kalimantan benar-benar ia jadikan pondasi penceritaan. 

Bimo (Dimas Aditya) bersama istrinya yang tengah hamil, Sriatun (Alyssa Abidin), baru pindah ke sebuah desa terpencil di Kalimantan. Bimo baru mendapat pekerjaan baru sebagai guru di SD yang hanya memiliki tujuh murid. 

Tapi bahkan sebelum mereka tiba di desa, berbagai fenomena aneh telah menghampiri. Selain kuyang, muncul pula gangguan dari peti mati yang bergerak sendiri yang disebut "raung". Di desa tersebut, peti mati tidak dikubur melainkan digantung di pepohonan, dan raung sendiri berasal dari peti orang yang semasa hidupnya memiliki ilmu hitam. Melempar telur adalah cara untuk mengalihkan perhatian raung. 

Begitulah cara film ini membuka alurnya. Menarik. Sekali lagi, kultur mistis (yang masih jarang diangkat ke layar lebar oleh sinema arus utama) bukan pernak-pernik numpang lewat semata. 

Kemudian, pasca lepas dari teror-teror tadi, Bimo dan Sriatun mulai berkenalan dengan para warga lokal: Kasno (Totos Rasiti) si kepala sekolah yang juga pendatang; Tingen (Andri Mashadi), guru dengan pemahaman tinggi soal klenik; hingga Tambi Nyai (Elly D. Luthan) dan Bue Alang (Egy Fedly), pasutri uzur yang dikucilkan warga karena ilmu hitam mereka ditengarai jadi penyebab banjir bandang yang menewaskan banyak nyawa beberapa tahun lalu. 

Tidak butuh waktu lama sampai Bimo dan Sriatun kembali mendapat gangguan mistis. Setelah menyaksikan sedemikian banyak peristiwa di luar nalar, tatkala Sriatun bercerita mengenai penampakan yang baru ia lihat, Bimo malah menganggap sang istri cuma kelelahan. Antara naskahnya kurang cermat, atau sebaliknya, sebuah kesengajaan selaku bentuk sentilan terhadap tendensi suami mengerdilkan perkataan istri. Jika yang kedua, maka naskahnya perlu tambahan eksplorasi untuk menjadikannya kritik yang kuat. 

Menurut Mina Uwe (Putri Ayudya), dukun setempat yang berjanji bakal memberi perlindungan, Tambi Nyai dan Bue Alang adalah biang segala teror tadi. Twist-nya sudah tercium sejak konflik mulai diperkenalkan, tapi bukan masalah, sebab naskahnya mampu menjalin penceritaan slow burn yang mengalir rapi, tidak buru-buru mengumbar penampakan, dan dipenuhi elemen kultural menarik. 

Deretan gagasan mengenai teror yang dikreasi oleh Alim Sudio terdengar menyeramkan di atas kertas, sayangnya penyutradaraan Yongki Ongestu, biarpun merupakan peningkatan dibanding Tarian Lengger Maut (2021) selaku debutnya, masih kurang maksimal mengolah kengerian. 

Beberapa set piece penampakan hantu terlihat canggung, tapi visinya dalam mengolah intensitas dalam adegan bertempo tinggi patut diapresiasi. Lihat bagaimana Yongki, yang turut menduduki posisi sinematografer, menggerakkan kamera secara dinamis guna mengikuti Bimo yang tengah berlarian mencari Sriatun. 

Satu hal yang kerap didengungkan selaku materi promosi adalah penggunaan CGI untuk menghidupkan sosok kuyang. Produk akhirnya memang memuaskan. Tidak ada efek yang nampak memalukan, termasuk saat dengan percaya diri, sang sutradara secara gamblang memperlihatkan kepala kuyang terlepas dari tubuhnya.

Di jajaran pemain, Dimas Aditya tampil total dalam menyampaikan rasa takut serta keputusasaan yang Bimo alami kepada penonton, sementara Putri Ayudya menyulap kalimat klise "Lihat apa kau?" menjadi situasi yang mencekam. 

Satu penampilan yang agak mendistraksi berasal dari Totos Rasiti, tatkala perangainya yang jenaka bahkan ketika sedang berusaha serius, tidak jarang berlawanan dengan suasana yang hendak dibangun. Apakah sampai merusak filmnya? Untungnya tidak. Kuyang: Sekutu Iblis yang Selalu Mengintai tetap sebuah kejutan menyenangkan di awal tahun, yang memberi secercah harapan bahwa 2024 bakal menandai peningkatan kualitas horor Indonesia.

21 komentar :

Comment Page:
Anonim mengatakan...

njirrrr takutttt

Anonim mengatakan...

Alim Sudio keren

Anonim mengatakan...

horror komedi berkualitas

Anonim mengatakan...

tembus 1 juta penonton

Anonim mengatakan...

kuyang kuya uyang imut banget

Anonim mengatakan...

sajian film berkualitas

Anonim mengatakan...

di kira film sampah, ternyata bagus banget...

Anonim mengatakan...

good movie daerah hikayat

Anonim mengatakan...

Film horor terbaik indonesia tahun ini

Anonim mengatakan...

luar biasasssa lucu

Anonim mengatakan...

Dimas Aditya hot sugar daddy

Anonim mengatakan...

gemesss Dimas Aditya

Anonim mengatakan...

lihat Dimas Aditya kebelet ke toilet

Anonim mengatakan...

gue beri skor ini film : 8.5/10

Anonim mengatakan...

peti laknat banaspati

Anonim mengatakan...

anjay anjritttt ceyem cemen

Anonim mengatakan...

batal deh nonton ini film

Anonim mengatakan...

lebih bagus ini daripada KKN

Anonim mengatakan...

alur sederhana minimalis aktor

Anonim mengatakan...

buat film bagus, nggak perlu aktor mahal

Anonim mengatakan...

salut untuk film kuyang...tunggu kuyang universe sarajana