REVIEW - INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER

Tidak ada komentar

Setelah 16 tahun bertabur enam judul, Out of the Further akhirnya menandai keberanian waralaba Insidious berjalan keluar dari pintu merah yang mengurungnya dalam formula melelahkan seputar rumah berhantu, kendati hanya lewat satu langkah kecil alih-alih lompatan besar.

Lenyap sudah potret kelam Keluarga Lambert. Elise (Lin Shaye), yang tetap bersemayam di The Further selepas kematiannya, jadi penghubung tunggal dengan film-film lalu. Elise kini bertugas memandu si protagonis baru, Gemma (Amelia Eve), yang tanpa ia sadari, kerap menyambangi The Further kala terlelap. 

Gemma adalah ibu satu anak. Gemma pun merupakan putri tunggal dari Ingrid (Laura Gordon), yang semasa kecil tewas mengenaskan di depan matanya. Belum usai upaya Gemma menghalau trauma akibat tragedi tersebut, gangguan dari makhluk-makhluk The Further sudah merecoki kesehariannya. 

Denyut-denyut kesegaran dari naskah buatan sang sutradara, Jacob Chase, mulai terasa kala tiga lansia menyeramkan gemar mondar-mandir di depan kediaman si tokoh utama. Segera penonton bakal berasumsi bahwa pemandangan itu sekadar penampakan hantu biasa yang hanya bisa disaksikan Gemma. Tapi ternyata Maya (Island Austin), putrinya, turut melihat pemandangan serupa. Begitu pun tetangga mereka. 

Kabut misteri yang sudah sekian lama tak terdeteksi di seri Insidious pun seketika menyelimuti alurnya. Semakin menarik sewaktu diungkap kalau Gemma memiliki kekuatan spesial: Dia bisa membawa objek dari The Further ke alam manusia, pula sebaliknya. 

Tentu guliran kisahnya belum secara total mendobrak pakem. Sekitar 100 menit durasi masih didominasi kompilasi teror, dengan build-up yang bergulir jauh lebih lama daripada eksplorasi psikis tokoh-tokohnya. Out of the Further tetap produk arus utama, bukan spesies elevated horror yang bersedia mengedepankan kekuatan narasi.

Tapi seiring Gemma bertambah sering mempertontonkan kekuatan supernya, semakin pula film ini menjauh dari formula klise Insidious, untuk berevolusi menjadi entitas baru yang jauh lebih aneh. 

"Aneh" adalah amunisi yang filmnya siapkan. Pasca sebuah titik balik tak terduga yang mempersingkat rumusan klise nan menyebalkan soal "protagonis vs skeptis", Out of the Further beralih arah dari kisah rumah hantu menuju creature feature sarat momen eksentrik. 

Beberapa penonton akan menertawakan keanehannya (Siapa yang tidak tergelak menyaksikan hantu menodongkan senapan?), tapi toh seluruhnya bersifat intensional. Jacob Chase memilih tampil konyol ketimbang membiarkan penonton terkantuk-kantuk di kursi bioskop. Apalagi ketika ia enggan memungkasi filmnya dengan cara generik, lalu memilih metode over-the-top kreatif guna menuntaskan konflik sembari melempar metafora tentang proses beranjak dari trauma. 

Chase juga jeli mengolah jumpscare yang masih memegang otoritas tertinggi perihal meneror penonton. Selain timing presisi yang acap kali efektif mengecoh ekspektasi, sang sineas pun paham bahwa tidak semua penampakan mesti bersinonim dengan tata suara pengguncang gendang telinga. Ada kalanya kesunyian dibiarkan mengiringi, sementara hembusan napas penonton yang tercekat bak jadi efek suara pengganti. 

Untungnya daya kreasi Chase tidak mentok di urusan mengageti penonton. Cara lain yang menghasilkan efek berbeda tak lupa ditempuh. Sebutlah saat Gemma, yang berprofesi sebagai dokter gigi, mesti mengurus kehadiran sesosok pasien "spesial", yang (tanpa perlu penampakan wajah seram atau banjir darah) melahirkan momen luar biasa menjijikkan, dan tentunya aneh. Jika "aneh" merupakan rute baru yang Insidious akan tempuh ke depannya, dengan senang hati saya akan turut serta.

Tidak ada komentar :

Comment Page: