REVIEW - LOBANG BUAYA: 309 HARI SEBELUM TRAGEDI BERDARAH

Tidak ada komentar

Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah bak visualisasi kumpulan teori konspirasi internet sarat cocoklogi mengenai peristiwa sejarah. Bukan masalah. Sinema negara lain pun gemar melempar gagasan serupa. Sebutlah Hollywood dengan deretan spekulasi liarnya mengenai pendaratan di bulan. 

Bedanya, jika menjadikan film-film cocoklogi tentang misi Apollo 11 selaku contoh, maka teori konspirasi berfungsi menjembatani satir kritis, dan peristiwa nyata yang mendasari tak melibatkan elemen sensitif seperti pembantaian terhadap jutaan nyawa yang masih menyisakan trauma bangsa hingga sekarang. 

Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah coba mengutarakan beberapa kritik namun dengan setengah hati. Saya mengerti, bahwasanya Hanung Bramantyo dan tim enggan mengambil risiko menyentil figur-figur kuat yang nyaris mustahil diganyang kuasanya. Tapi jika demikian, mengapa tak sepenuhnya bermain di ranah khayali?

Naskah buatan Hanung dan Haqi Achmad menjabarkan misteri pembunuhan berantai yang tengah diusut oleh Soegeng (Baskara Mahendra), anggota angkatan darat yang curiga bahwa pelaku berasal dari kesatuannya. Satu per satu mayat ditemukan di Desa Lobang Buaya, di mana pada masing-masing tubuhnya tertulis kata yang merujuk pada tujuh dosa mematikan. 

Cocoklogi pun diutarakan, terutama perihal angka "309" yang bisa ditautkan ke tanggal "30 September", "309 hari sebelum peristiwa G30S sebagaimana tertuang dalam judul", sampai pemaknaan akan ayat 9 dari surat ke-30 (Ar-Rum) di Al Qur'an. Kendati nihil kesubtilan sebagaimana jamaknya teori konspirasi dunia maya, presentasi misteri Lobang Buaya sejatinya cukup menyenangkan. Setidaknya ia efektif menyulut rasa penasaran terkait ke arah mana cocoklogi tersebut bakal bermuara.

Sementara Soegeng melangsungkan penyelidikan, sang istri, Arum (Carissa Perusset), tinggal di rumah untuk menjaga ayahnya (Mathias Muchus) yang sakit keras. Sesekali fokus dialihkan ke Arum, yang memfasilitasi filmnya menghantarkan jumpscare, guna memuaskan dahaga penonton arus utama akan horor hantu-hantuan konvensional. Daya kejutnya cukup efektif, termasuk sebuah penampakan yang jadi wujud pemanfaatan CGI cerdik serta ketepatan timing dalam pengarahan Hanung. 

Pun seperti karya-karya non-horor miliknya, dibantu sinematografi olahan Saudi Utama, musik beraroma suspense klasik gubahan Hariopati Rinanto, juga kinerja tim tata artistik, Hanung kembali membuktikan kapasitasnya memproduksi film dengan kesolidan teknis. Sederhananya, "terlihat mahal", yang mana jadi salah satu hal favorit para produser. 

Sayang, memasuki babak kedua, Lobang Buaya membuang unsur police procedural miliknya, untuk kemudian mengaplikasikan cerita balas dendam beraroma mistis generik. Apalagi sejak kemunculan karakter Dukun Suradi (Iskak Khivano), yang jadi medium naskahnya menyudahi misteri lewat cara malas, di mana alih-alih mengajak penonton menyusun keping demi keping jawaban secara berkala, kebenaran disampaikan lewat kilas balik dalam kilas balik pada satu waktu, sehingga menumpuk segunung eksposisi kusut yang tak jarang malah mencuatkan tanda tanya baru. 

Diperkenalkan pula buku sihir Ghāyat al-Ḥakīm alias Picatrix, yang jadi gerbang pembuka bagi alurnya untuk berbalik arah ke ranah mistis. Bila ditangani dengan cermat, dunia klenik berpotensi menjadi alat menyampaikan kritik metaforis yang "sangat Indonesia". Sebab ketimbang dikerdilkan, bukankah lebih baik andai mistisisme dieksplorasi agar bisa dipakai sebagai identitas yang layak dibanggakan? 

Masalahnya, penerapan mistisisme dalam film ini lebih seperti jalan keluar aman yang pembuatnya ambil. Karena menumpahkan dosa pada manusia penguasa menyimpan risiko fatal, lebih aman memposisikan "entitas hitam" seperti iblis atau Dajjal selaku musuh bersama. 

Benar bahwa Lobang Buaya menyentil beberapa sosok penindas, tapi mereka sebatas penguasa kelas kampung, alias sekadar teri dibanding "ikan besar sesungguhnya" yang semestinya jadi sasaran kritik utama. Belum lagi twist di penghujung durasi terkesan memotret rakyat jelata dengan segala luka mereka sebagai biang kerok atas segala tudingan yang dialamatkan kepada pemegang kuasa. Perihal ini takkan perlu dipusingkan andai Hanung seutuhnya bermain di area fiksi. 

Saya bukan menyebut Hanung dan tim pengecut. Terasa betul mereka bergumul dalam dilema, antara ingin mengutarakan kebenaran (dari hipotesis bahwa area Lobang Buaya dipilih sebagai lahan pembantaian karena lokasinya strategis untuk melancarkan kudeta, sampai keberanian untuk tak membingkai kaum religius sebagai "sosok putih" dan komunis sebagai "sosok hitam") atau kudu berhati-hati. Tapi biar bagaimanapun, dilema tersebut sudah merontokkan taring filmnya. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: