REVIEW - MAJU (JEJAK PAHIT SI KEMBANG GULA)
Visi besar Maju (Jejak Pahit Si Kembang Gula) guna mempersembahkan warna baru di dunia film anak masih tersandung oleh keterbatasan kompetensi serta sumber daya. Tapi toh saya dengan senang hati mengapresiasi upaya para pembuatnya, mengingat orang-orang berkompetensi tinggi pemilik sumber daya tanpa batas masih menyibukkan diri memenuhi industri dengan horor medioker dan drama penguras air mata soal derita kaum jelata.
Disutradarai Franklin Darmadi yang kali terakhir mengarahkan film panjang di Medley hampir dua dekade lalu (2007), Maju membuka penceritaannya dengan long take sederhana, yang merepresentasikan ambisi besar di antara keterbatasan mereka. Dipotretnya rutinitas pagi murid-murid SMP yang petualangannya bakal segera kita simak.
Empat anak memegang peranan sentral: Bagas (Aradhana Rahadi), Kirana (Princeza Leticia), Hanna (Bebe Gracia), dan Gerald (Axandro Juliano). Mereka tergabung dalam kelompok pramuka di bawah bimbingan Pak Wira (Bukie B. Mansyur), yang hendak melakukan survei ke desa lokasi jambore. Pak Kades (Unang Bagito) dan Bu Kades (Sarah Sechan) merupakan pemimpin desa tersebut.
Judul eksentriknya merujuk pada kembang gula yang dikisahkan, sedang populer di kalangan siswa. Bagas menggandrunginya, bahkan di saat jajanan manis itu membuatnya pusing, mual, bahkan berhalusinasi. Adegan beraroma psikedelik sesekali dipakai untuk menggambarkan gelagat janggal yang Bagas alami. Sebuah penegas kecil soal ambisi besar sineasnya kendati dihantui keterbatasan.
Efek samping mengkhawatirkan di atas adalah kewajaran, sebab si kembang gula rupanya narkoba yang disamarkan agar dapat dipasarkan ke anak-anak. "Berani juga", begitu pikir saya mendapati fenomena kelam yang film ini pakai sebagai konflik utama.
Singkat cerita, Bagas mendadak hilang. Besar kemungkinan ia diculik, dan penonton pun diajak bertualang bersama tiga anak lain guna mencari keberadaannya. Adit (Alby Ersani), bocah dari kampung setempat yang kerap dirundung akibat punya masalah perkembangan, turut mengulurkan bantuan.
Tidak sulit menyadari keterbatasan eksekusi filmnya, ditinjau dari resolusi gambar yang tidak selalu tinggi, maupun kinerja inkonsisten departemen penyuntingan. Ada kalanya adegan berpindah secara buru-buru, tapi di kesempatan lain, transisi malah tak kunjung datang hingga mencuatkan kecanggungan dalam peristiwa yang bergulir terlalu lama.
Aset terbesar terkait elemen petualangannya terletak pada penokohan para tokoh utama, yang digambarkan sebagai anggota pramuka cerdas nan terampil. Sayang, naskah buatan Dedey Natalia luput menyediakan suplai memadai perihal keunggulan itu, yang berpotensi menciptakan tontonan unik. Sepanjang 98 menit mereka jarang menerapkan ilmu kepramukaan guna mengatasi rintangan. Baru di klimaks bocah-bocah ini unjuk gigi, pun dalam takaran ala kadarnya.
Pengarahan Franklin Darmadi turut menyisakan keluhan. Di saat naskahnya kerap melucuti keseruan petualangan akibat narasi yang terlalu betah menghabiskan waktu di momen minim signifikansi alih-alih menggerakkan alur dengan lincah, permainan tempo sang sutradara juga kekurangan energi, membuat progresi kisahnya makin terasa berlarut-larut.
Kesan serupa terpancar lewat cara Franklin membungkus fase resolusi, yang bukannya seru dan bertenaga, hanyalah montase yang serba tergesa-gesa. Setidaknya ia cukup berhasil menyulap kenekatan Pak Wira dan murid-muridnya menyusup ke markas penculik jadi rangkaian sekuen yang lumayan efektif menyulut ketegangan.
Ulasan ini lebih banyak mencantumkan kekurangan daripada kelebihan? Mungkin, tapi setidaknya ada perasaan tenang kala menonton Maju (Jejak Pahit Si Kembang Gula), kemudian mendapati bahwa di luar sana masih banyak "sineas kecil" yang menolak latah meramaikan tren industri yang semakin membosankan.

%20(1).png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar