REVIEW - SENI MERAYU TUHAN

Tidak ada komentar

"Jangan terlalu bangga kalau ada orang mualaf. Bisa jadi memang dia belum mendalami agama lamanya." Kurang lebih demikian ucapan Habib Ja'far di salah satu siniar. Pernyataan itu melucuti tendensi arogansi serta egoisme dalam beragama, sembari menyoroti kompleksitas perjalanan manusia mencari pencerahan. Kesan serupa dipancarkan oleh Seni Merayu Tuhan. Tipikal film religi yang telah lama saya rindukan keberadaannya di industri kita.

Tidak heran, mengingat ia memang adaptasi buku berjudul sama karya pendakwah bernama lengkap Husein bin Ja'far Al Hadar tersebut. Daripada sekadar menyalin ulang, naskah buatan Gina S. Noer, Salman Aristo, dan Rino Sarjono menyulap esai nonfiksi gagasan sang habib menjadi entitas fiksi baru yang mewarisi segala jiwa bukunya. 

Hikmah (Ari Irham) bukan termasuk golongan alim. Salat lima waktu ogah ia dirikan, tidak peduli secerewet apa pun omelan ibunya, Halimah (Rieke Diah Pitaloka), yang juga kerap mengeluhkan jarangnya si anak mampir ke rumah. Halimah kesepian, namun yang ia temui hanya kehadiran semu putranya dalam bentuk kamera CCTV yang Hikmah tinggalkan. 

Melalui tangkapan CCTV itu, Cesa David Luckmansyah (melakoni debut penyutradaraan setelah lebih dari dua dekade dikenal sebagai editor) memamerkan cara elegan memotret kesepian, tanpa air mata murahan atau erangan kekangenan yang dilebih-lebihkan. Cukup sosok Halimah berdiri seorang diri di tengah rumah yang mendadak sunyi. 

Hikmah memang selalu sibuk. Sibuk menyunting video-video Geri (Onadio Leonardo) si YouTuber yang memandang segala sendi kehidupan sebagai materi konten, pula sibuk melayari percintaan beda agama dengan Sophia (Lutesha) yang tak pernah bosan mengingatkan si pemuda keras kepala itu supaya lebih memedulikan ibunya. 

Sampai suatu malam, Halimah meninggal akibat serangan jantung. Sekali lagi, Cesa David Luckmansyah menampik pendekatan cengeng di momen tersebut. Hikmah duduk seorang diri di kamar dengan wajah bak syair yang terluka, mengopek stiker bertuliskan "Aku Anak Soleh" dari tempat tidur, sementara terdengar sayup-sayup berita lelayu. Semua itu sudah menyuplai cukup informasi. Penonton tidak dianggap selaku makhluk bodoh nan malas oleh si sutradara.

Duka Hikmah turut dibarengi kebingungan. Setiap malam ia dihantui mimpi perihal tangisan Halimah. Masalahnya, sang ibu tidak pernah menangis sepanjang hidupnya. Apakah ini pertanda kalau mendiang justru lebih berduka meninggalkan buah hatinya yang tak jua mau beribadah? Nasihat dari sahabatnya, Hotib (Teuku Ryzki), mendorong Hikmah melakukan pencarian. 

Dari pemuda tidak alim, ia sempat berubah 180 derajat kala alih profesi selaku videografer bagi Ustaz Basir (Alfie Alfandi). Hikmah rajin salat, rutin mengaji, bahkan mulai ragu menyentuh Sophia yang bukan mahram. Tapi toh kunjungan mimpi buruk itu masih tak berkesudahan. 

Di sinilah naskahnya berhasil menangkap kekhasan dakwah sejuk Habib Ja'far. Tiada hal baik bakal didapat dari sesuatu yang serba berlebih, entah ekstrim kanan maupun kiri. Proses mendapatkan pencerahan pun enggan disederhanakan sebagai "yang penting ibadah", sebagaimana disuarakan banyak sinema religi Indonesia yang cenderung menampik kompleksitas psikis manusia. 

Keimanan perlu ditangani dengan sabar dan hati-hati. Begitu pula upaya melangkah pergi dari jejak duka. Keterburu-buruan hanya bakal melahirkan masalah lain. Prinsip serupa diterapkan oleh Cesa David Luckmansyah kala bercerita. 

Di paruh awal, tempo lambatnya agak kurang mujarab mengolah rasa, sebab serupa sang protagonis, narasinya sendiri terkesan masih gamang menentukan arah. Tapi seiring waktu, gerak penuh kesabaran milik Seni Merayu Tuhan mulai melangkah lebih mantap, sehingga mampu memberi ruang bagi penonton meresapi perjalanan Hikmah mengungkai kekusutan batinnya.

Romantika beda agama Hikmah dan Sophia juga menarik disimak. Filmnya mungkin belum sepenuhnya berani mengambil langkah tegas di fase konklusi, tapi setidaknya, dibanding mayoritas film religi kita, fenomena tersebut dipandang secara lebih bijak. 

"Sekarang kamu ke gereja? Kok nggak cerita sama aku?", protes Hikmah pada kekasihnya di satu kesempatan. Selang beberapa waktu, ketika Hikmah mengajak kekasihnya masuk Islam, Sophia merespon singkat, "Kenapa bukan kamu yang ikut aku?" Melalui baris kalimat itu, Seni Merayu Tuhan berani menyentil egoisme kaum mayoritas dalam beragama, yang acap kali disertai kecenderungan mengerdilkan umat lain. 

Kalimat-kalimat sarat perenungan film ini dibawakan secara apik oleh jajaran pelakonnya: Ari Irham dengan keahlian memasang wajah pemuda gamang yang tak jarang menyebalkan, Teuku Ryzki yang petuah-petuahnya lebih terdengar sebagai anjuran untuk sahabat ketimbang ceramah menggurui, hingga Lutesha yang kembali unjuk gigi memainkan emosi secara subtil.

Terselip satu lagi kalimat yang cukup berkesan kala Sophia menceritakan pengalamannya berkomunikasi dengan Tuhan di hadapan Hikmah. "Aku berdoa supaya Tuhan bisa izinin kita berdua, tapi kitanya emang yang beda ya." Mungkin sekat perbedaan memang bukan disusun oleh Tuhan, melainkan manusia sendiri, dengan ego mereka untuk tampak superior.

Tidak ada komentar :

Comment Page: