REVIEW - THE END OF OAK STREET

Tidak ada komentar

The End of Oak Street berhasil menangkap jiwa sinema 80an dengan baik, bukan cuma soal estetik, pula perihal naskah garapan sang sutradara, David Robert Mitchell, yang meruntuhkan citra "kekeluargaan aman" area suburban bagi masyarakat kelas menengah. 

Judul-judul dari era 80an (Poltergeist, 1982) atau masa peralihan sebelum (Halloween, 1978) dan setelahnya (The People Under the Stairs, 1991) memang gemar menelisik sisi kelam dari kehangatan tersebut. Tahun 1982 jadi latar The End of Oak Street, di mana Denise (Anne Hathaway) dan Greg (Ewan McGregor) tinggal bersama dua anak mereka, Audrey (Maisy Stella) dan Brian (Christian Convery). 

Mudah memberi cap "keluarga harmonis" pada mereka, tanpa tahu bahwa perceraian mulai mengintai, Greg kehilangan pekerjaan, sementara Denise diam-diam menuangkan kegundahannya dalam novel. Ketidaksempurnaan itu makin ditelanjangi tatkala fenomena aneh menimpa: Oak Street, jalanan tempat mereka tinggal beserta orang-orangnya, terlempar ke zaman prasejarah saat dinosaurus masih menancapkan kuasa di dunia. 

Topeng semu suburban pun ditanggalkan, seiring penonton diajak menyantap menu utama yang bak santapan campuran berbahan Spielbergian dan The Drifting Classroom karya Kazuo Umezu. Tapi Mitchell tidak tergoda untuk menggerakkan kisahnya dengan buru-buru. Para protagonisnya dibiarkan mengurai peristiwa janggal di sekeliling mereka setahap demi setahap. 

Musik gubahan Michael Giacchino yang bagai tengah menyuarakan penghormatan untuk keping-keping klasik John Williams, membantu menggaungkan sayup-sayup misteri yang pelan-pelan merambat. Sedangkan di departemen visual, kegemaran Michael Gioulakis memakai split diopter shot dan beberapa slow zoom khas 80an, menguatkan intensi sang sutradara menyusun ketegangan dengan penuh kesabaran.

Bicara penceritaan, naskahnya belum terlalu eksploratif dalam mengembangkan premis unik miliknya. Selepas latar prasejarah dijamah, The End of Oak Street praktis sekadar berkutat di formula survival generik. Protagonisnya berkeliaran, dihadang dinosaurus, bersembunyi, tertangkap, melawan balik, berhasil kabur, untuk kemudian mengulang skenario serupa dari awal.

Motor penggerak utamanya terletak pada performa Anne Hathaway yang demikian lincah untuk terus beralih wajah antara jagoan garang dan perempuan yang berupaya menekan luka, juga pembuktian keserbabisaan David Robert Mitchell di kursi sutradara. Selain jeli membangun intensitas secara perlahan, sang sineas lihai menyuguhkan spektakel bertenaga tatkala segerombolan dinosaurus (dengan tubuh berbulu yang cukup efektif memberi perbedaan dengan kadal-kadal raksasa Jurassic Park) mulai melancarkan aksi. 

Hanya saja, pilihan konklusinya sedikit mengganjal. Jika Mitchell ingin menciptakan suasana bahagia, ada dampak kelam yang dipantik oleh keputusan karakternya. Sedangkan bila filmnya memang berniat menelusuri sisi gelap hasrat dan ego manusia, tiada eksplorasi memadai dari ending tersebut. Hei, tapi ini film tentang perjalanan waktu bertemu dinosaurus. Rasanya tidak perlu terlampau jauh memusingkan substansi penutup beraroma The Twilight Zone itu. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: