REVIEW - FORGOTTEN ISLAND

Tidak ada komentar

Hingga detik ini Forgotten Island adalah animasi terkuat hasil produksi Hollywood sepanjang tahun 2026. Di samping hal-hal yang terpampang nyata seperti apresiasi kultural serta pesan persahabatan, ceritanya mampu mempertemukan konstruksi berpikir logis dengan emosional, yang kerap saling berbenturan di zaman serba cepat nan sarat tuntutan seperti sekarang. 

Dimotori animasi ekspresif kaya warna bertekstur kuat yang membentuk tren baru sejak Spider-Man: Into the Spider-Verse (Forgotten Island digarap oleh tim Puss in Boots: The Last Wish yang menerapkan gaya serupa), alurnya membentangkan petualangan dua sahabat asal Filipina, Jo (H.E.R.) dan Raissa (Liza Soberano), yang memiliki kepribadian berlawanan namun tak pernah terpisahkan. 

Jo menjalani hidup dengan sikap peduli setan akan segala persoalan, sedangkan Raissa lebih berakal sehat. Kecintaan terhadap legenda tentang dunia magis bernama Nakali, yang konon pernah dikunjungi nenek Jo, Fatima (Dolly de Leon), jadi ikatan pemersatu mereka. 

Gestur cium tangan kala bersalaman dengan orang tua, maupun frasa Tagalog "Tayo Na!" (berarti "Ayo!") yang kerap dua protagonisnya ucapkan, jadi beberapa detail penyusun elemen kultural penyusun representasi segar dalam Forgotten Island. 

Karena Nakali, sebagaimana hal-hal bersifat budaya tradisional dewasa ini, mulai tenggelam dalam amnesia yang dihasilkan modernisasi. Bahkan ketika Jo dan Raissa akhirnya menemukan portal ajaib ke sana, mereka pun segera melupakan malam penuh petualangan yang sempat dijalani. 

Serupa karakter-karakter di The Hangover, keduanya terbangun di bibir pantai yang berantakan tanpa membawa sisa ingatan. Jo kehilangan sepatu kesayangannya, sementara di pundak Raissa (yang separuh rambutnya terpangkas) terpasang sayap kepunyaan Manananggal (Lea Salonga), monster haus darah yang eksistensinya menyulut rasa penasaran mereka sedari kecil. 

Setidaknya ada Raww (Dave Franco), makhluk setengah manusia setengah anjing, yang menawarkan bantuan guna mengembalikan memori mereka. Jejak-jejak misteri ala The Hangover tersebut menjauhkan alurnya dari keklisean, seiring kita diajak berkenalan dengan makhluk-makhluk aneh penghuni Nakali yang disebut "aswang".

Tapi mereka lebih dari sebatas monster berdesain unik. Sebagaimana perspektif Studio Ghibli terhadap mistisisme, Forgotten Island memotret para aswang sebagai entitas dengan akar budaya kuat. Kendati filmnya berlatar era 90-an, tiap aswang mewakili berbagai pergulatan masyarakat modern: Raww enggan jadi figur tak kasatmata, Batiba (Jenny Slate) takut melangkahkan kaki ke dunia luar, Mermahn (Kevin McCann) khawatir dicap inkompeten, sedangkan Bungi (Manny Jacinto) masih sukar berjauhan dari sang ibu. 

Nakali yang indah namun mematikan, pula dihuni ragam jenis penduduk, adalah dunia fantasi yang bertindak selaku representasi realita. Bagaimana Jo dan Raissa, selaku dua protagonis dengan penokohan kuat, bereaksi terhadap Nakali pun turut menangkap dua sudut pandang berlawanan untuk dunia masa kini.

Jo yang sudah kenyang menelan pahitnya penelantaran selalu bersikap liar, bukan hanya demi menikmati hidup, juga supaya eksistensinya diakui. Raissa kadang terkesan kurang dapat bersenang-senang, tapi itulah caranya memperoleh status penyintas di tengah desakan modernisasi. 

Naskah buatan duo sutradaranya, Joel Crawford dan Januel Mercado, tak mengerdilkan dua perspektif di atas. Benar bahwa sesekali kita perlu sejenak berhenti melangkah, memotret keindahan sembari menarik napas untuk membiarkan kebahagiaan yang ditawarkan dunia memenuhi dada, namun terlalu lama bersantai di persinggahan pun bakal membuatmu hilang arah. Keseimbangan tersebut diperlukan agar individu tidak dimangsa realita, yang ada kalanya lebih buas dibanding Manananggal. 

Forgotten Island memang belum sempurna. Beberapa faktor penyusun kisahnya, baik problematika persahabatan, persoalan budaya yang terlupakan, hingga antagonis yang lebih tepat disebut "disalahpahami" ketimbang murni jahat, adalah poin-poin familier yang jamak menyusun animasi arus utama Hollywood. Naskahnya pun terjangkit penyakit film fantasi, yang menggunakan unsur magis sebagai taktik malas mengakhiri konflik. 

Tapi energi yang dibawa Joel Crawford dan Januel Mercado dalam merangkai spektakel mampu mengaburkan deretan kelemahan tadi. Tengok bagaimana kedua sutradara menyusun adegan kejar-kejaran yang bukan sekadar bentuk pemenuhan obligasi dengan segala kekonyolan khas animasi semua umur. 

Seru, bertenaga, kaya akan sapuan-sapuan visual tegas. Apalagi Manananggal dipotret bak mesin pembunuh haus darah yang intimidatif layaknya Predator (Jo dan Raissa sempat menonton adegan ikonik kala Arnold Schwarzenegger dan Carl Weathers bersalaman secara super maskulin) kala mengejar para protagonisnya. 

Adegan tersebut, sama halnya dengan sentuhan humornya yang kreatif, meleburkan sisi kekanakan dengan materi yang bisa diapresiasi penonton dewasa. Mungkin itu pula yang dibutuhkan dunia sekarang. Manusia perlu mendewasa guna memahami kelamnya realita, namun jangan sampai kemurnian pikir khas bocah dienyahkan sepenuhnya, karena hal itu merupakan salah satu sumber rasa bahagia. 


Tidak ada komentar :

Comment Page: