REVIEW - GJLS: BERAPI-API
Pasca Ibuku Ibu-Ibu mendulang hampir 600 ribu penonton tahun lalu, Berapi-Api bak ingin memberi bukti bahwa GJLS sanggup menelurkan sekuel yang lebih "pantas" secara teknis serta penceritaan. Tapi sebagai komedi soal trio bernama "GJLS" yang angkat nama lewat ketidakjelasan mereka, sekuel yang tampil lebih jelas seperti ini justru memunculkan kontradiksi. Masih menggelitik, namun ada kekhasan yang memudar.
Rispo, Rigen, dan Hifdzi kali ini menjadi tiga laki-laki yang berambisi mewujudkan mimpi sebagai pemadam kebakaran. Dua tantangan besar mesti dihadapi. Pertama berupa kegalakan Bonita (Carissa Perusset) si komandan yang menentang penugasan mereka, kedua dari fakta bahwa ketiganya memang minim kompetensi.
Tugas demi tugas coba dituntaskan selaku pembuktian, dari yang bersifat remeh seperti mengambil rapor bocah, hingga mengusut kasus orang hilang. Peningkatan kualitas di departemen teknis bisa segera kita amati, yang meliputi penggunaan banyak efek visual terutama di adegan kebakaran, atau ketika Monty Tiwa selaku sutradara menerapkan take panjang guna membawa kita menyusuri ruang-ruang dalam markas pemadam kebakaran.
Alurnya pun semakin tertata. Tiada lagi nomor musikal yang mendadak mencuri sorotan, maupun serangkaian adegan "dibuang sayang" terselip di antara narasi (kecuali segelintir momen tatkala Rigen kesulitan menahan tawa). Trio GJLS juga bukan lagi sekelompok entitas liar yang bergerak semau sendiri tanpa tujuan, melainkan tiga karakter dengan gol yang pasti: membuktikan jika kompetensi tidak melulu perihal keterampilan tapi juga kebaikan.
Tentu sederet usaha naik kelas di atas patut diapresiasi, tapi bukan berarti filmnya otomatis lebih baik. Sedikit banyak, saya justru menyayangkan. Sebagai cabang seni dengan ketiadaan pakem-pakemnya, sinema tidak melulu berpijak pada anggapan "semakin rapi semakin bagus." Pesona dari Ibuku Ibu-Ibu dan berbagai film pendek GJLS termasuk Kuyup terletak pada kenekatan kreatif dalam menyulap keterbatasan yang mendatangkan ketidakjelasan menjadi kejelasan identitas.
Niat baik yang jadi pondasi Berapi-Api malah melucuti identitas unik tersebut. Benar bahwa pengulangan formula sebaiknya ditepis demi menghindari repetisi malas. Tapi bukankah ada jalan untuk menawarkan kebaruan tanpa menanggalkan kekhasan?
Untungnya jati diri terkait bagaimana kelucuan humornya berbanding lurus dengan absurditas situasi dan perilaku trio GJLS masih sanggup dipertahankan, ditunjang chemistry luar biasa dari Rispo, Rigen, dan Hifdzi, yang berdinamika layaknya tiga sahabat yang tengah adu kebodohan di tongkrongan. Sekuen tatkala mereka berimajinasi soal betapa mengerikan para komandan yang belum pernah ditemui jadi contoh di mana kengawuran pikir sukses diterjemahkan jadi candaan kreatif.
Sederhananya, lucu. Apalagi GJLS: Berapi-Api bersedia melenyapkan napas seksisme yang kerap mengganggu presentasi film pertama. Serupa cara kerja judul-judul klasik Warkop DKI, sewaktu tabiat mesum karakternya (yang secara kuantitas bisa dihitung jari) menyeruak ke permukaan, mereka bakal dikenai hukuman.
GJLS sekarang sedang berdiri di tengah persimpangan. Mereka menyadari tuntutan untuk berkembang, namun di saat bersamaan pantang mengesampingkan identitas yang menghasilkan kekhasan menyegarkan. Menyeimbangkan dua sisi tersebut jadi pekerjaan rumah yang mesti dituntaskan sebelum melangkah ke film ketiga.

%20(1).png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar