REVIEW - GODZILLA MINUS ZERO

Tidak ada komentar

Di film kaiju atau serial televisi berisi kehancuran masif berulang di suatu kota akibat pertempuran makhluk raksasa seperti Ultraman dan Super Sentai, entah bagaimana cara para penghuninya bersikap normal. Apakah mereka sudah sedemikian terbiasa sampai menganggapnya sebatas rutinitas? Godzilla Minus Zero bukan sekadar memperlakukan kebinasaan peradaban sebagai spektakel, tapi turut menyoroti dampak psikologis yang dihasilkan. 

Dua tahun pasca ancaman Godzilla di Godzilla Minus One (2023) berhasil dilumpuhkan, Jepang kembali jadi sasaran tembak alien berbentuk naga raksasa. Ghidorah namanya (baru bertransformasi menjadi "King Ghidorah" dengan tiga kepala di pertengahan durasi), yang melancarkan serbuan ke pusat kota Matsutomo. Musik gubahan Naoki Satō yang terdengar bak sirine tanda bahaya, efektif menggodok kecemasan di momen tersebut. 

Biro tanggap bencana berskala besar yang dikepalai Kenji Noda (Hidetaka Yoshioka) pun mulai bersiasat. Meteorologis bernama Makoto Aoyama (Masami Nagasawa) turut ambil bagian, lalu memunculkan ide untuk memanfaatkan sambaran petir guna memusnahkan Ghidorah. Sosoknya mewakili upaya manusia menjalin harmoni dengan kebuasan alam yang kerap mendatangkan bencana, terutama bagi Jepang. 

Hanya dalam waktu empat tahun, warga Jepang mesti menghadapi tiga kehancuran: ledakan bom atom (1945), kemunculan Godzilla (1947), dan gempuran Ghidorah (1949). Naskah garapan sang sutradara, Takashi Yamazaki, enggan memandang remeh dampaknya, dengan mengarahkan lampu sorot ke tiap sudut derita yang menyelimuti manusia di sana. 

Beberapa pilot mau menerima misi bak kamikaze untuk menjatuhkan bom ke tubuh Ghidorah akibat jerat kemiskinan. "Waktunya memperoleh uang dari latihan perang yang kuterima", ucap salah satu dari mereka. Pemandangan lebih menyakitkan nampak dalam area rumah sakit yang penuh tubuh tanpa nyawa. Ketika seorang bocah meninggal, tangis orang tuanya diredam oleh anjuran agar lebih tenang supaya tak memengaruhi kondisi pasien lain. Kebebasan mereka untuk berduka pun direnggut oleh situasi. 

Sementara jagoan kita, Kōichi Shikishima (Ryunosuke Kamiki) si mantan pilot kamikaze, coba menata hidup bersama sang istri, Noriko Shikishima (Minami Hamabe), serta putri angkat mereka, Akiko (Sae Nagatani). Tentu hidup damai masih angan-angan belaka. Kōichi merasa terpanggil untuk kembali mengudara, sedangkan Noriko, sebagaimana radiasi yang dialami korban pemboman tahun 1945 di dunia nyata, mendapati mutasi di tubuhnya akibat terpapar sel Godzilla semakin parah.

Durasi 135 menit film ini kembali dipakai mengeksplorasi drama humanis ketimbang cuma memeras baku hantam antar monster hingga kering, dengan keharusan memutus lingkaran kehancuran diposisikan selaku arah kisahnya bermuara. Di situlah Kanji Murakami (Min Tanaka) si ahli biologi senior memegang peran sentral. 

Murakami merupakan penyintas tiga kehancuran besar yang telah disinggung sebelumnya, di mana seluruh keluarganya tewas mengenaskan akibat ledakan bom atom. Bayangkan betapa remuk hatinya, dan terkikisnya psikis sang profesor dipancarkan dengan begitu apik oleh Min Tanaka. Dimudahkannya penonton menaruh simpati, kendati banyak intensi Murakami yang patut dipertanyakan. 

Kompleksitas berupa ambiguitas terkait benar/salah di mata para penyintas perang mampu filmnya sampaikan. Baik dan buruk ditiadakan. Hanya ada manusia-manusia yang terluka. Sayang, ada kalanya presentasi drama Yamazaki terlampau berlarut-larut, seolah keliru mengartikan "panjang" sebagai "dalam". Tidak terkecuali adegan penutupnya yang penuh tarik-ulur emosi.

Lain cerita perihal penanganan Yamazaki atas pertempuran dua raksasa di babak ketiga yang luar biasa, walau timbul kejanggalan minor saat muncul kesan bahwa Godzilla berhasil unggul hanya karena dialah jagoan film ini. Tapi pengadeganannya tanpa cela, didukung kualitas efek visual kelas satu biarpun cuma bersenjatakan bujet tak sampai separuh versi Hollywood, juga tata suara yang membuat lesatan sinar King Ghidorah maupun raungan Godzilla di antara ganasnya debur ombak terdengar dahsyat nan mencekam. 

Godzilla dan King Ghidorah tidak asal diadu. Aksi keduanya benar-benar dipotret sebagai pertempuran dua predator beringas yang berupaya saling bunuh. Darah tumpah, anggota tubuh pun tercerai-berai. Brutal, sebagaimana kekacauan perang yang mengendapkan horor di benak umat manusia. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: