Tampilkan postingan dengan label Garrett Hedlund. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Garrett Hedlund. Tampilkan semua postingan

REVIEW - THE UNITED STATES VS. BILLIE HOLIDAY

Walau judulnya terdengar seperti sebuah kasus, pun terdapat adegan persidangan saat Billie Holiday (Andra Day) dituntut atas pemakaian narkoba, film yang menandai kembalinya Lee Daniels di kursi sutradara setelah sewindu absen (disibukkan oleh dua serial, Empire dan Star) ini, membicarakan isu kemanusiaan yang lebih besar. Sekaligus personal, karena judulnya merujuk pada kesan, betapa seluruh negeri seolah berusaha menyerang sang legenda jazz.

Ditulis oleh Suzan-Lori Parks, naskahnya mengambil beberapa bagian dari buku Chasing the Scream karya jurnalis Johann Hari, yang mengupas kampanye war on drugs, yang alih-alih murni menumpas narkoba, kerap jadi alat kriminalisasi. Salah satu korbannya Billie, yang mulai disoroti oleh pemerintah, pasca merilis lagu Strange Fruit. 

"Southern trees bear a strange fruit. Blood on the leaves and blood on the root. Black bodies swingin' in the Southern breeze. Strange fruit hangin' from the poplar trees". Demikian bunyi bait pertama lagu tersebut, yang menyuarakan kemarahan atas maraknya penggantungan terhadap orang kulit hitam, yang terjadi sejak 1830an, dan belum mereda hingga 1950an, tatkala Billie berada di puncak karir. Sesungguhnya sampai sekarang pun sama, hanya saja, tali digantikan oleh pistol, dan para pria berseragam biru semakin aktif turut serta.

Harry J. Anslinger (Garrett Hedlund) dari Federal Bureau of Narcotics (FBN), berambisi menangkap Billie, yang menurutnya berpotensi jadi provokator. Tentunya itu sebatas sampul bagi sikap rasis Anslinger, yang sempat berkata, bahwa narkoba dan orang kulit hitam merupakan kontaminasi bagi negara. Billie dilarang membawakan Strange Fruit di atas panggung. Sewaktu ia nekat, sama seperti yang kita saksikan di Straight Outta Compton (2015) tatkala N.W.A. menyanyikan Fuck tha Police, Billie dipaksa turun. Cara kotor lain juga dilakukan, mulai dari memasukkan heroin ke kantong Billie, hingga mengirim Jimmy Fletcher (Trevante Rhodes), agen FBN kulit hitam, yang kelak menjalin romansa dengan Billie. 

Begitu besar potensi The United States vs. Billie Holiday, dan rasanya Parks pun menyadari itu. Dia sadar telah mendapat materi kaya, yang bisa dieksplorasi ke berbagai arah, terkait isu rasisme. Bisa dibawa ke skala luas mengenai sistem, bisa ke ranah personal, mengenai perjuangan seorang wanita yang tak pernah merasa dirinya pantas merengkuh kebahagiaan. Masa lalu kelam membuatnya menyentuh narkoba, pula terlibat dalam banyak percintaan tidak sehat. Akibatnya, Billie menyalahkan diri sendiri, kemudian menolak peluang-peluang untuk mencicipi kebahagiaan. 

Parks tinggal memutuskan arah mana yang mau diambil. Namun, seolah merasa sayang memilih satu opsi dan meninggalkan sisanya, Parks berujung menyatukan semuanya, menjadi 130 menit biografi yang tidak pernah jelas titik fokusnya. Serupa mayoritas biopic, alur terbagi menjadi fragmen-fragmen yang gagal menciptakan keutuhan, dengan lompatan kasar antara satu dengan lainnya. Pun ketimbang pendalaman masalah, tiap fragmen tampil bak checklist semata, sekadar memberitahukan suatu topik daripada mengolahnya. Semakin ke belakang, penceritaannya semakin berantakan, saat Parks dan Daniels seolah bertutur sambil memencet tombol fast forward, menyingkat poin-poin penting menggunakan montase stylish. 

Ya, The United States vs. Billie Holiday seolah lebih mementingkan gaya. Bukan substansi. Terkesannya, Lee Daniels yang selama ini identik lewat drama-drama konvensional macam Precious (2009) dan The Butler (2013), mencoba tampil segar, namun gagal. Daniels lebih mementingkan efek-efek transisi, seperti saat visual khas film lawas menjembatani perpindahan adegan. Bukan cuma keperluannya patut dipertanyakan, timing kapan efek itu muncul dan hilang pun terkesan acak. 

Tengok pula bagaimana Daniels membungkus salah satu peristiwa paling shocking sepanjang film. Peristiwa itu tidak memerlukan sentuhan macam-macam untuk menciptakan dampak, tapi sang sutradara malah menggunakan pengadeganan sureal, mendadak membaurkan ruang dan waktu, yang mungkin diniati untuk memunculkan kesan "mimpi buruk", namun justru memunculkan distraksi. Sesekali, kita melihat slideshow foto-foto karakter. Sebuah teknik yang jamak dipakai dalam dokumenter. Apakah Daniels ingin menjadikan filmnya bak dokumenter kuasi? Tidak juga. Lebih seperti gaya-gaya yang hadir begitu acak.

Beruntung Andra Day tampil sebagai penyelamat, melalui penampilan yang membawanya memenangkan Golden Globe sekaligus menyabet nominasi Oscar. Selain mampu meniru suara Billie (meski sama-sama penyanyi, tetap saja itu bukan hal gampang), Day berhasil menerjemahkan sosok Billie Holiday dengan sempurna. Rapuh dan bermasalah tentu, namun "nyala apinya" selalu menolak padam. Matanya tajam, membara, tidak kenal takut, khususnya kala menyanyikan Strange Fruit, di mana kamera hanya diam menangkap wajah sang aktris, seolah terpaku pada pesonanya (andai pendekatan serupa, di mana sineas percaya pada kekuatan akting, terus dipakai sepanjang durasi). Day mampu menghembuskan kekuatan, bahkan sewaktu fisik Billie mencapai titik terlemah akibat sirosis (Day mengurangi berat badannya sampai 20 kilogram), yang menariknya, di situlah hatinya berada dalam kondisi terkuat.


Available on HULU