Tampilkan postingan dengan label James Earl Jones. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label James Earl Jones. Tampilkan semua postingan

REVIEW - COMING 2 AMERICA

Jauh sebelum penonton film mengenal Wakanda, Coming to America (1988) sudah lebih dulu muncul dengan Zamunda. Sebuah negara fiktif di Afrika yang makmur, dengan istana mewah, pakaian glamor, serta tradisi-tradisi unik. Salah satunya rutinitas pagi Pangeran Akeem (Eddie Murphy), saat pelayan wanita membersihkan "royal penis" miliknya. Ditengok sekarang, bagaimana film itu menggambarkan wanita memang nampak bermasalah, dan menilik premisnya, Coming 2 America bak usaha melakukan penebusan. 

Selang 33 tahun sejak film pertama, Akeem dan Lisa (Shari Headley) telah dikaruniai tiga anak. Semuanya perempuan, yang artinya, menurut tradisi Zamunda, tak satu pun dari mereka berhak atas tahta. Meski demikian, puteri sulung mereka, Meeka (KiKi Layne), pantang menyerah dan terus mempersiapkan diri sebagai calon penguasa Zamunda. Sampai sebelum ajalnya, Raja Jaffe Joffer (James Earl Jones) menyampaikan kabar mengejutkan: Akeem mempunyai anak laki-laki di Queens!

Lavelle (Jermaine Fowler) namanya, putera dari Mary (Leslie Jones). Demi menjaga kejutan, saya takkan memberi tahu bagaimana Akeem, yang dahulu cuma berfokus pada Lisa, bisa berhubungan dengan Mary. Tapi momen itu memberi kesempatan pada departemen efek visual untuk unjuk gigi, menciptakan flashback dengan CGI mumpuni, yang membuat Eddie Murphy dan Arsenio Hall terlihat tiga dekade lebih muda. Momen yang turut menunjukkan, sebagaimana sekuel/remake berjeda waktu lama lain, Coming 2 America juga penuh nostalgia.

Nostalgia baik berupa kemunculan sosok-sosok lama seperti "trio pangkas rambut" (masih diperankan Murphy dan Hall berbalut tata rias luar biasa) yang masih jago mengocok perut lewat selorohan tanpa saringan mereka, tipe-tipe humor familiar yang juga belum kehilangan daya bunuh, atau momen-momen bersifat referencial. Sedikit penyesuaian muncul di sana-sini, sebutlah restoran McDowell's yang kini berpindah ke Zamunda, dan mempunyai versi kulit hitam dari Ronald McDonald selaku maskot. 

Naskah buatan dua penulis film pertamanya, Barry W. Blaustein dan David Sheffield, yang kali ini mendapat tambahan tenaga dari Kenya Barris (Barbershop: The Next Cut, The Witches), memastikan agar komedinya tetap memuaskan penggemar lama. Tapi bagaimana dengan elemen lain? Di sinilah masalah terbesar Coming 2 America berada. 

Ketimbang sekuel, Coming 2 America lebih seperti remake terselubung, di mana unsur nostalgia kerap jatuh menjadi pengulangan semata. Lavelle tidak hanya dipersiapkan sebagai pangeran, pula calon suami bagi puteri Jenderal Izzi (Wesley Snipes), penguasa Nextdoria selaku rival dari Zamunda, sekaligus kakak Imani (Vanessa Bell Calloway). Ya, mantan calon istri Akeem yang ia "kutuk" sehingga terus melompat dengan satu kaki sambil menggonggong. Berikutnya, menyusul poin-poin alur, yang mencerminkan perjalanan Akeem dahulu.

Saya bukan golongan anti "repetisi-berkedok-tribute". Saya bersuka cita kala mendapati The Force Awakens merupakan carbon copy dari A New Hope. Nostalgia itu menyenangkan. Pun sejatinya, repetisi tersebut malah bisa dimanfaatkan guna menguatkan gagasan utama kisahnya, yakni tentang Akeem, yang seiring pertambahan usia, semakin mirip dengan hal yang dulu dibencinya: kekolotan sang ayah. 

Film pertama sukses mengubah resistensi Akeem terhadap hal konservatif menjadi suguhan komedi-romantis yang amat manis. Ada hati. Ada rasa. Pencapaian itu gagal diulangi, akibat para penulis seolah kebingungan menaruh fokus. Apakah soal Akeem yang mencari kembali "api" dalam dirinya? Apakah soal Lavelle yang mengejar kebebasan? Apakah soal para wanita Zamunda? Hasilnya tumpang tindih. Bukan saja repetisi, Coming 2 America adalah repetisi yang disajikan sambil memencet tombol fast forward, sementara para pembuatnya mencentang checklist, tiap alurnya melewati poin demi poin film pertama yang ingin diulangi.

Seharusnya ini menjadi kendaraan Eddie Murphy membangkitkan karirnya, namun walau ia mampu memberi kehangatan di segelintir momen dramatik, Akeem seperti terpinggirkan dari franchise-nya sendiri. Begitu pun para wanitanya. Ketangguhan KiKi Layne, keberhasilan Headley (masih secantik 33 tahun lalu) menjadikan Lisa figur bijak serupa mendiang Madge Sinclair sebagai Ratu Aoleon dahulu, maupun "keliaran" Leslie Jones, jadi sia-sia. Sedangkan percintaan Lavelle dan Mirembe (Nomzamo Mbatha) si royal groomer jauh dari romantisme Akeem-Lisa, akibat presentasi yang buru-buru serta kurangnya fokus pada hubungan keduanya. Mau bagaimana lagi? Kisahnya memang terlalu penuh.

Paling tidak, jika sebatas mencari hiburan atau obat rindu, sutradara Craig Brewer (Hustle & Flow, Dolemite Is My Name) sanggup melahirkan lanjutan, yang dalam konteks hiburan, masih menyimpan tenaga dan jiwa yang sama dengan pendahulunya. 


Available on PRIME VIDEO

THE LION KING (2019)

The Lion King adalah korban pilihan artistik Disney yang bertujuan memanfaatkan kesuksesan live action remake mereka. Dibuat dalam format fotorealistik, Jon Favreu (Iron Man, The Jungle Book) beserta tim sudah mengerahkan kemampuan terbaik, tapi biar bagaimanapun, pendekatan realistis pada dasarnya memang kurang cocok membungkus kisah si raja rimba.

Mungkin anda sudah mendengar kritik terhadap minimnya ekspresi wajah para hewan di sini. Tidak sepenuhnya benar, sebab bila diperhatikan lebih teliti, di balik tampilan fisik mereka yang digarap luar biasa detail hingga ke tekstur terkecil, dapat ditemukan gurat-gurat wajah humanis meski tidak dalam bentuk ekspresi besar, yang mana cocok bagi karakter macam Sarabi (Alfre Woodard), tapi tidak untuk Mufasa (James Earl Jones), Scar (Chiwetel Ejiofor), apalagi Zazu  (John Oliver).

Bayangkan tengah menonton animasi aslinya, diisi plot serta adegan serupa, hanya saja pengemasannya menekankan realisme. Artinya, kita takkan melihat Scar menelan Zazu, atau sekuen musikal I Just Can’t Wait to Be King yang komikal nan berwarna. Patut disayangkan, namun gantinya, keagungan alam bisa dirasakan, sebagaimana di adegan pembuka saat hewan-hewan penghuni Pride Lands menyambut kelahiran Simba (Donald Glover menyuarakan Simba dewasa,  JD McCrary meyuarakan Simba kecil). Rafiki (John Kani) mengangkat si bayi singa, sementara awan memberi jalan bagi semburat cahaya matahari yang menimbulkan kesan surgawi.

Desain Simba kecil bakal membuat teriakan “Oooh” dan ”Aaaw” sering keluar dari mulut penonton, tapi ketika kelucuan Simba berhasil mencuri hati, tidak demikian soal hubungannya dan sang ayah. Mufasa merupakan sosok pemimpin berwibawa, sehingga menciptakan ekspresinya pun jadi pekerjaan rumit. Walau James Earl Jones tanpa cela, sang raja bak tanpa nyawa akibat wajah yang kurang menyatu dengan suara.

Berikutnya, anda tahu apa yang akan terjadi. Berniat membuktikan kepantasan dan keberaniannya selaku calon raja, Simba mengajak Nala (Beyoncé Knowles-Carter menyuarakan Nala dewasa, Shahadi Wright Joseph menjadi Nala kecil) daerah terlarang berupa kuburan gajah, yang rupanya menjadi sarang hyena. Itulah awal tragedi kala Scar, yang sejak lama berambisi bertahta, membunuh Mufasa yang juga kakaknya, lalu menimpakan kesalahan kepada Simba. Ketakutan, ia menuruti perintah pamannya agar pergi dari Pride Lands.

Momen ikonik tatkala Scar mendorong Mufasa dari tebing gagal dibuat ulang secara apik, kali ini bukan saja akibat kurangnya ekspresi para singa, pula suara Chiwetel Ejiofor yang tanpa aura kekejaman. Padahal, di adegan-adegan lain, Ejiofor mampu melakoni perannya dengan baik. Beruntung, begitu saya mulai bersiap sepenuhnya dikecewakan, paruh keduanya muncul sebagai penyelamat. Pertama, tentu berkat duo Timon-Pumbaa (Billy Eichner-Seth Rogen). Keduanya adalah mesin penghasil tawa yang seketika menjauhkan filmnya dari awan kelam miskin warna bernama “realisme”.

Pun di paruh ini, elemen musik serta visualnya semakin memikat. Mengkreasi ulang karya buatannya, Hans Zimmer dibantu African choir yang kembali dikomandani oleh Lebo M., melahirkan scoring yang mampu menggerakkan perasaan (King of Pride Rock berulang kali membuat saya bergetar), mengiringi visual revolusioner yang bukan saja mengandalkan teknologi tinggi, pula kepiawaian sang sinematografer, Caleb Deschanel (The Passion of the Christ, Never Look Away). Pemandangan alamnya serasa bagian program Disneynature atau dokumenter National Geographic, tentunya dengan tambahan proporsi kecantikan.

Musikalnya pun turut mendapat upgrade. Nomor The Lion Sleeps Tonight berlangsung lebih lama dan menyenangkan tanpa perlu menjadi terlampau komikal, sedangkan biarpun Can You Feel the Love Tonight milik Favreu tak seromantis versi aslinya, keberadaan vokal Beyoncé rasanya telah menutup kekurangan tersebut. Meski minim nuansa “dimabuk kepayang karena asmara”, saya dibuat tersentuh oleh lantunannya.

Modifikasi favorit saya yakni ketika selaku penulis naskah, Jeff Nathanson (Catch Me If You Can, The Terminal) mengembangkan mome kala Rafiki mengetahui bahwa Simba masih hidup. Dibarengi penyutradaraan kaya sensitivitas dari Favreu, sekuen tersebut menangkap substansi “circle of life” lewat perjalanan segenggam bulu, yang menunjukkan bagaimana semesta mempunyai kekuatannya sendiri guna menggiring makhluk-makhluk di dalamnya menuju jalan takdir di mana kebaikan berkuasa.

Semua pendekatan berbasis realisme di The Lion King rasaya lebih mudah diapresiasi penonton dewasa, khususnya yang memahami indahnya keagungan alam. Sebaliknya, penonton anak bisa saja menganggap filmnya kurang seru, bahkan klimaksnya mungkin terlalu mengerikan bagi mereka. Beberapa bocah di studio tempat saya menonton seketika mengangis begitu pertarungan liar antara sekumpulan hewan buas berlangsung di bawah langit malam. Because once again—for better or worse—that’s realistic.