Tampilkan postingan dengan label Hans Zimmer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hans Zimmer. Tampilkan semua postingan

REVIEW - DUNE

Suguhan sci-fi Hollywood terbagi dua, yakni blockbuster berbujet raksasa dan proyek indie/arthouse minimalis. Sesekali muncul varian lain, namun jumlahnya tak cukup banyak untuk menghasilkan kubu ketiga. Monoton. Lalu datanglah adaptasi layar lebar kedua bagi novel Dune karya Frank Herbert ini. 

Versi Denis Villeneuve ini sama sekali berbeda dibanding buatan David Lynch (1984), yang lebih dikenal karena konflik di balik layar. Disokong kucuran dana yang cukup untuk memproduksi film MCU (165 juta dollar), Dune memiliki tubuh blockbuster, namun berjiwa arthouse. Mungkin cuma 2001: A Space Odyssey (1968) yang mendekati bentuk Dune, sebagai sci-fi artsy berbiaya tinggi (92 juta dollar jika dikonversi ke nilai sekarang). 

Tapi ini bukan sikap pretensius. Menulis naskahnya bersama Eric Roth (A Star Is Born, Mank) dan Jon Spaihts (Prometheus, Doctor Strange), Denis Villeneuve mengedepankan unsur spiritual pada tuturannya. Seperti para sineas arthouse terbaik, ia punya ketajaman rasa, guna menautkan proses batin manusia dengan semesta. Bahwa keduanya, meski berukuran amat berbeda, saling terhubung. Karenanya, berbagai shot berisi lanskap luas, maupun pesawat luar angkasa raksasa yang membuat manusia tampak kerdil, bukan sebatas pameran keindahan. Efek visualnya luar biasa. Megah sekaligus tampak nyata, namun bakal jadi percuma bila tanpa visi, yang mana dimiliki sang sutradara.

Kaitan terbesar antara alam dan manusia hadir lewat rempah bernama melange. Terdapat di planet gersang bernama Arrakis, melange punya beraneka fungsi, mulai dari memperpanjang umur, memaksimalkan kekuatan pikiran, hingga memungkinkan terjadinya perjalanan dengan kecepatan cahaya. Menguasai melange sama artinya menguasai semesta.

Terlalu panjang dan rumit bila harus menjelaskan detail mitologi Dune, tapi intinya, atas perintah penguasa semesta yang dipanggil "Emperor", kaum Atreides di bawah kepemimpinan Leto Atreides (Oscar Isaac), diberi tugas mengelola melange menggantikan Harkonnen yang dipimpin Baron Vladimir Harkonnen (Stellan Skarsgård). Apabila Harkonnen bertindak semena-mena pada para Fremen (suku asli Arrakis) Leto ingin menjalin kerja sama secara damai. Tentu tidak berjalan mulus, sebab tanpa ia tahu, ada konspirasi di balik penunjukkan Atreides untuk mengurusi melange.

Timothée Chalamet memerankan Paul Atreides, putera hasil hubungan Leto dengan selirnya, Lady Jessica (Rebecca Ferguson). Belakangan, pikiran Paul tengah diganggu oleh kemunculan mimpi mengenai Arrakis dan gadis Fremen misterius (Zendaya). Mimpi yang lebih terasa seperti gambaran masa depan ketimbang bunga tidur biasa. 

Selain aura sendu yang tepat mewakili atmosfer film, rasanya perawakan Chalamet juga jadi alasan ia dipilih. Tubuhnya kecil. Kurus. Bukan sosok yang bakal dipandang sebagai jagoan oleh orang-orang. Melihatnya berdiri di antara bentangan alam masif, menggambarkan betapa tak berdayanya manusia di hadapan semesta. 

Paul sendiri memang tak berdaya. Setidaknya di awal, sebelum ia mampu memaksimalkan potensinya. Bukan hanya potensi fisik hasil latihan bersama Gurney Halleck (Josh Brolin), sebab sang ibu, selaku anggota Bene Gesserit (perkumpulan wanita yang melatih tubuh dan mental agar dapat mendobrak batas-batas manusia), turut mengajari cara memakai "voice". Sebuah kekuatan mengontrol bawah sadar seseorang melalui warna suara. 

Ketika kita pertama melihat Paul menggunakan kekuatannya, Villenueve menyelipkan beberapa shot yang menampilkan hal-hal di dekat Paul. Walau kekuatan itu tidak mempengaruhi kondisi di sekitar, shot-shot itu bukannya tanpa fungsi. Seolah Villeneuve menegaskan bahwa alam memegang peran dalam kemampuan super tersebut. 

Semakin jauh alur bergerak, semakin kita mendapati dampak eksploitasi terhadap alam. Alih-alih mencari harmoni, keserakahan para penguasa yang berhasrat memonopoli melange menghadirkan kehancuran juga pertumpahan darah. Baik alam maupun manusia sama-sama musnah. 

Di situlah muncul kisah mengenai juru selamat. Seorang messiah/mahdi. Orang-orang Fremen menyebutnya "Lisan al Gaib". Bisa ditebak, ada unsur religi di sini (banyak Islamic undertones), di luar perihal politik, tirani, dan lingkungan. Mitologinya memang amat kompleks, sehingga durasi 155 menit dan pemecahan menjadi dua film dapat dijustifikasi. Terkesan rumit di awal, namun berkat penceritaan rapi yang tahu kapan harus mulai menyuplai informasi baru, seiring waktu, labirin mitologinya bakal mudah ditelusuri.

Kelemahan Villeneuve hanya soal mengarahkan perkelahian jarak dekat. Biarpun mempunyai nama-nama seperti Jason Momoa sebagai Duncan Idaho si jago pedang dari Atreides dan Dave Bautista sebagai Giossu Rabban yang merupakan keponakan Baron Harkonnen, deretan aksi adu pedang maupun tangan kosong milik Dune tampil tak bertenaga. Pilihan angle Villeneuve pun cenderung canggung, juga kerap menyulitkan kita untuk mencerna apa yang sedang terjadi. 

Untunglah Dune bukan sci-fi sarat aksi, sehingga kelemahan di atas tidak begitu mengganggu. Bagi sebagian penonton, mungkin minimnya aksi (pun membagi cerita menjadi dua bagian membuat Dune usai sebelum mencapai klimaks), durasi panjang, juga tempo lambatnya, membuat film ini kurang bersahabat. Tapi jika bisa menerima itu, bersama keindahan visual dan iringan musik atmosferik gubahan Hans Zimmer (karya terbaik sang komposer dalam beberapa tahun terakhir), anda akan mendapati suguhan sci-fi, yang mendefinisikan "epik" bukan cuma lewat skala cerita yang kasat mata, pula di ranah perenungan spiritual serta rasa.  

REVIEW - WONDER WOMAN 1984

Di salah satu adegan, Wonder Woman/Diana Prince (Gal Gadot) berayun dengan mengaitkan lasonya ke sebuah roket. Itu saja sudah merupakan momen memukau, tapi yang membuatnya spesial adalah, Wonder Woman repot-repot melakukan itu bukan Cuma untuk mengalahkan musuh, melainkan menyelamatkan dua anak kecil yang berada di tengah jalan. Sutradara Patty Jenkins menyebut Superman (1978) sebagai inspirasi kala menggarap Wonder Woman (2017), dan pengaruh karya Richard Donner tersebut makin kentara di Wonder Woman 1984. Sebuah escapism, sebuah film pahlawan super penuh keajaiban, hati, serta harapan.

Di pertengahan pandemi, banyak pihak mengira Christopher Nolan bakal menyelamatkan industri film, termasuk keberlangsungan bioskop, melalui Tenet. Prediksi itu meleset. Tapi mungkin saja Wonder Woman 1984-lah penyelamat yang dinanti. Penonton sedang butuh harapan. Daripada otak, hati lebih memerlukan asupan. Film ini langsung menjawab kebutuhan itu sejak adegan pembuka, ketika sinematografer Matthew Jensen menyapukan kamera di atas bentangan alam Themyscira, diiringi musik Hans Zimmer, yang walau masih epik, kali ini lebih mengedepankan nuansa magis alih-alih dentuman. Awal yang indah, apalagi mengingat begitu banyak dari kita merindukan kebebasan berada di luar.

Dari situ, kita diajak menyaksikan turnamen atletik, di mana Diana kecil turut serta, melawan prajurit-prajurit Amazon dewasa. Lilly Aspel melanjutkan perannya di film pertama sebagai Diana kecil, dan sungguh berbakat bocah ini. Anda bakal percaya jika kelak ia tumbuh menjadi salah satu pahlawan super terkuat di semesta DC. Pembukaan tersebut punya dua fungsi. Pertama, memberi latar bagi Diana sebagai sosok yang senantiasa berpegang pada kebenaran, dan kedua, menanam benih soal Asteria, si pemilik baju zirah emas yang di puncak film akan dikenakan Diana. Jangan lewatkan mid-credits scene yang mengungkap siapa pemeran Asteria. Jika anda tidak mengenalnya, ia adalah legenda, salah satu figur yang paling berjasa mengangkat Wonder Woman di budaya populer dunia.

Melompat ke tahun 1984, Diana dewasa telah hidup di tengah masyarakat dan bekerja sebagai antropolog di The Smithsonian, meski duka akibat kematian Steve Trevor (Chris Pine) membuatnya selalu menenggelamkan diri dalam kesendirian. Di The Smithsonian, terjadilah pertemuan Diana dengan ilmuwan bernama Barbara (Kristen Wiig), yang mengidolakan segala kesempurnaan Dunia. Sejak era SNL, Wiig jagonya menghidupkan karakter canggung yang mudah disukai penonton, dan Barbara bukan pengecualian. Bahkan selepas bertransformasi menjadi Cheetah, saya tetap bersimpati padanya. Barbara bukan villain haus kekuatan yang ingin menguasai dunia. Dia hanya ingin merasakan cintanya dibalas.

Tapi bukan Cheetah saja musuh Wonder Woman di sini. Ancaman terbesar justru datang dari artefak misterius yang konon bisa mengabulkan semua permintaan. Artefak itu membawa Diana berkonfrontasi dengan Maxwell Lord (Pedro Pascal), si pebisnis minyak sekaligus bintang televisi. Keberadaan lebih dari satu antagonis otomatis memperbanyak cabang penceritaan film, dan Patty Jenkins, Geoff Johns, dan David Callaham yang menulis naskahnya, mampu menyatukannya secara rapi.

Bahkan cabang-cabang itu mereka manfaatkan untuk melahirkan rangkaian cerita masif berdurasi 151 menit, yang membawa karakternya berpetualang ke berbagai lokasi, termasuk Mesir. The stakes are high in this movie. Banyak film pahlawan super menampilkan ancaman berskala global, tapi sedikit yang mampu membuat penonton ikut merasakan seberapa besar ancaman itu (khsusnya kalau bukan berstatus film team-up) sebagaimana Wonder Woman 1984. Meski harus diakui, di banyak titik sewaktu aksinya absen, film ini kerap limbung, akibat minimnya penulisan dialog menarik, juga kisah yang stagnan.

Kesan masif di atas turut diciptakan oleh rangkaian aksinya. Film pertama memang punya adegan “No Man’s Land”, tapi sisanya tak begitu spesial, terlebih klimaks medioker berorientasi CGI-nya. Jenkis memperbaiki semua kekurangan itu. Pondasinya adalah kreativitas di ranah konsep. Sebagai salah satu holy trinity milik DC, haram hukumnya melibatkan Wonder Woman dalam pertarungan ala kadarnya. Bersama Johns dan Callaham, Jenkins memanfaatkan benda-benda ajaib milik Diana, yang mungkin oleh penonton di luar pembaca komik, belum diketahui kehebatannya.

Kalau Batman punya batarang, maka Wonder Woman bisa melemparkan tiara untuk melumpuhkan musuh. Selain dipakai menjerat dan memaksa lawan bicara jujur, Lasso of Truth dapat membuat Wonder Woman berayun di angkasa. Seperti Spider-Man? Nanti dulu. Apakah jaring milik Peter Parker bisa menjerat petir yang sedang menyambar? Dibantu penataan Matthew Jensen yang membuat kamera bergerak dinamis mengikuti kelincahan Wonder Woman, Jenkins menjadikan tiap shot terlihat besar, masif, epik.

Di titik ini saya rasa cuma orang bodoh, dengki, atau pembenci ulung yang mempertanyakan pemilihan Gal Gadot sebagai Wonder Woman. Jika di film pertama ia tangguh tetapi naif, di sini Gal Gadot memberi kita sosok pahlawan berpengalaman, yang tampak meyakinkan kala berakrobat, melayang di udara, atau mendorong sebuah mobil lapis baja sebagai tameng sambil berlari secepat kilat.

Tapi seperti sudah disinggung di awal tulisan, Wonder Woman 1984 bukan cuma suguhan  bombastis. Film ini mempunyai hati yang tidak kalah besar. Mungkin anda ingat sebuah shot di trailer, ketika Diana dan Steve berada dalam pesawat, sementara di luar, kembang api menghiasi langit malam. Satu yang tak diungkap secara gamblang di trailer (walau pembaca komik pasti sudah bisa menebaknya), mereka berdua ada di pesawat tak terlihat. Bagi saya itulah momen paling romantis di sini. Di bawah warna-warni kembang api, Diana dan Steve tersembunyi dari dunia luar, seolah ruang dan waktu hanya milik mereka berdua.

Dan tidak ada yang lebih sempurna merepresentasikan pesan heroisme film ini dibanding klimaksnya. Di blockbuster lain, klimaks tersebut mungkin akan terasa mengecewakan. Antiklimaks. Tapi tidak dalam Wonder Woman 1984, sebuah film yang berpesan bahwa sesungguhnya, sosok pahlawan bukan Diana seorang, namun seluruh umat manusia. Semua bisa menyelamatkan dunia melalui caranya masing-masing. Sungguh pesan yang relevan sekaligus berharga di kondisi dunia seperti sekarang.

THE LION KING (2019)

The Lion King adalah korban pilihan artistik Disney yang bertujuan memanfaatkan kesuksesan live action remake mereka. Dibuat dalam format fotorealistik, Jon Favreu (Iron Man, The Jungle Book) beserta tim sudah mengerahkan kemampuan terbaik, tapi biar bagaimanapun, pendekatan realistis pada dasarnya memang kurang cocok membungkus kisah si raja rimba.

Mungkin anda sudah mendengar kritik terhadap minimnya ekspresi wajah para hewan di sini. Tidak sepenuhnya benar, sebab bila diperhatikan lebih teliti, di balik tampilan fisik mereka yang digarap luar biasa detail hingga ke tekstur terkecil, dapat ditemukan gurat-gurat wajah humanis meski tidak dalam bentuk ekspresi besar, yang mana cocok bagi karakter macam Sarabi (Alfre Woodard), tapi tidak untuk Mufasa (James Earl Jones), Scar (Chiwetel Ejiofor), apalagi Zazu  (John Oliver).

Bayangkan tengah menonton animasi aslinya, diisi plot serta adegan serupa, hanya saja pengemasannya menekankan realisme. Artinya, kita takkan melihat Scar menelan Zazu, atau sekuen musikal I Just Can’t Wait to Be King yang komikal nan berwarna. Patut disayangkan, namun gantinya, keagungan alam bisa dirasakan, sebagaimana di adegan pembuka saat hewan-hewan penghuni Pride Lands menyambut kelahiran Simba (Donald Glover menyuarakan Simba dewasa,  JD McCrary meyuarakan Simba kecil). Rafiki (John Kani) mengangkat si bayi singa, sementara awan memberi jalan bagi semburat cahaya matahari yang menimbulkan kesan surgawi.

Desain Simba kecil bakal membuat teriakan “Oooh” dan ”Aaaw” sering keluar dari mulut penonton, tapi ketika kelucuan Simba berhasil mencuri hati, tidak demikian soal hubungannya dan sang ayah. Mufasa merupakan sosok pemimpin berwibawa, sehingga menciptakan ekspresinya pun jadi pekerjaan rumit. Walau James Earl Jones tanpa cela, sang raja bak tanpa nyawa akibat wajah yang kurang menyatu dengan suara.

Berikutnya, anda tahu apa yang akan terjadi. Berniat membuktikan kepantasan dan keberaniannya selaku calon raja, Simba mengajak Nala (Beyoncé Knowles-Carter menyuarakan Nala dewasa, Shahadi Wright Joseph menjadi Nala kecil) daerah terlarang berupa kuburan gajah, yang rupanya menjadi sarang hyena. Itulah awal tragedi kala Scar, yang sejak lama berambisi bertahta, membunuh Mufasa yang juga kakaknya, lalu menimpakan kesalahan kepada Simba. Ketakutan, ia menuruti perintah pamannya agar pergi dari Pride Lands.

Momen ikonik tatkala Scar mendorong Mufasa dari tebing gagal dibuat ulang secara apik, kali ini bukan saja akibat kurangnya ekspresi para singa, pula suara Chiwetel Ejiofor yang tanpa aura kekejaman. Padahal, di adegan-adegan lain, Ejiofor mampu melakoni perannya dengan baik. Beruntung, begitu saya mulai bersiap sepenuhnya dikecewakan, paruh keduanya muncul sebagai penyelamat. Pertama, tentu berkat duo Timon-Pumbaa (Billy Eichner-Seth Rogen). Keduanya adalah mesin penghasil tawa yang seketika menjauhkan filmnya dari awan kelam miskin warna bernama “realisme”.

Pun di paruh ini, elemen musik serta visualnya semakin memikat. Mengkreasi ulang karya buatannya, Hans Zimmer dibantu African choir yang kembali dikomandani oleh Lebo M., melahirkan scoring yang mampu menggerakkan perasaan (King of Pride Rock berulang kali membuat saya bergetar), mengiringi visual revolusioner yang bukan saja mengandalkan teknologi tinggi, pula kepiawaian sang sinematografer, Caleb Deschanel (The Passion of the Christ, Never Look Away). Pemandangan alamnya serasa bagian program Disneynature atau dokumenter National Geographic, tentunya dengan tambahan proporsi kecantikan.

Musikalnya pun turut mendapat upgrade. Nomor The Lion Sleeps Tonight berlangsung lebih lama dan menyenangkan tanpa perlu menjadi terlampau komikal, sedangkan biarpun Can You Feel the Love Tonight milik Favreu tak seromantis versi aslinya, keberadaan vokal Beyoncé rasanya telah menutup kekurangan tersebut. Meski minim nuansa “dimabuk kepayang karena asmara”, saya dibuat tersentuh oleh lantunannya.

Modifikasi favorit saya yakni ketika selaku penulis naskah, Jeff Nathanson (Catch Me If You Can, The Terminal) mengembangkan mome kala Rafiki mengetahui bahwa Simba masih hidup. Dibarengi penyutradaraan kaya sensitivitas dari Favreu, sekuen tersebut menangkap substansi “circle of life” lewat perjalanan segenggam bulu, yang menunjukkan bagaimana semesta mempunyai kekuatannya sendiri guna menggiring makhluk-makhluk di dalamnya menuju jalan takdir di mana kebaikan berkuasa.

Semua pendekatan berbasis realisme di The Lion King rasaya lebih mudah diapresiasi penonton dewasa, khususnya yang memahami indahnya keagungan alam. Sebaliknya, penonton anak bisa saja menganggap filmnya kurang seru, bahkan klimaksnya mungkin terlalu mengerikan bagi mereka. Beberapa bocah di studio tempat saya menonton seketika mengangis begitu pertarungan liar antara sekumpulan hewan buas berlangsung di bawah langit malam. Because once again—for better or worse—that’s realistic.

DARK PHOENIX (2019)

Simon Kinberg betul-betul memahami X-Men tapi tidak soal penyutradaraan. Kesimpulan itu saya ambil setelah menyaksikan Dark Phoenix, film X-Men kedua dan mungkin terakhir untuk jangka yang lama (Marvel Studios takkan menampilkan para mutan dalam waktu dekat dan pastinya bakal mengeksplorasi cerita lain dahulu) yang mengadaptasi The Dark Phoenix Saga.

Judul-judul X-Men terburuk, dari X-Men Origins: Wolverine, X-Men: Apocalypse dan tentu saja X-Men: The Last Stand, selalu menampilkan misinterpretasi dan/atau penyia-nyiaan karakter. Dark Phoenix berbeda. Filmnya tahu bahwa Charles Xavier (James McAvoy) bukan orang suci, Erik Lehnsherr (Michael Fassbender) (seringkali) merupakan antihero, Scott Summers (Tye Sheridan) adalah jagoan tangguh, sementara entitas Phoenix memberontak bila Jean Grey (Sophie Turner) mengalami ketidakstabilan emosi.

Kinberg pun tidak lupa menggambarkan X-Men selaku tim penuh warna, seperti ditampilkan babak pertama, tatkala mereka melakoni misi luar angkasa guna menyelamatkan para astronot yang pesawatnya rusak akibat energi bak suar matahari. Kinberg memanfaatkan misi tersebut untuk memperlihatkan X-Men bekerja sebagai tim dalam sekuen seru yang pantas dijadikan klimaks.

Saat itulah Jean terpapar pancaran energi misterius tadi, memberinya kekuatan tanpa batas. Menebus kesalahan di The Last Stand, Kinberg kali ini lebih setia kepada materi aslinya dengan menjadikan Phoenix entitas kosmik ketimbang perwujudan kepribadian ganda Jean Grey. Kembali ke Bumi, Jean makin kehilangan kontrol atas kekuatannya, sebelum emosinya meledak begitu mengetahui rasa gelap yang disembunyikan Charles.

Sisi problematik Charles sudah menggaggu Raven (Jennifer Lawrence), yang merasa sang sahabat lama enggan mempedulikan keselamatan murid-muridnya demi kejayaan pribadi. Raven berniat pergi, tapi Hank (Nicholas Hoult) menghalanginya. Charles sendiri tak menyangkal jika ia menikmati diperlakukan layaknya pahlawan dan dibanjiri penghargaan dari pemerintah Amerika Serikat. Pembaca komiknya tentu tahu jika Charles senantiasa berada di area abu-abu, bahkan melakukan berbagai tindakan yang jauh lebih kejam daripada versi film. Patrick Stewart memerankan Charles tua dengan baik, tapi McAvoy lebih cocok memotret sisi kelam sang tokoh tatkala jiwanya berantakan.

Jean kehilangan kontrol, Charles terobsesi memegang kontrol, dan seolah belum cukup, muncul rintangan baru bagi X-Men, saat ras alien pengubah wujud bernama D’Bari menginvasi demi mengambil alih kekuatan Phoenix. Walau karakternya dangkal, sebagai Vuk sang pemimpin ras D’Bari, Jessica Chastain punya aura tak manusiawi yang misterius, membuatnya paling tidak jadi antagonis yang lebih enak dilihat ketimbang si konyol Apocalypse.

Ketika hampir semua pihak termasuk dirinya sendiri merasa bahwa Jean membawa kehancuran, Vuk sebaliknya, menyampaikan gagasan tentang bagaimana ia adalah sumber kehidupan. Itu dia. Biarpun keseluruhan alurnya kurang solid, dibangun atas rangkaian perdebatan idealisme yang gagal memprovokasi, keberadaan motivasi jelas nan tepat bagi gejolak batin Jean telah membawa Dark Phoenix menyelesaikan misinya selaku remedial untuk The Last Stand.

Lewat naskahnya, Kinberg menunjukkan cara tepat (meski tidak luar biasa) mengadaptasi The Dark Phoenix Saga. Tapi Kinberg “si sutradara debutan” sayangnya tak sepiawai Kinberg si “penulis naskah film buku komik”. Eksekusi adega aksinya acap kali penuh kecanggungan, walau beragam gagasan brilian nampak jelas tersimpan dalam kepalanya.

Salah satu contoh gagasannya terkait kemampuan para mutan di medan pertarungan. Teleportasi Kurt (Kodi Smit-McPhee) terbukti banyak menolong, optic blast milik Scott adalah serangan yang layak ditakuti, kekuatan Phoenix praktis membuat Jean dapat melakukan apa saja, dan Erik adalah sosok badass. Entah saat ia melempar helikopter atau menghancurkan lawan menggunakan kereta, Erik membuktikan bahwa film X-Men tak selalu membutuhkan Wolverine guna menghadirkan aksi keren.

Tapi sekali lagi, banyak di antara gagasan tersebut hanya berhenti sebagai gagasan. Tengok pertempuran di depan rumah Jean. Cara Kinberg memposisikan kamera, mengatur tempo dan mise-en-scène, kerap melucuti sisi epik yang sang sutradara inginkan. Itu pula alasan mengapa suatu peristiwa tragis yang menyusul tak lama kemudian gagal memberi dampak. Peristiwa itu dibangun, terjadi, dan diakhiri secara terburu-buru.

Lemahnya pengadeganan Kinberg kian nyata kala disandingkan dengan musik bombastis Hans Zimmer. Kedua sisi seolah eksis dalam alam yang berbeda sehingga kesulitan saling melengkapi. Gubahan musik Zimmer terdengar mengguncang seperti biasa (pemakaian terletak pada sekuen misi luar angkasa), meski saya menyayangkan ketiadaan Suite, lagu tema ikonik buatan John Ottman.

Filmnya berakhir antiklimaks. Selepas sekuen kereta yang menghibur, Kinberg justru menyajikan pertarungan membosankan nihil tensi dan kreativitas, ketika dua karakter dengan aura berapi-api tampak sibuk saling peluk. Keseluruhan Dark Phoenix pun terkesan mirip. Selaku penutup, film ini jelas jauh dari ideal, namun keengganan mengkhianati sumber adaptasinya adalah sesuatu yang pantas mendapat pujian.

BLADE RUNNER 2049 (2017)

Sekuel dirilis puluhan tahun pasca film asli bukan hal asing. Beberapa demi nostalgia, beberapa semata usaha putus asa mengais sisa kejayaan untuk pundi-pundi uang, beberapa memang sebuah lanjutan perjalanan yang perlu. Blade Runner 2049 selaku sekuel Blade Runner (1982) yang merupakan adaptasi novel Do Androids Dream of Electric Sheep? buatan Philip K. Dick sejatinya tanpa urgensi. Tapi melanjutkan rentetan kemenangannya, Denis Villeneuve mampu melahirkan sekuel yang melampaui pendahulunya, setidaknya di mata minoritas macam saya yang kurang mengagumi karya Ridley Scott tersebut.

Blade Runner versi original kental eksplorasi filosofis tentang eksistensi dan kemanusiaan tapi kurang perihal balutan misteri guna menemani tuturan neo-noir tempo lambatnya. Masih ditulis oleh Hampton Francher yang kini berduet bersama Michael Green menggantikan David Peoples, Blade Runner 2049 tetap mempertanyakan humanisme yang tersimpan di balik investigasi K (Ryan Gosling), anggota Blade Runner yang bertugas "memensiunkan" replicants. K sendiri juga seorang replicants. Karena menghindari spoiler, saya tidak bisa menjabarkan lengkap, tapi intinya penyelidikan K mengarah akan rahasia replicants yang dapat mengubah dunia, khususnya hubungan mereka dengan manusia.
Berlangsung selama 163 menit, naskahnya rutin menyuguhkan misteri berdaya tarik tinggi untuk penonton gali. Kuatnya pengaruh noir yang identik dengan alur rumit di mana penyelidikan bakal bercabang dan fakta disebar dalam bentuk kepingan-kepingan kecil pula urung diungkap secara gamblang memaksa penonton berkonsentrasi penuh. Di sinilah gaya Villenueve berperan penting. Serupa Arrival, tempo lambat dipakai supaya tiap momen dan potongan puzzle tertancap di benak penonton, memberi kita waktu mengolah seluruh informasi. Walau di beberapa kesempatan, kelambatan itu berlebihan, menjadikan aktivitas sederhana para tokoh bak berlangsung tanpa ujung.

Pemangkasan durasi sekitar 10-15 menit akan membantu mempertahankan konsistensi intensitas. Setidaknya sinematografi luar biasa Roger Deakins setia menemani. Ditemani tata artistik yang meyakinkan melebur pemandangan tandus wasteland dengan nuansa "low life, high tech" ala cyberpunk, gambar olahan Deakins adalah masterpiece soal pilihan warna dan permainan cahaya. Ketika kisahnya menyoroti jurang pemisah manusia dan replicants, Deakins juga menghadirkan kontradiksi antara reruntuhan peradaban maju seperti di Las Vegas, tempat Rick Deckard (Harrison Ford) bersembunyi yang kental warna Jingga dengan atmosfer futuristik di markas Niander Wallace (Jared Leto) sang produsen replicants
Perpaduan juara sinematografi plus tata artistik tersebut membantu Villeneuve mewujudkan visinya mengemas adegan aksi yang memberi peran penting pada lingkungan sekitar. Aksi milik Blade Runner 2049 cenderung artistik ketimbang bombastis, kondisi sekeliling mempengaruhi rintangan karakter (ombak di klimaks) atau mempengaruhi mood macam hologram Elvis dan Marilyn Monroe yang mengiringi baku hantam K dan Deckard. Momen kedua jadi contoh eksperimen cerdik untuk visual serta suara. Sayangnya departemen musik yang digawangi duo Hans Zimmer-Benjamin Wallfisch tak mampu mengulangi maha karya Vangelis di film pertama walau mempertahankan synth atmosferik sambil diselingi hentakan khas Zimmer. Apalagi dibanding pendahulunya, Blade Runner 2049 menambah kadar bumbu romantika, sehingga scoring jazzy yang intim pun terkadang seksi milik Vangelis jelas lebih cocok.

Gosling sempurna mewakili tema "mempertanyakan kemanusiaan" filmnya lewat penampilan dingin yang turut memancing ambiguitas K dan replicants pada umumnya. Apakah mereka punya jiwa, sekedar benda tanpa nyawa, atau justru lebih manusia dari manusia itu sendiri? Ford membawa Deckard menjadi lebih gritty, selaras dengan setumpuk hal yang menimpanya selama 30 tahun, sementara Leto tampil eksentrik sebagaimana baris-baris kalimat filosofis yang diucapkan Wallace. Namun hati terbesar bersumber dari Ana de Armas sebagai Joi, kekasih hologram K yang meski tanpa tubuh nyata, justru lebih memiliki rasa ketimbang para manusia. Kalimat "like a real girl" yang ia lontarkan adalah hal paling menyentuh sepanjang film. Jadi, apakah yang membuat kita spesial?

DUNKIRK (2017)

Nolan seringkali bermasalah soal drama. Setidaknya demikian yang dilontarkan para pengkritiknya, bahwa karya-karya sang sutradara tak menyimpan rasa. Saya tidak membantah, sebab baru Interstellar yang memercikkan hati. Namun tidak pula sepenuhnya setuju, toh kebutuhan akan hati baru mencapai urgensi di Interstellar yang menuturkan kisah ayah-anak. Sisanya, Nolan memang sengaja menekankan permainan alur berkonsep tinggi atau gemuruh spectacle. The Dark Knight Rises dan Inception menggedor jantung, tapi rasa yang dimaksud adalah sentuhan kemanusiaan. Dunkirk yang didasari peristiwa nyata evakuasi prajurit sekutu pada Perang Dunia II jelas memberi Nolan modal besar guna "memperbaiki kekurangan" di atas

Naskah tulisan Nolan terbagi menjadi tiga cabang. The Mole mengisahkan usaha angkatan darat Sekutu kabur dari serangan Jerman di bibir pantai Dunkirk melalui sudut pandang Tommy (Fonn Whitehead) si prajurit Inggris. The Sea mengambil perspektif Dawson (Mark Rylance) bersama putranya, Peter (Tom Glynn-Carney) dan remaja bernama George (Barry Keoghan) selaku satu dari sekian banyak warga sipil yang berani menyeberang lautan demi membawa pulang prajurit di Dunkirk. Terakhir adalah The Air, yang seperti judulnya, berlokasi di udara menyoroti tiga pilot Spitfire termasuk Farrier (Tom Hardy). Masing-masing berlangsung selama satu minggu, satu hari, dan satu jam.
Nolan masih gemar bermain-main dengan persepsi waktu. Ketiga cerita dikemas non-linier. Saling bersinggungan namun tak berurutan. Misalnya, kita lebih dulu melihat prajurit tanpa nama (Cillian Murphy) terombang-ambing di tengah lautan, tertekan akibat PTSD dalam The Sea, sebelum menyaksikan penyebab ia sampai ke sana pada The Mole. Tujuannya untuk menyampaikan beragam perspektif terhadap satu peristiwa. Menarik, sebab kerap lahir sudut pandang baru nan berlainan, yang bagi tiap tokoh kelak memproduksi memori berbeda-beda akan peristiwa tersebut. Bagaimana di tengah kekacauan yang melibatkan ratusan ribu manusia, bermacam persepsi berlawanan mungkin tercipta. Pula bagaimana tanpa seseorang sadari, tindakan orang tak dikenal berdampak besar akan dirinya. Pendekatan alur ini cocok mewakili konsep filosofis tersebut.

Masalahnya, ketiadaan penanda pergantian waktu   yang mana disengaja demi menggambarkan ambiguitas pemahaman tokoh akan detail situasi   justru melemahkan narasi. Sulit mengidentifikasi apakah sebuah peristiwa baru kita lihat atau pengulangan dalam sudut pandang baru tanpa keberadaan transisi pasti. Ditambah lagi, mayoritas durasi berisi kekacauan yang mirip. Hitung berapa kali adegan kapal tenggelam. Alhasil sulit terikat oleh rangkaian kejadian itu. 
Kembali soal emosi. Sedari film dimulai saya menantikan Nolan memacu rasa melalui paparan heroisme kental unsur kemanusiaan. Sedari awal scoring Hans Zimmer selalu mengiringi. Sesekali beralih ke gaya biasa berupa hentakan perkusi pemancing detak jantung, tapi mayoritas adalah alunan atmosferik ditambah suara konstan detik jam, bak mengesankan bahaya selalu mengintai, dapat sewaktu-waktu menerjang. Terbukti, acap kali dentuman mengejutkan menyeruak di saat tak terduga, menyiratkan potensi Nolan meramu jump scare efektif dalam horor. Sementara musik non-stop mendukung niat sang sutradara bercerita lewt visual penuh momen sunyi (sampai titik filmnya bagai silent movie) dibungkus sinematografi berkesan ironi karena Hoyte van Hoytema menangkap horor peperangan macam mayat bergelimpangan di pantai secara cantik. Dampaknya, pemandangan itu mengendap di pikiran. 

Otak saya dapat mengolah semua itu, mencerna tujuan-tujuan di baliknya. Seperti ketika saya paham hebatnya Nolan mengemas aksi yang otentik berkat meminimalkan pemakaian CGI. Mungkin hanya dia yang diberi keleluasaan demikian, termasuk menempatkan kamera di tiap sudut pesawat tempur di angkasa. Sekali lagi, otak saya mengerti betapa dari segi teknis, Dunkirk tiada cela. Namun ada kekosongan ketika totalitas eksekusi itu jarang mengguncang perasaan, baik haru melihat perjuangan umat manusia maupun ketegangan mendapati sederet aksi tanpa henti. Lalu saya sadar jika tidak kenal tokoh-tokohnya sebab Dunkirk disajikan sebagai event ketimbang karakter-sentris. Manusia adalah "sekumpulan makhluk dalam peristiwa" daripada individu unik berkepribadian serta berlatar belakang lengkap. Dampaknya, sulit tercipta kepedulian walau mereka berulang kali tenggelam atau terjebak di tengah hujan bom. Jadilah cerita kemanusiaan yang urung memanusiakan manusia, walau cast-nya solid di porsi masing-masing; kecemasan Cillian Murphy, ketenangan di balik heroisme Tom Hardy, kehangatan sosok ayah Mark Rylance. Harry Styles dalam debut aktingnya pun lancar bermain rasa. 
Faktor lain terkait kesengajaan menekan gejolak emosi, menolak dramatisasi demi kesan realistis. Keputusan yang berlawanan sekaligus melemahkan materinya. Kedatangan menyentuh rakyat sipil "membawakan rumah" bagi para tentara, harap-harap cemas menyaksikan aksi heroik di udara, hingga selipan kisah keluarga, bergulir di nada rendah, enggan diletupkan. Misi Dunkirk adalah soal kepahlawanan menggugah. Nolan melucuti esensi itu demi otentitas yang sesungguhnya layak dipertanyakan ketika kita takkan menemukan darah mengalir. Merupakan inkonsistensi sewaktu usaha merangkai kondisi realistis perang tak dibarengi darah selaku gambaran kebrutalan. Melalui Dunkirk, Nolan membuat film perang realistis yang berakhir tidak realistis, pula menahanemosi dalam interpretasi atas peristiwa nyata emosional. 

Saya keluar dari bioskop dengan kehampaan. Namun ada perasaan aneh yang tak kunjung hilang. Perasaan ingin kembali mengunjungi Dunkirk meski telah dikecewakan. Perasaan yang belum bisa saya pecahkan bahkan setelah tulisan ini selesai. Mungkin di luar ketiadaan rasa, Nolan berhasil menciptakan sesuatu yang jarang dicapai blockbuster belakangan, yakni cinematic experience. Mungkin Dunkirk sejatinya masterpiece andai diihat dari sudut pandang lain sebagaimana perbedaan perspektif yang menimpa tokoh-tokoh di dalamnya. Tapi untuk sementara, Dunkirk merupakan karya terlemah Christopher Nolan.


Review film ini juga tersedia di: http://tz.ucweb.com/7_1FFXi