Tampilkan postingan dengan label Ki Hong Lee. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ki Hong Lee. Tampilkan semua postingan
MAZE RUNNER: THE DEATH CURE (2018)
Rasyidharry
Seperti The Hunger Games, Maze Runner menjadi satu dari sedikit seri film adpatasi novel young adult yang berhasil bertahan
menyentuh garis akhir saat kebanyakan rontok bahkan sebelum mendapatkan sekuel,
atau lebih tragis lagi, menyisakan babak penutup (yes, I’m lookin’ at you, Divergent). Sayangnya, seperti The Hunger Games pula, petualangan
Thomas (Dylan O’Brien) dan kawan-kawan makin kehilangan daya tarik setelah
meninggalkan konsep menarik yang awalnya diusung. Tanpa upaya tokohnya kabur
dari labirin sembari menyibak misteri di baliknya, Maze Runner sekedar blockbuster
generik yang bakal menguap dari ingatan begitu durasi berakhir.
Tengok
sekuen pembukanya kala Thomas, Newt (Thomas Brodie-Sangster), dan sisa-sisa “Gladers”
melangsungkan misi guna menyelamatkan Minho (Ki Hong Lee) dari kurungan WCKD.
Walau Wes Ball, yang juga mengarahkan dua film pertama, tahu dasar-dasar
mengemas aksi bertempo cepat, adegan tersebut tak ubahnya versi medioker dari train heist milik Fast & Furious. Kencang, berisik, tapi sulit mengundang kesan,
apalagi sampai menyedot ketertarikan terhadap perjuangan para protagonis. Sebut
saya terlalu serius menyikapi blockbuster
macam ini, tetapi sungguh banyak momen janggal hadir mengisi. Momen janggal
yang memaksakan terciptanya rintangan, atau memperpanjang rintangan yang telah
ada.
Kenapa memilih
mengangkat gerbong terlebih dahulu ketimbang menembaki segelintir pasukan WCKD
menggunakan pesawat dengan persenjataan lengkap yang berhasil dicuri? Itu akan
menghemat waktu dan mengurangi resiko, termasuk resiko keliru memilih gerbong.
Namun T.S. Nowlin selaku penulis naskah tentu takkan membiarkan itu, sebab The Death Cure butuh tambahan konflik
untuk menambal alur tipisnya. Pertanyaannya, perlukah mencapai durasi 140
menit? Rasanya tidak. Karena praktisnya, 90 menit awal The Death Cure
murni soal menyelamatkan Minho dengan beberapa plot sampingan yang gagal berkembang,
dari tarik-ulur romansa Thomas dan Teresa (Kaya Scodelario) hingga ambiguitas
moral mengenai eksperimen vaksin yang dilakukan WCKD.
Poin kedua
mestinya jadi sorotan utama The Death
Cure. Kisahnya tidak pernah berani melangkah ke area abu-abu. WCKD,
sebagaimana namanya tetap sekelompok orang kaya kejam nan egois yang mengorbankan
nyawa-nyawa remaja demi keselamatan diri sendiri dalam rangka percobaan yang
hasilnya pun tak pernah menemui titik terang. Lain cerita jika percobaan itu
berhasil, yang mana bakal memancing dilema serta memprovokasi pikiran
penonton. Ketimbang demikian, filmnya cuma tertarik menggedor lewat aksi yang
mengandalkan pengulangan pola.
Semua set-piece aksi selalu menghadirkan
skenario berikut: tokoh utama terancam bahaya-tersudut-sekilas kehilangan
harapan-mendadak muncul sosok lain, entah dari mana, menyelamatkan segalanya. Elemen
kejutannya tak lagi mampu ketika dilakukan berulang kali. Dylan O’Brien dengan
kharisma nihil plus akting datar pun tidak berdaya mengatrol intensitas. Justru
Will Poulter yang kembali sebagai Gally lebih hidup dan menarik disimak. Kita
tahu sejak The Revenant kemudian Detroit, Poulter telah mengalami
pendewasaan dalam performanya. Dia lebih
matang, tahu cara memberi bobot pada sepatah dua patah kata, menambah dinamika
di dalamnya.
The Death Cure memiliki third act bombastis, menampilkan kehancuran masif dibungkus CGI
juga tata suara mumpuni. Niscaya menjadi suguhan epic andai alur yang mengawalinya tidak tampil
bertele-tele penuh permasalahan yang dapat terselesaikan jauh
sebelumnya. Pun penutupnya akan terasa manis sekaligus mengharukan bagi para
penggemar yang telah terikat hatinya pada Thomas dan kawan-kawan. Maze Runner: The Death Cure bukan babak
pamungkas memuaskan, tapi melihat kondisi sekarang, keberhasilan franchise blockbuster adaptasi novel young adult menuntaskan perjalanannya adalah prestasi yang patut
disyukuri.
Januari 25, 2018
Action
,
Dylan O'Brien
,
Kaya Scodelario
,
Ki Hong Lee
,
Kurang
,
REVIEW
,
Science-Fiction
,
T.S.Nowlin
,
Thomas Brodie-Sangster
,
Wes Ball
,
Will Poulter
Langganan:
Postingan
(
Atom
)