Tampilkan postingan dengan label Sanjay Leela Bhansali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sanjay Leela Bhansali. Tampilkan semua postingan

PADMAAVAT (2018)

Dalam epos Ramayana, Rama menyerbu Alengka untuk menyelamatkan Shinta dari Rahwana. Laki-laki perkasa menolong wanita tak berdaya memang formula yang jamak diterapkan. Dalam Padmaavat, selaku adaptasi puisi epik Padmavat (1540) buatan Malik Muhammad Jayasi, peran itu dibalik. Ratu Padmavati (Deepika Padukone) bersedia mendatangi Kesultanan Delhi guna membebaskan suaminya, Sultan Ratan Singh (Shahid Kapoor) dari Mewar, yang dikurung oleh Sultan Alauddin Khilji (Ranveer Singh). Seperti Rahwana terobsesi pada Shinta, Alauddin ingin merebut Padmavati dari Ratan. Padmavati tetap berdiri tegak, bahkan melawan.

Dalam lingkup kerajaan zaman dulu di mana Ratu adalah barang milik Raja, tuturan women empowerment film ini sudah memadahi. Sanjay Leela Bhansali dan Prakash Kapadia selaku penulis naskah mampu mengangkat tema kekinian tanpa harus mengobrak-abrik gambaran era lampau. Padmavati adalah istri kedua Ratan, yang di awal pertemuannya tidak sengaja memanah sang Sultan. Sebagai Ratu, sosoknya amat dipuja karena kecantikan luar biasa. Mukjizat Tuhan. Demikian salah satu pujian yang dialamatkan padanya.
Deepika memang sempurna memerankan Ratu yang kecantikannya disebut dapat membuat malaikat merasa malu. Mengenakan busana spektakuler termasuk lehenga yang ia kenakan saat menari dan menyanyikan Ghoomar, Deepika luar biasa anggun. Bersanding bersama dekorasi yang dipenuhi properti mewah nan berkilau serta ukiran dinding estetis, Padmaavat benar-benar terlihat megah. Padahal jumlah setting-nya tak sedikit. Bangunan Kerajaan Mewar tentu sangat luas dan filmnya mampu mengesankan itu dengan cara menampakkan beragam jenis ruangan. Pemilihan gerak dan sudut kamera oleh sinematografer Sudeep Chatterjee pun turut menonjolkan kemegahan tersebut semaksimal mungkin.

Sedangkan di lokasi outdoor, barisan landscape tanah gersang bercampur badai pasir membungkus peperangan epic. Dalam peperangan, Alauddin adalah jagonya. Meyakini bahwa seluruh barang berharga merupakan miliknya, ia menghancurkan berbagai kerajaan sebelum akirnya merebut tatha Sultan Delhi. Ranveer Singh menjadikan Sultan berdarah dingin ini antagonis over-the-top yang mengerikan. Walau seperti kenyataan dewasa ini, tokoh jahat paling menjijikkan adalah iblis mesum berkedok ahli spiritual/pemuka agama seperti Raghav Chetan si Pendeta yang mengkhianati Mewar.
Karena bujuk rayu Raghav, Alauddin terobsesi meruntuhkan Mewar demi mendapatkan Padmavati. Sang Ratu sendiri, khususnya di paruh awal, lebih banyak berada di balik layar, seolah pasif di tengah konflik dua kerajaan. Tapi ia tidak berdiam diri. Ketimbang semata otot layaknya orang barbar Padmavati mengutamakan siasat. Sekalinya turun tangan, ia mampu mengguncang. Baik tindakan dan ucapannya menghadirkan dampak, tak ada yang sia-sia. Inilah cara efektif naskahnya menggambarkan seorang wanita tangguh di era dahulu.

Durasi yang mencapai 164 menit sekilas terdengar melelahkan, apalagi alurnya bergerak mengikuti pakem standar nihil modifikasi maupun kelokan sedikitpun. Tapi kepiawaian sutradara Sanjay Leela Bhansali (Bajirao Mastani) mengemas narasi menciptakan tempo stabil yang nyaman diikuti, tidak terlalu menyeret, tidak pula terburu-buru. Alhasil intensitas dapat dijaga dengan baik sehingga perjalanan nyaris tiga jam urung terasa membosankan. Padmaavat merupakan kemegahan yang wajib disaksikan di layar lebar.