Tampilkan postingan dengan label Steven Knight. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Steven Knight. Tampilkan semua postingan

REVIEW - SPENCER

"A fable from a true tragedy" adalah bagaimana Spencer mencap dirinya. Bukan biopic, melainkan drama sejarah spekulatif tentang Diana Frances Spencer alias Puteri Diana. Tragedi yang dimaksud pun bukan kematian Diana. Jauh sebelum ia kehilangan nyawa, tapi saat itu, jiwanya yang pelan-pelan mati, di tengah kemegahan yang mengubur kemanusiaan.

Latarnya tahun 1991, di mana keluarga kerajaan Inggris berkumpul selama tiga hari di Sandringham House untuk merayakan Natal. Diana (Kristen Stewart) datang terlambat, yang mana sudah semua orang duga. Bagi keluarga kerjaan, Diana bak biang masalah. Mayor Gregory (Timothy Spall) selaku kepala staf Sandringham bertugas mengawasi sang Putri Wales. 

Figur intimidatif Gregory kadang tampak seperti sosok misterius dari film horor, yang mengawasi dari jauh dengan tatapan tajam, kemudian bisa muncul tiba-tiba. Dia cocok jadi salah satu karakter The Shining (1980). Pablo Larrain (Jackie) selaku sutradara pun rasanya banyak mengambil inspirasi dari karya Kubrick tersebut. Dapat dilihat dari nuansa atmosferik dalam suatu bangunan megah, hingga beberapa sekuen mimpi (stylish, walau tak jarang mendistraksi keintiman rasa). Jadilah sebuah drama psikologis yang menggambarkan kemelut batin karakter layaknya teror di film horor.

Karya Kubrick lainnya, Barry Lyndon (1975), tidak ketinggalan memberi pengaruh bagi departemen artistik. Bangunan set megah maupun deretan baju mewah nyatanya tidak menghadirkan kebahagiaan untuk Diana. Pasca 10 tahun menikahi Pangeran Charles (Jack Farthing), kejengahan atas tetek bengek tradisi hingga perselingkuhan sang suami justru makin menggerus kondisi psikisnya. Dia menderita bulimia, pula kerap melukai diri (Diana "mencubit" lengannya memakai tang jadi pemandangan paling menyakitkan di sini).

Larrain mengurung penonton bersama Diana di bangunan glamor nan luas yang ironisnya terasa begitu sempit dan menyesakkan bagi si protagonis. Kepenatan Diana, yang cuma mendapat kebahagiaan dari kedua buah hati, Pangeran William (Jack Nielen) dan Pangeran Harry (Freddie Spry), ikut kita rasakan. Sementara Maggie (Sally Hawkins) si royal dresser jadi satu dari sedikit orang yang bisa disebut "teman" oleh Diana. Kunjungan bersama Maggie ke pantai terasa menyentuh juga karena alasan serupa. Kita bisa merasakan kebahagiaan Diana yang akhirnya menghirup udara segar, terbebas dari kurungan rutinitas.

Selain tampil cantik lewat efek grainy hasil tangkapan kamera Super 16mm (format 35mm turut dipakai di beberapa adegan minim cahaya), sinematografi arahan Claire Mathon (Portrait of a Lady on Fire, Petite Maman) pun berperan dalam proses transfer emosi. Sesekali shaky cam diterapkan, tatkala kamera mengikuti kegundahan karakternya. Musik garapan Jonny Greenwood pun substansial mewakili kecemasan Diana. Kadang terdengar bagai noir, kadang thriller, kadang horor. Sedangkan kesan "horor dalam kemewahan" dihidupkan oleh bunyi-bunyian yang terdengar seperti kristal yang saling bersinggungan. 

Tentu semua takkan berarti tanpa akting Stewart. Kemunculan awalnya saat Diana tersesat di pedesaan memang bak karikatur, tapi setelahnya, ia melesat. Stewart selalu piawai memunculkan ketidaknyamanan, dan itulah mengapa sang aktris sempurna memerankan Diana dalam naskah milik Steven Knight (Dirty Pretty Things, Locke). Stewart adalah perwujudan kecemasan individu atas hilangnya jati diri, seiring lenyapnya kebebasan menjadi manusia.

(Klik Film)

THE GIRL IN THE SPIDER'S WEB (2018)

Rencana sekuel bagi The Girl with the Dragon Tattoo (2011) milik David Fincher dihapuskan, karena meski mengumpulkan lebih dari $232 juta di seluruh dunia, membuat lanjutan untuk thriller kriminal atmosferik bertempo lambat dengan durasi 158 menit dan biaya $90 juta (belum termasuk promosi), dianggap berisiko oleh Sony, yang mana—walau disayangkan—dapat dipahami. Fede Alvarez (Evil Dead, Don’t Breathe) pun menggantikan Fincher menggarap sekuel/soft-reboot yang lebih mudah diakses penonton umum, lebih singkat (117 menit), dan memakan biaya tak sampai separuh film pertama ($43 juta).

Lisbeth Salander pun mengalami perubahan. Dia bukan sekedar peretas andal yang kerap terlibat dalam investigasi misteri. Kini Lisbeth bagai Ethan Hunt atau James Bond, yang harus menyelamatkan dunia dari usaha sekelompok teroris mencuri kode peluncur nuklir, memaksanya terlibat adu jotos, adu tembak, dan kebut-kebutan. Pun Claire Foy (dalam satu lagi performa mumpuni setelah Unsane dan First Man) adalah Lisbeth Salander yang tetap penyendiri namun lebih “bersahabat”, lebih sensitif, tidak sedingin dan seeksentrik versi Rooney Mara.

Pendekatan tersebut tak diragukan lebih mudah diterima penonton umum. Dikombinasikan dengan segelintir pemandangan menyakitkan yang cukup membuat kita meringis nyeri seperti saat Lisbeth merekatkan luka goresan peluru di punggungnya menggunakan lem atau—sebagaimana jamak dipakai para jagoan aksi—stapler, pula penerapan tempo cepat oleh Alvarez, The Girl in the Spider’s Web merupakan thriller yang mampu terus mengikat perhatian dan antusiasme penonton.

Mengadaptasi novel berjudul sama karya David Lagercrantz selaku buku keempat di seri Millenium sekaligus judul pertama di luar karangan Stieg Larsson yang meninggal pada 2004, anda bakal mendapati familiaritas plotnya dengan setumpuk thriller-kriminal lain. Lisbeth diminta mencuri Firefall—program yang memungkinkan pengguna mengakses kode nuklir di seluruh dunia—dari National Security Agency (NSA) oleh pencipta programnya sendiri, Frans Balder (Stephen Merchant). Frans merasa, menciptakan Firefall adalah kesalahan dan berniat menghancurkannya.

Lisbeth pun harus menghadapi berbagai pihak karena aksinya: Edwin Needham (Lakeith Stanfield), anggota NSA yang berniat merebut Firefall kembali; Swedish Secret Service (SAPO) yang sudah lama ingin menangkap Lisbeth; dan sindikat kriminal misterius bernama The Spiders. Dengan pihak sebanyak itu, yang masing-masing menyimpan kepentingan berbeda, belum termasuk kembalinya Mikael Blomkvist (Sverrir Gudnason) guna membantu Lisbeth menggunakan kemampuan jurnalisme investigasinya (yang gagal film ini manfaatkan) hingga eksplorasi masa lalu Lisbeth, The Girl in the Spider’s Web bisa saja terbelit dalam kerumitannya sendiri, seperti banyak thriller-kriminal lain yang berusaha tampak pintar nan rumit tanpa dibarengi kebolehan bercerita.

Beruntung, itu tidak terjadi. Trio penulis naskahnya: Fede Alvarez, Jay Basu (The Dinosaur Project, Monsters: Dark Continent), dan Steven Knight (Locke, Allied), mampu mempertahankan kejelasan mengenai “siapa adalah siapa” dan “siapa melakukan apa”. Sebagai sutradara, Alarez pun tahu kapan mesti berakselerasi, kapan mesti memperlambat laju untuk eksposisi dan eksplorasi plot. Sewaktu berakselerasi, filmnya sanggup memanfaatkan kecerdasan serta penguasaan teknologi karakter utamanya. Benar bahwa terlampau banyak momen “pelacakan lokasi”, namun sekalinya tiba di lokasi, kita disuguhi sekuen menegangkan yang bakal memancing senyum penuh kepuasan, seperti saat Lisbeth menembus sistem keamanan bandara.

Memang pemakaian teknologinya membuat The Girl in the Spider’s Web lebih over-the-top ketimbang pendahulunya, termasuk versi trilogi Swedia, yang mungkin membuat para puritan kebakaran jenggot. Sementara pengagum Fincher pun rasanya takkan “terangsang” kala mendapati atmosfer suramnya lenyap dan Stockholm tak lagi sedingin serta sesunyi sebelumnya. Tapi sebagai gantinya, film ini amat menghibur. Saya tidak keberatan duduk mengarungi beberapa aksi medioker berhiaskan quick cut memusingkan hanya untuk melihat Lisbeth Salander melempar trik demi trik untuk mengakali lawan-lawannya. Kalau bukan disebabkan sekuen aksi lemah dan pemakaian unsur kebetulan bodoh sebagai resolusi, saya akan mencintai film ini.