Tampilkan postingan dengan label Tinatin Dalakishvili. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tinatin Dalakishvili. Tampilkan semua postingan

ABIGAIL (2019)

Kalau anda membaca tulisan ini karena tertarik menonton Abigail, segera urungkan niat tersebut. Fantasi steampunk produksi Rusia ini merupakan salah satu film terburuk sepanjang 2019, sewaktu kekayaan imajinasi khas dunia fantasi digantikan oleh sajian pengantar tidur akibat kemiskinan kreativitas (juga dana).

Abigail (Tinatin Dalakishvili) tinggal di suatu kota kecil yang selama ratusan tahun dijangkiti wabah penyakit mematikan misterius. Akibatnya, kota itu terisolir dari dunia luar, dan warganya hidup bak narapidana, di mana jam malam diberlakukan, sementara pasukan keamanan rutin berpatroli mencari para pesakitan. Salah satunya adalah ayah Abigail (Eddie Marsan), yang dibawa pergi saat Abigail baru berusia sembilan tahun.

Setelah dewasa, Abigail meyakini sang ayah masih hidup. Dia pun nekat melakukan pencarian, melawan para pasukan keamanan, bertemu kelompok pemberontak yang dipimpin Bale (Gleb Bochkov), hingga menyadari bahwa kota tempat tinggalnya dipenuhi hal-hal ajaib, termasuk ilmu sihir yang rupanya juga Abigail miliki. 

Walau sinopsisnya mengandung kata “sihir”, ketimbang aksi adu ilmu, obrolan membosankan berisi kalimat-kalimat yang mendefinisikan “penulisan buruk” lebih sering mengisi layar, pun acap kali berlangsung berlarut-larut, seolah demi menambal durasi di tengah ketidakmampuan menampilkan banyak spectacle akibat keterbatasan biaya.

Ditambah voice over berintonasi monoton cenderung memalukan serta pilihan shot sutradara Aleksandr Boguslavskiy (Beyond the Edge) yang nihil variasi dalam membungkus obrolan, Abigail bagai sinetron murahan. Daripada eksplorasi mitologi dunia maupun detail perihal sihir yang sama-sama tampil bak pernak-pernik remeh ketimbang menu utama, justru mengedepankan debat kusir selaku panggung bagi penampilan menggelikan dua pemain utama.

Tinatin Dalakishvili berniat menjadikan Abigail sosok gadis pemberani, tapi ekspresi berlebihannya malah melahirkan parodi, sementara Gleb Bochkov seperti menjalani seluruh proses pengambilan gambar saat menderita sakit perut. Saya pun ikut menderita menyaksikan jalinan romansa mereka.

Menegaskan kualitas jongkok filmnya adalah pengarahan Aleksandr Boguslavskiy akan adegan aksi berbalut CGI. Staging-nya membuat sakit mata, ketika banyak peristiwa tidak terlihat jelas. Sang sutradara nampak bingung mesti bagaimana mengemas adu “ilmu sihir” yang mengambil wujud asap-asap berwarna hitam. Beberapa kali pula, entah dengan pertimbangan apa, ia memilih tidak menangkap dampak serangan yang dilancarkan karakternya. Jauhi bencana satu ini.