Tampilkan postingan dengan label European Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label European Film. Tampilkan semua postingan

REVIEW - DREAMS (SEX LOVE)

Dreams (Sex Love) yang melengkapi trilogi Sex, Dreams, Love karya Dag Johan Haugerud adalah satu dari sedikit film yang dengan sempurna merangkum rasanya jatuh cinta. Dipaparkannya bagaimana otak mempermainkan emosi kita, untuk menstimulasi fantasi bahagia sekaligus kecemasan berbasis asumsi liar. Lebih dari sekadar romansa, ia membicarakan koneksi antara pikiran dan jiwa. 

Johanne (Ella Øverbye), remaja 17 tahun, diam-diam memendam rasa terhadap Johanna (Selome Emnetu) si guru Bahasa Prancis. Haugerud mengajak kita mengobservasi gerak-gerik serta dinamika pikir Johanne yang tengah dimabuk cinta, dengan sesekali membawa alurnya melompat-lompat, menampilkan kilas balik atau visualisasi dari kegundahan batin si remaja. 

Seperti judulnya, film ini terkadang bergerak bak mimpi, atau potongan-potongan memori yang kabur. Kegalauan hati Johanne direpresentasikan. Dia berimajinasi, pula ada kalanya diperdaya ilusi kala memersepsikan keindahan sebagai kepahitan, atau sebaliknya. Senyum malu-malu menampakkan diri kala dibayangkannya kulit halus sang guru, sedangkan, tetesan air mata hadir saat menerjemahkan pemandangan sepele sebagai wujud cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Begitulah jatuh cinta. Kemayaan acap kali mengangkangi kenyataan akibat carut-marut rasa yang terpendam. Masalahnya, mencintai guru sendiri bukan perihal yang mudah disebarluaskan. Ketika tak satu pun orang dapat diajak bicara, siapakah yang mampu membebaskan Johanne dari beban perasaan? Di situlah dunia fantasi mengambil peran. Johanne mulai menuangkan kegulanaan lewat tulisan.  

Segala hal ia ceritakan, dari imajinasi yang terkesan cabul, ketakutan-ketakutan, hingga romantisasi atas perjalanan menuju kediaman sang tercinta, di mana blok-blok apartemen dan taman sederhana berubah jadi wadah bagi kenangan. Ya, Johanne akhirnya berhasil memasuki ruang personal Johanna dengan modus belajar merajut. 

Dibantu sinematografi arahan Cecilie Semec, Haugerud memotret dinginnya Oslo, yang tidak jarang nampak bak dunia mimpi: Daun-daun di pepohonan yang terlihat dari balik jendela sewaktu dibuat bergoyang oleh sapuan angin, hingga jalanan pegunungan yang diselimuti kabut. Tapi pemandangan berbeda terpampang saat kita memasuki apartemen Johanna. Lampu kuning temaram, juga setumpuk rajutan miliknya, terasa menghangatkan. Benarkah demikian, atau kita tengah menyaksikan persepsi bias dari kebahagiaan Johanne? 

Di satu titik, Johanne mengambil keputusan berat untuk memperlihatkan tulisannya ke Karin (Anne Marit Jacobsen), neneknya yang seorang penulis, dan sang ibu, Kristin (Ane Dahl Torp). Karin mengapresiasi tulisan cucunya sebagai karya sastra berkualitas, sedangkan Kristin awalnya ragu, apakah putrinya menuliskan realita sebagaimana adanya, atau tersimpan penafsiran berbeda terkait relasi Johanne dan Johanna. 

Perempuan tiga generasi yang sama-sama mengakrabkan diri dengan kesendirian itu pun mulai kerap terlibat obrolan. Dreams (Sex Love) menggambarkan pergeseran bentuk sebuah karya selepas menjadi konsumsi publik. Karya tersebut berevolusi. Bukan lagi sebatas catatan personal, melainkan materi diskursus yang dapat mencuatkan segudang interpretasi. 

Seluruh pelakonnya bersinar dalam proses saling memahami tersebut. Ella Øverbye memperlihatkan manis dan pahitnya cinta masa muda yang polos namun serius sehingga tak membuat penonton merendahkannya sembari berujar "Anak kecil tahu apa?", Anne Marit Jacobsen memamerkan ketenangan sambil menyertakan ambiguitas, sementara Ane Dahl Torp membuat saya tersentuh lewat mata berbinarnya ketika mendengar keluh kesah si buah hati tanpa tendensi menghakimi. 

Dreams (Sex Love) menunjukkan bahwa realita terkait cinta, maupun hubungan interpersonal apa saja, mungkin tidak seindah yang dibayangkan secara maya, namun kita sebagai manusia tetap akan mendambakannya. Mungkin karena sepahit apa pun kepahitan dari ekspektasi romantika yang terkhianati, tetap lebih membahagiakan ketimbang dihantui rasa sepi. 

REVIEW - SENTIMENTAL VALUE

Sewaktu kecil, sebelum tidur saya sering berimajinasi, apakah barang-barang di rumah bakal kesepian bila disendirikan, dan sebaliknya, bisakah mereka merasa hangat jika terkumpul di satu lokasi. Sentimental Value dibuka oleh narasi yang mengangkat sudut pandang serupa mengenai rumah. Apakah rumah lebih menyukai keheningan atau kebisingan yang penghuninya timbulkan? 

Rumah tersebut dihuni oleh kakak-beradik, Nora (Renate Reinsve) dan Agnes Borg (Inga Ibsdotter Lilleaas) sewaktu kecil. Orang tua mereka sering bertengkar, dan berujung pada keputusan sang ayah yang merupakan sutradara ternama, Gustav Borg (Stellan Skarsgård), untuk pergi. 

Rumahnya tak megah walau cukup besar, dengan perpaduan warna merah dan hitam yang membuatnya nampak agak intimidatif. Rumah itu sering muncul di establishing shot, seolah Joachim Trier selaku sutradara ingin membangun kesan familiar di hati penontonnya. Terdapat retak di salah satu sisi tembok yang dijadikan latar kala judul film ditampilkan. 

Ada keretakan pula dalam hubungan karakternya, terutama terkait cara Nora memandang buruk sang ayah yang dianggap membuang putrinya. Gustav sendiri hendak membuat film lagi selepas vakum belasan tahun. Peran utama ditawarkan pada si putri sulung yang seorang aktris teater, namun Nora segera menolak tanpa mau membaca naskah terlebih dahulu. Sekilas kita tahu, Gustav menulis tentang mendiang ibunya yang meninggal gantung diri di rumah tadi. 

Lalu terjadilah perkenalan antara Gustav dan Rachel Kemp (Elle Fanning), aktris ternama Hollywood yang mengagumi karya-karyanya, pula mau berakting di film terbarunya. Rachel mengambil peran yang awalnya ingin Gustav berikan pada Nora, bahkan memungkinkannya mencapai kesepakatan dengan Netflix.

Pemilihan Elle Fanning adalah keputusan brilian. Selain akting kuat, penampilan fisik (rambut pirang, kulit putih, dandanan glamor, aura "Amerika") yang amat berbeda dibanding individu lain di film ini, membuat kedatangannya menonjol bak pengguncang status quo. 

Joachim Trier banyak membenturkan dua kutub berlawanan di sini: Amerika vs Eropa, modern vs konservatif, Netflix vs bioskop, dll. Intinya, ragam benturan yang menantang kenyamanan individu, yang gemar menyimpan nilai sentimental perihal sesuatu atau seseorang. Gustav merasakan nilai sentimental dengan rumahnya, hingga berhasrat melahirkan karya tentangnya, juga kehidupan-kehidupan yang pernah terekam di sana. 

Tapi Sentimental Value bukan kisah "art imitates life" biasa. Trier menggagas tuturan yang jauh lebih kompleks mengenai pencarian keseimbangan antara ekspresi artistik dan hal personal. Menyelipkan kisah pribadi dalam karya dapat terasa membebaskan, tapi bisa juga menyiksa karena saking dekatnya cerita tersebut. Nora sempat menyampaikan bahwa ia menyukai akting, sebab seni peran memfasilitasinya bertransformasi menjadi sosok lain. Benarkah Nora takut pada keintiman dan dirinya sendiri?

Banyak keresahan yang enggan disederhanakan oleh naskah yang Joachim Trier tulis bersama Eskil Vogt. Keresahan-keresahan kompleks yang mustahil diterjemahkan lewat kata-kata banal atau spektrum emosi tunggal. Bukan mustahil seorang individu menghabiskan seumur hidup untuk mengartikan keresahan yang ia rasakan. Pada proses bedah naskah, setiap Rachel mempertanyakan motivasi karakternya, Gustav selalu bertanya balik, "Menurutmu apa?" Gustav sendiri masih berkutat dalam pencarian. 

Kompleksitas tuturannya diperkuat oleh akting para pemain yang mengedepankan kesubtilan. Renate Reinsve sebagai putri sekaligus aktris dengan gangguan kecemasan, memungkinkan penonton membaca setumpuk gejolak perasaan rumit yang menyulut keresahan karakternya. Begitu pun Stellan Skarsgård, terutama lewat reaksinya kala Gustav mendengar Rachel membaca naskah, yang menimbulkan tanya mengenai makna di balik matanya yang berkaca-kaca.

Sentimental Value mungkin kurang bersahabat bagi penonton yang terlalu akrab dengan dramaturgi tiga babak sederhana ala Hollywood. Trier tidak tertarik pada struktur narasi konvensional yang memudahkan penerimaan penikmat karyanya. Alurnya melempar peristiwa demi peristiwa yang sekilas tak saling menyokong, namun eksistensinya substansial guna mengupas lapisan-lapisan cerita yang tidak hanya bertujuan membuat penonton "merasakan", tapi juga mengenali suatu emosi. 

Daripada memancing tangis, Sentimental Value, selaku film dengan kecerdasan emosional tinggi, dibuat untuk mendorong kita supaya bisa mendefinisikan makna tangisan tersebut. Setelah film berakhir pun masih tersisa riak-riak perasaan yang sukar diartikan, dan mungkin takkan sanggup saya interpretasikan sekalipun hingga akhir kehidupan. Hati manusia lebih rumit dari alam semesta. 

REVIEW - IT WAS JUST AN ACCIDENT

Mungkin tidak ada sutradara yang lebih gigih daripada Jafar Panahi dalam hal melawan rezim. Sewaktu This Is Not a Film (2011) diputar di Festival Film Cannes, datanya diselundupkan memakai USB (walau bukan dalam kue ulang tahun sebagaimana digosipkan). Berkali-kali pula ia ditahan, bahkan dilarang berkarya. It Was Just an Accident lahir tanpa izin pemerintah Iran sehingga dicap "dibuat secara ilegal", tapi lucunya, menculik warga sipil serta membungkam seniman dianggap legal, sebab pihak rezim aktif melakukannya. 

Kisahnya berawal saat seorang laki-laki (Ebrahim Azizi) tidak sengaja menabrak seekor anjing hingga mati, ketika berkendara di malam hari bersama istri dan putrinya. Kecelakaan itu merusak mesin mobil, lalu mengharuskannya meminta tolong pada warga setempat. Di situlah Vahid (Vahid Mobasseri), menyadari bahwa suara decit kaki palsu si laki-laki mirip dengan Eghbal, anggota badan intelijen yang menyiksanya hingga mengalami cedera permanen, tatkala ia dipenjara pasca demonstrasi menuntut kesejahteraan buruh. 

Dipaparkan dalam bingkai realisme yang tak menyertakan satu pun isian musik, filmnya mengajak kita mengamati keputusan ekstrim Vahid, yakni menculik "terduga Eghbal" guna menguburnya hidup-hidup. Masalahnya, si target menyangkal tuduhan sebagai penyiksa, sementara Vahid sendiri, yang selama dipenjara terus ditutup matanya, tidak mampu mengonfirmasi kecurigaannya. 

Jadilah Vahid mengunjungi mantan tahanan lain: Salar (George Hashemzadeh) si pemilik toko buku, Hamid (Mohamad Ali Elyasmehr) yang pemarah, Shiva (Mariam Afshari) si fotografer, dan Goli (Hadis Pakbaten) yang sedang melakukan sesi foto pre-wedding bersama suaminya (Majid Panahi). 

Shiva dan Goli adalah figur bersejarah, karena untuk kali pertama, Jafar Panahi menampilkan karakter perempuan tak berhijab, sebagai bentuk protes atas sikap opresif pemerintahan. Keduanya berani bicara blak-blakan, bisa berdiri di atas kaki sendiri, merokok di tempat umum, dan mengenakan apa pun yang ingin dikenakan. Goli bahkan berkeliaran memakai gaun pengantin. 

Tapi mereka semua, baik perempuan maupun laki-laki, sama-sama harus mengakrabkan diri dengan trauma. Panahi membiarkan satu per satu karakternya menumpahkan pengalaman memilukan kala dipenjara. Hamid yang dipaksa membelai bekas luka di kaki Eghbal, hingga Goli yang dilecehkan setelah dibuat berdiri selama berjam-jam. Menyakitkan. 

Menariknya, naskah buatan Panahi tidak melulu tampil serius. Seolah menegaskan bahwa penyiksaan yang juga pernah ia alami sudah gagal menghancurkannya, sang sineas menyajikan sentilan-sentilan terhadap kekacauan sistem negaranya secara menggelitik. Selalu ada ironi di balik komedi milik Panahi. Misal sewaktu dua orang satpam menuduh Hamid hendak memalak karakter lain, hanya untuk berbalik memalak mereka, meminta uang pelicin yang bisa dibayarkan lewat kartu debit.

Penyutradaraan Panahi pun luar biasa. It Was Just an Accident merupakan salah satu karyanya yang paling kompleks secara artistik. Pemanfaatan tata cahaya jadi contoh terbaik, dari hal kecil seperti nyala dari layar tablet yang layaknya sorot lampu pertunjukan teater, dipakai untuk memperkenalkan putri dari "terduga Eghbal" di adegan pembuka, hingga penggunaan warna merah dari lampu mobil pada momen-momen yang mencekam, tidak hanya bagi penonton tapi juga karakternya. 

Panahi menolak membiarkan opresi rezim mengekang suaranya, sehingga fakta bahwa It Was Just an Accident banyak mengambil latar di dalam van sempit milik Vahid pun takkan memenjarakan kreativitasnya. Justru di ruang sempit itulah Panahi banyak "berbicara". 

Di satu titik, Shiva membuka peti tempat Vahid mengurung "terduga Eghbal". Jika kebanyakan sutradara bakal menerapkan teknik shot/reverse shot, dengan segera menunjukkan kondisi tubuh dalam peti tersebut setelah kita melihat ekspresi Shiva, Panahi muncul dengan pendekatan berbeda. Kamera tidak pernah melepaskan sorotan dari wajah si fotografer, seolah memberi empati terhadap kondisi psikisnya selaku mantan tahanan politik. 

Klimaksnya mungkin berlangsung agak terlalu lama, tapi wajar saja, sebab Panahi menggunakannya sebagai ruang katarsis. Mengandalkan kemampuan para pemainnya mengolah emosi, Panahi menumpahkan protes, sakit hati, amarah, sembari membuktikan kematangan dirinya, yang menolak jadi korban adu domba rezim, dengan sadar betul bahwa segala penderitaan berasal dari kekacauan sistem buatan para penguasa opresif.  

Kemudian barulah It Was Just an Accident tiba di adegan penutup yang bakal menghantui pikiran untuk waktu yang lama. Momen tersebut luar biasa, karena tanpa harus terkesan pamer, Panahi menggabungkan beragam bentuk penceritaan. Peleburan bahasa visual (membiarkan gambar bercerita tanpa penjelasan) dan audio (suara decitan tidak pernah semencekam ini), juga bentuk penceritaan nonverbal, yang uniknya, memiliki dampak emosi berkat tuturan bersifat verbal yang hadir beberapa menit sebelumnya (perhatikan detail obrolan di klimaks). Lengkap. 

REVIEW - KONTINENTAL '25

Seorang tunawisma menjalankan rutinitas harian, dari memungut sampah, meminta sedikit koin pada pengunjung cafe, lalu menikmati alkohol di tengah bentangan kota Cluj. Begitulah cara Kontinental '25 mengawali penceritaan. Sekuen di atas punya kesan candid sebagaimana gaya neorealis yang menginspirasinya (terutama Europe '51 karya Roberto Rossellini). Serupa pergerakan sinema itu pula, film buatan Radu Jude ini bertujuan menangkap dinamika individu dan realita sosial tak ideal yang mesti dilewatinya. 

Si tunawisma bernama Ion (Gabriel Spahiu). Dia tinggal di sebuah ruang tungku tak terpakai, yang akan segera diruntuhkan guna dibangun hotel bernama Kontinental. Orsolya (Eszter Tompa) dikirim untuk menjalankan penggusuran. Sungguh malang, di tengah proses tersebut, Orsolya justru menemukan Ion mati bunuh diri akibat dikuasai keputusasaan. Pertanyaannya, malang bagi siapa?

Orsolya yang tak mampu lepas dari rasa bersalah pun berupaya mencari ketenangan dengan bercerita ke orang-orang terdekat. Kontinental '25 mengisi 109 menit alurnya dengan memperlihatkan si protagonis terus mengulang cerita yang sama, yakni mengenai kematian tragis Ion, serta kegundahan hatinya. Sebatas itu? Ya, karena justru di situlah salah satu poin utama narasinya: memberi ruang bagi perihal yang kerap dipandang sebelah mata. 

Manusia seperti sulit memvalidasi emosi negatif sesamanya. Luapan unek-unek pun kerap diberi respon sekenanya tanpa ada jejak simpati. Orsolya bercerita pada suami, sahabat, ibu, pendeta, hingga mantan muridnya. Si suami mengerdilkan luka Orsolya kala menertawakan komentar jahat warganet yang menyalahkan sang istri atas kematian Ion, sedangkan ceramah tak ramah si pendeta justru membuat agama terdengar kejam dan tak mengenal keadilan. 

Radu Jude mengambil keseluruhan gambarnya memakai iPhone, meniadakan gerak bak memasang kamera candid, yang sesekali mengalami perubahan fokus. Semua atas nama realisme, yang memposisikan penonton bukan hanya sebagai penikmat, melainkan pengamat yang seolah hadir langsung di lokasi sembari diam-diam mengintip rutinitas karakternya. 

Naskah hasil tulisan Radu Jude begitu cerdik menyusun obrolan, yang pelan-pelan mengungkap setumpuk informasi yang memberi gambaran mengenai kondisi sosial masyarakat milik latarnya. Ion rupanya bukan tunawisma biasa melainkan mantan atlet nasional pemenang medali yang tak diperhatikan negara, adanya konflik Rumania-Hungaria, hingga ketidakbecusan aparat bekerja. Alhasil, Kontinental '25 berkembang tak lagi tentang kegundahan satu individu belaka. 

Seiring waktu, saya dibuat menyadari kalau establishing shot berisi pemandangan kota Cluj yang terkesan acak bukanlah sebatas jembatan antar adegan, tapi cara Jude menyoroti tendensi pemerintah yang cuma memedulikan pembangunan, pembangunan, dan pembangunan, tanpa mau membuka mata pada kesenjangan sosial.  

Jude juga jeli melempar ironi menggelitik. Tengok saat Orsolya benar-benar dikuasai rasa bersalah hingga membuatnya meratap dalam tangis, namun di belakangnya kita melihat sebuah patung animatronik dinosaurus bergerak sembari mengaum. 

Obrolan Orsolya dengan si sahabat, Dorina (Oana Mardare), pun kaya akan ironi. Dorina bercerita mengenai penderitaan orang-orang di Roma, mengajak sahabatnya untuk mengulurkan sedikit bantuan, namun sejurus kemudian mengeluhkan bau seorang tunawisma yang tinggal di samping rumahnya. Orsolya pun balas berkisah tentang rutinitasnya memberi sumbangan ke berbagai badan penyalur donasi. 

Satu hal yang berkali-kali Orsolya sampaikan adalah bahwa ia sudah berinisiatif memundurkan penggusuran agar memberi waktu bagi Ion untuk bekemas. Apakah itu cukup? Kenapa ia tidak berusaha lebih keras membantu Ion mencari tempat tinggal baru? Apabila penggusuran terhadap tunawisma begitu mengganggunya, mengapa ia enggan beralih profesi? Kontinental '25 juga mengungkap wajah kepedulian bersifat peformatif yang seolah jadi tren masyarakat masa kini. 

(JWC 2025)

REVIEW - CROSSING

"I hardly think it was a choice", ucap salah satu karakter dalam Crossing pada rekan seperjalanannya, yang mempertanyakan mengapa transpuan di Istanbul memilih hidup sebagai PSK. Kelak kita pun melihat bagaimana transpuan lain, yang ingin meniti karir sebagai pengacara, dipersulit kala membuat kartu identitas baru selepas beralih gender. Menjadi diri sendiri nyatanya bukan perkara gampang. 

Lia (Mzia Arabuli), pensiunan guru sejarah asal Georgia, hendak melakukan perjalanan ke Istanbul guna mencari keponakannya, Tekla, dalam rangka menjalankan wasiat terakhir mendiang adiknya. Achi (Lucas Kankava), si pemuda berandalan yang konon mengetahui alamat Tekla di Istanbul pun turut serta. 

Dua rekan seperjalanan ini amat bertolak belakang. Lia punya tujuan jelas dan nampak selalu tenang, sementara Achi lebih meledak-ledak dan bak menjalani hari semaunya. Ketika Lia dengan paham konservatifnya menganggap gaya berpakaian dan tingkah perempuan modern melucuti harga diri mereka, Achi yang lebih muda berpikiran sebaliknya. Tapi seiring waktu, naskah buatan sang sutradara, Levan Akin, mengungkap bahwa realita hakiki lebih kompleks dari kulit luarnya. 

Lalu ada kisah mengenai Evrim (Deniz Dumanli), pengacara yang kerap jadi pembela kaum marginal. Evrim membuktikan bahwa tak semua transpuan merupakan PSK, tapi toh orang-orang tetap memandangnya remeh. Pada satu kesempatan, dua polisi menertawakan gelarnya sebagai pengacara, yang menurut mereka didapat dari rombongan sirkus alih-alih universitas. 

Barisan karakter di atas akan saling bersinggungan jalan. Seperti judulnya, film ini berkisah tentang para individu yang "menyeberang", baik secara literal (melintasi negara dan/atau pulau) maupun figuratif (mengubah kepercayaan, memahami budaya serta perspektif baru, dll.). Akin memastikan cabang-cabang narasinya bertransisi dengan mulus, melahirkan perjalanan 106 menit yang begitu nyaman diikuti. 

Crossing punya segalanya guna menciptakan melodrama penuh haru. Tiap karakternya memiliki alasan untuk terus berurai air mata. Tapi Akin memilih bentuk pengarahan yang mengedepankan sensitivitas elegan, di mana dampak emosi berasal dari deretan momen kecil sarat makna. Misal saat selepas berhubungan seks, Evrim dan sopir taksi bernama Ömer (Ziya Sudancikmaz), membahas soal alibi apa yang bakal dipakai bila polisi menilang mereka. 

Melalui momen-momen kecil tersebut, Akin seolah memberi pelukan hangat pada para trans. Pada akhirnya perjalanan Lia bukan lagi (cuma) tentang menemukan keponakannya secara fisik, tapi juga spiritual. Lia melalui proses belajar untuk memahami jati diri Tekla beserta segala pilihan hidupnya, sebelum ditutup oleh konklusi yang luar biasa emosional, berkat kelihaian Akin menata momen emosional secara indah, sekaligus akting Mzia Arabuli yang efektif menusuk batin penontonnya.

(Klik Film) 

REVIEW - KNEECAP

Haruskah perlawanan terkesan serius dan kelam? Apakah kekakuan wajib dikedepankan dan berjalan beriringan dengan keberhasilan perjuangan? Kneecap, trio hip hop asal Belfast, jelas menolak berpikir demikian. Sehingga biopic yang mendramatisasi perjalanan karir mereka ini pun dipresentasikan sebagai "film perlawanan" yang menyenangkan. 

Naskah buatan sang sutradara, Rich Peppiatt, mengawali narasinya dengan berkelakar mengenai tendensi film Irlandia untuk membuka kisahnya dengan gambaran-gambaran kerusuhan, maupun tragedi seperti peristiwa Minggu Berdarah tahun 1972. Kneecap berbeda. 

Pertama kali penonton diajak berkenalan dengan Liam Óg Ó hAnnaidh dan Naoise Ó Cairealláin (memerankan diri sendiri) selepas mereka dewasa, kedua protagonis kita tersebut sedang berpesta di tengah hutan sembari dikuasai pengaruh ketamin yang menghadirkan halusinasi liar. Dilihat sekilas, mereka tidak cocok menjadi ikon perlawanan. Begitu pula JJ Ó Dochartaigh yang menjalani rutinitas membosankan selaku guru musik. 

Sedikit fakta menarik tentang tiga laki-laki di atas. Ayah Naoise yang juga akrab dengan Liam sedari kecil, Arlo (Michael Fassbender), merupakan anggota paramiliter yang disegani, sebelum suatu hari memilih memalsukan kematiannya guna menghindari kejaran otoritas. Sedangkan kekasih JJ, Caitlin (Fionnuala Flaherty), termasuk pentolan dalam gerakan untuk memperjuangkan supaya Bahasa Irlandia diakui secara resmi, pula bebas digunakan secara kasual alih-alih dipandang sebagai simbol pemberontakan.  

Intinya, pergerakan, perlawanan, atau apa pun sebutannya, amat dekat dengan kehidupan mereka bertiga. Sampai suatu ketika, berkat campur tangan takdir, JJ menemukan buku catatan berisi lirik lagu dalam Bahasa Irlandia yang ditulis oleh Liam. Seketika tercetus ide untuk menggubah barisan lirik tersebut menjadi lagu rap. 

Sebelumnya kita tak pernah melihat Liam dan Naoise menembakkan rima dari mulut mereka, namun ketika tiba waktunya merekam musik, keduanya mendadak terdengar seperti anggota N.W.A. di masa keemasannya. Lubang narasi ala film biografi arus utama semacam itu     termasuk babak ketiga yang berlangsung terlampau dramatis karena naskahnya memaksa untuk memberi resolusi bagi seluruh konflik di waktu bersamaan    kadang masih jadi batu sandungan, namun energi yang disuntikkan oleh Rich Peppiatt beserta tiga pemeran utamanya membuat film ini terasa spesial. 

Diiringi lagu-lagu Kneecap yang eksplosif serta tidak ragu melempar kritik terhadap penindasan oleh pihak Britania, sembari tanpa malu-malu membicarakan hedonisme sarat kokain, filmnya membuktikan bahwa perlawanan tak harus mengalienasi kesenangan. Mereka berpesta, teler bersama di tengah proses pembuatan lagu yang berlangsung liar, pernah pula mengacaukan jalannya Orange walk dalam adegan kejar-kejaran seru yang dihiasi lagu Smack My Bitch Up kepunyaan The Prodigy.

Pasca salah satu lagunya berhasil viral, Kneecap langsung mengguncang seisi bangsa. Pemerintah Britania memandang karya mereka sebagai bentuk anarki, sementara kaum konservatif dari organisasi paramiliter bernama RRAD (Radical Republican Against Drugs), yang merupakan parodi dari kelompok dunia nyata bernama RAAD (Republican Action Against Drugs) mengutuk gaya hidup mereka yang dipenuhi narkoba. 

Bahkan di satu titik, Caitlin mengeluhkan sepak terjang Kneecap yang menurutnya mengganggu usaha memperjuangkan hak berbahasa. Arlo yang menyebut pelariannya sebagai "misi" dan amat mengagungkan metode konservatifnya pun mengecam tindakan sang anak. Apakah perjuangan mesti disuarakan dalam satu nada yang sama?  

Menariknya, trio Kneecap tidak pernah berniat memposisikan diri sebagai pejuang hak asasi. Barisan lirik kritis mereka bukan hasil rumusan yang disusun matang-matang demi tujuan tertentu, melainkan sebatas teriakan isi hati. Semuanya terjadi secara alami. Para personil Kneecap cuma mau bersenang-senang, sambil secara bebas menulis, bernyanyi, dan mengatakan apa pun yang diinginkan. Mereka hanya ingin bicara. 

(Klik Film)

REVIEW - THE DEVIL'S BATH

The Devil's Bath adalah salah satu horor paling segar dalam beberapa waktu terakhir. Kengerian milik wakil Austria di Academy Awards 2025 ini bukan berasal dari perihal supernatural, melainkan jurang kultural yang penonton rasakan tatkala mengamati hal-hal yang dianggap normal lebih dari tiga abad lalu. 

Alkisah, perempuan bernama Agnes (Anja Plaschg) baru saja menikahi laki-laki dambaannya, Wolf (David Scheid). Pesta berlangsung meriah, kerabat dari kedua belah pihak nampak berbahagia, dan senyum bak menolak luntur dari wajah Agnes. Dia bakal menghuni rumah baru yang Wolf beli dengan seluruh tabungannya plus sedikit pinjaman, tanpa sepengetahuan Agnes. Tanda bahaya pertama pun muncul.

Tapi yang kita tengah saksikan adalah tahun 1750-an. Gagasan feminisme masih jauh dari konsepsinya. Keputusan Wolf mengganggu Agnes, tapi siapa yang menganggap itu kekeliruan? Hal tersebut belum seberapa. Di sela pesta pernikahan, Wolf dan teman-teman bersenang-senang dengan memukuli ayam, sementara Agnes memperoleh hadiah jimat keberuntungan dari kakaknya. Agnes amat bahagia dan menggenggamnya dengan penuh syukur. Jimat itu adalah sepotong jari pelaku pembunuhan bayi yang dihukum pancung.

Naskah buatan dua sutradaranya, Veronika Franz dan Severin Fiala (Goodnight Mommy), memakai buku Suicide by Proxy in Early Modern Germany: Crime, Sin and Salvation karya Kathy Stuart sebagai patokan terkait gambaran masyarakat masa lalunya. Sekali lagi, tidak ada hantu, penyihir, atau kambing yang bertingkah bak kerasukan setan. Kengerian bersumber dari perspektif serta kepercayaan yang dianut pada masa itu.

Inilah masa di mana depresi dianggap sebagai ulah setan, sementara melankoli dalam hati disingkirkan dengan cara menjahit rambut kuda ke tengkuk, lalu menarik rambut itu berulang-ulang hingga bekas jahitan mengeluarkan nanah, yang dipercaya dapat "mengeluarkan racun". Sinematografi garapan Martin Gschlacht, juga musik gubahan Anja Plaschg, berjasa mencuatkan nuansa horor folk dari ragam situasi yang dirasa janggal oleh masyarakat modern tersebut. 

Tapi horor paling menyeramkan bagi Agnes dihadirkan oleh si ibu mertua (Maria Hofstätter), yang amat sering berkunjung, dan tak pernah lelah mengkritik si menantu dengan segala bentuk komentar menyakitkan. Bahkan lokasi menggantung panci saja ia permasalahkan. Seiring waktu Agnes semakin tertekan, dan Anja Plaschg menggambarkan kehancuran batin tersebut dengan amat menyakitkan. Tawa bercampur teriakan dan ratapan yang ia perlihatkan di penghujung durasi sungguh meremukkan perasaan. 

Usai menonton The Devil's Bath, saya berujar dalam hati, "Apakah kelak bakal terjadi hal serupa, di mana orang-orang dari tahun 2300-an memandang kita sebagai masyarakat terbelakang nan menyeramkan tatkala menonton film mengenai era 2000-an?" The Devil's Bath ibarat pengingat untuk memperbaiki diri supaya sejarah tak merekam (terlalu banyak) sisi kelam kita. 

(Klik Film)

REVIEW - SANTOSH

Alur milik Santosh    film berbahasa India yang jadi perwakilan Britania Raya di Academy Awards 2025    mengandung banyak cerita, tapi pada dasarnya ia adalah kisah tentang korupnya instansi kepolisian. Isu-isu lain seperti gender atau kasta dipakai sebagai penegas bagi persoalan tersebut, yang oleh film ini diangkat secara jujur, tanpa berupaya main aman atau menambahkan bumbu pemanis. 

Menariknya, alih-alih mengetengahkan penderitaan mereka yang ditindas aparat, Sandhya Suri selaku sutradara sekaligus penulis naskah memilih menggunakan perspektif "orang dalam". Santosh (Shahana Goswami) menjanda pasca kematian sang suami, yang tewas ketika bertugas mengamankan sebuah kerusuhan. Melalui program yang digalakkan pemerintah, Santosh pun berhak mewarisi pekerjaan suaminya sebagai polisi berpangkat konstabel. 

Dimulailah rutinitas baru Santosh. Seragam penuh bercak darah peninggalan sang suami ia cuci, lalu dikenakan sendiri. Mungkin Santosh berharap bakal mewarisi kehormatan mendiang selaku penegak keamanan. Tapi hanya dalam waktu singkat, Santosh segera menyadari realita yang sungguh berlawanan. 

Berawal dari hilangnya anak perempuan dari kasta dalit yang kemudian berkembang jadi kasus pembunuhan, Santosh, yang bekerja di bawah arahan Inspektur Geeta Sharma (Sunita Rajwar) yang dikenal kukuh memperjuangkan pemberdayaan perempuan, mendapati bahwa para penegak hukum tidak benar-benar tertarik untuk menegakkan hukum. 

Seperti apa pun individunya, entah laki-laki, perempuan, feminis, atau misoginis, apabila telah mengenakan seragam berwarna khaki milik aparat, nyatanya bakal tertular kebobrokan yang telah menjadi citra instansi tersebut. Seolah seragam itu memberi sensasi berkuasa yang mendorong keinginan melakukan represi, karena si individu menganggap dirinya bebas melakukan apa saja.

Sandhya Suri membungkus filmnya dengan sampul police procedural. Sentuhan misterinya memang bukan sesuatu yang benar-benar segar, tapi mampu memenuhi tujuannya sebagai alat bantu untuk mengupas satu per satu kebejatan aparat. Di sisi lain, Shahana Goswami dengan kelihaian memancarkan emosi melalui raut wajahnya, seolah jadi perpanjangan rasa syok penonton kala menyaksikan setumpuk ketidakadilan yang filmnya paparkan. 

Kompleksitas kisahnya memuncak begitu alur menyentuh babak akhir. Selama ini Santosh selalu mengagumi Inspektur Sharma dengan sudut pandang feminisme yang tak kenal lelah ia perjuangkan. Tapi apakah sebuah perjuangan masih layak diperjuangkan jika mengharuskan kita melakukan keburukan? Santosh tak ragu mengkritisi fenomena, di mana demi menyuarakan ketidakadilan yang dialami suatu kaum, beberapa pejuang keadilan sosial justru melakukan ketidakdilan pada kaum lain. 

Di satu adegan, Santosh diperlihatkan tengah makan sembari menonton video berisi komparasi antara polisi Cina dengan India. Si konstabel tertawa geli melihat instansinya dijadikan bahan tertawaan, karena ia sadar bahwa memang begitulah realitanya. Menjadi bagian suatu kelompok bukan berarti enggan mengakui borok kelompok tersebut. 

Melalui pilihan konklusinya pun Santosh secara tegas, tanpa mencoba bermulut manis, menawarkan solusi yang bisa diambil para aparat jika benar-benar menaruh kepedulian terhadap ketidakadilan yang dilakukan oleh kompatriotnya. Di situ Santosh bukan menyerah atau lari. Dia hanya menolak terus-menerus menjadi racun yang membunuh sesama rakyat jelata. Angka "1312" pun seolah menampakkan dirinya di wajah si karakter utama. 

(Klik Film)

REVIEW - THE GIRL WITH THE NEEDLE

The Girl with the Needle, yang jadi perwakilan Denmark di Academy Awards 2025 (berhasil menyabet nominasi), merupakan drama sejarah yang dibungkus layaknya horor arthouse. Tidak ada hantu dalam definisi konvensional di dalamnya. Hantu di sini tak bisa kita lihat namun dapat dirasakan, sebagai manifestasi kesendirian karakternya yang jatuh ke jurang terdalam akibat terus-menerus mengalami pembuangan.

Kopenhagen, 1919: Karoline (Vic Carmen Sonne) baru diusir dari apartemen akibat 14 minggu lalai membayar uang sewa. Suaminya, Peter (Besir Zeciri), sudah setahun tak memberi kabar dari medan perang. Hubungannya dengan Jørgen (Joachim Fjelstrup), bos pabrik tempatnya bekerja, berawal indah. Tapi niatan menikahi si lelaki selepas mendapati dirinya hamil ditentang keras oleh ibu Jørgen. 

Sekali lagi, Karoline merasakan sakitnya dibuang. Magnus von Horn selaku sutradara kerap menempatkan si protagonis di tengah layar seorang diri. Terkadang figur Karoline dibingkai oleh objek di sekelilingnya, atau diselimuti kegelapan yang ditangkap dengan begitu cantik dalam tata kamera arahan Michał Dymek. Semuanya mewakili kondisi psikis Karoline.

Sampai di satu titik Karoline memutuskan untuk berbalik melakukan hal yang selama ini menyiksanya. Dia ingin membuang. Targetnya adalah janin yang ia kandung. Tapi sebelum sempat melakukan itu (memakai jarum raksasa yang dibawa ke pemandian umum), Karoline ditolong oleh Dagmar (Trine Dyrholm), perempuan yang sekilas nampak baik hati. Tapi karena karakternya terinspirasi dari Dagmar Overbye, pembunuh berantai yang dari tahun 1913-1920 konon telah merenggut nyawa 25 korban, kita tahu kalau kebaikan tersebut hanya ilusi belaka. 

Ditemani sinematografi hitam putih remang-remang yang menjelaskan betapa kegelapan senantiasa menaungi karakternya, kita pun turut diajak mengobservasi lingkungan tempat Karoline menghabiskan keseharian. Semuanya kotor, jauh dari kesan higienis, bahkan tidak jarang menjijikkan. 

Bersama tempo lambat yang digerakkan secara presisi, Magnus von Horn berhasil menjadikan The Girl with the Needle sebagai perjalanan mengarungi kekacauan batin Karoline, yang meski dipenuhi ketidaknyamanan, nyatanya juga terasa menghipnotis. Apalagi Vic Carmen Sonne tampil luar biasa merepresentasikan ketersesatan Karoline, terutama melalui permainan ekspresi wajahnya. 

Karoline tengah hilang arah. Tidak tahu harus melangkah ke mana, bahkan tidak benar-benar yakin akan wajah asli dirinya maupun orang-orang di sekitarnya. Sebagaimana ditampilkan oleh sekuen pembukanya yang begitu mencekam bak sebuah mimpi buruk absurd, The Girl with the Needle menunjukkan bahwa individu cenderung menyembunyikan wajah asli mereka. Wajah asli yang lebih buruk rupa, dan tak jarang, merupakan wajah yang sangat mengerikan. 

(Klik Film)

REVIEW - THE SEED OF THE SACRED FIG

Mengapa rakyat biasa seperti kita mesti melek politik? Apa perlunya peduli pada gonjang-ganjing negara? Bukankah semuanya takkan memberi pengaruh langsung ke hidup kita? The Seed of the Sacred Fig yang mewakili Jerman di Academy Awards 2025 membantah segala anggapan tadi. Betapa kondisi di rumah kita yang nyaman bisa saja mengimitasi, lalu menjadi miniatur bagi situasi negara. 

Rezvan (Mahsa Rostami) dan Sana (Setareh Maleki) mendapati kebebasan mereka mulai direnggut ketika sang ayah, Iman (Missagh Zareh), naik pangkat menjadi hakim investigasi di Tehran. Sang ibu, Najmeh (Soheila Golestan), meminta keduanya bersikap lebih berhati-hati demi menjaga reputasi keluarga. Apalagi di tengah memanasnya demonstrasi terkait kewajiban memakai hijab pasca kematian misterius Mahsa Amini, identitas para "pegawai rezim" seperti Iman banyak yang dibocorkan di internet. 

Iran memang tak ubahnya penjara. Di dunia nyata, lihat bagaimana Mohammad Rasoulof selaku sutradara film ini, beserta para aktrisnya, terpaksa kabur ke Jerman demi menghindari hukuman hanya karena menyuarakan kritik melalui sinema. Di ranah yang lebih mikro (rumah), Rezvan dan Sana mulai merasakan kondisi serupa. Misal saat mereka dilarang mewarnai rambut dan kuku. 

Kekangan dalam hal sederhana di atas pelan-pelan makin tereskalasi, dan terlihatlah paralel antara rumah dan negara yang sama-sama seperti penjara. Kemudian pada suatu malam Iman pulang membawa pistol pemberian kantor. "Supaya kita sekeluarga aman", ucapnya menjawab kekhawatiran Najmeh. Sebagaimana orang-orang di puncak kekuasaan negeri, Iman dihantui ketakutan, yang akhirnya menciptakan tindakan otoriter. Ketakutan bahwa kelak mereka akan jatuh sehingga kehilangan kekuasaan.

Naskah buatan Mohammad Rasoulof mampu menjustifikasi durasinya yang mencapai 168 menit. The Seed of the Sacred Fig bukannya mengulur waktu, melainkan memang perlu durasi sepanjang itu. Sang sutradara piawai membangun situasi mencekam serta mengaduk-aduk emosi penonton dengan membawa kita menyaksikan setumpuk ketidakadilan. Puncaknya saat Iman kehilangan pistolnya dan mulai mencurigai Rezvan si putri sulung. Benarkah ada yang mencuri pistol tersebut? Atau Iman hanya lupa meletakkannya di suatu tempat? 

Ketika paranoia si pemegang kuasa membesar, kebebasan individu lain pun makin menipis. Rezvan dan Sana harus berkomunikasi melalui chat di rumah, bahkan mendapati kamar mereka digeledah guna mencari keberadaan pistol Iman. Oh, sudahkah saya menyebut bahwa kedua gadis muda ini tidak pernah benar-benar tahu detail pekerjaan ayah mereka? Nampaknya para pemimpin diktator memang gemar menutupi fakta. 

Babak ketiganya sempat agak keluar jalur tatkala berevolusi menjadi thriller dengan skala yang jauh lebih besar. Terlalu besar dan cenderung draggy sampai membuat dampak emosinya mengecil. Bukannya tanpa arti, karena Rasoulof memposisikan babak ketiganya sebagai representasi opresi yang tambah mematikan, sedangkan di saat bersamaan perlawanan dari rakyat pun semakin gencar. Kekerasan tak lagi dapat dihindari. 

Sesekali filmnya menyelipkan rekaman asli yang memperlihatkan situasi demonstrasi di mana banyak kekerasan dilakukan oleh pihak berwajib kepada rakyat jelata. Melalui The Seed of the Sacred Fig, Mohammad Rasoulof sudah melahirkan sebuah teriakan guna menyadarkan mereka yang masih menutup mata, sekaligus menyuarakan seruan untuk melawan. 

(JAFF 2024)

REVIEW - FLOW

Film yang menjadi perwakilan Latvia di Oscars tahun depan ini diisi oleh hewan-hewan yang tak dimanusiakan. Tidak ada kata-kata terucap, tidak pula mereka berakal seperti karakter hewan di banyak animasi. Walaupun demikian, Flow tetap mampu membuat penonton tertawa, terkejut, cemas, bahkan meneteskan air mata. Karena alam sebagaimana adanya memang sudah cukup kaya untuk menghasilkan emosi-emosi tersebut. 

Protagonisnya adalah seekor kucing hitam yang hidup menyendiri di sebuah rumah kosong, yang menilik benda-benda di dalamnya, kemungkinan sempat dihuni oleh seniman. Ketika banjir bandang yang menenggelamkan seisi dunia datang, si kucing terpaksa keluar melintasi alam liar supaya bisa bertahan hidup. 

Sebuah perahu menjadi suaka bagi si kucing melintasi dunia yang telah terendam. Seiring perjalanan, perahu itu turut menampung hewan-hewan lain, dari kapibara, lemur, burung sekretaris, hingga anjing labrador retriever yang begitu menyukai si kucing. Mereka berinteraksi secara natural, namun tak sampai membuat Flow terasa seperti National Geographic (meski cara kerja krunya yang berkeliling merekam suara hewan asli demi memunculkan kesan autentik lumayan mengingatkan ke sana). 

Hewan-hewan di film ini cenderung berperilaku seperti hewan di dunia nyata, walau mungkin tidak sepenuhnya. Naskah yang ditulis oleh sang sutradara, Gints Zilbalodis, bersama Matīss Kaža, tetap menambahkan segelintir modifikasi, sehingga para hewan melakukan sesuatu yang di dunia nyata tak mampu mereka lakukan. Ketika si burung bertindak bak nahkoda yang bisa menyetir perahu misalnya (bagi beberapa kalangan mungkin ini dirasa mengganggu akibat melucuti realisme). Saya bukan ahli zoologi, jadi bukan mustahil hewan-hewan ini lebih berakal dari yang banyak orang pikir. 

Tapi secara keseluruhan, Flow tetap tontonan yang autentik. Dia tidak harus membuat para hewan berjoget konyol atau melakoni humor slapstick untuk menyulut tawa penonton. Melihat si kucing melompat kaget (yang mana kerap kita temukan di dunia nyata) nyatanya sudah terasa menggelitik. Sekali lagi, sekaya itulah alam semesta. 

Realisme tersebut berhasil ditangkap oleh visualnya, yang dengan sapuan warna ala cat air miliknya, melukiskan secara nyata ragam detail semesta, dari struktur tubuh hewan-hewan, hingga alam di sekeliling mereka, baik di permukaan maupun bawah air yang indah sekaligus mencekam. Zilbalodis pun kerap menggerakkan gambarnya dengan dinamis, layaknya suguhan blockbuster mahal dengan lompatan lincah dari kameranya, guna merepresentasikan petualangan menegangkan yang karakternya lewati. 

Di beberapa titik (kali pertama seekor paus menampakkan wujudnya, cahaya bak aurora yang "mengangkat" salah satu hewan ke angkasa) visualnya nampak megah, seolah ingin kembali mengingatkan, bahwa Flow bukanlah dokumenter mengenai alam melainkan suatu magical realism indah. 

Kita tidak pernah tahu mengapa banjir terjadi, maupun alasan mengapa nantinya air mendadak surut. Kita tidak tahu siapa seniman si pemilik rumah, alasan ia membangun patung kucing raksasa, atau ke mana perginya seluruh umat manusia. Kita hanya melihat apa yang para hewan itu lihat. Tapi beberapa petunjuk menyediakan ruang interpretasi terkait kondisi dunia tempat filmnya mengambil latar. 

Jika ditilik lebih lanjut, Flow sejatinya adalah kisah coming-of-age. Serupa manusia, si kucing hitam mengalami pendewasaan tatkala ia dipaksa pergi dari zona nyaman. Dia melangkah pergi dari kamar kecil tempatnya menyepi, berinteraksi dengan beraneka spesies hewan, menghadapi banyak bahaya sembari mempelajari ilmu baru, dan mendapati bahwa ternyata ia bisa berenang dan takkan semudah itu ditenggelamkan, baik oleh terjangan banjir atau arus kehidupan. 

REVIEW - ODDITY

Seperti judulnya, Oddity adalah film yang aneh. Keanehan bukan sesuatu yang sepenuhnya asing. Sebaliknya, ia terasa familiar, namun setelah diperhatikan lebih lanjut, berbagai perbedaan tak biasa mulai nampak. Melalui karya terbarunya ini, Damian McCarthy berhasil mengutak-atik banyak formula usang dalam film horor. 

Dani (Carolyn Bracken) tinggal seorang diri merenovasi rumah barunya di area pedesaan, sementara sang suaminya yang seorang psikiater, Ted (Gwilym Lee), sedang lembur di rumah sakit. Ketika Dani, dengan senyum penuh kasih sayang, berkata "I love you" lewat telepon, Ted menjawab "I love you too", namun sosoknya membelakangi kamera. Entah seperti apa ekspresinya kala mengucapkan itu. Benarkah Ted juga mencintai istrinya?

Malam itu, Dani diminta membukakan pintu oleh Olin (Tadhg Murphy), mantan pasien Ted, yang hanya memiliki satu mata, dan mengingatkan pada protagonis di film pendek buatan McCarthy, How Olin Lost His Eye (2013). Olin mengaku melihat seseorang diam-diam memasuki rumah Dani. Apakah Olin berkata jujur? Pemandangan ini mengingatkan pada banyak prolog film slasher dan home invasion. Sekali lagi, familiar. 

Sampai alurnya melompat setahun ke depan, mengungkap bahwa malam itu Olin membunuh Dani, memperlihatkan mayat salah satu pasien dengan kepala hancur berkeping-keping, mendapati Ted telah memiliki kekasih baru bernama Yana (Caroline Menton), lalu membawa penonton berkenalan dengan Darcy (juga diperankan Carolyn Bracken), saudari kembar Dani, yang juga seorang cenayang. Di situlah Oddity menegaskan jika "familiar" bukanlah kata yang pas disematkan padanya.

Oddity punya struktur narasi yang aneh, untuk sebuah film yang dari luar nampak seperti horor supernatural biasa. Dibantu penyuntingan Brian Philip Davis, McCarthy menyematkan beberapa flashback singkat yang akan membuat penontonnya merasa seperti cenayang dengan kekuatan mengintip ke masa lalu, atau melihat hal-hal yang tak kasat mata bagi manusia biasa. 

Sama seperti Darcy. Pemilik toko barang antik sarat aroma klenik ini (boneka kelinci dari film Caveat menjadi salah satu koleksinya) punya kemampuan untuk "melihat". Kemampuan itu dipakai guna menyelidiki ketidakberesan di balik kematian Dani, termasuk saat Darcy berkunjung ke rumah Ted sembari membawa hadiah berupa patung kayu raksasa dengan wajah mengerikan bak iblis. 

Kedatangan Darcy menambah pekat kabut misteri dalam alurnya. Apakah patung tersebut merupakan entitas jahat? Atau justru ada kekuatan yang lebih jahat bersemayam di rumah itu? Hendak dibawa ke mana kisahnya? Naskah bautan McCarthy menolak berjalan di rute konvensional. Dia gabungkan beragam subgenre horor, dari slasher, supernatural, rumah berhantu, hingga kisah balas dendam, dengan tujuan mengecoh ekspektasi penonton di berbagai titik. 

Tidak hanya gaya bercerita, sang sineas juga jago mengecoh ekspektasi dalam hal menakut-nakuti. Beragam amunisi diterapkan, dari rangkaian shot berisi kehampaan di sudut-sudut ruang gelap yang menyulut rasa cemas, jumpscare mengejutkan yang tak jarang penyusunannya terasa cerdas, hingga detail kecil seperti derit kayu yang terdengar mencekam. 

Segala kreativitas milik Oddity ibarat pengingat supaya sebagai penonton, kita tidak terjerumus dalam arogansi, sebagaimana Ted sang skeptis, yang terdengar sombong tiap merendahkan Darcy dan sudut pandang mistisnya. Sebanyak apa pun film horor telah dikonsumsi, bukan berarti kita telah mengetahui segalanya. Oddity adalah keanehan yang bakal meruntuhkan arogansi tersebut. 

REVIEW - SMOKING CAUSES COUGHING

Smoking Causes Coughing adalah salah satu film paling kreatif, aneh, sekaligus mengejutkan sepanjang tahun. Pertanyaan "Filmnya tentang apa?" bakal susah dijawab, tapi coba bayangkan skenario ini: Gabungkan tim Power Rangers dan Ninja Turtles, bawa mereka bertamasya ke pinggir danau, lalu nantikan cerita-cerita seram yang dituturkan tiap anggota di tengah api unggun. 

Timnya bernama "Tobacco Force". Masing-masing anggota punya nama sesuai senjata mereka: Benzène (Gilles Lellouche), Methanol (Vincent Lacoste), Nicotine (Anaïs Demoustier), Mercure (Jean-Pascal Zad), dan Ammoniaque (Oulaya Amamra). Ketika bersatu bukan Megazord yang muncul, melainkan kepulan asap rokok untuk membunuh monster dengan memberinya kanker. 

Aneh? Wajar saja mengingat film ini disutradarai sekaligus ditulis oleh Quentin Dupieux, yang sebelumnya melahirkan judul-judul absurd seperti Rubber (2010), Deerskin (2019), hingga Mandibles (2020). Tapi keanehan belum berhenti sampai di situ. 

Demi merekatkan persatuan tim, Tobacco Force dikirim berlibur selama seminggu sebelum menghadapi ancaman Lézardin (Benoît Poelvoorde) yang berniat menghancurkan bumi. Di malam hari saat api unggun dinyalakan, mereka saling berbagi cerita horor yang mendadak mengubah bentuk filmnya dari cerita pahlawan super menjadi horor antologi. 

Baik di kisah Tobacco Force maupun visualisasi cerita api unggun, Dupieux menawarkan berbagai macam keabsurdan. Supermarket di dalam kulkas, barakuda yang bisa bicara, dan masih banyak lagi. Keabsurdannya memunculkan kekagetan, lalu kekagetan itu membangun kelucuan. Semakin aneh, semakin tidak terduga, semakin lucu. Bahkan sentuhan gore pun Dupieux jadikan sebagai amunisi komedi hitam. 

Tapi apa kaitan perjuangan Tobacco Force melindungi bumi dengan horornya? Cerita api unggun bagi karakternya, sebagaimana film horor bagi kita, adalah wadah eskapisme. Film horor memang mengerikan, tapi tak mendatangkan ancaman. Kita pun memegang kontrol penuh. Merasa filmnya terlalu mengerikan? Cukup keluar dari bioskop. Sesuatu yang tak bisa dilakukan kala menghadapi horor dunia nyata (kerusakan lingkungan, penyakit, tuntutan finansial, dll.). Mungkin sama seperti rokok yang dapat membuat batuk atau bahkan kanker, tapi tetap kita isap untuk sejenak melupakan kepenatan hidup.  

Mari kita lihat juga sosok pemimpin Tobacco Force. Namanya Didier (Alain Chabat). Seekor tikus yang bisa bicara layaknya Master Splinter, namun lebih mesum (gemar menggoda anggota wanita Tobacco Force) dan lebih menjijikkan (lendir hijau selalu keluar dari mulutnya). 

Didier mengingatkan saya pada anekdot tentang Zordon. Apakah ia pelindung atau figur manipulatif yang memaksa remaja bertaruh nyawa? Pola "sosok tak bertanggung jawab" ini terus diulang sepanjang film, termasuk di barisan kisah horornya. Ada bos yang tak memperhatikan keselamatan pekerja, hingga dokter yang melempar diagnosis melalui telepon. 

Smoking Causes Coughing adalah cerita mengenai "ancaman", apa pun serta dari mana pun sumbernya. Tapi tidak perlu memusingkan perihal interpretasi. Dupieux tak pernah menuntut itu dari penontonnya. Cukup duduk santai dan nikmati keabsurdan tanpa henti film ini.....mungkin sambil mengisap beberapa batang rokok. 

(iTunes US)

REVIEW - CLOSE

Close adalah suguhan unik. Perwakilan Belgia di Academy Awards 2023 ini adalah film queer. Tapi ia bukan membicarakan seksualitas. Bahkan sampai akhir, tidak pernah diungkap apakah hubungan dua karakternya sebatas pertemanan atau bersifat romantis. Status keduanya tidaklah penting. 

Dua protagonisnya bernama Léo (Eden Dambrine) dan Rémi (Gustav De Waele). Musim panas jadi saksi keintiman mereka. Keduanya bermain, bahkan bermalam bersama. Kedekatan itu berlanjut saat sekolah dimulai, sampai muncul pertanyaan dari para siswa, "Apakah kalian pasangan?". Tanda tanya yang menjurus ke arah interogasi penuh prasangka serta aroma homofobia. 

Rémi tidak ambil pusing, namun Léo merasa risih. Perlahan ia menjauh, berkumpul dengan teman baru, membicarakan sepak bola, pula bergabung di tim hoki es. Léo bagai ingin membuktikan kejantanannya. Lalu di pertengahan durasi, muncul kejutan bak sambaran petir di siang bolong. Sambaran yang menyakitkan sekaligus meremukkan.

Sekali lagi, orientasi seksual Léo dan Rémi tidak penting. Hanya ada satu fakta: Prasangka menghancurkan mereka. Prasangka yang sekilas terdengar seperti rasa penasaran biasa, tapi berujung menghadirkan luka yang luar biasa bagi banyak pihak. 

Lukas Dhont selaku sutradara sekaligus penulis naskah (bersama Angelo Tijssens) mengemas filmnya dengan lirih. Kesunyian dipecahkan bukan oleh kebisingan, melainkan bisikan lembut dari mulut karakternya. Hasilnya menghipnotis. Prinsipnya serupa dengan proses komunikasi sehari-hari, di mana atensi lebih mudah didapat saat lawan bicara membisikkan kata-kata tepat di telinga kita. 

Akting jajaran pemain mendukung pendekatan di atas. Eden Dambrine mewakili kegamangan individu yang terjebak di tengah kejujuran hati dan norma masyarakat. Émilie Dequenne sebagai Sophie, ibu Rémi, turut menjadi motor emosi melalui upaya si karakter beranjak dari duka. Léo dan Sophie kerap meluapkan jeritan. Lebih tepatnya jeritan hati yang cuma bisa didengar menggunakan empati. 

Elemen queer dalam Close juga menyentil soal tuntutan bagi laki-laki untuk meredam luapan emosi. "Laki-laki tidak boleh cengeng" kalau kata orang-orang. Alhasil, sedari kecil laki-laki tak punya cukup ruang untuk berlatih menangani emosi. Dari situlah isu queer dan coming-of-age filmnya bersinggungan dengan mulus. Léo belajar membuka diri, membicarakan perasaannya, kemudian menghadapi duka. Itulah bentuk pendewasaan. Tidak hanya secara biologis, tapi juga psikologis. 

Di satu titik lengan Léo patah di sebuah pertandingan hoki. Melihat Léo menangis ketika dipasangi gips, alih-alih memaksa si pasien agar "man up' dan menahan sakit, sang dokter justru berkata, "A broken arm does hurt right?". Memandang luka batin pun semestinya demikian. Kesedihan itu menyakitkan. Berpura-pura tak merasakannya bukan bukti kekuatan atau kejantanan, tapi sebuah tindakan yang menghancurkan. 

(Klik Film)

REVIEW - THE QUIET GIRL

The Quiet Girl bukan cuma bercerita tentang kasih sayang, perwakilan Irlandia di Oscar 2023 ini (berhasil meraih nominasi) juga terlihat, terdengar, dan terasa seperti sebuah ungkapan kasih sayang. Mengadaptasi cerita pendek Foster buatan Claire Keegan, Colm Bairéad selaku sutradara sekaligus penulis naskah telah melahirkan karya spesial yang mampu menerjemahkan perihal abstrak tersebut. 

Cáit (Catherine Clinch) adalah si gadis pendiam yang dimaksud judul filmnya. Sang ayah (Michael Patric) menyebutnya "the wanderer" karena Cáit kerap pergi menyendiri entah ke mana, entah pula melakukan apa. Sebutan yang menunjukkan bagaimana sebagai orang tua, ia gagal mengenali si buah hati.   

Orang tua Cáit memang cenderung menelantarkan anak-anak mereka. Cáit selalu diam karena tak ada upaya menjalin komunikasi. Bahkan di awal film kita melihat saudara-saudara Cáit yang biasanya ribut mendadak diam sewaktu ayah mereka muncul. Bukan karena takut, tapi inilah gambaran keluarga disfungsional yang tak tahu mesti bersikap seperti apa di hadapan satu sama lain. 

Ibu Cáit (Kate Nic Chonaonaigh) tengah mengandung lagi, walau kondisi finansial keluarga sedang terjepit. Apa jalan keluar yang diambil? Menitipkan Cáit ke sepupunya, Eibhlín (Carrie Crowley), dan si suami, Seán (Andrew Bennett), selama musim panas. "Dia akan membebani kalian", ucap ayah Cáit pada pasutri paruh baya yang tidak mempunyai anak tersebut.  

Orang tua membuat anak, membuatnya menghirup udara dunia, menganggapnya beban, lalu membuangnya. Babak pertama The Quiet Girl terasa menyakitkan karena membawa penontonnya menyaksikan si karakter utama melalui semua itu. Rasa sakit tersebut berubah ketika Cáit mulai menetap di kediaman bibinya. 

Eibhlín menaruh perhatian begitu besar pada keponakannya. Bagi Cáit itu adalah pemandangan asing. Bagaimana mungkin saling menyayangi dan tak menyimpan rahasia? Bagaimana mungkin sebuah rumah terasa hangat? Cáit menemukan dunia baru. Sebuah dunia yang tersusun atas kasih sayang.

Rasio 1.37 : 1 membingkai cantik gambar-gambar hasil tangkapan kamera Kate McCullough yang mendefinisikan "memori musim panas". Serupa cahaya matahari terik yang tidak pernah terlalu menyengat karena terhalang pepohonan rimbun, Cáit merasakan kehangatan yang akhirnya memunculkan senyum di bibirnya. Kata-kata dari mulut Eibhlín yang penuh cinta terdengar sama merdunya dengan musik garapan Stephen Rennicks. 

Pengarahan Bairéad merangkum hal-hal di atas. Sang sutradara tidak hanya memaparkan kehidupan protagonisnya. Seolah, ia menjadikan Eibhlín (dan nantinya Seán) sebagai perpanjangan tangan untuknya menyampaikan kasih sayang kepada Cáit. Bairéad memedulikan Cáit, sehingga filmnya sendiri bak sebuah ungkapan kasih sayang. 

Naskahnya tidak kalah solid. Bairéad menjadikan dinamika Cáit dengan kedua "orang tua barunya" sebagai metode eksplorasi yang efektif. Menonton The Quiet Girl ibarat proses menyusun puzzle. Secara perlahan, gambaran utuh mengenai tiap karakternya, baik Cáit maupun Eibhlín dan Seán mulai nampak. Apa saja bentuk penelantaran yang dilakukan orang tua Cáit; mengapa Seán awalnya bersikap dingin sedangkan Eibhlín sebaliknya, sangat protektif; dan lain-lain.

Konklusinya menyentuh. Luar biasa menyentuh. Sewaktu air mata jatuh, itu bukan disebabkan dramatisasi berlebihan, namun karena sudah sewajarnya muncul dampak emosional besar, saat cinta yang selama ini tertahan akhirnya bisa diluapkan. Ada yang mendapatkannya untuk pertama kali, ada pula yang menemukannya kembali. 

(Klik Film)

REVIEW - ALL QUIET ON THE WESTERN FRONT

Hingga kini, novel All Quiet on the Western Front (1928) karya Erich Maria Remarque telah dua kali diadaptasi ke layar lebar. Versi pertama (1930), yang memenangkan Best Picture di gelaran Oscar ketiga, meski tetap menampilkan beberapa sekuen megah untuk masanya, bukan mengajak kita menyaksikan peperangan, melainkan transformasi manusia-manusia di dalamnya selaku dampak terjun ke medan perang. Kita melihat sebuah "akibat". 

Sebaliknya, versi terbarunya yang jadi perwakilan Jerman di Oscar 2022, walau masih menyoroti transformasi tersebut, lebih menitikberatkan pada horor peperangan yang karakternya saksikan. Kali ini kita melihat sebuah "sebab".  

Sehingga, saat versi 1930 dibuka dengan hegemoni menyambut pengiriman tentara Jerman menuju Perang Dunia I, versi 2022 langsung menyuguhkan tragedi. Kepulan asap menyelimuti alam yang hancur dan tumpukan tubuh tak bernyawa. Bukan soal mana yang lebih baik. Bisa dibilang, keduanya saling melengkapi guna memberikan gambaran utuh. 

Mayat-mayat tadi dikubur secara massal. Seragam mereka dilucuti, dijahit ulang, kemudian diberikan pada prajurit baru. Remaja-remaja yang masih memandang perang sebagai sarana melampiaskan letupan masa muda di balik sampul nasionalisme. Salah satunya Paul (Felix Kammerer).

Diterimanya seragam bekas seorang prajurit Jerman yang gugur. Andai kelak Paul gugur dan perang masih berlanjut, mungkin hal serupa bakal berlanjut. Seolah nyawa mereka sedemikian tak berharga, bisa begitu saja dibuang selama ada pemuda baru yang siap melanjutkan. Bukan melanjutkan perjuangan, tapi lingkaran kematian.

Lingkaran itu terus berputar. Di versi 1930, Paul sempat cuti beberapa hari, lalu mendapati proses cuci otak bertopeng bela negara yang dahulu ia terima, juga terjadi pada junior-juniornya agar mereka bersedia maju perang. Situasi itu dihapus di versi 2022, digantikan oleh pemandangan yang lebih menusuk.

Ditangani oleh Edward Berger, All Quiet on the Western Front memang meningkatkan kebrutalan dibanding pendahulunya. Didukung sumber daya yang jauh lebih mumpuni, Berger melukiskan tragedi yang tak ubahnya neraka dunia. Pertempuran prajurit Jerman melawan tank Prancis adalah salah satu sekuen (anti) perang paling meneror yang pernah saya tonton. Ditambah lagi, musik mencekam gubahan Volker Bertelmann senantiasa mengiringi. 

Di belakang kamera, James Friend selaku sinematografer menghadirkan komparasi ekstrim. Sewaktu baku tembak terjadi, langit kelam hingga tanah berlumpur yang kotor memenuhi layar. Tampaklah wajah kematian. Begitu baku tembak absen, kita disuguhi siraman hangat cahaya matahari dan bentangan rerumputan hijau. Di situlah kehidupan menampakkan diri. Bahkan sewaktu karakternya membicarakan kematian pun, yang kita rasakan malah harapan. Seperti saat Paul membacakan surat dari istri rekannya, Kat (Albrecht Schuch). Versi ini memberi karakter Kat tambahan latar belakang, yang dimanfaatkan oleh Schuch untuk menampilkan akting heartful. 

All Quiet on the Western Front membawa beberapa modifikasi lain, salah satunya penambahan intrik di luar garis depan (tidak ada di versi 1930 maupun novelnya), tatkala Matthias Erzberger (Daniel Brühl) mewakili Jerman untuk mendiskusikan gencatan senjata dengan pihak Prancis. Karakter Erzberger yang merupakan sosok politisi dunia nyata sayangnya memunculkan gangguan. Pertama, penokohannya bak figur penyelamat dari produk arus utama Hollywood, yang berlawanan dengan atmosfer sarat ketidakberdayaan milik filmnya. Kedua, Brühl merupakan nama yang terlampau besar, sehingga menghadirkan distraksi. 

Tap iadanya konflik "di balik layar" itu sendiri bukan kelemahan. Termasuk sorotan bagi Jenderal Friedrichs (David Striesow) yang terobsesi pada perang. "Apa artinya tentara tanpa perang?", ujarnya. Konflik-konflik itu menghapus netralitas sebagaimana versi 1930, yang di opening-nya merasa perlu menyertakan pernyataan bahwa filmnya tidak berniat membela atau menyalahkan pihak mana pun. Sebaliknya, All Quiet on the Western Front versi baru lantang meneriakkan siapa saja pendosa di peperangan ini. Sebuah sajian anti-perang yang efektif. Pada akhirnya, jutaan nyawa yang melayang di medan perang, entah akibat peluru, ledakan bom, tusukan bayonet, atau kecelakaan tragis, semuanya sia-sia. 

(Netflix)