25 Mei 2011

THE MIRROR NEVER LIES (2011)


Saya sempat khawatir dengan film ini yang katanya berhasil memperlihatkan dan mengeksplorasi keindahan alam Wakatobi didalamnya. Yang saya khawatirkan adalah film ini menggunakan aspek tersebut untuk menutupi kelemahan dari segi cerita dan nantinya akan berlebihan dan menjadi layaknya film dokumenter. Tapi ternyata yang disajikan oleh Kamila Andini (putri Garin Nugroho) selaku sutradara lebih dari sekedar pamer pemandangan indah dan mengeksplorasi shoot mengenai keindahan alam Wakatobi secara berlebihan.

Seperti yang sudah disinggung diatas film ini ber-setting di Wakatobi (Sulawesi Tenggara) dimana berlatar pada kehidupan penghuni lokal alias Suku Bajo. Pakis (Gita Novalista) adalah gadis cilik yang setiap hari hanya menunggu ayahnya pulang dari melaut setelah sekian lama. Dia masih percaya bahwa sang ayah masih hidup dan suatu saat nanti akan pulang untuk melengkapi kembali keluarganya. Keyakinan itu dia tunjukkan dengan berbagai sikap seperti membawa cermin pemberian ayahnya kemanapun dia pergi bahkan membawa cermin itu ke dukun supaya lewat cermin tersebut dia bisa melihat dimana sang ayah berada.
Sementara itu sang ibu, Tayung (Atiqah Hasiholan) walaupun masih mengharapkan kepulangan sang suami dia tetap mencoba berpikir logis bahwa kemungkinan besar suaminya telah meninggal. Tanpa adanya kepala keluarga kehidupan ibu anak ini menjadi kurang harmonis dan tidak berkecukupan. Suatu hari datanglah seorang peneliti lumba-lumba dari Jakarta bernama Tudo (Reza Rahadian). Kedatangan Tudo yang masuk kedalam kehidupan mereka berdua tentu akan mempunyai efek tersendiri.
Yang jadi poin dan kelebihan utama film ini tentunya bagaimana pemandangan di Wakatobi berhasil dieksplorasi secara maksimal tapi tanpa memberikan efek yang berlebihan. Mulai dari pemukiman warga yang berada diatas air, hamparan padang rumput, sampai pantai dan pemandangan bawah laut dan berbagai macam penghuninya yang ditampilkan dengan luar biasa indah. Sudut pengambilan gambar juga seringkali unik. Dengan pemakaian kata "Mirror" pada judulnya, film ini tidak hanya memberikan porsi dalam hal cerita pada "sang kaca" tapi juga dalam pengambilan gambar yang seringkali menggunakan refleksi dari kaca tersebut sehingga memberikan keindahan dan keunikan tersendiri. Yang paling luarbiasa tentunya adegan menggantung puluhan cermin diatas pohon.

Gambar bagus tidak didukung cerita yang bagus adalah hal yang percuma. Dan untungnya "The Mirror Never Lies" tidak hanya pintar menyajikan gambar tapi juga cukup baik dalam bercerita pada penonton. Cerita yang ada mengalir dengan begitu alami tanpa terasa dipaksakan dramatis ataupun menjadi membosankan. Memang terkadang agak pelan namun karena mengalir secara alami menjadikannya nyaman diikuti. Faktor ini tidak lepas dari akting para pemainnya yang cukup memuaskan. Atiqah yang nyaris sepanjang film menggunakan bedak diwajahnya bisa menjadi sosok wanita yang gundah ditinggal sang suami dan harus menghidupi puteri tunggalnya yang justru sering bertengkar dengan dia. Aksen Wakatobi yang dia ucapkan juga bagus dan natural. 

Tapi bintang utama film ini adalah Gita Novalista. Sebagai talenta lokal yang memulai debutnya di film ini dia tampil begitu natural dan mampu menjalin chemsitry yang kuat dan alami dengan setiap lawan mainnya. Beda lagi dengan Reza Rahadian yang kurang menonjol disini walaupun itu bukan karena dia berakting buruk melainkan lebih karena dia tidak mendapat porsi yang cukup untuk memperlihatkan kemampuannya. Satu lagi kekurangan film ini adalah banyaknya monolog dari karakter Pakis yang dipaksakan menjadi puitis tapi malah terlihat aneh dan kaku.

OVERALL: Sebuah film Indonesia yang sungguh patut diapresiasi dengan menampilkan keindahan alam lokal yang mungkin belum banyak orang yang tahu.

RATING:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar