TIME (2006)

7 komentar
Sebagai sutradara yang dalam filmnya sering terdapat unsur mengenai alam, budaya hingga hal-hal religius, tidak mengherankan jika seorang Kim Ki-duk menjadikan kisah tentang operasi plastik yang notabene telah marak dilakukan bahkan seolah menjadi kultur disana sebagai bagian dari filmnya. Dalam Time atau yang mempunyai judul lokal Shi gan, Kim Ki-duk kembali menyajikan sebuah perenungan yang dibalut dalam kisah cinta dan operasi plastik sebagai tema besarnya. Tapi apakah hanya itu yang coba ditampilkan Kim Ki-duk? Saya rasa tidak. Mengartikan Time sebagai hanya film tentang operasi plastik rasanya akan sama saja dengan mengartikan Spring, Summer, Fall, Winter...and Spring sebagai sebuah kisah kehidupan seorang biksu biasa saja. Seperti biasa ekspektasi super tinggi saya letakkan sebelum menonton film dari sutradara favorit saya ini. Tapi baru pada Time inilah saya merasakan sedikit kekecewaan pada karya Kim Ki-duk.

Ji-woo (Jung-woo Ha) dan See-hee (Hyeon-a Syeong) adalah sepasang kekasih yang sudah dua tahun berpacaran. Hubungan mereka mulai retak saat See-hee merasa Ji-woo sudah bosan dengan penampilan khususnya mukanya yang selalu sama dan membosankan. Bahkan saat sedang berhubungan seks, See-hee meminta Ji-woo untuk membayangkan wanita lain yang lebih cantik supaya bisa kembai bergairah. Perasaan cinta dan kecemasan See-hee yang makin bercampur mendorongnya untuk melakukan sebuah tindakan yang mengejutkan, yakni merombak wajahnya lewat operasi plastik dan kemudian pergi dari kehidupan Ji-woo, dengan harapan enam bulan kemudian saat wajahnya yang baru sudah sempurna mereka bisa me-refresh hubungan tersebut. Tapi kenyataan yang terjadi lebih rumit dari itu. Dari sinopsis diatas memang masih terlihat beberapa ciri khas Kim Ki-duk, seperti karakternya yang melakukan hal yang bisa dibilang mengejutkan atau mungkin ekstrim. Ki-duk juga masih menjadikan hubungan antara manusia sebagai perantara kisah yang coba ia sampaikan.

Tapi jika anda sudah sering menonton filmnya Kim Ki-duk pasti menyadari ada yang berbeda dalam film ini. Film ini terasa lebih "bersahabat" dibandingkan film-filmnya yang lain. Jika film-film Kim Ki-duk lainnya punya kisah/hubungan antar karakter yang ajaib, disini hubungannya lebih sederhana yaitu antara pria dan wanita yang saling mencintai. Lalu meski ada tindakan ekstrim dari karakternya, tetap saja karakterisasi tokoh-tokoh dalam Time terasa lebih normal. Cara Ki-duk menyajikan filmnya juga terasa lebih ringan yaitu dengan menggunakan lebih banyak dialog. Film seorang Kim Ki-duk biasanya sepi, lambat, sangat minim dialog, bahkan kadang karakternya dibuat tidak berbicara sama sekali. Film-filmnya lebih sering berbciara lewat visual. Sementara penyajian Time berbeda. Tokoh-tokohnya lebih normal, berinteraksi layaknya orang biasa, sehingga dialog yang ada juga normal saja seperti drama lainnya, sehingga boleh dibilang bahwa Time adalah filmnya Ki-duk yang paling cerewet. Cukup aneh memang melihat film Kim Ki-duk dengan banyak dialog meskipun masih menyajikan berbagai visual yang indah, walaupun kali ini dialognya yang lebih banyak bercerita.
Tapi saya tidak masalah walaupun style-nya agak berubah asalkan seperti biasa filmnya tetap menghadirkan keindahan dan renungan mendalam yang membuat saya selalu jatuh cinta pada karyanya dan ingin segera menonton film-filmnya yang lain. Tapi sayangnya dalam Time saya justru merasakan kekecewaan. Memang disini saya masih menemukan beberapa pemaknaan seperti biasa, dan tentu saja ada hal lain yang digali selain fenomena operasi plastik yang tengah marak belakangan ini. Untuk Time interpretasi saya cukup berkaitan dengan judul filmnya. Jika yang coba diangkat hanya sekedar operasi plastik, kenapa judulnya Time? Tentu saja ada hal lain seperti cinta, rasa cemas, hingga kesetiaan yang diangkat dalam film ini, Apakah cinta memang selalu bisa diukur dari tampilan fisik? Mungkin itu pertanyaan yang paling mudah diangkat setelah melihat film ini. Tapi melihat endingnya (yang sangat mengejutkan dan jadi salah satu keunggulan utama film ini) tentu saja ada lebih dari itu yang coba diangkat. Seperti judulnya, film ini adalah sebuah kisah tentang waktu, dimana waktu adalah hal yang terus berjalan dan terus berputar dan akan kembali keawal lagi apapun yang terjadi. 

Hal itu bisa terlihat dari banyaknya pengulangan dan perputaran yang terjadi dalam kisahnya. Mulai dari Ji-woo yang terus mengalami nasib yang mirip dalam hubungannya dengan beberapa wanita, lalu kita juga akan melihat beberapa kali sebuah kejadian yang mirip terjadi dalam suasana yang mirip juga bahkan tempatnya juga sama. Pada akhirnya disitulah kelemahan terbesar dari Time. Terlalu banyak momen yang mirip muncul berulang-ulang dan tentu saja hal itu menimbulkan kebosanan. Kim Ki-duk bukannya tidak pernah melakukan pengulangan adegan dalam filmnya, tapi biasanya selalu dilakukan dengan indah, ajaib dan menghanyutkan. Keputusan untuk membuat Time lebih mainstream dengan memakai banyak dialog justru menjadikan keajaiban yang biasanya muncul dalam film-film Kim Ki-duk jauh berkurang. Pada akhirnya Time adalah karya Kim Ki-duk yang paling mengecewakan diantara karya-karyanya yang pernah saya tonton. Terasa cerewet, dan tidak seindah biasanya meski tetap ada beberapa adegan dengan visualisasi yang indah dan adegan ajaib seperti ending-nya yang mindblowing tersebut. Yah atau mungkin saja ada yang terlewat dari pengamatan dan interpretasi saya. Semoga saja.

NOTE: Ada dua film Kim Ki-duk lain yang ikut muncul dalam Time, dapatkah anda menemukannya?

7 komentar :

  1. Wah, The Dark Knight Rises belom nonton nich bro? XD

    Gw juga belom nich, gy ada sedikit masalah internal... haha...

    BalasHapus
  2. Lagi dikampung, tak ada bioskop haha

    BalasHapus
  3. Wah penasaran jg sama film ini, sempet baca reviewnya dulu di majalah M2, ngeliat posternya keren bgt haha

    BalasHapus
  4. bro..ini film endingnya gimana si?gwa kagak ngerti...maksudnya gimana kok jadi ke adegan awal..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ending film-film ki-duk emang sering absurd & maknannya tergantung interpretasi masing-masing penonton. IMO ending di 'Time' itu tentang bagaimanapun seseorang merubah wajahnya dengan operasi plastik, orang itu pasti nggak akan pernah bisa total menjadi orang lain dan bakal selalu kembali menjadi dirinya sendiri. Atau kalau beracuan sama judulnya, Kim ki-duk sengaja ngebikin film ini punya plot kayak waktu yang selalu berputar dan bakal kembali ke awal

      Hapus
  5. Anonim8:43 PM

    mas, klau film ki-duk yg mnrut mas lbh bagus dr 'time apa ya? terimakasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak kok, soalnya menurutku Time salah satu filmnya Ki-duk yang agak lemah.
      Yang bagus tuh "Spring,Summer,Fall,Winter...and Spring", "3 Iron", "The Isle", "Samaritan Girl" sama "The Bow".
      Arirang juga lumayan tapi kalo bukan orang yang cinta sama karyanya Ki-duk mungkin bakal ngebosenin

      Hapus