THE WOLVERINE (2013)

2 komentar
Siapakah sosok aktor yang paling lekat dengan karakter superhero yang ia mainkan? Dengan keberhasilan Marvel Cinematic Universe menguasai jagad perfilman superhero mungkin banyak orang yang akan spontan menjawab Robert Downey Jr. Sebuah jawaban yang wajar mengingat sosoknya memang begitu sempurna sebagai Tony Stark dan sudah muncul di empat film dalam jangka waktu lima tahun terakhir. Tapi bagi saya Hugh Jackman masihlah sosok paling ikonis dalam memerankan sosok superhero, ditambah lagi dia begitu mencintai dunia komik itu sendiri. Total Hugh Jackman telah memerankan Wolverine dalam tujuh film (menghitung cameo di First Class dan kemunculannya di Day of Future Past tahun depan) yang merupakan jumlah film superhero terbanyak yang pernah diperankan seorang aktor. Hugh Jackman yang begitu mencintai sosok Wolverine menyadari bahwa karakter ini layak mendapat sebuah standalone film yang bagus. Sayangnya usaha pertama lewat X-Men Origins: Wolverine berujung kekecewaan disaat kualitas filmnya berantakan. Masih belum menyerah, maka dibuatlah The Wolverine yang seolah ingin menghapuskan X-Men Origins dari ingatan para penontonnya. Sempat akan disutradarai oleh Darren Aronofsky, film ini akhirnya dinahkodai oleh James Mangold (Walk the Line, Knight & Day). Akankah Wolverine akhirnya mendapatkan film yang layak?

Setelah kejadian dalam X-men: The Last Stand yang tidak hanya ingin dilupakan oleh Logan tapi juga oleh banyak penonton filmnya, Logan kini hidup sendirian dalam pengasingan. Dia masih merasa bersalah terhadap apa yang ia lakukan, bahkan dalam mimpi pun bayangan Jean Grey masih sering mendatanginya. Suatu hari seorang mutan wanita bernama Yukio (Rila Fukushima) mendatangi Logan dan memintanya untuk ikut ke Jepang guna menemui sang master. Sang master yang dimaksud adalah Yashida (Haruhiko Yamanouchi) CEO perusahaan terbesar di Asia yang dulu sempa diselamatkan nyawanya oleh Logan pada saat terjadi pemboman di Nagasaki. Saat itu Yashida tengah sekarat dan meminta Logan untuk melindungi cucunya, Mariko (Tao Okamoto) yang disebut akan menjadi pewaris kekayaan Yashida. Namun Logan sama sekali tidak mengira bahwa kedatangannya menemui sang kawan lama akan berujung pada petualangan penuh bahaya yang melibatkan Yakuza dan sekumpulan ninja misterius yang tidak kalah mematikan. Namun tidak hanya berusaha menyelamatkan Mariko saja yang harus Logan lakukan di Jepang, karena ia sendiri tengah bergulat untuk melawan trauma serta berbagai pertanyaan akan eksistensi dirinya yang abadi.

Tidak pernah saya menyangka bahwa film yang menampilkan sosok Wolverine akan mengambil jalur seperti yang diambil The Wolverine. Alih-alih tampil sebagai sebuah sajian blockbuster musim panas yang mengumbar begitu banyak adegan aksi bombastis, film yang naskahnya ditulis oleh Christopher McQuarrie, Mark Bomback dan Scott Frank justu cukup banyak menitik beratkan pada porsi drama. Kisahnya banyak berkonsentrasi pada trauma yang dialami oleh Logan pasca kematian Jean Grey serta pertanyaan yang timbul di pikirannya mengenai keabadian yang ia miliki. Dalam The Wolverine, Logan bukan saja menjadi sosom Wolverine yang brutal tapi lebih kepada sesosok mutan yang tengah mengalami kegundahan. Alhasil ceritanya lebih banyak berada di seputaran halusinasinya mengenai sosok Jean Grey ataupun petualangannya mencari makna kehidupan abadi. Mungkin porsi drama yang ditampilkan tidaklah sekuat apa yang muncul dalam Batman Begins misalnya, namun setidaknya film ini sudah cukup baik menggambarkan sisi manusia yang kelam dari sosok Wolverine yang selama ini dikenal sebagai hewan buas. 
Penonton yang berkekspektasi melihat film dengan porsi adegan aksi melimpah serta sosok Wolverine yang badass mungkin akan dikecewakan oleh film ini. Selain porsi dramanya yang lebih banyak, film ini juga menunjukkan pada kita bagaimana jadinya jika Wolverine berada dalam kondisi yang rapuh baik itu fisik ataupun mental. Tidak hanya trauma saja yang menjadi penghalang Logan, karena disini kita juga akan melihat Wolverine yang lemah secara fisik disaat kemampuannya menyembuhkan diri menghilang meski tidak secara permanen. Jangankan untuk menjadi sosok buas yang tidak terkalahkan, untuk bertarung melawan musuh-musuh biasa pun Logan harus bersusah payah disini. Namun justru disitulah kelebihan utama The Wolverine yang membuat saya tetap tertarik mengikuti kisahnya meski jalinan ceritanya terasa biasa saja. Bicara soal sosok superhero yang kehilangan kekuatan, The Wolverine sanggup menggambarkan aspek tersebut dengan baik dimana Logan memang benar-benar terlihat rapuh disini. Bandingkan dengan sosok Alice dalam Resident Evil misalnya yang sempat dikisahkan kehilangan kekuatan tapi masih terasa untouchable. Disini Logan benar-benar dieksploitasi sisi manusianya yang begitu rapuh.

Adegan aksinya memang tidak terlalu maksimal baik ditinjau dari segi kuantitas maupun kualitas. Dari beberpa adegan aksi tidak kesemuanya berhasil terasa dimaksimalkan. Bagian klimaksnya terasa biasa saja meski sudah menampilkan sosok Silver Samurai yang notabene merupakan salah satu musuh paling berbahaya bagi Wolverine. Namun sebuah adegan diatas kereta api yang melaju kencang itu menjadi salah satu favorit saya. Adegan tersebut berhasil dieksekusi oleh James Mangold dengan tensi yang terus terjaga serta tidak pernah melupakan style yang terlihat keren. Adegan diatas kereta api tersebut bahkan bisa lebih keren dibandingkan adegan aksi manapun dalam film-film Iron Man. Tentu saja berbagai kelebihan diatas tidak akan maksimal jika tidak ada sosok Hugh Jackman disini. Tiga belas tahun sudah ia memerankan Wolverine dan kini ia sudah semakin menyatu dengan karakter itu. Entah dalam action sewuence maupun drama ia berhasil menjalankan tugasnya dengan amat baik. Pada akhirnya usaha keras Hugh Jackman terbayar lunas disini. Wolverine telah mendapatkan filmnya yang layak. Sebuah tontonan yang tidak ragu mengorbankan porsi adegan aksi demi eksplorasi karakter yang lebih mendalam, atmosfer yang lebih kelam, serta suasana dan adat Jepang yang cukup menonjol merupakan beberapa faktor yang membuat The Wolverine terasa begitu memuaskan. Lewat film ini pula saya kembali teringat bahwa Wolverine juga manusia, sama halnya dengan mutan yang sesungguhnya juga merupakan manusia. Jangan lupakan juga post-credit scene yang akan menjadi penghubung antara film ini, trilogi asli X-men, serta X-Men: First Class.
 

2 komentar :

  1. sepertinya banyak yg terpengaruh sama Batman versi Nolan yg lebih menunjukkan sisi manusiawi superhero itu sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, walaupun belum ada yang berhasil sampai di level yang sama dengan trilogi Nolan :)

      Hapus