MOEBIUS (2013)

10 komentar
Sutradara gila nan kontroversial yang menjadi favorit saya, Kim Ki-duk kembali lagi lewat film terbarunya yang berjudul Moebius. Beberapa faktor membuat film ini menjadi begitu ditunggu. Yang pertama jelas karena ini adalah follow up Kim Ki-duk setelah keberhasilannya menang di Venice Film Festival 2012 lewat Pieta. Yang kedua adalah akibat kontroversi yang sempat terjadi sebelum perilisan film ini dimana pihak sensor Korea memberi rating "terlarang" bagi Moebius gara-gara banyaknya adegan sadis dan mengandung unsur seksual yang vulgar. Sadisme dan unsur seksual yang vulgar jelas bukan hal baru dalam karya Ki-duk, namun setahu saya baru kali ini filmnya mendapat rating yang setara dengan NC-17 di Amerika Serikat. Film Korea yang sebelumnya pernah mendapat rating ini adalah I Saw the Devil karya Kim Ji-Woon yang notabene juga merupakan salah satu film favorit saya. Pada akhirnya Kim memutuskan memotong sekitar tiga menit filmnya yang berasal dari adegan incest hingga akhirnya film ini diperbolehkan tayang. Sedangkan faktor ketiga yang membuat saya begitu menunggu film ini adalah kembalinya Cho Jae-hyun, si anak emas Kim Ki-duk, aktor yang menjadi partner in crime sang sutradara dimana keduanya terakhir kali berkolaborasi lewat Bad Guy 12 tahun lalu.

Moebius bercerita tentang sebuah keluarga disfungsional tanpa nama. Sang ayah (Cho Jae-hyun) tengah berselingkuh dengan seorang penjaga toko (Lee Eun-woo) dan perselingkuhan tersebut diketahui oleh istrinya (juga diperankan Lee Eun-woo) yang makin tenggelam dalam depresinya menghadapi perselingkuhan sang suami. Pada suatu malam sang ibu memutuskan untuk melakukan tindakan gila dengan memotong penis sang suami, tapi usahanya gagal setelah sang suami terbangun sebelum ia sempat melakukan aksinya tersebut. Kegagalan tersebut tidak membuatnya "menyerah" karena hal berikutnya yang ia lakukan adalah masuk ke kamar anaknya (Seo Young-joo) yang baru saja bermasturbasi untuk memotong penis sang anak. Kali ini usahanya berhasil, bahkan saat sang suami memergoki perbuatannya tersebut ia memilih mengunyah penis anaknya. Kini sang ayah giliran yang dirundung rasa bersalah dan mencoba segala cara untuk membantu sang anak supaya bisa mendapat kepuasan seksual meski sudah tidak memiliki alat kelamin dan mencari cara untuk memperbaiki kecacatan putera tunggalnya tersebut. Sepotong sinopsis yang sudah cukup sinting itu masih belum menggambarkan kegilaan Moebius secara menyeluruh, jadi percayalah kalau film terbaru Kim Ki-duk ini tidak akan mudah dinikmati khususnya bagi anda yang "berperut lemah."

Sudah bukan menjadi rahasia lagi kalau film Kim Ki-duk penuh kegilaan grafis yang vulgar dan dikemas dengan suasana sepi yang minim dialog. Namun lewat Moebius dia benar-benar mendorong segala batasan tersebut sampai ke tingkat yang paling ekstrim. Poin minim dialog makin dikuatkan disini karena Moebius sama sekali tidak memiliki dialog verbal dalam hampir satu setengah jam filmnya. Yang keluar dari mulut pemainnya hanya erangan atau teriakan yang itupun masih dalam taraf yang begitu minim. Film ini benar-benar tampil dengan bermodalkan sajian visual didukung dengan ekspresi serta gestur para pemainnya. Ketiadaan dialog dalam film ini memang di beberapa bagian sedikit terasa dipaksakan namun secara keseluruhan Moebius berhasil bertutur murni dengan aspek visualnya. Membuat penonton harus lebih banyak berpikir untuk mencerna beberapa tindakan karaternya memang namun langkah ini bukannya tanpa maksud berarti dan hanya untuk gimmick. Namun jangan khawatir filmnya akan terasa membosankan tanpa dialog, karena alih-alih membosankan, visualisasi dari Kim Ki-duk justru membuat film ini terasa gila, disturbing dan tidak akan nyaman untuk ditonton. Seperti yang sudah saya singgung, grafis vulgar yang sudah menjadi trade mark sang sutradara semakin dibawa melampaui batasan disini.
Penonton akan dibuat meringis, ngilu bahkan mual melihat berbagai kegilaan dalam film ini. Dalam sinopsis diatas saya sudah menuliskan tentang pemotongan penis namun itu masih belum mewakili sebagain besar kegilaan Moebius. Bahkan pemotongan penis tidak terjadi hanya sekali saja di film ini. Akan ada lebih banyak lagi adegan menyakitkan dalam film ini termasuk pada momen dimana sang ayah berusaha membantu anaknya untuk mencari kepuasan seksual meski tidak lagi mempunyai alat kelamin. Namun Moebius tidaklah asal pamer kebrutalan dan tidak hanya berusaha sebanyak mungkin menampilkan penis yang terpotong, karena semua itu sangat berguna sebagai pembangun atmosfer dan karaterisasi dalam film ini. Seperti biasa cerita dalam film Kim Ki-duk pasti mengeksplorasi sisi tergelap dalam kepribadian manusia dan efek depresif yang bisa terjadi akibat sebuah kejadian yang menimpa seseorang.  Grafis vulgar yang dimiliki oleh Moebius sangat berguna untuk membangun hal tersebut. Bagaimana beberapa kejadian dapat berujung pada perbuatan gila yang tidak terbayangkan dimana kegilaan tersebut dipicu oleh rasa depresif dalam diri seseorang benar-benar dieksplorasi disini. Merasa semuanya kelewatan gila dan tidak realistis? Jangan salah, karena apa yang tersaji dalam Moebius adalah sangat mungkin terjadi di sekitar kita. Siapa yang tahu kegelapan terpendam pada diri seseorang?

Jika Pietai mengeksplorasi hubungan ibu dan anak, maka Moebius lebih berfokus pada hubungan ayah dan anak. Bagaimana seorang ayah yang merasa bersalah terhadap anaknya dan bersedia melakukan apapun bahkan menerima perlakuan seperti apapun dari sang anak karena rasa bersalah tersebut. Kita akan diajak melihat hal apa yang bisa menyatukan seorang ayah dengan anak laki-lakinya. Jika hubungan ibu dan anak laki-laki terjalin karena rasa sayang terhadap darah daging sendiri, maka tanpa mengesampingkan faktor tersebut hubungan ayah dan puteranya biasanya akan didekatkan oleh fakta bahwa keduanya adalah sama-sama pria. Sang ayah yang tahu bahwa kebutuhan utama seorang pria adalah kepuasan seksual lewat kelaminnya tentu merasakan kepedihan luar biasa saat putera tunggalnya kesulitan mendapat kepuasan tersebut dan pada akhirnya bersedia melakukan apapun untuk membantu sang putera. Dibalik hubungan ayah dan anak ini juga adalah kisah tentang sebuah penebusan dosa yang dilakukan seseorang. Mungkin mirip dengan apa yang ditampilkan Kim Ki-duk lewat Samaritan Girl.  Cho Jae-hyun sebagai sosok ayah tampil luar biasa sendiri dan mengingatkan saya lagi kenapa dia menjadi aktor kesayangan sang sutradara berkat kemampuannya mewujudkan visi Kim dengan sempurna. Hanya bermodalkan ekspresi, dia sanggup memperlihatkan kegetiran, kemarahan dan kesedihan luar biasa bahkan rasa sayang yang begitu mendalam terhadap puteranya. Saya benar-benar dibuat merasakan seberapa dalam rasa sayang karakter ayah di film ini pada anaknya lewat tatapan mata dan ekspresi Cho Jae-hyun.

Seperti biasa Kim Ki-duk juga memasukkan unsur kepercayaan Buddha dalam ceritanya. Ada kisah tentang karma dan perputaran yang terjadi dalam kehidupan di film ini. Kejadian atau perbuatan apapun akan menimbulkan perbuatan lainnya dan akan mendapatkan balasan yang setimpal. Karena pada dasarnya semua itu akan terus berputar dalam hidup ini. Hal itu juga yang ditampilkan oleh ending film ini. Bicara tentang ending saya sebenarnya agak kecewa dengan apa yang Kim Ki-duk tampilkan disini. Pertama itu adalah sebuah konklusi yang bisa dibilang sudah sering ia pakai dalam film-filmnya seperti Time. Kedua, impact yang diberikan tidaklah sekuat yang dimiliki oleh film-film Kim Ki-duk dengan ending terbaik macam Pieta dan The Isle. Namun secara keseluruhan Moebius adalah perjalanan gila yang luar biasa dari Kim Ki-duk. Moebius mengingatkan saya akan karya-karya sang sutradara di awal karirnya yang brutal, vulgar dan gila namun menempati posisi-posisi atas dalam film Kim Ki-duk favorit saya. Kembalinya Cho Jae-hyun juga makin menguatkan perasaan tersebut. Namun tidak hanya Cho Jae-hyun yang tampil apik, Lee Eun-woo yang tampil gila baik sebagai istri maupun wanita selingkuhan juga luar biasa. Begitu pula Seo Young-joo sebagai anak yang tersiksa dalam kondisinya. Setiap manusia mungkin berbeda, namun jika sudah berbicara masalah hasrat seksual perbedaan--perbedaan tersebut nampak semakin kabur, dan Moebius terasa begitu kuat memaparkan hal tersebut.

10 komentar :

  1. Wah, 'racun' nih. Penasaran. Kebetulan belum pernah nonton film ki-duk. Mungkin ini bisa jadi yang pertama...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan mencoba & rasakan sensasinya :D

      Hapus
  2. stres dan sinting! Apa sih maksud nya Kim Kiduk bikin film sakit kayak gini? nggak ngerti gw saat menontonya benar2 menjijikkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah memang begitulah Kim Ki-duk yang selalu ekstrim ngeksplorasi sisi gelap manusia. Tapi biar sesinting apapun hal2 kayak di Moebius ini emang sangat bisa kejadian di dunia nyata lho :)

      Hapus
  3. kerenn. penasaran abis,

    BalasHapus
  4. Kim Ki-duk memang 'gila, hihi. Meski agak bikin miris, tapi ini juga film yang menggelitik. Betapa bisa menggelikannya tingkah manusia kalau sudah berurusan dengan seksualitas :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeah, itu yang sering dieksploitasi Kim Ki-duk :)

      Hapus
  5. Suka banget sama film2nya kim ki-duk. Unik tp ngena bgt.. klo di indo mungkin kaya joko anwar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah "A Copy of My Mind" -nya Joko secara tone dan penggarapan agak ngingetin sama film-film Kim :)

      Hapus
  6. Bikin penasaran aja kalian , ntr lah gua donlot.

    BalasHapus