STATIONS OF THE CROSS (2014)

4 komentar
Saya bukan orang yang religius, dalam artian rutinitas beribadah sering tertinggal. Tapi saya juga bukan seorang yang anti terhadap agama, apapun itu. Satu hal yang saya benci adalah para radikal berpikiran kolot. Berkata mendedikasikan hidup hanya untuk Tuhan, banyak dari mereka justru menatap mereka yang tidak sepikiran atau seiman sebagai sosok antagonis. Daripada merangkul, mereka justru membenci. Disaat agama seharusnya membuka mata, banyak yang justru menutup mata. Begitulah yang terjadi dalam film Jerman karya Dietrich Bruggemann ini. Judul Stations of the Cross sendiri diambil dari rangkaian 14 gambar yang memperlihatkan hari saat Yesus disalib. Layaknya gambar itu pula film ini bertutur dalam 14 babak dengan karakter Maria (Lea van Acken) sebagai sentral. Gadis berusia 14 tahun ini punya satu tujuan dalam hidup: mengabdi pada Tuhan.

Maria ada di tengah lingkungan Katolik yang konservatif. Keluarganya, khususnya sang ibu (Franziska Weisz) punya aturan ketat dalam hidup. Salah satunya adalah larangan untuk mendengarkan musik modern (dengan bass dan drum) yang dianggap memuja setan karena ritme yang memancing pendengarnya untuk bergoyang, dan berpotensi menjurus kearah perbuatan dosan. Hal yang sama diterima oleh Maria di gereja tempatnya beribadah yang merupakan bagian komunitas St. Paul. Gereja tersebut anti terhadap kebijakan Vatikan yang dianggap mulai teracuni bebasnya kehidupan modern. Karena itu pula misa yang diadakan memakai bahasa Latin. Dengan berbagai macam doktrin yang ia terima, Maria mulai yakin bahwa jalan terbaik menuju surga adalah melakukan pengorbanan seperti Yesus saat disalib. Pengorbanan pun siap ia lakukan.
Film ini boleh saja berfokus pada Katolik, tapi sesungguhnya amat universal, karena para konservatif selalu ada dalam tiap agama. Setidaknya di agama yang saya anut (Islam) pun ada. Bagi saya yang begitu benci akan hal tersebut, menonton Stations of the Cross adalah ujian kesabaran luar biasa. Emosi marah begitu diaduk-aduk. Sama sekali tidak bermaksud hiperbolis, tapi saya harus mati-matian menahan diri untuk tidak mengambil barang terdekat lalu melemparkannya kearah layar. Adegan pembukanya sudah mencengkeram saat seorang Pendeta tengah memberikan ceramah pada Maria dan teman-temannya tentang "manusia sebagai prajurit Tuhan di muka Bumi" yang harus berperang melawan nafsu. Nafsu disini adalah keinginan akan hal-hal duniawi seperti mendengarkan musik modern, ingin tampak cantik, menonton televisi, dan sebagainya. Momen itu sudah mengunci saya, dan semuanya meledak saat ibu Maria mulai hadir dengan segala amarah dan sikap antipati. Dia menjadi salah satu karakter yang paling saya benci dalam sejarah film.
Naskah dari Dietrich Bruggemann dan Anna Bruggemann sama sekali tidak bermaksud mencela agama. Apa yang menjadi sasaran kritik adalah orang dengan pemikiran kolot. Stations of the Cross memperlihatkan bagaimana interpretasi yang keliru (baca: bodoh) terhadap agama bisa berakibat sebaliknya dari tujuan utama agama itu sendiri. Kesalahan itu bisa berujung pada tragedi. Anak kecil atau remaja awal yang masih polos seperti Maria inilah korbannya. Disaat doktrinasi memenuhi kepala mereka, cara berpikir pun jadi semakin sempit, hanya memakai satu sudut pandang saja. Karakter-karakternya nampak begitu dekat dengan Tuhan, berjalan sesuai perintah-Nya. Tapi begitu ironis saat yang hadir di sekitar mereka justru kebencian, amarah, antipati dan emosi-emosi negatif lain yang semakin menjauhkan kehidupan manusia dari kedamaian. Stations of the Cross menunjukkan perjalanan mencari kedamaian yang justru malah menjauhkan orang dari situ.

Saya selalu mencintai film yang hadir minimalis, mengutamakan esensi bertutur daripada pencapaian teknik semata. Dietrich Bruggemann melakukan itu. Selama durasi 107 menit, tercatat hanya tiga kali kamera bergerak, dan hanya sekali saat ending pergerakannya sedikit "kaya". Sisanya Dietrich hanya menaruh kamera statis di depan aktor, membiarkan mereka bertutur membangun cerita tanpa ada sekalipun cut. Tensi dibangun konflik melalui dialog demi dialog tanpa pernah melupakan kesan realistis. Teknik pengambilan gambar yang menguatkan kesan real time, kesan nyata, serasa saya sedang berada di tempat yang sama dengan filmnya. Tidak ada distraksi, pula jeda yang sering hadir karena efek pemotongan adegan atau pergerakan kamera. Saya dipaku, diam menatap lembaran demi lembaran fase kehidupan Maria yang tidak disadari mulai menjadi destruktif. Dengan elegan, Dietrich Bruggemann pun menyiratkan dalam beberapa adegan bahwa semua kekolotan ini justru ibarat penolakan terhadap Tuhan ("Maria" menolak "Christian"?)

Verdict: Mengaduk-aduk emosi lewat kesederhanaan kuat. Eksplorasi dalam saat agama diinterpretasi dengan keliru, menjauhkan manusia dari kebahagiaan sebagai manusia. Saya telah menemukan film terkuat tahun ini.

4 komentar :

  1. Tontonan lo bener-bener hits banget deh, hahaha. Gue jadi penasaran pengen nonton film ini dalam waktu dekat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah, film yang gue tonton kan selalu hits, kece dan cetar!
      :D

      Hapus
  2. Habis baca review nya saya lgs nonton, untung nemu online dan bersub eng pula! Film ini berhasil membuat saya tertegun dan bepikir keras...tapi saya suka dengan pesan yg di antarkan, dan memang benar sudah terlalu banyak orang "jahat" yang mengatas namakan Tuhan dan memberikan efek buruk pada manusia2 di sekitarnya...

    Walaupun iba, kadang saya kesal dengan ulah Maria yang terlalu ngotot dgn kepercayaannya...

    Dan memang, ibunya Maria itu...sungguh minta di jambak...

    Thanks for letting me know about this movie! Keep the good review!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang selalu suka sama film dengan konten yang "kritis" macam ini

      You're welcome, thanks too
      :)

      Hapus