HELLO, MY NAME IS DORIS (2015)

6 komentar
Saat menyukai seseorang, kegiatan seperti social media stalking, mencari tahu bahkan berusaha ikut menyukai hal-hal kesukaan orang tersebut barangkali kerap kita semua lakukan. Tindakan-tindakan itu tentunya familiar, sama familiarnya dengan usaha protagonis merebut cinta sang pujaan hati yang terasa sulit digapai dalam sebuah komedi romantis. "Hello, My Name Is Doris" berisikan premis klise serupa, hanya saja karakter utamanya bukanlah remaja atau dewasa awal, melainkan wanita berusia 60-an tahun bernama Doris Miller (Sally Field) yang merepresentasikan segala ciri seorang catlady  introvert, tinggal sendiri di rumah gelap nan pengap, berpenampilan kuno, dan tentunya memelihara kucing.

Setelah sang ibu yang telah ia rawat selama bertahun-tahun meninggal, Doris mendapat tekanan dari adiknya, Todd (Stephen Root) dan sang istri, Cynthia (Wendi McLendon-Covey) supaya mengosongkan onggokan barang-barang di dalam rumah hasil kegemarannya memungut barang bekas. Untuk itu Doris mulai mendatangi sesi terapi bersama Dr. Edwards (Elizabeth Reaser). Di saat bersamaan, rutinitas membosankan Doris di kantor  yang harus ia tempuh menggunakan ferry  berubah tatkala datang karyawan baru, pemuda tampan bernama John (Max Greenfield). Seketika jatuh cinta, Doris mulai melakukan serangkaian usaha guna menarik perhatian John.
Usaha Doris terbentang dari stalking Facebook memakai akun palsu, membeli CD musisi favorit John  band electropop bernama Baby Goya & The Nuclear Winters  sampai mendatangi konser band tersebut sambil memakai pakaian berwarna neon. Karakter Doris berisiko jatuh menjadi creepy stalker kalau bukan karena performa heartwarming Sally Field. She carried the whole movie, made it entertaining even with its tonal inconsistency. Dipandang sebagai tragicomedy kelam tentang nasib percintaan wanita tua berkepribadian tertutup, naskah serta penuturan sutradara Michael Showalter terlampau ringan. Namun sebagai feel-good comedy, tingkah Doris acapkali ekstrim, menghalangi simpati penonton.
Berkat Sally Field, Doris tetap berakhir sebagai likeable character. Ekspresi, khususnya senyuman Field sempurna mewakili awkward behavior karakter yang selalu sukses memancing tawa kala Michael Showalter menyelipkan beberapa spaced out moment saat Doris tenggelam dalam fantasi. Akting dramatiknya pun tak kalah memikat, yang salah satunya ditunjukkan ketika emosi Doris meledak akibat tekanan berlebih guna membersihkan rumahnya. Teriakan Field teramat heartbreaking pada adegan tersebut. Tidak seperti filmnya, sang aktris mampu menyeimbangkan sisi drama dengan komedi lewat penampilannya.

Pemilihan konklusinya memuaskan berkat keberhasilannya menjadi manis sekaligus pahit tergantung dari sudut pandang mana anda melihatnya. Terpenting, konklusi tersebut sanggup menyatukan tone ganda yang mendistraksi sepanjang durasi, merupakan kesimpulan tepat bagi perjalanan tokohnya, baik dipandang sebagai lighthearted romantic comedy maupun tragicomedy. "Hello, My Name Is Doris" sejatinya predictable, tapi penggunaan protagonis seorang wanita lanjut usia menambahkan kompleksitas penokohan meski akhirnya berujung mencuatkan permasalahan tone. Sangat layak disimak walau hanya demi melihat akting Sally Field.

6 komentar :

Comment Page:
Surya AS mengatakan...

Wah makas bang akhirnya di review 😄

Surya AS mengatakan...

Cobq review film the way way back tahun 2013 dong bang 😄

Zulfikar Knight mengatakan...

Udah direview. Search saja.

Rasyidharry mengatakan...

Yap, udah di-review dari tahun 2013 hehe

Isri Nasipah mengatakan...

Bang cb review film triangle the movie pny Dedi cobuzier. Pnsran ja. Yg kty tnp stuntman n bda sm film action lainya.thkz

Rasyidharry mengatakan...

Haha udah nonton beberapa hari cuma belum sempet review