ASSASSIN'S CREED (2016)

11 komentar
2016 digadang-gadang sebagai tahun di mana kita akhirnya mendapatkan film adaptasi video game berkualitas. "The Angry Birds Movie" memang decent, tapi beban terbesar dibebankan pada "Warcraft" dan "Assassin's Creed" mengingat keterlibatan nama-nama besar di dalamnya. Sayang, judul pertama berujung mengecewakan, meninggalkan harapan pada karya terbaru Justin Kurzel ("Macbeth", "Snowtown") yang turut dibintangi jajaran cast kelas berat seperti Michael Fassbender, Marion Cotillard, Jeremy Irons, Brendan Gleeson hingga Charlotte Rampling. Siapa sangka hasilnya mengenaskan.

Terpidana mati kasus pembunuhan bernama Callum Lynch (Michael Fassbender) tengah menanti eksekusi, namun ketika proses usai dilakukan, ia mendapati dirinya masih hidup dan berada di bawah pengawasan Sophia Rikkin (Marion Cotillard), kepala proyek Animus milik Abstergo, inkarnasi moden dari pasukan Templar. Callum diminta menjadi subjek Animus guna membawanya memasuki memori sang leluhur, Aguilar, seorang pembunuh yang pada abad ke-15 tengah berperang melawan Templar memeprebutkan apel eden yang konon dapat menghapuskan insting kekerasan umat manusia. Proyek Animus sendiri diam-diam digunakan oleh Abstergo untuk mencari tahu keberadaan apel eden. 
Kapasitas Justin Kurzel sebagai sutradara tak perlu diragukan, tapi serupa transisi sineas indie/low budget/arthouse lain ke blockbuster filmmaking, Kurzel kesulitan menyulap bujet ratusan juta dollar menjadi tontonan menghibur. Bersama sinematografer langganannya, Adam Arkapaw, dia bak kebingungan merangkai adegan aksi yang mayoritas berisi perkelahian jarak dekat. Momen yang semestinya merupakan ajang unjuk kebolehan para assassin memainkan belati jadi tak bertaji akibat penggunaan close-up dan shaky cam dalam pengambilan gambar. Ditambah choppy editing plus koregorafi generik, makin sulit menikmati action sequence-nya. Melihat klimaks yang berlalu cepat tanpa intensitas, nampak jelas kurangnya pemahaman Kurzel tentang cara menghibur penonton lewat sajian blockbuster.

Sebelum perilisan, banyak fans was-was mendapati pernyataan bahwa hanya 35% dari keseluruhan film bertempat di masa lalu yang mana merupakan sorotan utama game "Assassin's Creed". Menengok hasil akhirnya, keputusan tersebut nampaknya dipicu oleh lemahnya naskah karya Michael Lesslie, Adam Cooper, dan Bill Collage menjalin cerita. Praktis setting Andalusia tahun 1492 tidak memiliki pondasi cerita, berisi lompatan antar adegan aksi buruk nan membosankan, padahal sederet lokasi mampu divisualisasikan cukup baik oleh CGI-nya. Para assassin termasuk Aguilar adalah perwujudan memori yang "dihidupkan kembali" menggunakan Animus, dan itu pula yang terasa ketika mereka digambarkan tanpa kepribadian maupun emosi. Kosong, bagai boneka yang digerakkan oleh tuannya.
Kisahnya menyinggung soal jati diri dan religiusitas secara dangkal melalui penuturan kalimat-kalimat seadanya oleh para karakter di tengah dinding-dinding laboratorium kelabu bernuansa dingin yang menambah kehampaan film. Naskahnya urung memberi penjelasan dan motivasi memadahi tentang rentetan kejadian atau character development. Keputusan ayah Callum, Joseph (Brendan Gleeson) membunuh sang istri, pemberontakan tawanan Abstergo, hingga saat Callum sepenuhnya "menyatu" dengan Aguilar, semua terjadi begitu saja, nihil pemaparan mengenai "apa", "mengapa" dan "bagaimana". Alhasil alur penuh lubang, karakter pun tidak diperlakukan layaknya manusia yang memiliki emosi dan segala tindakannya menyimpan alasan.

Jeremy Irons, Brendan Gleeson, sampai Charlotte Rampling muncul sekedar untuk berdiri melontarkan baris kalimat pengisi durasi tak bermakna. Perbedaan Marion Cotillard dengan tiga nama di atas hanya pada lebih banyaknya screentime, tidak dengan bobot perannya. Sedangkan dari Michael Fassbender terpancar secercah akting berkualitas entah melalui permainan ekspresi wajah kecil atau ketika diharuskan tertawa lepas bak orang gila, namun inkonsistensi karakterisasi Callum (apakah ia psikopat? Pembunuh berdarah dingin? atau pemurung biasa saja?) membuatnya percuma. Apabila ada penghargaan bagi film yang paling menyia-nyiakan talenta, "Assassin's Creed" pantas jadi juara. Even "Warcraft" and "Mortal Kombat" are far more entertaining than this stupid borefest. 

11 komentar :

  1. Entah kenapa film yang diapatasi dari video games kebanyakan hasilnya malah berujung membosankan tanpa ada kesan setelah menontonnya, 2 film video games yang saya tonton Warcraft dan Assassin's Creed bikin saya mengantuk selama beberapa waktu, hahaha.

    BalasHapus
  2. mungkin kebanyakan film yg diadaptasi dari video games gagal karena sutradaranya kurang mengerti akan esensi dari vidgames itu sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pangkalnya banyak di penulis naskah sih, asal bikin cerita yang ngelupain esensi game. Contohnya "Warcraft", which is Duncan Jones itu termasuk fans. Tapi basically emang susah adaptasi struktur alur game

      Hapus
  3. Dari trailernya menjanjinkan sih, tapi eksekusinya.....ahh sudahlah. Jadi trauma nonton film adaptasi video games.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia, AC menjanjikan karena trailer juga cukup oke. Sayangnya...

      Hapus
    2. Ternyata trailer pun bisa click bait ya ? hahaha.

      Ditunggu review film Hangout bang.

      Hapus
    3. Wajar sih, namanya juga materi promosi. Tapi yang beneran click bait mah Suicide Squad :D

      Review Hangout lagi dalam proses :)

      Hapus
  4. mungkin sutradanya perlu memainkan games tersebut sehingga paham dengan alur cerita. terima kasih reviewnya :D

    BalasHapus
  5. Jadi..masih ada harapan buat UNCHARTED om??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walah, proyeknya aja belum jelas jadwal produksi & rilisnya. Nggak menjanjikan.

      Hapus
  6. Adam Cooper dan Bill Collage adalah kesalahan terbesar di film ini

    BalasHapus