THE PROMISE (2017)

5 komentar
The Promise jadi usaha Sophon Sakdaphisit (Ladda Land, Coming Soon, The Swimmers) menyuguhkan horor dengan pondasi dramatik. Tampak dari unsur persahabatan serta kekeluargaan kental dalam naskah karya Sophon bersama Sopana Chaowiwatkul dan Supalerk Ningsanond. Alih-alih seketika meneror, penonton terlebih dulu diajak berkenalan dengan dua remaja yang bersahabat, Ib (Panisara Rikulsurakan) dan Boum (Thunyaphat Pattarateerachaicharoen). Tidak hanya selalu bersama, kedua ayah mereka pun menjalin kerja sama pada sebuah proyek pembangunan gedung. Sampai krisis finansial tahun 1997 merenggut segalanya.

Keputusan tepat memakai krisis moneter sebagai latar, sebab motivasi dan kondisi psikis karakter dapat terjabarkan tanpa perlu menyita banyak waktu. Selipan sederet stock footage turut membantu penonton memahami lingkup permasalahan yang menghancurkan hidup dua tokoh utama. Keduanya jatuh miskin sekaligus mesti menghadapi kekerasan ayah masing-masing. Tertekan luar biasa, mereka memutuskan bunuh diri. Namun setelah Ib menarik pelatuk, Boum yang ketakutan memilih kabur. 20 tahun kemudian, Boum (Namthip Jongrachatawiboon) adalah wanita karir sukses dengan seorang puteri bernama Bell (Apichaya Thongkham). 
Mencapai sekitar 20 menit durasi, barulah The Promise menampakkan horornya saat arwah Ib kembali demi menagih janji. Bukan nyawa Boum yang diincar, melainkan Bell, yang segera berumur 15 tahun, usia yang sama dengan Ib kala bunuh diri. Metode menakut-nakutinya masih berkutat di pakem jump scare berbumbu efek suara kencang, tapi The Promise punya tata suara mumpuni yang hampir selalu berhasil menghasilkan daya kejut maksimal walau kita telah bersiap sekalipun. Meski perlu diakui bukan jalan elegan, setidaknya deretan hentakan mampu menjaga tensi. 
Patut diapresiasi juga adalah keberanian Sophon meniadakan penampakan secara gamblang. Hasilnya, arwah Ib terjaga sebagai entitas misterius yang bisa seketika menghantui entah lewat menggerakkan barang atau melalui pertanda lain. Kesan sang arwah senantiasa mengintai dari balik kegelapan menunggu kesempatan teror paling kuat terasa dalam dua momen: face detector dan sewaktu Boum nekat mencari keberadaan Ib bersama seorang bocah. Sayang, mencapai paruh akhir di mana intensitas semestinya memuncak, Sophon bagai kehabisan akal, bergantung pada repetisi jump scare minim daya cengkeram.

Kelemahan terbesar The Promise terletak di third act. Sophon berlama-lama berkutat di berbagai titik. Pun keputusan memberi sentuhan drama turut menjadi bumerang tatkala filmnya dipaksa menghadirkan ragam resolusi jauh setelah ancaman utama berakhir. Apalagi balutan dramanya sendiri bergulir tak seberapa solid. Di satu sisi, sebagai horor, The Promise jadi memiliki bobot, ada sesuatu untuk diceritakan ketimbang sepenuhnya parade jump scare. Namun di sisi lain, akibat harus berbagi dengan elemen horor, tuturan kisahnya kekurangan porsi pengembangan yang berperan vital mengikat emosi penonton. Padahal jajaran pemain punya kapasitas memadahi, baik Apichaya Thongkham yang cute dan likeable atau Namthip Jongrachatawiboon sebagai ibu sekaligus kawan yang didera keputusasaan.

5 komentar :

Comment Page:
Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

gue menunggu review mereka yang tak terlihat deh

Ungki Haeri mengatakan...

saya sudah lama mamir di blog ini dan jadi silent reader, salam kenal ya mas Rasyid, selalu suka review mas, semangat....

Rasyidharry mengatakan...

@Teguh Yudha Gumelar Paling besok pagi udah ada

@Ungki Haeri Wah thanks ya, semoga tidak kapok baca :)

Ungki Haeri mengatakan...

siappp.... justru saya kesemsem bacanya, hehe, review mas Rasyid different from them others....ditunggu review one fine day sama mereka yang tak terlihat...

Rasyidharry mengatakan...

@Ungki Haeri Haha, beda gimana? Tunggu ya, mungkin besok baru kelar :)