Tampilkan postingan dengan label Thai Movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thai Movie. Tampilkan semua postingan

REVIEW - GOHAN

Seperti yang diekspektasikan dari film seputar anjing, Gohan bakal menguras air mata sampai tuntas, tapi ia melakukannya secara "cantik". Alih-alih pesakitan, si anjing dijadikan pembawa harapan. Proses menemukan nurani lebih diutamakan oleh produksi terbaru GDH 559 ini ketimbang tragedi. 

Filmnya mendefinisikan peran anjing selaku sahabat manusia dengan menjadikannya saksi penciptaan memori-memori seiring berlalunya guliran waktu. Sepanjang 141 menit durasi, ia memaparkan tiga cerita yang merambah tiga warna genre berbeda, digarap oleh tiga sutradara, serta menampilkan tiga aktor anjing sebagai pemeran utama. 

Di kisah pertama, Gohan (diperankan anak anjing bernama Kori) yang masih kecil terlantar di emper 7-Eleven sebelum diselamatkan oleh Hiro (Kitachima Yasushi), seorang insinyur bidang otomotif yang sedang menimbang-nimbang untuk pulang ke Jepang pasca dipaksa pensiun oleh perusahaan tempatnya mengabdi selama 35 tahun. Nama "Gohan" disematkan oleh si kakek. 

Dari tiga cerita filmnya, inilah yang paling emosional. Tidak heran, sebab ia digawangi oleh figur paling berpengalaman, yakni Chayanop Boonprakob, yang bermodalkan deretan judul-judul hebat dalam filmografi miliknya, sebutlah SuckSeed (2011), A Gift (2016), Friend Zone (2019), sampai The Red Envelope (2025). 

Chayanop enggan membangun melankoli. Dua karakternya dibawa saling menyelamatkan hidup masing-masing daripada digiring meratapi nasib buruk mereka. Pun sesekali muncul selipan humor yang dengan apik mengawinkan dua wajah eksentrik sinema Jepang dan Tailan. Dipandu pengarahan sang sutradara yang menolak buru-buru sementara musik bergaya akustik mengalun lembut, segmen pertamanya hadir bak semilir angin yang mendamaikan.

Kitachima Yasushi menciptakan protagonis yang mudah mencuri hati (bahkan caranya melafalkan nama "Gohan" pun sanggup mengaduk-aduk emosi!) lewat sosok Hiro yang tengah belajar untuk beranjak dari kenangan lama sembari merekam kenangan baru. 

Cerita kedua menjejakkan kakinya ke ranah road trip, di mana Gohan dewasa (Meechok) mesti kabur dari tempat penampungan anjing yang memperlakukannya secara kejam. Pelariannya mendapat uluran tangan dari Namcha (Poe Mamhe Thar), migran asal Myanmar yang bekerja tanpa dokumen di penampungan tersebut. Namcha memberinya nama baru: Brownie. 

Kendati memaparkan fenomena meresahkan seputar penyalahgunaan penampungan sebagai medium pengeruk uang, segmen garapan Baz Poonpiriya (Bad Genius) ini berujung jadi yang terlemah. Naskahnya luput mengembangkan ketersesatan para protagonisnya jadi sajian bermakna. Kebersamaan Namcha dengan Gohan/Brownie yang secara kuantitas cenderung singkat, gagal ditutupi oleh kualitas presentasi, sehingga terkesan cuma bertugas menjembatani dua cerita yang lebih kuat.

Atta Hemwadee (Not Friends) memungkasi perjalanan Gohan melayari samudra kehidupan lewat sebuah romantika manis. Gohan tua yang kini dipanggil Hima (juga diperankan anjing bernama Hima) kembali hidup terlantar di stasiun Hua Takhe. Dia menggantungkan diri pada makanan pemberian para penumpang, termasuk Jaidee (Tontawan Tantivejakul) dan Pelé (Jinjett Wattanasin), yang pertama kali kita temui tatkala hendak mendaftar ke universitas. 

Sang waktu terus bergerak dalam aliran pasti tepat di depan mata kita dan Gohan/Hima. Jaideen dan Pelé mulai berkuliah, benih romansa tumbuh kemudian runtuh, Jaideen menjalani profesi sebagai pramugari selepas lulus, sedangkan Pelé kesulitan menyelesaikan studinya. Bagi dua manusia tersebut kehidupan di dunia nyata baru saja dimulai, tapi ujung jalan sudah nampak dekat di mata Gohan/Hima. 

Segmen penutup ini adalah romantika berkualitas khas sinema "Negeri Gajah Putih", yang tidak sekadar mencuatkan rasa manis, pula membawa sayatan yang meninggalkan bilur di hati, sekaligus menawarkan perspektif mendalam terhadap konfliknya, ketika ia menampik justifikasi dan romantisasi atas kesalahan fatal dalam sebuah hubungan. Karakternya berproses bukan semata demi cinta buta, tapi perbaikan atas kualitas diri. 

Saya mencintai pilihan konklusinya. Gohan menjauhi pakem generik beserta segala kegemarannya memakai dramatisasi murahan demi menguras air mata penonton. Filmnya tidak tertarik mengeksploitasi dan hanya ingin "mengabadikan" sebagai caranya mencintai. 

REVIEW - THE RED ENVELOPE

The Red Envelope menawarkan konklusi hangat yang menunjukkan bahwa pernikahan seperti apa pun, baik gay atau hetero, secara esensial adalah penggabungan dua keluarga. Sebuah proses menambah orang yang kita sayang sekaligus menyayangi kita. Poin itulah yang mestinya dieksplorasi lebih jauh dan dijadikan menu utama oleh karya terbaru Chayanop Boonprakob (Friend Zone, May Who?, SuckSeed) ini. 

Sayang, durasi cukup panjang (125 menit) milik remake dari Marry My Dead Body yang sempat mewakili Taiwan di Academy Award 2024 ini tak dimanfaatkan guna menguatkan penceritaan. Isu pernikahan sesama jenis    yang telah dilegalkan sejak awal 2025    bukannya diperdalam, malah sebatas dijadikan pernak-pernik humor.

Protagonis kita adalah Menn (Putthipong Assaratanakul), informan kepolisian yang tak kompeten dalam bekerja, sedangkan isi pikirannya cuma dipenuhi keinginan memikat seorang petugas bernama Goi (Arachaporn Pokinpakorn). Sampai ia memungut sebuah amplop merah yang tanpa diduga membuatnya mesti melangsungkan pernikahan gaib dengan arwah Titi (Krit Amnuaydechkorn). 

Titi meninggal akibat kecelakaan sebelum sempat menikah, dan sang nenek (Piyamas Monyakul) ingin mewujudkan impian tersebut. Masalahnya Titi merupakan seorang gay, sehingga keinginannya tak pernah direstui oleh ayahnya (Teravat Anuvatudom). Sampai di sini, The Red Envelope punya segalanya untuk menghadirkan kisah dengan daya hibur serta dampak emosi tinggi. 

Di awal pertemuan mereka, Menn takut pada Titi. Bukan semata disebabkan ia hantu, pula karena orientasi seksualnya. Menn jijik pada sesuatu yang asing baginya. Di lain pihak, Titi ingin orang-orang seperti Menn tidak segampang itu menghakimi dirinya tanpa mengenal secara lebih mendalam. 

Naskah yang ditulis oleh sang sutradara, Chayanop Boonprakob, bersama Thamsatid Charoenrittichai, Chantavit Dhanasevi, dan Weawwan Hongvivatana, sejatinya mampu menciptakan perjalanan menyenangkan, namun di saat bersamaan, gaya bertutur alurnya tak mendukung dinamika kompleks antar dua tokoh utamanya sebagaimana dijabarkan di atas. 

Alurnya menyoroti penyelidikan mengenai kebenaran di balik kematian Titi, yang skalanya seketika membesar hingga membenturkan dua protagonisnya dengan skema licik seorang bandar narkoba kelas kakap. Chayanop menggulirkan kisah tersebut dengan cepat guna menjaga kesan menghibur (yang mana berhasil), walau secara bersamaan, alur yang bergerak terlampau liar cenderung menyulitkan terjalinnya kepedulian serta koneksi emosional antara karakter dan penonton. 

The Red Envelope hadir dengan humor yang tidak jauh-jauh dari nuansa nakal, seolah tuturan mengenai LGBTQ harus selalu kental banyolan jorok. Beberapa humor usang masih dipresentasikan (adegan "mengocok minuman" bahkan muncul lebih dari sekali), walau untungnya, tatkala kreativitas para penulis tengah mencuat, kenakalan tersebut tetap efektif memancing tawa tak terduga. Apalagi dua pelakon utamanya, Putthipong Assaratanakul dan Krit Amnuaydechkorn, sama-sama tampil apik perihal menyeimbangkan keseriusan akting dramatik dan kekonyolan komedik. 

Mungkin The Red Envelope belum berhasil memaksimalkan potensinya. Cukup disayangkan, mengingat tahun lalu GDH pernah melahirkan kisah LGBTQ dengan sensitivitas lebih tinggi lewat The Paradise of Thorns. Tapi bukan berarti relevansinya berkurang. Melihat cara LSF mencederai film ini, termasuk kala memotong adegan battle dance yang bahkan bukan "gay thing", atau ketika mendesain terjemahan supaya terkesan "tidak terlalu homoseksual", The Red Envelope justru semakin penting untuk disaksikan.

REVIEW - 404 RUN RUN

Menonton 404 Run Run terasa seperti sedang mengunjungi wahana rumah hantu. Penampakan demi penampakan setan menyerang tanpa henti, yang ada kalanya membuat pengunjung terkejut bahkan takut, tapi tak jarang pula memancing tawa. Seru, menyenangkan, walau di satu titik bakal terasa melelahkan akibat kesan monoton dari amunisinya. Benar-benar bak visualisasi rumah hantu.

Alkisah, Nakrob (Chantavit Dhanasevi) bersama tiga anak buahnya, Nammont (Pittaya Saechua), Choke (Chookiat Iamsook), dan Suakrong (Supathat Opas), melakukan bisnis jual-beli properti dengan cara menipu para konsumen. Tapi toh kecurangan itu tak mendatangkan keuntungan. Nakrob tetap dikejar penagih utang, dan hubungannya dengan sang kekasih, Lin (Nantanat Thakadkul), yang sudah menginginkan pernikahan pun turut terpengaruh. 

Sampai Nakrob menemukan hotel terbengkalai yang dijual murah dan berniat melancarkan rencana penipuan berikutnya, tanpa tahu bahwa arwah perempuan bernama Lalita (Kanyawee Songmuang) telah bersemayam di sana selama puluhan tahun.

Lalita bukan hantu seperti di kebanyakan horor komedi, yang cenderung tak berbahaya, bahkan kerap digambarkan lucu dan manis. Naskah yang ditulis oleh sang sutradara, Pichaya Jarusboonpracha, bersama Rergchai Poungpetch dan Wichaya Ratanachumnong, menjadikan Lalita hantu pendendam yang tidak ragu menghabisi manusia secara brutal. Di situlah keseimbangan mengagumkan filmnya terlihat.

404 Run Run mempersenjatai diri dengan humor absurd khas sinema Thailand (jika termasuk penyuka gaya komedi semacam itu, kalian bakal dibuat tertawa lepas berulang kali), tapi juga rutin melempar teror. Menariknya, pengadeganan sang sutradara mampu membuat barisan momennya terasa menggelitik sekaligus menyeramkan secara bersamaan. 

Kuncinya adalah, Pichaya tidak berupaya menyulap peristiwa mengerikan menjadi konyol. Serbuan hantu Lin dibiarkan sebagaimana adanya. Reaksi kuartet karakter utamanya (yang dibawakan dengan comic timing luar biasa oleh para aktornya) kala menyaksikan pemandangan horor itulah yang digiring ke ranah komedi. 

Penonton pun bagai diajak mengarungi wahana rumah hantu bersama empat protagonisnya. Masalahnya, tidak satu pun rumah hantu di dunia ini bergulir selama hampir dua jam. Sehingga ketika film ini terus memakai pendekatan tersebut, sebatas memperlihatkan teror yang Lin berikan kepada Nakrob dkk. selama 104 menit durasinya, akan tiba waktunya di mana 404 Run Run terasa repetitif dan melelahkan, sebesar apa pun kesukaan kita terhadap gaya humornya. 

Sejatinya alur 404 Run Run menyimpan pokok bahasan menarik seputar proses merelakan, baik dalam konteks romansa maupun sesuatu yang lebih general. Naskahnya mengusung sudut pandang realistis, tentang bagaimana ada kalanya mimpi gagal diwujudkan meski usaha maksimal telah dikerahkan. Walau demikian, alurnya tetap terasa tipis karena poin-poin di atas baru dieksplorasi jelang akhir, sebelum ditutup oleh konklusi yang menjanjikan ide spin-off segar (bayangkan versi lebih komikal dari Hotel Del Luna).

REVIEW - THE PARADISE OF THORNS

Rasanya semua manusia mendambakan surga. Bukan cuma surga selepas kematian sebagaimana disebut oleh ajaran agama, pula di dunia. Tapi tidak seperti firdaus di akhirat yang menjanjikan kebahagiaan tanpa ujung, "surga dunia" cenderung berhiaskan ketidaksempurnaan. Selalu ada duri yang siap melukai kita dengan berbagai cara. 

The Paradise of Thorns, selaku rilisan terbaru GDH, menampilkan orang-orang yang merindukan surga, setelah lelah menjalani hidup minim anugerah. Salah satunya Thongkam (Jeff Satur), yang bermimpi meraup sukses dari kebun durian yang ia bangun bersama kekasihnya, Sek (Pongsakorn Mettarikanon). Thongkam begitu mencintai Sek, hingga bersedia memberi hak atas rumah beserta seluruh kebun kepadanya. 

Film ini dibuat sebelum Thailand melegalkan pernikahan sesama jenis (berlaku mulai Januari 2025), sehingga Thongkam dan Sek belum bisa menikah secara resmi. Filmnya tidak serta merta mengkritik perspektif homofobik, melainkan secara cerdik memberi contoh nyata mengenai bahaya yang berpotensi terjadi, bila masyarakat maupun sistem hukum masih enggan mengubah pola pikir mereka.

Sek mengalami kecelakaan yang memerlukan operasi secepat mungkin. Masalahnya, karena secara hukum Thongkam bukan merupakan suami sah, ia tidak berhak memberi persetujuan. Ibu Sek, Saeng (Srida Puapimol), yang rumahnya berjarak empat jam dari rumah sakit dan tak memiliki kendaraan, gagal tiba tepat waktu. Sek pun meninggal.

Seperti kebanyakan film Thailand, The Paradise of Thorns dibuat dengan kepekaan terkait koneksi spiritual antara manusia dengan alam. Kesan itu benar-benar terpancar di awal durasi. Tatkala karakternya merawat kebun durian dengan penuh cinta, semesta membalas kasih sayang itu dengan nyanyian-nyanyian alam. Dedaunan yang tertiup angin, cicak yang menyiratkan kehadiran mereka, hingga derit kayu yang menyusun pondasi rumah. Muncul kedamaian berkat keseimbangan. 

Keseimbangan itu mulai rusak sewaktu manusia mulai memandang alam semata sebagai sumber uang. Terungkap kalau Saeng, bersama perempuan bernama Mo (Engfa Waraha) yang telah merawatnya selama 20 tahun bak anak kandung, berniat mengambil alih rumah dan kebun Thongkam, dengan memanfaatkan fakta bahwa Sek merupakan pemilih sah dari properti tersebut. 

Atmosfer mendamaikan yang dibangun oleh sang sutradara, Naruebet Kuno, pun seketika musnah, digantikan konflik rebutan warisan yang efektif membuat penonton naik darah. Setiap pihak merasa mereka sudah cukup lama menderita, sehingga berhak menikmati gelimang harta yang dijanjikan kebun durian. Kondisi makin pelik ketika Mo turut membawa adiknya, Jingna (Harit Buayoi) guna mengurus kebun durian.

Sejatinya alur The Paradise of Thorns cukup sejalan dengan kisah-kisah super dramatis ala sinetron Indonesia. Konflik tentang perebutan harta, jajaran karakter yang seiring waktu semakin tidak ragu melakukan tindakan ekstrim demi mengamankan finansial masing-masing, sampai sederet twist yang telah menanti di ujung jalan. Tidak ketinggalan hadirnya poin penceritaan yang cenderung memaksa mengubah sikap karakternya secara tiba-tiba, semata demi efek dramatis. 

Harus diakui pendekatan di atas mendatangkan hiburan seru, tapi di sisi lain, The Paradise of Thorns juga merupakan "sinetron berkualitas". Dia bukan cuma mengandalkan dramatisasi berlebihan demi memancing emosi penonton, tapi mengimbanginya dengan eksplorasi mendalam terhadap isu kompleks miliknya. 

Awalnya kita bakal dengan ringan mengeluarkan sumpah serapah untuk mengutuk perbuatan beberapa karakter, sebelum pelan-pelan dibawa memahami (tanpa harus membenarkan) pilihan hidup mereka. Sekali lagi, The Paradise of Thorns adalah kisah tentang orang-orang dengan penderitaan. 

Baik Thongkam, Saeng, atau Mo meyakini kebun durian peninggalan Sek sebagai surga. Mereka adalah rakyat jelata yang mengharapkan surga, berjuang mengentaskan diri dari jurang kemiskinan, kemudian tanpa sadar saling menusukkan duri ke jiwa satu sama lain, sementara para pemegang kuasa hidup nyaman sembari mencuri dari mereka. Masalahnya, seperti yang konklusinya sampaikan, materi bukanlah segalanya. Di tengah kesendirian, materi hanya mendatangkan kehampaan alih-alih kebahagiaan.

Tapi keunikan terbesar film ini terletak pada keberanian memadukan genre yang saling berseberangan. Nampak seperti drama keluarga menyentuh khas GDH dari luar, keunikan berangsur-angsur terasa ketika beberapa iringan musik mencekam mulai beberapa kali terdengar. Menariknya, pilihan tersebut (termasuk saat klimaksnya secara total bertransformasi menjadi thriller berdarah) tak menciptakan kejanggalan yang mengganggu. Karena pada dasarnya, hal-hal yang karakternya alami memang ibarat cerita dalam film thriller. 

REVIEW - HOW TO MAKE MILLIONS BEFORE GRANDMA DIES

Warisan dapat menghancurkan keluarga. Mungkin darah lebih kental dari air, tapi ia bisa seketika memudar saat dihadapkan dengan lembar demi lembar uang. How to Make Millions Before Grandma Dies merupakan proses karakternya (serta penonton) memahami bahwa harta bukanlah segalanya. 

Bila pesan di atas terdengar klise, itu karena debut penyutradaraan layar lebar Pat Boonnitipat ini memang tidak berniat merombak formula. Dia tetaplah tearjerker yang dibuat untuk membanjiri pipi penonton dengan air mata. Ketika di menit awal para karakternya yang merupakan sebuah keluarga tengah berziarah di makam leluhur, tidak sulit menebak adegan seperti apa yang bakal menutup filmnya. 

Tapi di sisi lain, ada warna berbeda yang ia tawarkan. Lihat saat si protagonis, M (Putthipong Assaratanakul), mengunjungi rumah sang nenek yang dipanggil Amah (Usha Seamkhum) untuk pertama kali. Dia berjalan melintasi sudut-sudut kota, melewati pepohonan yang basah oleh rintik gerimis, ditemani musik lembut buatan Jaithep Raroengjai. Syahdu. 

Kedatangan M bukan kunjungan biasa. Amah baru didiagnosis mengidap kanker usus stadium 4, yang membuat sisa umurnya tinggal setahun lagi. Mengetahui bagaimana sepupunya, Mui (Tontawan Tantivejakul), memperoleh warisan rumah karena merawat kakeknya hingga akhir hayat, M yang gagal meraih kesuksesan sebagai streamer pun berharap bisa mendapatkan keberuntungan serupa. 

Sekali lagi, kita tahu ke mana kisahnya bakal bermuara. Rencana culas M untuk memanfaatkan sang nenek nantinya malah berujung benar-benar merekatkan hubungan keduanya. Tapi siapa peduli di saat proses menuju ke sana mampu menghadirkan beragam emosi, dari tawa hangat sampai tangis haru? 

Usha Seamkhum yang di usia senjanya baru melakoni debut di film ini membuat saya tenggelam di setiap tatapannya yang menyimpan setumpuk misteri mengenai isi hati Amah. Sedangkan Putthipong Assaratanakul paling piawai membawakan tendensi M menyembunyikan kegundahan serta kesedihan memakai senyum dan tawa (poin ini akan berdampak besar di ending). Mereka berdua menjalin chemistry solid yang melahirkan interaksi penuh warna. Ada saling cela, bertukar canda, dan tentunya berbagi rasa. 

Di sisi lain, baik pengarahan Pat Boonnitipat maupun naskah yang ia tulis bersama Thodsapon Thiptinnakorn (SuckSeed, Friend Zone, The Con-Heartist) sama-sama jeli merumuskan tearjerker yang menyentuh tanpa harus terkesan mengemis tangis. Sebagaimana nampak pada momen kedatangan M yang saya singgung sebelumnya, Pat membangun dinamikanya secara bertahap. Cenderung lambat di paruh awal yang berfungsi sebagai fase observasi, sebelum akhirnya meledakkan emosi begitu memastikan penonton sudah terikat dengan karakternya. 

Seberapa pun kalian menahan cucuran air mata, kemungkinan besar tembok tersebut bakal runtuh di ending berlatarkan sebuah mobil pikap, yang menyampaikan salam perpisahan dengan begitu indah. Tebersit sebuah pertanyaan saat menyaksikan adegan itu. Apakah tangisan yang tumpah dikarenakan penggarapan filmnya yang bagus, atau semata karena penonton (termasuk saya) segera mengaitkan peristiwa di layar dengan kenangan personal? 

Jawabannya adalah "keduanya". How to Make Millions Before Grandma Dies terasa dekat karena ia paham betul dinamika keluarga, khususnya keluarga Asia. Bagaimana warisan bisa melenyapkan kasih sayang, bagaimana berkumpul di rumah nenek merupakan momen hangat yang selalu dinanti, bagaimana si nenek dengan tidak sabar menantikan kedatangan anak-cucu sembari mengenakan pakaian terbaiknya, pula bagaimana kesepian selepas kebersamaan terasa begitu menyengat terutama bagi lansia yang hidup seorang diri. Kenangan tentang segala kebersamaan itulah warisan berharga yang sesungguhnya. 

REVIEW - NOT FRIENDS

Mendefinisikan "teman" memang gampang-gampang susah. Apakah "teman sekelas" bisa disebut "teman" meski jarang bertegur sapa? Ataukah perlu diciptakan tingkatan-tingkatan untuk mengategorikan ragam bentuk hubungan? Not Friends yang jadi perwakilan Thailand di Academy Awards 2024 coba memecahkan tanda tanya tersebut, dengan cara menyoroti proses terbentuknya sebuah pertemanan. 

Pae (Anthony Buisseret) adalah murid baru yang memilih mengasingkan diri sendiri. Bahkan keramahan rekan sebangkunya, Joe (Pisitpol Ekaphongpisit), ia tolak mentah-mentah. Sampai terjadilah tragedi. Joe meninggal akibat tertabrak mobil. Tapi ketika tersiar kabar soal peluang diterima di universitas melalui lomba film pendek (tanpa ujian tertulis), tragedi itu berubah jadi peluang bagi Pae. 

Pae memutuskan membuat film pendek tentang Joe, dengan kedok memberi penghormatan. Bokeh (Thitiya Jirapornsilp), teman sebangku Joe semasa SMP, awalnya menolak rencana itu. Baginya Pae bukan teman sungguhan bagi Joe. 

Siapa dari keduanya yang pantas disebut "teman Joe"? Pertanyaan itu kelak bakal menemukan jawabannya, tapi tidak sebelum Pae dan Bokeh mengesampingkan perseteruan mereka, kemudian bersama-sama memproduksi film pendek mengenai Joe. 

Dari situlah Not Friends turut melempar surat cinta bagi film, atau lebih tepatnya, proses pembuatan film. Beberapa judul populer diparodikan, yang niscaya jadi hiburan tersendiri untuk pecinta film. Bukan berarti alurnya keluar jalur, sebab proses itu jadi cara naskahnya menjelaskan lahirnya pertemanan. 

Produksi yang dijalani Pae dan kawan-kawan sangat sederhana. Tapi kesederhanaan itu, yang membawa semangat "do it yourself", justru memunculkan kebersamaan yang menyatukan. Tanpa sadar mulai terjalin ikatan emosi di hati mereka, walau tadinya tak saling kenal, atau malah saling benci layaknya Pae dan Bokeh. Pertemanan memang tercipta secara alami. Tidak bisa dipaksa, mustahil dipalsukan. 

Penonton bakal mudah merasakan koneksi antar karakter berkat permainan gemilang jajaran pelakon mudanya, yang di satu sisi piawai mengolah emosi secara natural, namun di sisi lain tidak kagok melakoni deretan momen komedik absurd. Berkat performa mereka, visi Atta Hemwadee selaku sutradara sekaligus penulis naskah pun terealisasi.

Naskah buatan Hemwadee begitu imajinatif. Bukan cuma di humor yang kerap hadir dalam bentuk tak terduga, momen dramatiknya pun demikian. Diiringi musik mendayu yang efektif menusuk hati garapan Vichaya Vatanasapt, Hemwadee mampu memunculkan dampak emosi lewat hal-hal yang mungkin takkan tercetus di benak banyak sineas. 

Puncaknya tentu di adegan "Power Point" yang menghadirkan surat cinta luar biasa indah, bukan hanya bagi hubungan pertemanan atau proses produksi film, namun sesuatu yang lebih luas: kehidupan. Meski setelah itu filmnya terkesan terlalu lama mengakhiri penceritaan akibat keharusan "menjawab" twist besar di pertengahan durasi yang sejatinya tidak diperlukan, momen itu tetap tak kehilangan dampaknya.

Jadi siapakah sebenarnya "teman" itu? Rasanya tidak keliru bila mengartikannya sebagai seseorang yang jadi tempat kita berbagi. Berbagi rasa, berbagi cerita, berbagi rahasia, dan tentunya berbagi kehidupan. 

REVIEW - HOME FOR RENT

Home for Rent berpotensi jadi sajian horor soal aliran sesat yang spesial. Ketika tema serupa cenderung memotret si penganut sebagai sosok gila yang kehilangan akal sehat, rilisan terbaru GDH ini melihatnya dari sudut pandang berbeda. Andai saja naskah yang ditulis sang sutradara, Sophon Sakdaphisit (Coming Soon, Laddaland, The Swimmers), bersama Tanida Hantaweewatana (Bad Genius), tahu cara mengontrol diri dalam urusan melempar twist. 

Seperti judulnya, pasutri Ning (Nittha Jirayungyurn) dan Kwin (Sukollawat Kanarot) memutuskan menyewakan rumah mereka, untuk kemudian tinggal di sebuah apartemen bersama sang puteri, Ing (Thanyaphat Mayuraleela). Penyewanya adalah seorang dokter bernama Ratree (Penpak Sirikul). Tentu ia bukan dokter sungguhan, dan filmnya tak memaksa kita berpura-pura bodoh dengan menyembunyikan fakta itu terlalu lama. 

Home for Rent bergerak cepat. Ratree terungkap sebagai pemimpin sebuah kultus, sedangkan Kwin merupakan salah satu pengikutnya. Ning mendapati sang suami melakukan ritual aneh tiap pukul 4 dinihari, dan sejak itu ia pun kerap mendapati gangguan mistis. 

Mayoritas terornya berkutat di penampakan hantu berwujud anak perempuan, yang sayangnya, dieksekusi secara murahan oleh Sophon Sakdaphisit. Trik medioker (baca: hantu setor muka) hingga gebrakan efek suara berisik masih jadi andalan. 

Satu poin penyelamat berasal dari iringan musik gubahan Vichaya Vatanasapt (One Day, Bad Genius, Friend Zone), yang muncul dengan beragam bunyi-bunyian janggal nan creepy, termasuk lantunan mantra milik aliran sesatnya. Sebuah pencapaian di bidang audio yang gagal ditandingi departemen visual. 

Home for Rent sejatinya memunculkan harapan akan perbaikan kualitas, tatkala kompilasi jumpscare sejenak dikesampingkan untuk memberi ruang pada cerita. Bukan lewat cara yang "cantik", karena Home for Rent menerapkan gaya narasi yang menggantungkan seluruh pengungkapan fakta melalui flashback. 

Paruh keduanya praktis didominasi flashback dari berbagai masa. Setidaknya di titik itu ia mau bercerita. Tiap cerita menyibak fakta baru mengenai tokoh-tokohnya, tiap fakta membawa kejutan. Di situlah perspektif segar Home for Rent timbul ke permukaan. Kegilaan karakter serta tindakan di luar nalarnya diposisikan selaku wujud coping manusiawi atas suatu tragedi. Bukan cuma dijustifikasi, keputusan mereka pun memancing simpati.

Muncul pula subteks mengenai "rumah" di konklusi. Bagaimana rumah (tidak melulu berupa bangunan) bisa jadi hanya persinggahan sementara, atau justru tempat menetap selamanya. Ada kalanya rumah itu dimiliki, ada kalanya sebatas sewaan. Tapi yang mana pun, pada akhirnya kita mesti beradaptasi, lalu belajar mencintai rumah yang jadi tempat kita berteduh itu. 

Kalau saja Home for Rent menutup penceritaannya beberapa menit lebih awal. Sayangnya tidak. Tatkala naskahnya berambisi terus mengejutkan penonton menggunakan barisan kejutan tanpa akhir, filmnya pun terlempar keluar jalur, terjebak dalam kerumitan-kerumitan tak perlu yang memangkas dampak emosinya. Hanya ada twist, twist, dan twist.

REVIEW - YOU & ME & ME

Kehebohan Y2K, pula ramalan Nostradamus soal datangnya "Raja Teror" dari langit yang menghasilkan banyak interpretasi termasuk tabrakan asteroid, membuat tahun 1999 dipenuhi ketakutan akan kiamat. Tapi bagi dua protagonis You & Me & Me, bukan asteroid maupun gangguan sistem komputer yang berpotensi mengakhiri dunia mereka, melainkan konflik pemutus ikatan dua saudara.

You dan Me bukan saudara kandung biasa. Mereka kembar identik (Sama-sama diperankan oleh Thitiya Jirapornsilp). Orang-orang pun sukar membedakan keduanya, sebab satu-satunya perbedaan signifikan hanya tahi lalat di pipi You. Sehingga, You dan Me kerap iseng dengan bertukar identitas. Termasuk di sebuah remedi ujian matematika, di mana Me berpura-pura menjadi You, kemudian berkenalan dengan Mark (Anthony Buisseret) si siswa blasteran. 

Ketika liburan sekolah, You dan Me dibawa oleh sang ibu (Supaksorn Chaimongkol) ke rumah nenek (Karuna Looktumthong) di desa, meninggalkan sang ayah (Natee Ngamnaewporm) sendirian. Bukan liburan biasa, sebab saat itu orang tua mereka tengah cekcok dan kemungkinan besar bakal bercerai. Di tengah kekalutan tersebut, Mark yang rupanya juga pindah ke desa itu, memasuki kehidupan si kembar. 

Sekilas, konflik mengenai hadirnya pria yang diperebutkan dua protagonis wanita sampai merusak hubungan mereka mungkin terdengar klise. Baru seminggu lalu kita menemui pola serupa di Soulmate. Tapi Wanweaw Hongvivatana dan Weawwan Hongvivatana selaku sutradara sekaligus penulis naskah, yang kebetulan juga saudara kembar, memang bukan berniat merombak formula. Fokusnya adalah memaksimalkan tiap elemen dalam formula tersebut. 

Baik di penulisan dan pengadeganan, keintiman sederhana diutamakan. Alih-alih kekonyolan over-the-top, komedinya cenderung natural, diisi kelucuan-kelucuan yang bisa terjadi di realita. Dramanya pun sama. Salah satu momen terhangat muncul sewaktu You dan Me mengunjungi pasar malam yang telah tutup. Saya takkan membocorkan detail peristiwanya, tapi momen itu berlangsung indah berkat sorotan terhadap kuatnya ikatan batin saudara kembar. Saking kuatnya, mereka seolah dapat berbagi kenangan. 

Menyaksikan interaksi You dan Me, wajar bila ada penonton yang mengira mereka diperankan oleh aktris kembar sungguhan. Thitiya Jirapornsilp tampak meyakinkan memainkan dua karakter yang punya kepribadian tidak sama persis meski kembar identik. Kombinasi efek split frame serta body double yang filmnya pakai pun berjalan mulus. Sekali lagi, You & Me & Me mengedepankan kesan natural, dan kualitas efek serta akting si pemain membantu tercapainya tujuan tersebut. 

Di fase konklusi, Wanweaw dan Weawwan menawarkan perspektif menyentuh tentang "kehilangan" yang akan meruntuhkan tembok emosi setebal apa pun. Tatkala masyarakat dunia dihebohkan oleh isu kiamat, You dan Me tidak ambil pusing. Bukan akhir semesta yang paling mereka khawatirkan. Menjadi percuma ketika kiamat urung terjadi saat "dunia" mereka sendiri hancur. Apa artinya kehidupan di dunia jika harus dijalani tanpa orang-orang tercinta?

REVIEW - OMG! OH MY GIRL

"The Classic (2003) jahat pada karakternya", canda film ini di salah satu adegan. Di OMG! Oh My Girl memang tidak ada wanita yang dijodohkan atau pria yang kehilangan penglihatan di medan perang, namun Tuhan dalam semestanya pun tak kalah kejam soal mempermainkan suratan takdir. Setidaknya begitu menurut Guy (Wongravee Nateetorn). 

Guy diam-diam menyukai teman sekampusnya, June (Plearnpichaya Komalarajun), tapi tidak berhasil memacarinya. Bukan karena Guy tak tahu cara mendapatkan hati wanita. Sebaliknya, ia cukup jago. Bahkan berkat saran dari Guy, Phing (Michael Pugh) bisa berpacaran dengan si pujaan hati. Masalahnya, tanpa Guy tahu, pujaan hati Phing adalah June. 

Di satu titik, Guy sempat memacari gadis lain, tapi cintanya pada June menolak surut. Ketika June kerap terluka dalam hubungannya yang putus-nyambung, Guy selalu hadir sebagai tempat bersandar. Walau demikian, takdir Tuhan seolah enggan berpihak. Setiap Guy merasa telah maju satu langkah untuk merebut hati June, muncul peristiwa yang membuatnya mundur dua langkah. 

Misal selepas sebuah malam romantis di tengah banjir, June yang sudah bukan lagi kekasih Phing justru jatuh ke pelukan pria baru bernama Pete (Pachara Chirathivat). Takdir bak mempermainkan hati Guy, dan itu berlangsung dalam hitungan tahun. Tapi benarkah demikian? Benarkah semua bentuk kekejaman takdir Tuhan, atau sebaliknya, murni kesalahan Guy? 

Oh My Girl mengusung pendekatan khas komedi romantis Thailand melalui sentuhan humor konyol dengan wujud serta timing tak terduga. Siapa sangka filmnya bisa mengocok perut selama bermenit-menit hanya lewat satu kata: kentut. 

Tapi tawa yang dihasilkan bukan tawa biasa. Sebagaimana deretan komedi romantis terbaik Thailand, Oh My Girl paham betul bahwa tiada romansa tanpa tawa. Dimotori chemistry Wongravee Nateetorn dan Plearnpichaya Komalarajun, dua karakternya bertingkah konyol di hadapan satu sama lain. Bukan kekonyolan kosong, melainkan paparan tentang keterbukaan, tentang kejujuran, tentang bagaimana individu bebas menanggalkan topeng saat bersama cintanya. Cinta yang tak memedulikan kepalsuan citra. 

Pengarahan Thitipong Kerdtongtawee yang di sini melakoni debut sebagai sutradara pun mampu menyeimbangkan dua sisi filmnya: momen-momen romantis yang magis meski sebatas menampilkan peristiwa sederhana seperti tarian muda-mudi yang merasa dunia milik berdua, dengan komedi over-the-top

Walau mulai goyah begitu alurnya memasuki paruh kedua yang mengambil latar 1001 hari pasca timeskip, pun durasi 124 menit sejatinya dapat dipangkas guna menguatkan efektivitas penuturan, naskah buatan sang sutradara bersama Thanaram Prameboon masih menyimpan amunisi lain. Sewaktu kegilaan tokoh-tokohnya sedikit memudar seiring pendewasaan usia, Oh My Girl menyodorkan kekuatan lain melalui perspektifnya soal kompleksitas hubungan percintaan. 

Cinta segitiga Guy-June-Pete tidak seklise kelihatannya. Pete bukan pria berperangai buruk yang membuat penonton dengan gampang berpihak pada Guy. Saya bisa membayangkan bahwa di semesta lain, posisi kedua pria ini ditukar, di mana Pete menjadi protagonis yang juga mengutuk keusilan suratan takdir. Tapi sekali lagi, benarkah takdir patut disalahkan? Ataukah seperti namanya, Guy merupakan cerminan kebodohan para pria dalam asmara yang senantiasa ragu "bergerak", dan sekalinya mengambil langkah, gerakan itu penuh kecerobohan yang mengacaukan segalanya? 

REVIEW - THE MEDIUM

The Medium mengerikan bukan karena jump scare, adegan kesurupan, penampakan, maupun hal-hal lain yang bisa dilihat mata. The Medium mengerikan karena rasa tidak berdaya yang timbul. Bahwa kita, manusia, sangat lemah dan rapuh. Apalagi kala keimanan mulai runtuh. 

Disutradarai oleh Banjong Pisanthanakun, serta ditulis naskahnya oleh Na Hong-jin (sutradara The Chaser, The Yellow Sea, The Wailing, juga selaku produser) dan Chantavit Dhanasevi (penulis naskah film-film Banjong sejak Phobia), The Medium mengambil format mockumentary, di mana sekelompok pembuat dokumenter tengah menyusun cerita mengenai praktik perdukunan di Thailand.

Mereka merekam keseharian Nim (Sawanee Utoomma), dukun dari Isan, yang tubuhnya dirasuki arwah bernama Bayan, memberinya berbagai kemampuan, termasuk pengobatan. Nim adalah figur menarik. Dia tidak eksentrik layaknya karikatur dukun di media fiksi, pembawaannya santai, namun tampak kokoh. Ditambah akting natural sang aktris, sosoknya believable. "Kalau pasien kanker mendatangiku...dia pasti mati", candanya sembari menyarankan agar berobat ke dokter bila menderita "penyakit normal". 

Tim turut mengikuti Nim saat ia menghadiri pemakaman suami kakaknya, Noi (Sirani Yankittikan), dan dari situlah keanehan mulai terekam kamera. Keanehan itu menyangkut Ming (Narilya Gulmongkolpech), puteri Noi, yang belakangan emosinya kerap meledak-ledak, berbicara sendiri, pula bersikap bagai bocah. Menyusul berikutnya adalah investigasi Nim yang takkan saya ungkap detailnya.

The Medium bergerak cukup lambat. Jangan harap langsung disuguhi teror mencekam, sebab hingga pertengahan durasi, kisahnya lebih dekat ke drama supernatural ketimbang murni horor. Sekilas terdengar seperti pendekatan mockumentary kebanyakan, yang tampil minimalis di awal sebelum melempar segalanya di akhir. Tapi The Medium melakukannya bukan untuk berhemat, melainkan sebagai cara memaparkan proses.

Proses apa? Banyak. Baik itu "tahapan kesurupan" Ming, maupun gejolak batin tokohnya, yang mengalami krisis keimanan. Apakah Tuhan atau Dewa memang ada? Jika ada, apakah memanjatkan doa kepada-Nya pasti bakal menolong kita? Jika tidak ada, kepada siapa kita mesti memohon pertolongan? Karakternya dihantui entitas misterius (roh jahat), sambil menggantungkan harapan pada entitas yang eksistensinya tak kalah abu-abu (Tuhan/Dewa). Ketidakpastian itulah yang menakutkan. 

The Medium membekali diri dengan cerita kuat serta misteri menarik. Daripada takut, saya lebih ingin dibuat "tahu". Ditambah, naskahnya piawai menyusun dinamika. Rasanya tak berlebihan menyebutnya sebagai salah satu mockumentary terbaik dalam hal pembangunan intensitas. Film ini ibarat tangga yang membawa penonton selangkah demi selangkah terus naik ke atas. Sekali lagi, proses.

Pelan tapi pasti, kuantitas teror bertambah. Dari kondisi aneh Ming, lalu mulai melibatkan pemandangan disturbing seperti animal abuse, child abuse, baru akhirnya habis-habisan di klimaks. Menjelang babak akhir, The Medium sempat memakai format ala Paranormal Activity, di mana Banjong membuktikan kapasitasnya merangkai situasi mencekam. Bahkan lebih mencekam ketimbang third act-nya, yang selain bergulir agak terlalu lama sehingga mengurangi efek kejut, pun cenderung generik dibanding bagian-bagian lainnya (meski totalitas Narilya patut mendapat pujian). 

Mari kembali membicarakan proses. Benar bahwa The Medium tetap punya momen-momen horor konvensional, namun kengerian terbesar datang dari komparasi yang muncul antara awal dan akhir. Mengenai kehancuran sesuatu yang tadinya nampak kokoh akibat dikuasai ketidakpastian, yang kemudian melahirkan ketidakberdayaan. 

REVIEW - THE CON-HEARTIST

Dibuat oleh duo penulis yang sama, Pattaranad Bhiboonsawade dan Thodsapon Thiptinnakorn (nama kedua juga menulis naskah SuckSeed, May Who?, dan Homestay), dalam The Con-Heartist mengalir DNA yang sama seperti Friend Zone (2019). Sebuah komedi romantis, di mana Pimchanok Luevisadpaibul alias Baifern, memerankan wanita cantik dengan tingkah yang (for lack of a better term) "kurang cantik". Tapi di situlah formula kunci merebut hati penonton.

Baifern memerankan Ina, yang melalui vlog bertajuk "Ina's Review", memberi tips bertahan hidup dengan kondisi finansial serba kekurangan. Dari mengambil tisu toilet kantor, cara menghemat bedak, sampai mengatur persediaan pisang berdasarkan warna, semua ditunjukkan oleh gadis yang 80% dari penghasilannya dipakai membayar cicilan dan hutang ini. Naskahnya menyediakan deretan skenario konyol, sutradara Mez Tharatorn (ATM: Er Rak Error, I Fine...Thank You Love You) piawai mengemas humor visual, namun tanpa totalitas Baifern "mempermalukan diri sendiri", opening-nya takkan seefektif itu menggaet perhatian penonton pada Ina.

Tidak hanya penonton, seorang penipu bernama Tower (Nadech Kugimiya) pun tertarik padanya. Bukan tertarik dalam konteks jatuh cinta (well, belum), melainkan tertarik melancarkan tipu daya, guna menguras isi tabungan Ina. Beruntung, berbekal pengalaman sebagai mantan pegawai bank, Ina mampu menggagalkan rencana Tower, bahkan memanfaatkannya untuk balas dendam. Target Ina tak lain adalah mantan pacarnya, Petch (Thiti Mahayotaruk).

Rupanya keuangan Ina yang kembang kempis diakibatkan perbuatan Petch, yang menipunya. Petch adalah tipe lintah, yang hidup dari hasil menguras tabungan wanita kaya yang berusia lebih tua. Bersama Tower, Ina berniat balas menipu Petch. Turut serta dalam rencana mereka adalah Nongnuch (Kathaleeya McIntosh), mantan guru Ina yang tengah kesulitan uang, dan Jone (Pongsatorn Jongwilak), kakak Tower yang juga seorang penipu ulung. Tentu pada akhirnya, benih asmara tumbuh di antara Ina dan Tower.

Sayangnya naskah The Con-Heartist kurang maksimal perihal membagi fokus tiga cabang penceritaan: aksi penipuan, romansa, pergolakan hati Ina. Elemen romansanya jadi korban. Kita hampir tidak disuguhi momen-momen intim nan manis, yang memperlihatkan bagaimana hubungan kedua tokoh utama berkembang secara bertahap. Kalau bukan berkat pesona individual Baifern dan Kugimiya, serta chemistry solid mereka, bakal sulit mempercayai percintaan karakternya.

Mengenai konflik batin Ina pun, di mana ia rendah diri akibat menganggap dirinya bodoh, tak mendapat eksplorasi memadai. Bedanya, kekurangan tersebut dibayar lunas oleh adegan "menusuk", yang dengan cerdik mengubah dampak Ina's Review, dari tempat bagi kita menertawakan kebodohan Ina, menjadi media penarik simpati. Andai dieksplorasi lebih lanjut, akan tampak bahwa The Con-Heartist sejatinya bukan sekadar cerita tentang "membalas perbuatan mantan", melainkan perjalanan seorang wanita menemukan nilai dirinya lagi, pasca mempertanyakan itu akibat kejahatan pria. 

Terkait aksi tipu-menipunya, biarpun filmnya kurang cermat dalam menjabarkan rencana karakternya sehingga acap kali terdengar lebih rumit dari semestinya, mampu memberikan hiburan tingkat tinggi. Kemampuan humor-humornya memancing tawa, melalui gaya absurd khas komedi Thailand (khususnya GDH) tak perlu diragukan lagi. Terpenting, walau sarat kekonyolan, The Con-Heartist berhasil menjadikan tiap rintangan yang karakternya alami di tengah aksi, sekecil apa pun itu, sebagai sumber ketegangan. 

REVIEW - HAPPY OLD YEAR

Sebuah kantor bernuansa minimalis terlihat. Warna putih mendominasi, dan cuma berisi segelintir perabotan. Sang pemilik, Jean (Chutimon Chuengcharoensukying), menjelaskan bahwa kantor itu dahulu merupakan rumahnya. "Sama seperti filosofi Budha, desain minimalis adalah soal merelakan", ucapnya. Kemudian Happy Old Year, yang merupakan perwakilan Thailand di ajang Academy Awards 2021, memakai 113 menit durasinya guna memperlihatkan perjalanan Jean sebelum melakukan renovasi, menjabarkan perbedaan antara "letting go" dan "throwing away".

Obsesi Jean terhadap minimalisme terinspirasi dari pengalamannya selama tiga tahun di Swedia. Pula bukan kejutan saat Marie Kondo adalah salah satu panutan protagonis kita. Rencananya, Jean akan merombak lantai bawah rumah, membuang semua barang, sementara sang adik, Jay (Thirawat Ngosawang), bersama ibu mereka (Apasiri Chantrasmi) tinggal di lantai atas. Walau niatan tersebut ditentang ibunya (khususnya sewaktu Jean ingin membuat piano milik ayahnya), Jean tidak gentar. Semua dibuang begitu saja, tanpa peduli apakah suatu benda menyimpan kenangan. Apa perlunya memiliki buku kalau sudah ada e-book? Kenapa mendengarkan musik lewat CD jika layanan musik digital mudah diakses? Demikian prinsip Jean.

Naskah buatan sutradara Nawapol Thamrongrattanarit (Heart Attack) membagi kisah dalam enam babak, yang masing-masing dibuka dengan title card bertuliskan beberapa tajuk seperti "Don't Reminiscing the Past" atau "Don't Feel Too Much". Tentu elemen ini sebatas pernak-pernik yang takkan mempengaruhi kualitas penceritaan. Disertai tempo lampat, ditambah lagi first act yang berlangsung agak terlalu lama, butuh waktu bagi Happy Old Year untuk benar-benar mencengkeram, sebagaimana Jean, yang butuh waktu hingga menyadari kalau ia tidak saja membuang barang bekas, juga orang-orang di sekitarnya. 

Kesadaran itu mengubah pola pikir Jean, yang menuntunnya bertemu lagi dengan Aim (Sunny Suwanmethanont), sang mantan kekasih yang ia tinggalkan tanpa kabar selepas kepergian menuju Swedia. Reuni keduanya adalah titik balik dinamika emosi film ini. Chutimon (yang popularitasnya melambung pasca kesuksesan Bad Genius) menuangkan perasaan bersalah karakternya secara emosional, sementara Sunny melengkapi momen yang bakal mengaduk-aduk perasaan penonton itu dengan senyuman hangat. 

Jean pun sadar, banyak hal yang ia sukai hingga sekarang, berasal dari Aim. Dari situlah Happy Old Year menuturkan pesan soal kenangan, yang tersaji emosional berkat sensitivitas Nawapol. Serupa prinsip minalis tokoh utamanya, sang sutradara tidak memerlukan banyak sentuhan besar. Musik cuma terdengar kala diperlukan, dan acap kali keintiman justru diperkuat oleh keheningan, atau suara "natural", seperti saat semilir angin yang menembus dedaunan pohon mengiringi reuni Jean dan Aim. 

Sebagai sutradara sekaligus penulis, Nawapol jeli memilih gambar apa yang mesti ditangkap kamera, juga kalimat yang paling tepat menggambarkan emosi yang hendak dimunculkan suatu momen. Bahkan hanya berbekal sebuah foto yang memenuhi layar, filmnya sanggup memancing rasa haru. "Seemed like ordinary photo, but it's priceless", ucap salah satu karakter. Karena begitulah memori. Kita akan beranjak meninggalkannya, melanjutkan hidup (move on) di tempat lain, bersama orang-orang berbeda, namun jejaknya takkan hilang, pun tidak harus berusaha kita musnahkan.

Tapi ada satu pengecualian, yang hadir apabila kenangan itu terus menyakiti, bahkan menghancurkan pemiliknya. Persoalan itu diwakili oleh subplot mengenai keluarga Jean, yang sayangnya tidak digali secara mumpuni, sehingga tak memberi dampak emosional sebagaimana mestinya, biarpun dalam shot penutup, Chutimon sudah mengerahkan segalanya guna mencabik-cabik hati penonton.

THE MAID (2020)

Siapa bilang horor Thailand selalu superior dibanding Indonesia? The Maid mengingatkan saya terhadap judul-judul dalam negeri produksi Hitmaker Studios, khususnya garapan Rocky Soraya. Mulai dari bentuk “horor supernatural formulaik di paruh pertama, slasher berdarah di paruh kedua” hingga pilihan twist, tampak serupa. Bahkan saya bisa membayangkan posisi aktris utama yang diduduki Ploy Sornarin diserahkan ke Jessica Mila.

Paragraf di atas tentu bukan tuduhan plagiasi (formula tersebut bukan eksklusif milik Rocky), melainkan sedikit sentilan terhadap anggapan, “Horor Thailand pasti bagus! Beda sama Indonesia!”. Sungguh keliru. Nyatanya, menonton The Maid pun bisa menghadirkan dampak tidak jauh beda dengan horor lokal medioker, termasuk soal jump scare yang membahayakan gendang telinga.

Alkisah, sudah berkali-kali pasangan suami-istri Nirach (Theerapat Sajakul) dan Uma (Savika Chaiyadej) kehilangan pembantu, yang memilih keluar akibat tidak kuat menghadapi teror boneka monyet milik puteri mereka, Nid (Keetapat Pongrue), yang tiap malam berubah jadi siluman (?). Sebelum anda menanyakan rahasia di balik boneka itu, saya sampaikan lebih dulu, bahwa The Maid takkan menjawab pertanyaan itu. Karena nantinya, sumber teror beralih ke sosok hantu wanita.

Protagonis kita, Joy (Ploy Sornarin) merupakan pembantu baru di sana. Dan seiring kedatangan Joy, kita dibawa mempelajari, seberapa kaya dan disfungsional keluarga ini. Sangat disfungional. Nirach dan Uma bak orang asing yang tinggal bersama, di mana Uma menganggap suaminya adalah pecundang, yang cuma bergantung pada bantuan serta harta ayah istrinya. Sedangkan Nid yang masih bocah, selalu dikurung dalam kamar, dianggap mengalami gangguan jiwa karena sering mengaku melihat hantu.

Tapi tenang, mereka sangat kaya. Alih-alih kamar kecil di sudut belakang rumah, sebagai pembantu, Joy diberikan sebuah pondok besar di seberang rumah utama. Tengok juga bagaimana dandanan Uma. Biarpun lebih banyak duduk bak permaisuri di sofa empuknya, ia tak pernah absen mengenakan baju glamor layaknya hendak mendatangi pesta. Mungkin sutradara Lee Thongkham bersama penulis naskahnya, Piyaluk Tuntisrisakul, berniat menciptakan kesan empowering berupa gambaran wanita yang selalu tampak cantik nan berkharisma untuk dirinya sendiri, namun presentasinya berlebihan, cenderung cartoonish dan menggelikan.

Kemudian, alurnya— yang tanpa alasan jelas dibagi menjadi beberapa chapter —mengetengahkan teror yang menimpa Joy. Seperti telah disebutkan, kali ini gangguan bukan berasal dari siluman monyet, tapi hantu pembantu wanita. Desain si hantu tidak buruk. Dengan kulit hitam seperti hangus terbakar ditambah senyum menyeringai, ia nampak creepy di beberapa kemunculan awal, yang cuma mengharuskan si hantu berdiri diam di sudut gelap ruangan. Sampai penampakan terus diulang, yang semakin lama semakin berisik. Segelintir jump scare cukup efektif memacu jantung, tapi mayoritas hanya gempuran suara berisik yang tak memedulikan timing.

Setidaknya, The Maid enggan sepenuhnya bergantung kepada jump scare, masih meluangkan usaha merangkai misteri selaku pondasi, meski twist pertama (mengenai identitas si hantu) sudah bisa tercium sedari awal. Barulah begitu twist kedua muncul, filmnya banting setir ke arah suguhan slasher/revenge flick. Sebenarnya bukan kejutan berkualitas. Kesan tiba-tiba kental terasa, pun tanpa transisi mulus, sehingga paruh pertama dan kedua film ini seperti dua film berbeda yang dipaksa menyatu.

Tapi paruh kedua The Maid jauh lebih menyenangkan. Di sinilah Lee Thongkham menanggalkan keseriusan, mengajak penonton bersenang-senang lewat banjir darah, bahkan menjadikan lagu konyol Ngad Thang Ngad (di sini mungkin lebih dikenal sebagai lagu “ngatengat tengat tengat”) yang sempat viral tahun lalu sebagai latar adegan pembantaian. Tentu saja banyak slasher di luar sana yang metode pembunuhannya lebih kreatif sekaligus lebih berdarah-darah, tapi setelah paruh pertama yang demikian buruk, paling tidak The Maid ditutup secara menyenangkan.


Available on NETFLIX

CLASSIC AGAIN (2020)

Sebagai remake, Classic Again tak memberi warna baru, apalagi mengobrak-abrik pondasi yang disusun oleh The Classic (2003), yang menampilkan Son Ye-jin, Jo In-sung, dan Cho Seung-woo di jajaran pemeran utamanya. Hal itu menciptakan dua sisi. Pertama, value film ini jelas tak setinggi pendahulunya. The Classic (kemudian diteruskan oleh A Moment to Remember) merupakan pionir gelombang melodrama Korea Selatan, sedangkan Classic Again muncul 17 tahun kemudian tatkala formula serupa entah sudah berapa kali kita saksikan.

Sisi kedua (sisi yang lebih positif), adalah, lewat kesetiaannya mengadaptasi, debut penyutradaraan Thatchaphong Suphasri ini mampu menghadirkan nostalgia bagi penggemar. Classic Again memahami momen-momen ikonik film aslinya, guna melakukan reka ulang dengan baik. Ketika dua tokoh utamanya berlari di bawah hujan dengan hanya sebuah jaket melindungi kepala mereka, sambil diiringi lagu One Memory (versi Thailand dari Me to You, You to Me), anda akan tersenyum merenungi masa-masa indah cinta pertama dahulu.

Ranchrawee Uakoolwarawat melanjutkan jejak Son Ye-jin memerankan dua karakter, Bota dan ibunya, Dala, di mana kisah cinta keduanya saling bersinggungan meski terpisah puluhan tahun, seolah menegaskan ungkapan “love will find a way”. Tinggal sendirian di Thailand sementara sang ibu berada di Korea (salah satu reference terhadap The Classic selain kemunculan posternya), Bota kerap menenggelamkan diri membaca surat-surat cinta ibunya. Lalu kisahnya bergerak maju-mundur, sesekali melempar kita ke masa sekitar lima dekade lalu, ketika romansa Dalah dan Kajorn (Thitipoom Techaapaikhun) berlangsung.

Bota menuangkan surat-surat tersebut ke dalam naskah pertunjukan teater, di mana Non (Sutthirak Subvijitra) menjadi pemeran utama pria. Bota diam-diam menyukai Non, tapi sebagaimana Dalah yang telah dijodohkan dengan sahabat Kajorn, Tanil (Samitpong Sakulponghcai), Bota pun mengalami dilema, sebab sahabatnya juga menyukai Non, bahkan menjadi pemeran utama wanita di pertunjukan tersebut. Menyusul selanjutnya adalah perjalanan yang menunjukkan betapa takdir bergerak secara misterius dalam campur tangannya pada pertemuan dua hati, yang penuh kejutan.

Classic Again begitu setia kepada film aslinya sampai anda bisa membuat checklist berisi adegan-adegan penting mana saja yang disertakan lagi. Dan checklist itu bakal terisi penuh. Sayangnya, sesekali proses memenuhi checklist itu menjadikan filmnya seolah hanya menjalankan kewajiban ketimbang menyajikan rangkaian cerita organik. Alhasil pergerakannya kerap buru-buru (walau seperti The Classic, permainan temponya cenderung lambat bila dibandingkan banyak romansa modern), dan beberapa momen signifikan berlalu begitu saja tanpa kesan berarti. Contohnya sebuah keputusan mencengangkan dari salah satu karakter, yang semestinya berperan penting dalam pengambilan keputusan protagonis, lalu menciptakan titik balik dalam kisahnya.

Tapi kelemahan di atas tak serta-merta menjadikan Classic Again sebuah remake inferior, khususnya saat ada poin-poin yang dipresentasikan lebih baik daripada pendahulunya. Sebutlah penokohan Tanil. Tidak seperti Tae-soo di The Classic yang begitu konyol sehingga kurang seimbang sebagai pesaing cinta Joon-ha, Tanil lebih dekat ke sosok remaja bengal, tanpa menanggalkan unsur tindak kekerasan yang ia terima dari sang ayah.

Memasuki babak akhir, Classic Again pun unggul perihal melahirkan paralel, dengan menampilkan potongan-potongan peristiwa serupa antara dua kisah cinta beda zamannya, yang membuat dampak emosinya semakin kuat, walau soal melukiskan romantisme menyentuh dalam seuatu momen, Thatchaphong Suphasri belum selihai Kwak Jae-yong (sutradara The Classic). Terkait latar waktu, tidak ada masalah dalam pemindahan lokasi dari Korea Selatan ke Thailand. Selain terlibat aktif di Perang Vietnam, tahun 70an pun sama-sama merupakan masa penuh kemelut bagi kedua negara, ketika deretan pergerakan serta demonstrasi kerap terjadi.

Di jajaran pemain, Ranchrawee Uakoolwarawat melakoni debut layar lebar yang takkan mengejutkan bila berujung melambungkan status kebintangannya. Sang aktris memerankan dua figur ibu-anak yang serupa tapi tak sama. Dalah maupun Bota tidak banyak bicara, tapi tutur kata dan perilaku sang ibu lebih tertata, sedangkan puterinya cenderung akrab dengan kecanggungan.


Available on NETFLIX

CUTIES & THE FAKE (2019)

Kata “tootsie” dipakai di Thailand untuk menyebut pria gay yang campy, dengan gaya maupun perilaku heboh, berlebihan, dan mungkin dianggap norak oleh banyak orang. Cuties & The Fake (punya judul asli Tootsies & The Fake) ibarat perayaan bagi para tootsies, menjadikan mereka sebagai sosok-sosok lucu tanpa harus mengolok-olok secara ofensif. Mereka campy, tapi ke-campy-an itu cukup menyenangkan pula berwarna, sama berwarnanya dengan dandanan tokoh-tokohnya.

Kisahnya menyoroti persahabatan tiga gay, Gus (Petch Paopetch Charoensook), Golf (Pingpong Thongchai Thongkanthom), dan Kim (Ter Ratthanant Janyajirawong); plus lesbian bernama Natty (Peak Pattarasaya Kreursuwansiri). Mengadaptasi serial televisi populer berjudul Diary of Tootsies yang berlangsung selama dua musim, filmnya menganggap semua penonton sudah menyaksikan serialnya, saat meniadakan penjelasan terhadap beberapa latar belakang konflik serta hubungan antar karakter.

Tanpa membaca informasi di internet, penonton awam mungkin takkan tahu bahwa Natty seorang lesbian. Padahal fakta tersebut berguna memperumit kondisi ketika sang ibu (Dee Chanana Nutakom), yang lebih mencintai kucing ketimbang puterinya, menolak membagi warisan bila Natty tidak segera punya anak. Begitu pula mantan pacar Golf yang memilih jadi biksu, atau terciptanya dilema cinta segitiga sewaktu Gus, yang kini tinggal bersama kekasihnya, bereuni dengan sang mantan, Top (JJ Kritsanapoom Pibulsonggram).

Beberapa memang sebatas sempilan, namun tidak sedikit pula yang berakhir melemahkan kualitas narasi. Apalagi naskahnya memang kurang baik perihal mengembangkan konflik yang mempunyai banyak cabang. Praktis, amunisi Cuties & The Fake tinggal menyisakan komedi yang berasal dari rentetan kekacauan absurd setelah pertemuan Golf dengan selebritis idolanya, Cathy (Araya A. Hargate).

Seabsurd apa? Simak deskripsi berikut: Suatu hari, Golf, yang beprofesi sebagai make-up artist, sedang bekerja. Kim turut serta setelah dipecat dari pekerjaan sebagai pramugara, akibat insiden di pesawat yang tidak akan saya ungkap demi menjaga elemen kejutan dan kelucuan. Di situlah Golf bertemu Cathy. Gugup, tubuhnya pun bercucuran keringat (“orang gemuk banyak berkeringat” merupakan salah satu running joke film ini). Ketika Golf jatuh dari kursi yang remuk akibat tak kuat menopang bobotnya, Cathy berusaha membantu, tapi justru terpeleset gara-gara tangan Golf licin oleh keringat. Berkat kebiasan berlatih yoga, Cathy bisa kayang untuk menopang tubuhnya. Malang, saat hendak berdiri, kepala Cathy malah terbentur hidung Kim yang mengeras karena terlalu sering suntik silikon. Cathy pun koma.

Akibat terancam gagal memenuhi kontrak mengisi suatu acara, Cathy berpotensi dituntut oleh pihak penyelenggara. Sampai muncul ide dari otak gila Golf dan Kim, untuk mencari “kembaran” sang bintang. Caranya? Mendatangi satu per satu wanita yang pernah mengoperasi wajah mereka agar mirip Cathy. Dari beberapa kandidat, terpilih Nam, seorang penjual nasi goreng pinggir jalan.

Masalahnya, kepribadian Nam dan Cathy amat berlawanan. Apabila Cathy dikenal ramah dan manis bak malaikat, maka Nam cenderung kasar serta melempar sumpah serapah sesering menarik napas. Selain kelucuan, kehadiran Nam turut memberi panggung bagi Araya memamerkan dualitas akting. Gradasinya memang belum sempurna, apalagi sewaktu penampilan Nam sudah dipermak, namun menyaksikan wanita cantik satu ini melakukan hal-hal memalukan adalah hiburan tersendiri.

Film komedi tidak mengenal istilah “terlalu lucu”, tapi lain cerita dengan “terlalu berusaha lucu”. Cuties & The Fake menerapkan setumpuk gaya. Permainan kata, humor kentut, humor toilet, humor seks, humor meta, slapstick, sampai parodi terhadap Pee Mak (2013) yang dari sananya sudah berbentuk horor-komedi. Beberapa tampil datar, terlebih saat timing enggan diperhatikan, mengingat ranjau lelucon disebar hampir di tiap sudut. Tapi sewaktu menemui sasaran, tawa yang dilahirkan tidak main-main.

Di luar kekurangannya, Cuties & The Fake tetap tontonan crowd pleasure. Sutradara Kittiphak Thongauam punya energi sekaligus visi mengemas absurditas memadai, didukung totalitas jajaran pemainnya melakoni karakter-karakter bigger-than-life yang menarik…..kecuali Gus. Sang protagonis sekaligus narator selaku pemilik buku harian tempatnya menuliskan seluruh kisah film ini, justru merupakan figure paling membosankan. Konfliknya gagal dikembangkan, kontribusinya dalam momen-momen komedik emas pun tergolong minim dibanding duet maut Golf-Kim.