THE SHAPE OF WATER (2017)

18 komentar
Guillermo del Toro menyebut The Shape of Water, yang membawanya meraih Oscar untuk Best Director (pun filmnya memenangkan Best Picture), selaku ekspresi atas hal-hal yang mengisi kekhawatirannya sebagai orang dewasa khususnya soal cinta, setelah dalam 9 film sebelumnya, del Toro mengunjungi mimpi serta ketakutannya semasa kecil. Mungkin ia takut dunia mulai kehabisan cinta. The Shape of Water diawali keinginan del Toro melihat kisah cinta antar-spesies Creature from the Black Lagoon (1954) berujung bahagia, pasca niat membuat remake-nya ditolak pihak studio. Dan jelas ia menuturkan seluruh adegan dengan penuh cinta dan kelembutan.

Cinta yang dimaksud bukan cuma pada tataran romantis, pula tak hanya sesama manusia, tapi antar makhluk hidup. Elisa Esposito (Sally Hawkins) si protagonis wanita merupakan tuna wicara yang menjadi petugas kebersihan di suatu laboratorium rahasia milik pemerintah. Elisa bertetangga dengan Giles (Richard Jenkins), pelukis tua yang karirnya mentok, pula seorang gay. Menengok kondisi masing-masing, keduanya berhak merasa takut jika tidak ada lagi cinta bagi mereka. Alhasil saat Elisa bertemu “Amphibian Man” (Doug Jones) yang dikurung, disiksa, dijadikan bahan eksperimen laboratorium tempatnya bekerja, ia hanya ingin mencintai makhluk malang yang juga sedang sendirian pula ketakutan ini.
Mengambil setting waktu era 60-an kala Perang Dingin, del Toro bersama Vanessa Taylor (Hope Springs, Divergent) mendapat banyak bekal guna menyampaikan pesan melalui naskahnya. Inilah masa di mana kebencian, kecurigaan, ketakutan, segala emosi negatif memuncak. Narasi pada adegan pembuka—ketika kita dibawa menyelami “kamar bawah air” ditemani musik indah gubahan Alexandre Desplat—yang Jenkins bacakan mengandung kalimat “And the tale of love and loss, and the monster, who tried to destroy it all”. “Monster” di sini adalah Kolonel Richard Strickland (Michael Shannon) yang keji sekaligus pelaku pelecehan, kubu Amerika dan Rusia yang hendak memanfaatkan bahkan membunuh si manusia ikan, sampai pelayan cafe rasis pula homophobic.

Sejatinya isu-isu The Shape of Water masih relevan, tetapi pemakaian latar masa lalu merupakan keputusan tepat. Membawanya ke tatanan modern berpotensi memunculkan distraksi. Penonton yang makin haus akan “film kritis” bakal condong memperhatikan isu ketimbang cerita utama. Dengan begini, beragam unsur tersebut jadi sebatas subteks yang bersifat memperkaya, sementara sorotan utama tetap seputar romansa fantasi. Pun terkait latar lawasnya, musik Desplat bagai berasal dari suguhan klasik Hollywood; dreamy, kental nuansa fantasi yang memancarkan keindahan, harapan, pula imaji. Keindahan yang turut dihasilkan tim desain produksinya, termasuk dalam mengemas rumah Elisa yang seperti berasal dari dunia dark fairy tale, sesuatu yang sering jadi lahan bermain del Toro.
Saya membayangkan del Toro mengarahkan di lokasi dengan mata berbinar, tersenyum lebar, penuh aura positif. Adegan pembuka dan penutup yang puitis itu takkan bisa dihasilkan oleh pria pemurung. Tentunya ia pun dianugerahi daya kreasi plus imajinasi tinggi, yang terbukti ketika momen musikal “dadakan”mulai mengisi. Momen yang diawali serta diakhiri oleh transisi cerdik nan rapi guna mewakili isi hati Elisa, karakter yang jadi media Sally Hawkins memperlihatkan makna ketulusan dalam berakting. Hawkins memberi performa yang mampu seketika mencuri perasaan penonton hanya melalui senyuman. Sewaktu Elisa berbahagia, saya berbahagia. Sewaktu Elisa jatuh cinta, cinta itu turut menjangkiti perasaan saya.

Bagi Guillermo del Toro, cinta berbentuk seperti air. Tidak bisa didefinisikan, namun keberadaannya senantiasa mengisi ruang-ruang kosong, kemudian berubah menyesuaikan wujud ruang tersebut. Kita butuh film-film semacam The Shape of Water. Film yang selain membicarakan cinta, turut dibuat dengan cinta, tanpa melupakan pentingnya sisi estetika.

18 komentar :

Comment Page:
Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

sejauh ini saya selalu suka dengan visual del toro
film ini memanjakan penonton, mengalir seperti air
del toro adalah salah satu sutradara favorit saya dan selalu saya tonton film nya

Lucass mengatakan...

"adegan diatas itu tidak dapat dihasilkan oleh pria pemurung"
Jadi kpikiran versi gimana kalo snyder jadi sutradaranya wkwk, bisa"si Elisa juga keikut sinis layaknya superman d MOS ato BVS

Surya AS mengatakan...

Bukanya dulu uda pernah review film ini bang??

Ricky Manurung mengatakan...

Ceritanya menurut sy biasa aj mas, cm d bagian akhir yg bikin sy bingung dan me reka2 ketika kolonel Richard bilang "kamulah Tuhan"...oiyaa,,,di review sebelumnya cm dpt 3 bintang mas??

Anna B mengatakan...

Terbukti lagi nonton di laptop dengan kualitas dvdscr ama bioskop kesannya beda, Pas di bioskop filmnya berubah jadi indah banget dan bener" ngena kisah cintanya

Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

karena mas rasyid kalo film yang ditonton di bioskop akan direview panjang biasanya
mungkin dulu asumsinya filmnya ga akan rilis di bioskop indonesia

Chan Hadinata mengatakan...

Semoga three billboard dpt mukjizat ditayangin di bioskop

Rasyidharry mengatakan...

@Lucass Snyder nggak murung, karakternya yang kelewat murung haha.

@Surya yap, tapi short review, dan ngerasa perlu nulis lagi, karena reaksinya beda setelah nonton di bioskop

@Ricky kan ceritanya emang dewa yang disembah suku Amazon kan dia. Sebelumnya kasih 3.5

@Anna mau di laptop bluray 1080 pun tetep jauh. Di laptop mah biasa aja filmnya

@Chan Amin. Emang butuh mukjizat haha. Sayangnya, di jadwal xxi sampai akhir tahun fix nggak ada. Tunggu cgv/cinemaxx

Anonim mengatakan...

Setuju dengan penilaian bang Rasyid, 4,5/5 (yang sebelumnya 3,5/5) tapi menurut saya Pan's Labyrinth masih menjadi film terbaik dari seorang Guilermo del Toro.

Kalau boleh tau, Best to Worst nominations BP versi bang Rasyid? Khususnya, setelah menonton ulang Lady bird & The Shape of Water di bioskop

Rasyidharry mengatakan...

Jelas, masterpiece itu Pan's Labyrinth. Mestinya jadi nominee Best Picture gantiin The Queen.

Three Billboards > Lady Bird > The Shape of Water > Darkest Hour > Call Me by Your Name > Phantom Thread > The Post > Get Out > Dunkirk

Rayhan Ihsan Nasution mengatakan...

Gila emg nih film gacuma sangat orisinil dari segi cerita tapi teknikal unggul di banyak hal, tapi dari semua nominasi Academy Award masih megang Lady Bird sebagai film tahunan terbaik (secara pribadi). Dan setuju sih Pan's Labyrinth masih jadi masterpiece bahkan bisa kita anggap kemenangan The Shape pf Water ini untuk membayar nominasi yg hilang tempo hari tapi The Queen gabisa dibilang harus menggantikan juga 😁

Btw bakalan ngulas pengabdi setan yg jadul gak bang?

Anonim mengatakan...

Bangunan ceritanya sih klise dan ketebak banget. Tapi kejelian Del Toro memasukkan unsur2 yg relevan hingga kini (kesepian,cinta tak lazim , rasisme, homophobic, keputus asaan) membuat film ini terasa dekat dg penonton.
Belum lagi sisi artistik yg digarap sepenuh hati, membuat film ini indah sekali.

Dimas Andi Shadewo mengatakan...

Sebenarnya Shape of Water sekilas mirip versi upgrade-nya Pan's Labyrinth kalau dilihat dr karakteristik tokoh, jalan cerita dan latar belakang yg sama2 di masa perang. Opening dan endingnya pun sama2 berisikan narasi.

Overall emang Shape of Water bagus. Banyak isu sosial di dalamnya tp hebatnya film ini seakan tdk ingin pamer terhadap isu2 tsb. Karena benar seperti yg ditulis tadi, film ini ttg cinta.

agoesinema mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
agoesinema mengatakan...

Dan ternyata benar dugaan sy... si amphibian man pemerannya sama dgn Abe Sapien temannya Hellboy

Rasyidharry mengatakan...

Doug Jones sih langganan jadi makhluk aneh 😁

agoesinema mengatakan...

Btw sy nontonnya hasil donlotan, apakah di bioskop tdk kena gunting Sensor LSF coz banyak adegan 17+ nya

Rasyidharry mengatakan...

Ada beberapa tapi halus, buat yang belum nonton dari donlot pasti nggak nyadar. Cuma ada 2 bagian yang kelihatan, itu pun bukan dipotong (blok & zoom).