Tampilkan postingan dengan label Alexandre Desplat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alexandre Desplat. Tampilkan semua postingan
LITTLE WOMEN (2019)
Rasyidharry
Pada era #MeToo, apabila digarap oleh sineas lain, adaptasi layar lebar
ketujuh dari novel klasik berjudul sama karya Louisa May Alcott ini bisa jadi
lahan presentasi radikalisme SJW, di mana romantisme mungkin dihilangkan karena
dipandang melemahkan. Tapi di tangan Greta Gerwig selaku sutradara sekaligus penulis
naskah, Little Women berpesan secara
sehat, dengan menyeimbangkan idealisme perihal kritik sosial dengan kompromi
terhadap tuntutan industri. Justru keseimbangan semacam ini punya tingkat
kesulitan paling tinggi.
Protagonisnya bernama Jo March
(Saoirse Ronan), gadis muda yang berambisi meniti karir sebagai penulis.
Beberapa cerita pendeknya berhasil diterbitkan di surat kabar, hanya saja sang
editor mewajibkan agar Jo membuat tokoh utama wanitanya menikah di akhir
cerita. Apakah Jo merupakan proyeksi Gerwig sendiri, yang berjuang menghadapi
benturan idealis versus realistis sebagai seorang seniman? Mungkin baginya
melahirkan karya ibarat pernikahan, di mana gagasan romantisme ideal mesti
berkompromi dengan strategi ekonomi.
Kisahnya tersaji secara non-linear.
Latar tahun 1868 membuka filmnya. Saat itu Jo menjadi guru di New York sembari
tetap berusaha mewujudkan mimpinya menulis, mengharuskannya terpisah dari
keluarganya. Jo punya tiga saudari: Meg (Emma Watson) yang mendambakan
pernikahan dan kehidupan mapan, Beth (Eliza Scanlen) si pemalu, dan Amy (Florence
Pugh) si bungsu yang paling bersemangat. Guna membawa penonton berkenalan
dengan kepribadian masing-masing puteri keluarga March serta hubungan di antara
mereka, alurnya rutin mundur ke tahun 1861, kala keempatnya tinggal bersama
sang ibu, Marmee (Laura Dern), yang dikenal penyabar, sementara ayah mereka
pergi berjuang di Perang Sipil. Meramaikan hidup mereka adalah kedatangan
Laurie (Timothée Chalamet) si pemuda berkepribadian menyenangkan dari rumah
mewah di seberang yang hatinya terpikat oleh Jo.
Tidak semua lompatan antar masa
berjalan mulus, khususnya terkait pemilihan timing
perpindahan yang acap kali lemah dalam membangun keterkaitan, tetapi pilihan gaya narasi ini bukannya tanpa tujuan. Jelang
akhir, Jo dan Amy sempat terlibat diskusi singkat mengenai substansi kisah
keluarga March diangkat menjadi sebuah novel. Berlawanan dengan Jo, menurut
Amy, kehidupan domestik yang sekilas biasa itu bakal terasa berharga jika
dituangkan ke dalam tulisan. Poin itu pula yang ingin dicapai Gerwig melalui
cara bertuturnya. Bagaimana peristiwa-peristiwa masa lalu menjadi kenangan berharga yang terekam di memori karakter.
Nantinya, dampak singgungan antara kedua masa tersebut memuncak dalam momen
paling meremukkan hati milik filmnya.
Semakin berharga, sebab seperti
pada Lady Bird tiga tahun lalu,
Gerwig masih piawai memancarkan kesan hangat sebuah rumah, yang lagi-lagi bukan
sebatas dimaknai sebagai bangunan tempat berteduh, melainkan termasuk
orang-orang tercinta juga kenangan-kenangan di sana. Kesan yang makin nyata
berkat sinematografi Yorick Le Saux (I Am
Love, Clouds of Sils Maria, High Life) plus orkestra gubahan Alexandre Desplat
(Argo, The Grand Budapest Hotel, The
Shape of Water). Kalau gambar-gambarnya serasa memeluk lembut, maka musiknya
mencengkeram hati.
Gerwig pun masih mempertahankan
sensitivitasnya menyulut getar-getar rasa melalui pemandangan humanis berbasis
interaksi intim antar tokoh, sembari tetap bersedia menghembuskan sentuhan
humor, termasuk melalui Aunt March (Meryl Streep) yang tak henti berpetuah
mengenai kewajiban menikahi pria kaya. Penulisan Gerwig ditambah sisi witty Streep membuat wanita tua satu ini,
meski sering terdengar menyebalkan, takan menjadi sasaran kebencian.
Little Women diberkahi ensemble
cast jawara. Saoirse Ronan menampilkan beratnya kegamangan hati wanita yang
mengidamkan kemandirian dan kebebasan sekaligus artis yang dihadang tembok
tebal bernama “realita”; Emma Watson adalah Emma Watson yang kebintangannya
sukar diredam; Florence Pugh begitu baik menangani kompleksitas individu egois
yang sejatinya kerap terluka; dan Eliza Scanlen akan menarik simpati setelah
tampil meyakinkan memerankan gadis lembut berhati emas. Di luar empat saudari
tersebut masih ada Timothée Chalamet lewat pesona khasnya, serta Laura Dern yang
menegaskan bahwa 2019 berada di genggamannya sebagai satu lagi karakter ibu
penuh kasih dalam film Greta Gerwig.
Little Women ibarat wujud kedewasaan dan kebijaksanaan Gerwig,
yang memahami betapa suatu perjuangan buta tanpa cinta yang sebatas didorong
kebencian atau ambisi takkan berarti, seberapa benar dan besar perjuangan itu. Sesekali
kompromi perlu dilakukan. Bukan berarti mengalah, melainkan merangkul. Sebagai
penutup, mari membicarakan beberapa data. Filmnya memperoleh pendapatan $164
juta (empat kali lipat biaya produksi), banjir pujian dari kritikus (skor 95%
di Rotten Tomatoes), memuaskan penonton umum (skor A- di CinemaScore), dan menyabet
enam nominasi Academy Awards. Greta Gerwig berhasil merangkul banyak kalangan sehingga
meraih kemenangan besar.
Februari 08, 2020
Alexandre Desplat
,
Bagus
,
Drama
,
Eliza Scanlen
,
Emma Watson
,
Florence Pugh
,
Greta Gerwig
,
Laura Dern
,
Meryl Streep
,
REVIEW
,
Saoirse Ronan
,
Timothée Chalamet
,
Yorick Le Saux
BASED ON A TRUE STORY (2017)
Rasyidharry
Art imitates life. Karya seni mengimitasi realita.
Istilah tersebut sebenarnya erat kaitannya dengan metode seorang seniman
mengais inspirasi, yakni bersumber dari dunia nyata. Tapi dalam perjalanannya,
penciptaan karya, yang juga merupakan proses penciptaan kehidupan di tatanan
fiktif, dapat memunculkan efek berkebalikan apabila sang pembuat karya mulai
terseret terlampau jauh menuju kreasinya. Terjadilah life imitates art. Hal ini jadi pokok bahasan Based on a True Story yang menampilkan kolaborasi Roman Polanski (The Pianist, Chinatown, Rosemary’s Baby)
dan Oliver Assayas (Personal Shopper,
Clouds of Sils Maria) sebagai penulis naskah. Hanya saja, proses observasi itu
ditambahi bumbu thriller.
Seorang novelis yang baru meraih kesuksesan perdana, tersiksa
akibat kebuntuan menulis, lalu bertemu penggemar misterius seiring dengan
memudarnya batasan fantasi dan realita sang novelis. Premisnya familiar,
apalagi bagi kedua penulis naskah. Film terakhir Polanski, Venus in Fur (2013) serta judul-judul lamanya kerap membahas soal
itu, sementara Assayas, hampir di tiap karyanya, gemar bertutur tentang krisis
eksistensial. Paruh awalnya bekerja layaknya drama psikologis observasional
pada umumnya, ketika Delphine (Emmanuelle Seigner, istri Polanski) berkenalan
dengan Elle (Eva Green), si penggemar berat yang ia rasa amat mengerti isi hati
dan pikirannya. Dari penggemar-idola, hubungan keduanya cepat berkembang
menjadi persahabatan.
Delphine bersedia menunjukkan ringkasan novel terbaru yang
tengah susah payah ia tulis, memberitahu kata sandi komputernya, bahkan
mengizinkan Elle tinggal di apartemennya sementara waktu. Kehadiran Elle dirasa
mampu melucuti beban Delphine, yang bukan cuma buntu, pula sedang menghadapi
teror dari surat misterius yang menuduhnya mengeksploitasi aib keluarga lewat
novel. Semakin jauh kisahnya bergerak, nuansa thriller makin kental merasuk, bahkan mencapai third act, Based on a True
Story mulai terang-terangan merujuk pada Misery (1990), lengkap dengan penulis yang kakinya terluka dan mesti
terus berbaring.
Di tangan Polanski selaku sutradara, Based on a True Story lebih condong ke ranah slow-burning thriller ketimbang drama meditatif sebagaimana
pendekatan Assayas sebagai sutradara. Pun tak mengejutkan ketika aroma
psikoseksual samar-samar tercium di balik interaksi Delphine dan Elle. Kadang
kamera Polanski bergerak terlampau lambat, namun ada kalanya perpindahan sekuen
terlalu cepat. Hasilnya sama. Potensi ketegangan urung memuncak. Klimaksnya
sendiri menghadirkan usaha Polanski mengajak penonton mengecap atmosfer film suspense era 70-80an, dilengkapi orkestra
mencekam Alexandre Desplat yang kental membawa rasa dari masa tersebut.
Satu hal yang Polanski tahu pasti, bahwa Eva Green mampu
menciptakan intensitas. Kamera pun seolah begitu mantap menangkap setiap
ekspresi sang aktris. Berkat sang aktris pula, mudah memahami alasan Delphine
tetap terobsesi kepadanya walau telah melalui sejumlah pertengkaran, kekangan,
dan perilaku histerikal Elle. Green memiliki sorot mata menghipnotis, yang
sekalinya mencengkeram, sulit untuk melepaskan diri darinya. Terkadang,
Polanski pun memanfaatkan Green guna memproduksi creepy factor, sewaktu diam-diam sekaligus tiba-tiba, dia sudah
berada di satu sudut ruangan. Kedua
penampil utama sama-sama memamerkan transformasi dengan gradasi bertahap. Green
dari penggemar antusias yang tak jarang seduktif, sementara Seigner perlahan
semakin kehilangan pegangan atas realita.
Penutupnya menyimpan twist
yang dapat terlihat jelas bahkan sedari menit pertama jika anda familiar dengan
karya-karya Polanski maupun Assayas. Tapi twist
itu bukan semata soal daya kejut, karena Based
on a True Story bicara mengenai bagaimana kesuksesan dan ketenaran dadakan
menciptakan tekanan, kebuntuan penulis yang mengikuti kesuksesan itu, juga
proses mengkreasi kehidupan. Semua ini adalah soal observasi terhadap proses,
bukan hasil akhir. Pun filmnya memancing pertanyaan, “bukankah tiap bentuk
karya seni, jika dilihat dari aspek tertentu, sejatinya dibuat berdasarkan
kisah nyata?”.
Mei 09, 2018
Alexandre Desplat
,
Drama
,
Emmanuelle Seigner
,
Eva Green
,
Lumayan
,
Olivier Assayas
,
REVIEW
,
Roman Polanski
,
Thriller
THE SHAPE OF WATER (2017)
Rasyidharry
Guillermo del Toro menyebut The Shape of Water, yang membawanya meraih Oscar untuk Best Director (pun filmnya memenangkan Best Picture), selaku ekspresi atas
hal-hal yang mengisi kekhawatirannya sebagai orang dewasa khususnya soal cinta,
setelah dalam 9 film sebelumnya, del Toro mengunjungi mimpi serta ketakutannya
semasa kecil. Mungkin ia takut dunia mulai kehabisan cinta. The Shape of Water diawali keinginan del
Toro melihat kisah cinta antar-spesies Creature
from the Black Lagoon (1954) berujung bahagia, pasca niat membuat remake-nya ditolak pihak studio. Dan
jelas ia menuturkan seluruh adegan dengan penuh cinta dan kelembutan.
Cinta yang dimaksud bukan cuma pada tataran romantis, pula
tak hanya sesama manusia, tapi antar makhluk hidup. Elisa Esposito (Sally
Hawkins) si protagonis wanita merupakan tuna wicara yang menjadi petugas
kebersihan di suatu laboratorium rahasia milik pemerintah. Elisa bertetangga
dengan Giles (Richard Jenkins), pelukis tua yang karirnya mentok, pula seorang
gay. Menengok kondisi masing-masing, keduanya berhak merasa takut jika tidak
ada lagi cinta bagi mereka. Alhasil saat Elisa bertemu “Amphibian Man” (Doug Jones) yang dikurung, disiksa, dijadikan bahan
eksperimen laboratorium tempatnya bekerja, ia hanya ingin mencintai makhluk
malang yang juga sedang sendirian pula ketakutan ini.
Mengambil setting waktu era 60-an kala Perang Dingin, del
Toro bersama Vanessa Taylor (Hope
Springs, Divergent) mendapat banyak bekal guna menyampaikan pesan melalui
naskahnya. Inilah masa di mana kebencian, kecurigaan, ketakutan, segala emosi
negatif memuncak. Narasi pada adegan pembuka—ketika kita dibawa menyelami “kamar
bawah air” ditemani musik indah gubahan Alexandre Desplat—yang Jenkins bacakan
mengandung kalimat “And the tale of love
and loss, and the monster, who tried to destroy it all”. “Monster” di sini
adalah Kolonel Richard Strickland (Michael Shannon) yang keji sekaligus pelaku
pelecehan, kubu Amerika dan Rusia yang hendak memanfaatkan bahkan membunuh si
manusia ikan, sampai pelayan cafe rasis pula homophobic.
Sejatinya isu-isu The
Shape of Water masih relevan, tetapi pemakaian latar masa lalu merupakan
keputusan tepat. Membawanya ke tatanan modern berpotensi memunculkan distraksi.
Penonton yang makin haus akan “film kritis” bakal condong memperhatikan isu
ketimbang cerita utama. Dengan begini, beragam unsur tersebut jadi sebatas
subteks yang bersifat memperkaya, sementara sorotan utama tetap seputar romansa
fantasi. Pun terkait latar lawasnya, musik Desplat bagai berasal dari suguhan
klasik Hollywood; dreamy, kental
nuansa fantasi yang memancarkan keindahan, harapan, pula imaji. Keindahan yang
turut dihasilkan tim desain produksinya, termasuk dalam mengemas rumah Elisa
yang seperti berasal dari dunia dark
fairy tale, sesuatu yang sering jadi lahan bermain del Toro.
Saya membayangkan del Toro mengarahkan di lokasi dengan mata
berbinar, tersenyum lebar, penuh aura positif. Adegan pembuka dan penutup yang
puitis itu takkan bisa dihasilkan oleh pria pemurung. Tentunya ia pun
dianugerahi daya kreasi plus imajinasi tinggi, yang terbukti ketika momen musikal
“dadakan”mulai mengisi. Momen yang diawali serta diakhiri oleh transisi cerdik
nan rapi guna mewakili isi hati Elisa, karakter yang jadi media Sally Hawkins
memperlihatkan makna ketulusan dalam berakting. Hawkins memberi performa yang
mampu seketika mencuri perasaan penonton hanya melalui senyuman. Sewaktu Elisa
berbahagia, saya berbahagia. Sewaktu Elisa jatuh cinta, cinta itu turut
menjangkiti perasaan saya.
Bagi Guillermo del Toro, cinta berbentuk seperti air. Tidak
bisa didefinisikan, namun keberadaannya senantiasa mengisi ruang-ruang kosong,
kemudian berubah menyesuaikan wujud ruang tersebut. Kita butuh film-film
semacam The Shape of Water. Film yang
selain membicarakan cinta, turut dibuat dengan cinta, tanpa melupakan
pentingnya sisi estetika.
Maret 31, 2018
Alexandre Desplat
,
Doug Jones
,
Fantasy
,
Guillermo del Toro
,
Michael Shannon
,
REVIEW
,
Richard Jenkins
,
Romance
,
Sally Hawkins
,
Sangat Bagus
THREE BILLBOARDS OUTSIDE EBBING, MISSOURI / THE SHAPE OF WATER / LOVING VINCENT
Rasyidharry
Three Billboards Outside Ebbing, Missouri dan The Shape of Water akan bersaing ketat di ajang Oscar 2018 nanti, khususnya pada kategori Best Actress di mana Frances McDormand dan Sally Hawkins jadi dua unggulan utama. Sementara keberadaan Coco menyulitkan Loving Vincent berbicara banyak, namun film animasi pertama yang seluruhnya dibuat dengan lukisan ini jelas pantas mendapat perhatian anda.
Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)
Inilah film di mana sulit bagi kita menebak apa yang akan segera terjadi maupun diutarakan. Sekali waktu misteri pembunuhan merambat. Berikunya giliran drama keluarga, komedi hitam, tragedi, sebelum kembali menyuguhkan misteri. Agama, rasisme, kekerasan oleh polisi, sampai kekejaman militer di negeri orang, semua disinggung. Banyak hal terjadi, kerap melompat antar genre, menyimpan kejutan-kejutan, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri nyatanya bergerak rapi, enak diikuti, pula mudah dimengerti berkat skenario cermat Martin McDonagh (In Bruges, Seven Psychopath). Semua diawali kenekatan Mildred Hayes (Frances McDormand) menyewa tiga billboard yang mempertanyakan kapasitas Sheriff Bill Willoughby (Woody Harrelson) dalam mengusut kasus pembunuhan dan pemerkosaan puterinya. Masyarakat bersimpati kepada Mildred, tetapi Bill adalah polisi teladan yang disukai. Beberapa pihak pun menentang tindakan Mildred, termasuk Dixon (Sam Rockwell), polisi rasis yang tak segan memakai kekerasan. Kesenduan Harrelson mampu mencengkeram, sementara arogansi bercampur kebodohan Rockwell, yang bertransformasi jelang akhir, menghibur, mengundang benci untuk kemudian memancing simpati. Namun McDormand adalah pemimpin ensemble-nya. Ekspresi jarang berganti (wajah keras, tatapan tajam), irit gestur, tapi kehadirannya nyata. Bahkan kala mengebor jari seorang pria, mimiknya tidak banyak berubah. McDorman dan Three Billboards Outside Ebbing, Missouri sama-sama brilian, liar, membara, sensitif. Seolah tengah menelusuri labirin dengan beragam gempuran yang mustahil diantisipasi di tiap belokan. Pun ketimbang mencari sang pelaku, McDonagh menekankan proses saling mengobati antara mereka yang dirundung duka. Salah satu film paling komplet selama beberapa tahun terakhir. (5/5)
The Shape of Water (2017)
Terinspirasi dari Creature from the Black Lagoon (1954) yang sempat coba ia remake, Guillermo del Toro mempersembahkan film monster yang enggan ketinggalan menyinggun ragam isu sosial. Rasisme dan homofobia menjadi subteks, praktik segregasi dikritisi. Percintaan beda spesies dalam The Shape of Water merupakan bentuk dukungan del Toro atas kesetaraan. Tokoh utamanya, Elisa Esposito (Sally Hawkins) adalah tunawicara yang tinggal bersama seniman gay (Richard Jenkins), bersahabatan dengan wanita kulit hitam bernama Zelda (Octavia Spencer), jatuh cinta pada monster amfibi (Doug Jones) yang dikurung di laboratorium rahasia tempatnya bekerja. The Shape of Water merupakan usaha mewakili kaum marginal lewat paparan dongeng. Bahkan sejak pertama terdengar, musik gubahan Alexandre Desplat seketika memancarkan sihir fantasi. Di tangan del Toro, keseharian monoton Elisa, dari bangun tidur, masturbasi, menanti bus, sampai bekerja sebagai petugas kebersihan, terlihat bak dunia khayal yang membuai, walau keindahan sesungguhnya baru tampil tatkala del Toro menyelipkan momen musikal hitam-putih layaknya sajian klasik Hollywood yang berguna mengekspresikan isi hati sang tokoh utama. Demikian pula shot terakhirnya yang memadukan sinematografi menawan Dan Laustsen dan sensibilitas sang sutradara menyusun romantisme. Di antara kelembutan penuh rasa del Toro, Sally Hawkins menyeruak. Nihil tuturan verbal, Hawkins menampilkan kemurnian serta ketulusan yang memudahkan guna mencintai sosoknya. Namun kualitas The Shape of Water sayangnya kurang merata. Sewaktu adegan spesial yang del Toro siapkan tengah absen dari layar, naskah tulisannya bersama Vanessa Taylor tidak punya cukup magnet guna menahan antusiasme penonton. (3.5/5)
Loving Vincent (2017)
Kalimat pernyataan sebelum film dimulai menegaskan bahwa Loving Vincent memang lebih mementingkan gaya. Style over substance. Dan memang sulit dipungkiri, goresan cat air ala lukisan Vincent van Gogh menjadikan film ini tiada duanya. Walau sebagaimana teknik visualnya membuat tokoh-tokoh yang ada terkesan artificial, penelusuran alurnya soal kehidupan serta kematian sang pelukis ternama takkan merenggut emosi. Menarik melihat karya-karya macam Sorrowing Old Man atau Young Man with Cornflowers bermanifestasi jadi tokoh-tokoh yang mengisi alur. Ketika seringkali kita mengenal seniman melalui karya ketimbang jati diri personalnya (sudah semestinya begitu), Loving Vincent mengajak mengenal titular character-nya lebih jauh bersamaan dengan usaha Armand Roulin (Douglas Booth) mengantar surat yang Vincent (Robert Gulaczyk) tulis untuk saudaranya, Theo, sebelum ia tewas bunuh diri. Fakta yang tadinya terang benderang di mata Armand perlahan berubah ambigu seiring pertemuannya dengan orang-orang dalam hidup Vincent, membuatnya makin memahami “si pelukis gila”. Skenario buatan Dorota Kobiela, Hugh Welchman, dan Jacek Dehnel kurang mulus memaparkan pergantian sikap Armand. Dari persepsi negatif terhadap Vincent, mendadak ia amat peduli, bahkan rela melalui perjalanan jauh meski ancaman pemecatan menghantui. Misteri seputar kematian (dan kehidupan) Vincent mengundang rasa penasaran, namun lemahnya duo sutradara Dorota Kobiela dan Hugh Welchman menjaga tempo menghalangi efektivitas teka-tekinya mencengkeram atensi. (3.5/5)
Januari 16, 2018
Alexandre Desplat
,
Animated
,
Comedy
,
Crime
,
Douglas Booth
,
Fantasy
,
Frances McDormand
,
Guillermo del Toro
,
Luar Biasa
,
Lumayan
,
Martin McDonagh
,
REVIEW
,
Sally Hawkins
,
Sam Rockwell
,
Woody Harrelson
VALERIAN AND THE CITY OF A THOUSAND PLANETS (2017)
Rasyidharry
Sewaktu kecil saya gemar memainkan setumpuk action figure karakter fiksi favorit. Berbekal barang seadanya macam bantal, guling, atau kaleng biskuit bekas, dunia tempat karakter itu hidup jadi kenyataan. Setidaknya dalam imajinasi saya selaku satu-satunya batasan realisasi. Melalui film ini, Luc Besson melakukan hal serupa, menghidupkan komik kesukaannya saat kecil, Valerian and Laureline. Bedanya ia punya modal $210 juta (film Eropa dan independen termahal) guna mengganti mainan dan perabot sehari-hari dengan deretan aktor kenamaan sekaligus efek CGI. Tapi ada sebuah persamaan. Keduanya tak peduli kedalaman karakter atau cerita solid. Terpenting imajinasi terwujud. Valerian and the City of a Thousand Planets memang membawa Besson kembali menjadi bocah.
Dibarengi lagu Space Oddity-nya David Bowie yang sempurna membangun mood, filmnya dibuka oleh montage perkembangan program luar angkasa manusia dari masa ke masa, berujung pada abad 28 ketika stasiun Alpha tempat jutaan makhluk dari planet berlainan hidup bersama berbagi kultur pula pengetahuan, dilepas dari orbit Bumi, melayang bebas di angkasa tanpa batas. Valerian (Dane DeHaan) dan sang partner, Laureline (Cara Delevigne) adalah anggota kepolisian manusia yang tengah menjalankan misi mengamankan spesies hewan langka di suatu planet. Misi yang membawa keduanya mengarungi berbagai tempat di galaksi, bertemu alien beragam bentuk, juga menyelidiki tragedi masa lalu yang disembunyikan rapat-rapat.
Sederhana saja rangkaian cerita dalam naskah Besson. Penyebab durasinya melebihi dua jam (137 menit) dikarenakan alurnya kerap berputar-putar dahulu sebelum sampai titik destinasi. Ibarat perjalanan, penonton sebagai penumpang sering diajak singgah di tempat lain, menetap di sana menikmati suasana, baru lanjut ke tujuan. Juga terasa bagai menyaksikan video game dari stage ke stage berikutnya. Bahkan adegan tatkala Valerian menembus satu per satu lokasi Alpha dikemas oleh Besson laksana tipe permainan endless running yang biasa kita mainkan di smartphone. An exciting one.
Meski berakibat pacing yang kurang dinamis, Besson punya alasan kuat di balik pilihan tersebut, yaitu mengajak penonton mengamati keindahan beraneka ragam dunia asing beserta makhluk dan budaya di sana. Karena sejatinya, ketimbang suguhan tipikal "kebaikan melawan kejahatan", Valerian and the City of a Thousand Planets lebih menitikberatkan pada eksplorasi soal diversity dengan cakupan luas: alam semesta. Kalau diperhatikan, mayoritas konflik berujung sekuen aksi tidak didorong usaha tokoh utama menumpas kejahatan, melainkan sebuah keterpaksaan dipicu insting bertahan hidup saat terancam bahaya akibat terjebak di situasi maupun kultur asing. Pun musuh utama yang mesti dihadapi bukan sosok megalomania dengan hasrat menguasai dunia, sekedar manusia dan keburukan alami mereka (kita).
Walau acap berlama-lama mampir kebosanan urung hadir, sebab bersenjatakan kreatifitas tanpa batasnya, Besson yang makin sahih disebut sutradara visioner mampu menciptakan sederet lingkungan, teknologi, hingga aktivitas tak terbayangkan. Tentu semua didasari komik buatan Pierre Christin dan Jean-Claude Mézières, tetapi menghidupkan gambar diam di panel komik butuh daya kreasi luar biasa. Inilah esensi film selaku motion picture. Gambar bergerak yang mewadahi imajinasi liar pembuatnya. Sinematografi Thierry Arbogast juga musik Alexandre Desplat yang mencerminkan ekspresi kekaguman, menambah daya pukau petualangan jagat raya yang langsung menghentak sejak menit-menit awal di Planet Mül. Sayang, fokus terhadap visual seolah sepenuhnya menyedot energi Besson, sehingga ia gagal maksimal soal eksekusi aksi. Tidak buruk, hanya saja medioker, nihil cool aspect ciri khasnya.
Saat Dane DeHaan kekurangan pesona sebagai pahlawan sci-fi yang bertingkah semaunya (charm-nya lebih cocok untuk tokoh gloomy), Cara Delevigne sukses menghapus memori buruk Enchantress si iblis penari perut berkat deadpan sarcasm yang juga didukung struktur wajah naturalnya. Sebagai Laureline, Cara mampu pula menangkap sisi sensual tanpa kehilangan kekuatan khas tokoh wanita idola ala suguhan sci-fi klasik. Walau demikian, gelar penampil paling mencuri perhatian justru disandang dua nama yang hanya muncul singkat, Ethan Hawke dan Rihanna. Gaya koboi Texas banyak omong milik Hawke menghembuskan nuansa berbeda di tengah kesan monoton kebanyakan karakter (bertampang) manusia. Sementara Rihanna dengan kehebatan olah tubuh di sebuah adegan pole dance memikat nyatanya paling mencerminkan aura inti filmnya: unik, aneh, imajinatif, magical, out of this world.
Ulasan untuk film ini dapat dibaca juga di: http://tz.ucweb.com/8_dMLE
Agustus 03, 2017
Alexandre Desplat
,
Cara Delevigne
,
Dane DeHaan
,
Ethan Hawke
,
European Film
,
France Film
,
Luc Besson
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Rihanna
,
Science-Fiction
,
Thierry Arbogast
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

















