Tampilkan postingan dengan label Guillermo del Toro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guillermo del Toro. Tampilkan semua postingan

REVIEW - NIGHTMARE ALLEY

Di sebuah kesempatan, protagonis Nightmare Alley dibaca garis nasibnya memakai kartu tarot. Hasilnya, ia bakal tertimpa nasib buruk. Keburukan seperti apa? Begitulah rasanya menonton film ini. Mengetahui bagaimana noir bekerja, kita tahu tragedi menanti, namun rupanya tak diketahui. Sama seperti ketidaknyamanan kala menyusuri gang gelap di tengah malam. Seolah ada yang siap menerkam, tapi entah apa. 

Karya terbaru Guillermo del Toro ini, yang naskahnya dia tulis bersama Kim Morgan selaku adaptasi layar lebar kedua bagi novel berjudul sama buatan William Lindsay Gresham (versi pertamanya rilis tahun 1947), adalah tontonan sarat foreshadowing, yang bertujuan menelusuri sisi kelam manusia, serta bagaimana putaran takdir seolah enggan mengalah, lalu ingin memamerkan betapa kelam ironi yang dibawanya.

Protagonis kita bernama Stan (Bradley Cooper). Di sekuen pembuka, Stan membakar rumahnya, bersamaan dengan tubuh yang terbungkus kain. Apakah ia pembunuh? Ataukah penonton sedang dikecoh? Pastinya Stan bukan pria polos. Kematian tak asing baginya, sehingga ini pun bukan kisah hilangnya kepolosan individu. 

Stan tiba di kelompok sirkus milik Clem (Willem Dafoe). Salah satu aksi andalan mereka adalah geek show, di mana pria berpenampilan kumuh menggigit kepala ayam hidup. Aksi ini dahulu marak dilakukan, dan sang penampil, yang biasanya tanpa talenta apa pun, bersedia direndahkan demi asupan opium dan/atau alkohol. Stan bertanya-tanya, "Bagaimana bisa ada manusia yang terjatuh sedemikian dalam?". 

Kerlap-kerlip lampu karnaval di malam hari, pencahayaan temaram, ditangkap oleh kamera Dan Laustsen, sinematografer yang sudah empat kali berkolaborasi dengan del Toro. Cantik sekaligus misterius. Serupa karya-karya sang sutradara biasanya, namun Nightmare Alley bagai melangkah di garis batas antara magisnya dunia fantasi dan realita. 

Tapi tiada monster di sini. Hanya ada manusia-manusia, yang dianggap monster oleh sesamanya (geek, janin bermata tiga bernama "Enoch" yang diawetkan dalam toples). Pula tidak ada sihir. Hanya ada rangkaian trik yang dilakukan sedemikian meyakinkan sampai tampak bak keajaiban. 

Salah satunya cold reading, yang dipelajari Stan dari pasangan suami-istri, Pete (David Strathairn) dan Zeena (Toni Collette). Berbekal metode rumit, mereka bisa menebak benda apa yang orang lain pegang dengan mata tertutup, bahkan membaca sejarah di baliknya. Del Toro seperti punya ketertarikan tinggi akan praktek tersebut (dan pertunjukan sirkus secara umum), lalu dengan antusias mengajak kita menelisik seluk beluknya. 

Salah satu poin terbaik Nightmare Alley adalah tiap mempresentasikan detail pertunjukan, yang tak jarang menutupi lubang penceritaan. Jika versi 1947 cuma berdurasi 111 menit, maka versi del Toro berjalan hingga dua setengah jam. Terlalu panjang, pun tidak jarang kisahnya hilang arah.

Ada istilah "kill your darlings", yang merujuk pada keharusan penulis untuk berani menghilangkan bagian alur, adegan, atau kalimat yang dirasa kurang signifikan. Del Toro dan Morgan bak enggan melakukannya, hingga penceritaannya, terlebih di paruh pertama, seperti sedang menaiki komidi putar yang tidak pernah berhenti. 

Cukup lama pula sampai kisahnya memasuki ranah romansa. Stan jatuh cinta pada Molly (Rooney Mara) si "gadis listrik", mengajak sang pujaan hati turut serta dalam upayanya mengejar mimpi, yang jadi titik balik film. Nantinya Stan juga berurusan dengan Dr. Lilith Ritter (Cate Blanchett), seorang psikolog. Blanchett menghipnotis layaknya femme fatale khas noir.

Semakin jauh Stan melangkah, semakin kentara apa yang menantinya di ujung gang gelap. Sekali lagi, tidak ada monster. Bagi Stan, monster itu justru dirinya sendiri. Seorang pria dengan father issue, yang berujung menjadi sesuatu yang amat dia benci. Tatkala kebohongan tidak lagi dapat dikendalikan, si pembohong pun mulai memercayai kebohongan itu, lalu terjebak dalam mimpi buruk yang ia wujudkan sendiri. 

Babak akhirnya membawa filmnya menyuguhkan beberapa kekerasan, tapi hal paling mengerikan justru bukan berasal dari pertumpahan darah, melainkan ironi takdir di penghujung cerita. Tawa Cooper di shot penutup saat karakternya (dan penonton) menyadari ironi tersebut, terdengar sangat mengiris, juga menghantui, sebab kita pun bisa saja bernasib serupa. Penuturan Nightmare Alley memang tergolong lemah dibanding deretan karya Guillermo del Toro lain, namun konklusinya salah satu yang paling menusuk.

SCARY STORIES TO TELL IN THE DARK (2019)

Kecuali desain monsternya, Scary Stories to Tell in the Dark—yang mengadaptasi buku cerita anak berjudul sama karya Alvin Schwartz—hanya bakal berakhir sebagai horor minim dampak aftertaste signifikan andai bukan karena latar waktunya. Semua film yang memakai latar selain masa kini wajib memperoleh manfaat berupa penguatan narasi dari pilihan tersebut, dan itulah yang terjadi dalam kolaborasi sutradara André Øvredal (Trollhunter, The Autopsy of Jane Doe) dengan produser sekaligus penulis cerita Guillermo del Toro ini.

Kata “dark” pada judulnya bukan berarti “malam”, melainkan hari-hari gelap kala Perang Vietnam meletus serta pemilu Presiden 1968 di mana Richard Nixon terpilih. Beberapa karakter tengah bersiap mendaftarkan diri terjun ke medan perang (baca: setor nyawa), sedangkan melalui siara radio maupun televisi, kita berkesempatan mengikuti “hitung mundur” jelang Hari-H pemilu.

Protagonis kita adalah tiga sahabat: Stella (Zoe Colletti), Auggie (Gabriel Rush), Chuck (Austin Zajur), ditambah seorang pemuda dari luar kota, Ramon (Michael Garza). Tepat di malam halloween, keempatnya memasuki rumah kosong dengan kisah menyeramkan di baliknya. Konon ada gadis bernama Sarah Bellows yang mengalami gangguan jiwa, kemudian gantung diri selepas membantai anak-anak tetangga. Di sana mereka menemukan buku berisa cerita-cerita horor tulisan Sarah.

Stella membawa pulang buku tersebut, tanpa menyadari teror yang telah menanti. Buku itu dapat menulis ceritanya sendiri. Cerita yang berubah jadi nyata, lalu merenggut satu per satu nyawa mereka. Terselip ironi lewat fakta disturbing bahwa biarpun terpisah belasan ribu kilometer dari garis depan peperangan, para karakternya masih harus berhadapan dengan kematian.

Pun latar masa lalu memberi kesempatan bagi duo penulis naskah, Dan Hageman dan Kevin Hageman, untuk mempersulit usaha tokoh-tokohnya. Tidak ada telepon genggam atau internet, sehingga masuk akal tatala mereka kesulitan memperingatkan datangnya bahaya yang berujung kegagalan menyelamatkan nyawa. Seorang penonton berujar, “Kok mereka telat terus sih?”. Film horor lain melakukan hal serupa, tapi Scary Stories to Tell in the Dark menggunakan pendekatan logis.

Misterinya ditulis secara solid, membawa penonton mengikuti investigasi yang dibagi rata sepanjang 108 menit durasinya, guna menghalangi adanya kekosongan plot. Walau urung dibarengi eksplorasi menarik atas folklor atau mitos sebagaimana bukunya, setidaknya selalu ada fakta untuk ditebak dan permasalahan untuk dipecahkan, termasuk soal bagaimana cara protagonisnya menyudahi teror, walau resolusi yang dipakai meninggalkan kekecewaan akibat simplifikasi.

Bicara tentang teror, Øvredal mampu menghantarkan beberapa crowd pleaser jump scares dengan ketepatan timing, meski metode pembantaiannya agak inkonsisten. Beberapa tampil brutal dan disturbing, namun lainnya terlampau “jinak” bahkan terkesan malas, tak kuasa menebus pembangunan panjang yang dilakukan. Tapi rasanya semua akan setuju memberikan pujian terhadap desain monster yang merupakan kombinasi segar antara horor dengan fantasi gelap (ingat, ada sentuhan del Toro). Secara khusus saya menyukai Jangly Man si pemilik kemampuan unik nan mengerikan.

Sayang, intensitas klimaksnya berantakan. Pertama, akibat campuran akting buruk Michael Garza (terlalu kaku) dan Zoe Colletti (kerap berlebihan) dengan beberapa baris kalimat cheesy. Kedua, lemahnya pacing saat babak finalnya bergerak bolak-balik antara kejar-kejaran bertempo cepat dan pembicaraan lambat. Dinamikanya hancur. Dan tidak ada hal baik yang bisa diambil ketika sebuah horor menutup kisahnya dengan obrolan hati ke hati, walaupun sang hantu (sesuai ciri khas del Toro) merupakan sosok sedih berlatar belakang tragis.

THE SHAPE OF WATER (2017)

Guillermo del Toro menyebut The Shape of Water, yang membawanya meraih Oscar untuk Best Director (pun filmnya memenangkan Best Picture), selaku ekspresi atas hal-hal yang mengisi kekhawatirannya sebagai orang dewasa khususnya soal cinta, setelah dalam 9 film sebelumnya, del Toro mengunjungi mimpi serta ketakutannya semasa kecil. Mungkin ia takut dunia mulai kehabisan cinta. The Shape of Water diawali keinginan del Toro melihat kisah cinta antar-spesies Creature from the Black Lagoon (1954) berujung bahagia, pasca niat membuat remake-nya ditolak pihak studio. Dan jelas ia menuturkan seluruh adegan dengan penuh cinta dan kelembutan.

Cinta yang dimaksud bukan cuma pada tataran romantis, pula tak hanya sesama manusia, tapi antar makhluk hidup. Elisa Esposito (Sally Hawkins) si protagonis wanita merupakan tuna wicara yang menjadi petugas kebersihan di suatu laboratorium rahasia milik pemerintah. Elisa bertetangga dengan Giles (Richard Jenkins), pelukis tua yang karirnya mentok, pula seorang gay. Menengok kondisi masing-masing, keduanya berhak merasa takut jika tidak ada lagi cinta bagi mereka. Alhasil saat Elisa bertemu “Amphibian Man” (Doug Jones) yang dikurung, disiksa, dijadikan bahan eksperimen laboratorium tempatnya bekerja, ia hanya ingin mencintai makhluk malang yang juga sedang sendirian pula ketakutan ini.
Mengambil setting waktu era 60-an kala Perang Dingin, del Toro bersama Vanessa Taylor (Hope Springs, Divergent) mendapat banyak bekal guna menyampaikan pesan melalui naskahnya. Inilah masa di mana kebencian, kecurigaan, ketakutan, segala emosi negatif memuncak. Narasi pada adegan pembuka—ketika kita dibawa menyelami “kamar bawah air” ditemani musik indah gubahan Alexandre Desplat—yang Jenkins bacakan mengandung kalimat “And the tale of love and loss, and the monster, who tried to destroy it all”. “Monster” di sini adalah Kolonel Richard Strickland (Michael Shannon) yang keji sekaligus pelaku pelecehan, kubu Amerika dan Rusia yang hendak memanfaatkan bahkan membunuh si manusia ikan, sampai pelayan cafe rasis pula homophobic.

Sejatinya isu-isu The Shape of Water masih relevan, tetapi pemakaian latar masa lalu merupakan keputusan tepat. Membawanya ke tatanan modern berpotensi memunculkan distraksi. Penonton yang makin haus akan “film kritis” bakal condong memperhatikan isu ketimbang cerita utama. Dengan begini, beragam unsur tersebut jadi sebatas subteks yang bersifat memperkaya, sementara sorotan utama tetap seputar romansa fantasi. Pun terkait latar lawasnya, musik Desplat bagai berasal dari suguhan klasik Hollywood; dreamy, kental nuansa fantasi yang memancarkan keindahan, harapan, pula imaji. Keindahan yang turut dihasilkan tim desain produksinya, termasuk dalam mengemas rumah Elisa yang seperti berasal dari dunia dark fairy tale, sesuatu yang sering jadi lahan bermain del Toro.
Saya membayangkan del Toro mengarahkan di lokasi dengan mata berbinar, tersenyum lebar, penuh aura positif. Adegan pembuka dan penutup yang puitis itu takkan bisa dihasilkan oleh pria pemurung. Tentunya ia pun dianugerahi daya kreasi plus imajinasi tinggi, yang terbukti ketika momen musikal “dadakan”mulai mengisi. Momen yang diawali serta diakhiri oleh transisi cerdik nan rapi guna mewakili isi hati Elisa, karakter yang jadi media Sally Hawkins memperlihatkan makna ketulusan dalam berakting. Hawkins memberi performa yang mampu seketika mencuri perasaan penonton hanya melalui senyuman. Sewaktu Elisa berbahagia, saya berbahagia. Sewaktu Elisa jatuh cinta, cinta itu turut menjangkiti perasaan saya.

Bagi Guillermo del Toro, cinta berbentuk seperti air. Tidak bisa didefinisikan, namun keberadaannya senantiasa mengisi ruang-ruang kosong, kemudian berubah menyesuaikan wujud ruang tersebut. Kita butuh film-film semacam The Shape of Water. Film yang selain membicarakan cinta, turut dibuat dengan cinta, tanpa melupakan pentingnya sisi estetika.

THREE BILLBOARDS OUTSIDE EBBING, MISSOURI / THE SHAPE OF WATER / LOVING VINCENT

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri dan The Shape of Water akan bersaing ketat di ajang Oscar 2018 nanti, khususnya pada kategori Best Actress di mana Frances McDormand dan Sally Hawkins jadi dua unggulan utama. Sementara keberadaan Coco menyulitkan Loving Vincent berbicara banyak, namun film animasi pertama yang seluruhnya dibuat dengan lukisan ini jelas pantas mendapat perhatian anda.

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)
Inilah film di mana sulit bagi kita menebak apa yang akan segera terjadi maupun diutarakan. Sekali waktu misteri pembunuhan merambat. Berikunya giliran drama keluarga, komedi hitam, tragedi, sebelum kembali menyuguhkan misteri. Agama, rasisme, kekerasan oleh polisi, sampai kekejaman militer di negeri orang, semua disinggung. Banyak hal terjadi, kerap melompat antar genre, menyimpan kejutan-kejutan, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri nyatanya bergerak rapi, enak diikuti, pula mudah dimengerti berkat skenario cermat Martin McDonagh (In Bruges, Seven Psychopath). Semua diawali kenekatan Mildred Hayes (Frances McDormand) menyewa tiga billboard yang mempertanyakan kapasitas Sheriff Bill Willoughby (Woody Harrelson) dalam mengusut kasus pembunuhan dan pemerkosaan puterinya. Masyarakat bersimpati kepada Mildred, tetapi Bill adalah polisi teladan yang disukai. Beberapa pihak pun menentang tindakan Mildred, termasuk Dixon (Sam Rockwell), polisi rasis yang tak segan memakai kekerasan. Kesenduan Harrelson mampu mencengkeram, sementara arogansi bercampur kebodohan Rockwell, yang bertransformasi jelang akhir, menghibur, mengundang benci untuk kemudian memancing simpati. Namun McDormand adalah pemimpin ensemble-nya. Ekspresi jarang berganti (wajah keras, tatapan tajam), irit gestur, tapi kehadirannya nyata. Bahkan kala mengebor jari seorang pria, mimiknya tidak banyak berubah. McDorman dan Three Billboards Outside Ebbing, Missouri sama-sama brilian, liar, membara, sensitif. Seolah tengah menelusuri labirin dengan beragam gempuran yang mustahil diantisipasi di tiap belokan. Pun ketimbang mencari sang pelaku, McDonagh menekankan proses saling mengobati antara mereka yang dirundung duka. Salah satu film paling komplet selama beberapa tahun terakhir. (5/5)

The Shape of Water (2017)
Terinspirasi dari Creature from the Black Lagoon (1954) yang sempat coba ia remake, Guillermo del Toro mempersembahkan film monster yang enggan ketinggalan menyinggun ragam isu sosial. Rasisme dan homofobia menjadi subteks, praktik segregasi dikritisi. Percintaan beda spesies dalam The Shape of Water merupakan bentuk dukungan del Toro atas kesetaraan. Tokoh utamanya, Elisa Esposito (Sally Hawkins) adalah tunawicara yang tinggal bersama seniman gay (Richard Jenkins), bersahabatan dengan wanita kulit hitam bernama Zelda (Octavia Spencer), jatuh cinta pada monster amfibi (Doug Jones) yang dikurung di laboratorium rahasia tempatnya bekerja. The Shape of Water merupakan usaha mewakili kaum marginal lewat paparan dongeng. Bahkan sejak pertama terdengar, musik gubahan Alexandre Desplat seketika memancarkan sihir fantasi. Di tangan del Toro, keseharian monoton Elisa, dari bangun tidur, masturbasi, menanti bus, sampai bekerja sebagai petugas kebersihan, terlihat bak dunia khayal yang membuai, walau keindahan sesungguhnya baru tampil tatkala del Toro menyelipkan momen musikal hitam-putih layaknya sajian klasik Hollywood yang berguna mengekspresikan isi hati sang tokoh utama. Demikian pula shot terakhirnya yang memadukan sinematografi menawan Dan Laustsen dan sensibilitas sang sutradara menyusun romantisme. Di antara kelembutan penuh rasa del Toro, Sally Hawkins menyeruak. Nihil tuturan verbal, Hawkins menampilkan kemurnian serta ketulusan yang memudahkan guna mencintai sosoknya. Namun kualitas The Shape of Water sayangnya kurang merata. Sewaktu adegan spesial yang del Toro siapkan tengah absen dari layar, naskah tulisannya bersama Vanessa Taylor tidak punya cukup magnet guna menahan antusiasme penonton. (3.5/5)

Loving Vincent (2017)
Kalimat pernyataan sebelum film dimulai menegaskan bahwa Loving Vincent memang lebih mementingkan gaya. Style over substance. Dan memang sulit dipungkiri, goresan cat air ala lukisan Vincent van Gogh menjadikan film ini tiada duanya. Walau sebagaimana teknik visualnya membuat tokoh-tokoh yang ada terkesan artificial, penelusuran alurnya soal kehidupan serta kematian sang pelukis ternama takkan merenggut emosi. Menarik melihat karya-karya macam Sorrowing Old Man atau Young Man with Cornflowers bermanifestasi jadi tokoh-tokoh yang mengisi alur. Ketika seringkali kita mengenal seniman melalui karya ketimbang jati diri personalnya (sudah semestinya begitu), Loving Vincent mengajak mengenal titular character-nya lebih jauh bersamaan dengan usaha Armand Roulin (Douglas Booth) mengantar surat yang Vincent (Robert Gulaczyk) tulis untuk saudaranya, Theo, sebelum ia tewas bunuh diri. Fakta yang tadinya terang benderang di mata Armand perlahan berubah ambigu seiring pertemuannya dengan orang-orang dalam hidup Vincent, membuatnya makin memahami “si pelukis gila”. Skenario buatan Dorota Kobiela, Hugh Welchman, dan Jacek Dehnel kurang mulus memaparkan pergantian sikap Armand. Dari persepsi negatif terhadap Vincent, mendadak ia amat peduli, bahkan rela melalui perjalanan jauh meski ancaman pemecatan menghantui. Misteri seputar kematian (dan kehidupan) Vincent mengundang rasa penasaran, namun lemahnya duo sutradara Dorota Kobiela dan Hugh Welchman menjaga tempo menghalangi efektivitas teka-tekinya mencengkeram atensi. (3.5/5)

DON'T BE AFRAID OF THE DARK (2011)

Saya hanya pernah mendengar sekilas saja mengenai film televisi berjudul Don't Be Afraid of the Dark yang rilis tahun 1973. Remake terhadap film tersebut juga tidaklah terlalu spesial karena remake film horor klasik Hollywood seperti yang kita tahu lebih sering merusak versi aslinya. Saya juga tidak begitu tertarik dengan cast film ini mulai dari Guy Pearce, Katie Holmes sampai aktris cilik Bailee Madison. Sutradara Troy Nixey yang baru menjalani debutnya lewat film ini setelah sebelumnya adalah seorang "comic book artist" juga jelas bukan jadi magnet yang kuat dari film ini. Jadi apa yang membuat saya tertarik menonton remake ini? Jelas nama Guillermo del Toro alasannya. Saya termasuk orang yang terkesan dengan visi del Toro dalam menciptakan dunia dalam film-filmnya termasuk Pan's Labyrinth yang gothic dan unik tersebut. Jadi meskipun hanya sebagai produser, saya berharap pengaruh del Toro akan terasa kuat seperti pada film-film yang diproduseri Spielberg yang selalu terasa kental ciri khas dari sang produser.

Sally (Bailee Madison) kini harus tinggal bersama sang ayah, Alex (Guy Pearce) setelah sang ibu mengirimnya untuk pindah dan tinggal bersama ayahnya tersebut. Selain bersama sang ayah, Sally juga harus tinggal bersama pacar baru ayahnya, Kim (Katie Holmes) yang tidak terlalu dia sukai. Mereka bertiga lalu tinggal disebuah mansion tua yang cukup megah dimana mansion tersebut sedang direnovasi oleh Alex dan Kim. Pada awalnya, rasa ingin tahu Sally membawanya menemukan sebuah ruang bawah tanah di mansion tersebut. Lalu sejak penemuan ruang tersebut Sally sering mendengar bisikan-bisikan aneh yang memanggil namanya. Awalnya bisikan-bisikan tersebut terasa seperti ajakan pertemanan, tapi sebenarnya itu adalah bisikan mematikan dari para makhluk kecil ganas dan mengerikan yang dahulu pernah meninggalkan kisah horror bagi pemiliknya.
Film ini dibuka dengan cukup meyakinkan dimana adegan yang menampilkan Lord Blackwood mengambil secara paksa gigi pelayannya untuk dipersembahkan kepada para "peri" tersebut dan berlanjut dengan kematiannya sendiri cukup bisa membuat saya yakin bahwa film ini akan jadi horror yang menarik. Lalu dilanjutkan dengan opening credit yang juga tidak kalah unik saya makin yakin kalau nuansa dan ciri khas Guillermo del Toro akan sangat terasa di film ini. Lagipula dia jugalah yang menulis naskahnya. Nuansa gothic yang cukup creepy terasa pada bagian awal film ini. Lalu saat fokus berpindah pada Sally dan keluarganya, daya tarik itu makin menurun. Film makin membosankan, alur makin lambat, pengulangan adegan makin sering terjadi, keklisean makin terasa dan ciri khas Guillermo del Toro makin menghilang. Bagus memang bagi Tory dia tidak terlalu terbawa ciri khas sang produser, tapi jika hasilnya jadi membosankan begini saya rasa lebih baik dia mengikuti gaya del Toro saja, karena pada dasarnya naskah yang ditulis del Toro ini akan sangat pas jika dieksekusi dengan gayanya yang campuran horror dan fantasi.
Setting rumah yang begitu gothic sebenarnya sudah cukup maksimal dan sangat terasa unsur fantasinya dan tidak terasa berlebihan karena penekanannya bukanlah pada sisi fantasinya tapi pada horrornya. Tapi apa yang terjadi justru seolah film ini lebih fokus pada usaha Sally mencari fakta tentang sang "peri gigi" saja dibandingkan mencoba menakuti penonton. Kita akan dibuat bosan terlebih dahulu sebelum akhirnya para monster itu menampakan wujudnya yang harus diakui cukup mengerikan meski aksi mereka tidak sampai membuat film ini menakutkan. Bahkan momen mengagetkan yang biasanya jadi senjata ampuh terakhir saat sebuah film horror sudah kehabisan cara menakuti penontonnya juga tidak terlalu berhasil dan hanya ada satu saja momen mengagetkan tersebut. Nihil momen menyeramkan, film ini justru diisi beberapa momen menyebalkan.

Tentunya kita sudah tahu hal klise menyebalkan apa yang terjadi dalam film horror yang menampilkan seorang anak kecil sebagai tokoh utamanya dan sang anak tinggal bersama orang tuanya. Apalagi kalau bukan momen dimana sang orang tua tidak mempercayai perkataan anaknya bahkan menganggap sanag anak berimajinasi saja. Dalam DBAOTD momen itu juga muncul walaupun tidak terlalu parah tarafnya. Lalu ada juga kemunculan psikolog yang dalam film horror macam ini selalu digambarkan sebagai orang bodoh yang teorinya selalu keliru dengan fakta yang ada. Sebagai mahasiswa psikologi saya tidak suka dengan penggambaran itu. Memang psikolog akan bertindak dan mengambil diagnosa dengan ilmu yang ada tapi saya rasa tidak perlu terlalu dibuat seperti itu juga penggambarannya. Tokoh ayah yang diperankan Guy Pearce jelas jauh dari kata menarik dan aktingnya juga nihil. Katie Holmes juga tidak bagus tapi setidaknya dia masih seorang wanita cantik yang mampu membuat Tom Cruise tergila-gila. Bailee Madison? Yah dia juga cukup baik untuk ukuran aktris cilik bagi saya.

Don't Be Afraid of the Dark yang tidak punya momen menyeramkan justru punya momen yang menegangkan dan cukup mencekam saat film mencapai klimaks dan mendekati akhir. Momen itu adalah momen yang menarik sekaligus menegangkan, apalagi saat saya menantikan endingnya yang mana Guillermo del Toro sudah menjanjikan tidak ada happy ending dalam film ini. Dan saat sudah sampai pada ending saya cukup terpuaskan oleh endingnya. Jadi setidaknya meskipun sejak opening sampai melewati pertengahan film ini membosankan, tapi klimaks hingga ending cukup memuaskan dan menegangkan. Selain itu film ini juga punya desain monster yang bagus, cukup khas del Toro. Ah, memang seharusnya film ini disutradarai Guillermo del Toro saja.