KUNTILANAK (2018)

19 komentar
Dalam horor, momen ketika kamera dan/atau karakter bergerak lambat menghampiri sumber suara atau bayangan misterius atau apa pun yang takkan didekati manusia normal di dunia nyata, berfungsi memupuk ketegangan dan antisipasi. Sebagai ganti tempo lambat itu, mesti disiapkan penebusan, di mana jump scare kerap jadi primadona. Apabila gagal memberi penebusan setimpal, penonton hanya akan ditinggalkan bersama rasa bosan, yang makin melelahkan jika kegagalan terjadi berulang kali, kemudian berkembang jadi kekesalan sewaktu kuantitasnya melebihi batas normal. Sutradara Rizal Mantovani (trilogi Kuntilanak, Jelangkung, Bayi Gaib: Bayi Tumbal, Bayi Mati) dan tim memahami poin di atas, sehingga Kuntilanak sedikit lebih baik dari rentetan horor busuk belakangan, meski kalau melihat judul-judul pembanding, “sedikit lebih baik” bukan prestasi membanggakan.

Lima anak penghuni panti asuhan, Dinda (Sandrinna M Skornicki), Kresna (Andryan Bima), Ambar (Ciara Nadine Brosnan), Panji (Adlu Fahrezy), dan Miko (Ali Fikry) harus berpisah sejenak dengan ibu asuh mereka, Donna (Nena Rosier) yang mesti bepergian ke Amerika selama 3 minggu. Sebagai pengganti, Lydia (Aurelie Moeremans) diminta menjaga mereka. Jangan berharap Lydia maupun kekasihnya, Glenn (Fero Walandouw), si pembaca acara horor di televisi—yang bertanggung jawab membawa cermin terkutuk tempat kuntilanak bersemayam ke panti asuhan—mendapat porsi banyak. Kuntilanak memang berpusat pada tokoh anak, layaknya IT (2017) atau karya-karya klasik Steven Spielberg.

Cermin penebar teror tersebut berasal dari sebuah rumah bernama “rumah kuntilanak”, yang dipercaya ditinggali sesosok kuntilanak yang menyebabkan hilangnya seorang bocah 4 bulan lalu. 4 bulan yang bagaikan 4 tahun melihat kondisi rumah yang bahkan telah diselimuti akar-akar besar entah dari mana. Tentu rumah ini terbengkalai, walau fakta itu terasa membingungkan saat pemilik lamanya tiba-tiba muncul memergoki kelima protagonis kita yang tengah masuk guna membuktikan keberadaan kuntilanak. Kebingungan lain: siapa hantu-hantu selain kuntilanak yang rutin mengganggu anak-anak itu tiap malam? Misalnya Hantu Penari yang muncul di tengah upaya Rizal memberi homage bagi Poltergeist. Wujud serta modus operandinya jelas berbeda dibanding kuntilanak yang mitologinya diperkenalkan ke penonton.

Beberapa momen jump scares sanggup dikemas cukup solid oleh Rizal dengan segelintir di antaranya memiliki daya kejut lumayan berkat timing tidak terduga. Kebanyakan berujung datar, tanpa penebusan setimpal sebaimana telah dibahas di awal tulisan, tapi setidaknya kita bisa melihat bahwa Rizal bukan sineas horor malas yang asal melemparkan hantu sedekat mungkin ke layar. Sayangnya, tatkala film versi lama yang dibintangi Julie Estelle dahulu memperkenalkan penonton akan desain kuntilanak dengan rasa fantasi, di sini sang titular ghost tampak medioker, kurang mengerikan, mudah dilupakan. Pernyataan yang disebut terakhir bisa didebat, karena paling tidak saya bakal selalu mengingat kuntilanak di sini sebagai “hantu wanita berjidat lebar itu”.

Alim Sudio (Guru Ngaji, Ananta, Ayat-Ayat Cinta 2) selaku penulis naskah mungkin urung membangun pondasi cerita kokoh. Misterinya tak meninggalkan penasaran dan antusiasme, unsur drama keluarganya berlangsung hambar. Tapi berkatnya, Kuntilanak bukanlah satu lagi horor yang tersusun atas fragmen-fragmen jump scare overdosis yang digabungkan paksa. Ada jembatan berbentuk usaha memantapkan hubungan antara bocah-bocah panti asuhan melalui sederet humor yang lebih efekif memancing tawa ketimbang jump scare-nya dalam memancing kengerian, khususnya celetukan-celetukan “semaunya” dari Ciara Nadine Brosnan selaku pemeran Ambar si bungsu, walau keputusan Rizal menyelipkan efek suara plus musik konyol khas sinetron tiap humor tersaji terasa mengganggu. Ini bukan Tukang Ojek Pengkolan.

Ada kepolosan menggelitik dalam celetukan Ambar, berbeda dengan di banyak kesempatan ketika naskahnya memaksa anak-anak ini bicara, menjelaskan mitologi kuntilanak bagai orang dewasa. Klimaksnya (baca: penebusan terhadap keseluruhan film) juga terganggu masalah serupa. Bermaksud menghadirkan kekacauan menyenangkan, kilmaks film ini justru berakhir sebagai kekacauan murni akibat percakapan-percakapan—atau tepatnya teriakan-teriakan—tak perlu yang dilontarkan para protagonis selaku penjelas verbal bagi seluruh hal yang tengah terjadi. Tidak, kalimat yang terlontar dari mulut anak-anak tidak semestinya kaku dan membosankan. Sebaliknya, acap kali menarik, tak terduga, absurd, menggelitik, pastinya lebih menghibur dari (film) ini.

19 komentar :

Comment Page:
Lian mengatakan...

Bisa tidak ya, judul film horor indonesia kreatif dikittt aja...?

Rasyidharry mengatakan...

Mau Indonesia, Korea, Hollywood, mana pun, formula judul film horor ya sama. Antara nama hantu (Kuntilanak, Annabelle), nama tempat (Alas Pati, The Amytiville House), atau hal-hal bernuansa "evil" (Kafir, Insidious).

Anonim mengatakan...

Akting pemainnya gimana Mas Rasyid? Ada hubungan dengan trilogi Kuntilanak yang lalu gak?

fikri mengatakan...

kok mas masi mau nonton film horor indo sih?, padahal udah keliatan hasilnya gitu" doang nantinya

Rasyidharry mengatakan...

@fikri Because I love Indonesian movies and care about them. Selama kelihatan digarap beneran, ya kasih kesempatan. Kebanyakan emang kurang oke, tapi who knows? Proyek-proyek menjanjikan macam Sebelum Iblis Menjemput, Kafir, dsb toh juga masih ada.

Arif Hidayat mengatakan...

Ngga percaya kuntilanak bisa hancur, padahal di garap sama sutradara yg sama.

Kalau udah seperti ini, kesalahan sutradara atau penulis naskah ?

Dading With Lindung mengatakan...

Mas ini reboot ato gimana ke film trilogy Kuntilanak, soalnya itu cermin yg mmbuat malapetaka di trilogy aslinya.

Dilihat dri yg trilogy Kuntilanak memang banyak perubahan ya, Kuntilanak 1 (Origin yg benar" solid akan mitologi Kuntilanak), Kuntilanak 2 (berubah jadi film gore yg mngeksplor Kuntilanak), Kuntilanak 3 (paling lemah, berubah jadi film horor yg cuma membunuh tiap karakternya) tp jujur saya sangat puas dgn trilogy Kuntilanak mas Rizal, gimana dgn mas Rasyid?

Rasyidharry mengatakan...

@Arif Nggak ancur juga sih. Kuntilanak lama, khususnya yang pertama, emang bagus, tapi alasan utama bisa legendaris karena masa itu, selain Jelangkung, nggak ada horor yang oke. Jadilah kesannya nostalgic buat yang tumbuh sama filmnya.

@Dading Bisa dibilang reboot sih. Ya bener itu. Kuntilanak 1 itu horor fun, kombinasi gore & creepy. Sampe di 3 ya udah habis ide. Versi baru ini sebenernya evolusi juga, mau ambil feel Spielberg (which is dilakuin juga sama IT),tapi karena fokus ke karakter manusia, mitologi kuntilanak dipinggiring, yang akhirnya plot jadi lebih tipis

mukhlis galaxy mengatakan...

gala premier dimana mas?
wah sesuai firasat

mukhlis galaxy mengatakan...

gala premier dimana mas?
wah sesuai firasat

Albert Yaputra mengatakan...

Kalau Jailangkung termasuk yang bakal dikasih kesempatan ga nih bang? Hehehe.

Rasyidharry mengatakan...

@mukhlis Di epicentrum Kamis kemaren.

@Albert Oh jelas. Nggak usah Jailangkung deh, Rasuk aja masih kasih 😁

Aaron mengatakan...

Akting si Aurelie oke gak di film ini Mas? Berarti cerita film ini seolah ada di dimensi yang baru, hanya cermin elemen penghubung?

johan iglesias mengatakan...

Dari trailernya udah gak meyakinkan sih apalagi pas ada penampakan hantunya. kuntilanak iconic difilm lama nya tubuh manusia berkaki kuda. disini kuntilanak nya mainstream banget.

Zamal Usep mengatakan...

Dan sangat menyesal setelah mennton filmnya...citra kuntilanak seolah hilang di film ini pdhal saya fans setia kunti banget

Iris Herga mengatakan...

Tetep sih bang, film Indo yg juara itu karya Joko Anwar dan Nia Dinata (menurut saya) seperti pintu terlarang, modus anomali, arisan 1 & 2 serta berbagi suami. Adakah rekomendasi film lain dari bang rasyid berdasarkan sutradara?

Rasyidharry mengatakan...

@Iris Joko jelas masih terdepan. Nia sayangnya "kecoreng" Ini Kisah Tiga Dara sih. Beberapa yang cukup konsisten sih Garin Nugroho, Ismail Basbeth, Mouly Surya, Angga Dwimas Sassongko.

Alvan Muqorrobin Assegaf mengatakan...

Emang si mas kalau dirasa Rizal Mantovani akhir-akhir ini filmnya lebih mending daripada Jose Poernomo. Kalau Jose Poernomo sepertinya hanya mengutamakan kualitas gambar, cerita dan logika kurang digalih. Dan stelah dipikir-pikir kemungkinan yg bikin Jailangkung reboot Dwilogi ancur yaa karena si Jose ikut nyutradarain. Jose dan Rizal pernah sukses bareng, tapi kyakx skarang ada perbedaan visi pada mereka, kliatan dri film2 mereja. Menurut mas Rasyid gimana?

Rasyidharry mengatakan...

@Alvan Mereka sama sih, tipe sutradara yang nggak bisa "ngangkat naskah", sebaliknya, kudu "diangkat sama naskah". Cuma belakangan Rizal lebih banyak dapet proyek yang pondasinya bener 😁