REVIEW - 28 YEARS LATER: THE BONE TEMPLE
Penting untuk diingat bahwa di waralaba satu ini, infeksi bukan mengubah manusia menjadi zombi tak berotak biasa, tapi menstimulus amarah mereka. Kalau 28 Days Later (2003) adalah tentang amukan yang membawa kehancuran, maka melanjutkan 28 Years Later (2025), The Bone Temple merupakan progresi natural yang membicarakan upaya menyembuhkan kekacauan batin lewat proses mencari kedamaian.
Melanjutkan akhir menggantung film sebelumnya, kita kembali bertemu Spike (Alfie Williams) yang ditangkap oleh kelompok pemuja setan milik Sir Lord Jimmy Crystal (Jack O'Connell). Mengenakan wig panjang pirang dalam tampilan yang dimodelkan berdasarkan Jimmy Savile si predator seksual serta memanggil satu sama lain "Jimmy", mereka percaya sang pemimpin adalah keturunan setan yang diutus untuk menyulut kehancuran dunia.
Di sisi lain, Dr. Ian Kelson (Ralph Fiennes), masih di kuil tulang manusia ciptaannya, membangun hubungan pertemanan aneh dengan Samson (Chi Lewis-Parry) si zombi alfa. Jika kultus Jimmy Crystal berkeliaran menguliti para penyintas, maka Samson bakal mencabut tulang belakang mereka kemudian memakan otaknya.
Kuantitas aksi The Bone Temple tidak seberapa banyak, bahkan untuk ukuran seri 28 Days Later yang cenderung mengetengahkan drama humanis, tapi bukan berarti Nia DaCosta selaku sutradara tak piawai merumuskan teror. Dua momen yang saya sebut di atas mampu menghadirkan parade gore menjijikkan nan menyakitkan, hanya saja, elemen kekerasan film ini tak dieksploitasi atas nama hiburan, namun jadi penggambaran esensial atas dunia post-apocalyptic-nya.
DaCosta mengganti "sinematografi iPhone" penuh gaya khas Danny Boyle dengan bahasa visual puitis yang mengajak penonton mengobservasi masih adanya sisa-sisa keindahan alam kendati kiamat telah menghampiri dunia 28 tahun lalu.
Sebagai landasan, naskah buatan Alex Garland menggiring tokoh-tokohnya perlahan mengingat keindahan tersebut, lalu memanfaatkan unsur psikedelik guna membuat mereka menyadari bahwa "tidak ada salahnya mendambakan kedamaian di tengah dunia yang penuh amarah."
Subteks "manusia lebih menyeramkan dari mayat hidup" khas film zombi masih dipertahankan, tapi Garland mengolahnya lebih jauh dengan memanusiakan seluruh karakternya, dari Samson hingga Jimmy, sama-sama memotret keduanya sebagai figur tragis alih-alih sekadar setan tanpa kepribadian.
Jika ada ciri penyutradaraan Danny Boyle yang dipertahankan oleh Nia DaCosta, itu adalah kejelian memilih daftar putar lagu. Satu yang paling menonjol tentu The Number of the Beast kepunyaan Iron Maiden selaku pengiring momen megah di babak ketiga.
Klimaksnya memang spesial. Disokong keliaran tindak-tanduk Ralph Fiennes, momen tersebut makin menegaskan keberanian seri 28 Days Later melawan pakem film zombi arus utama, dengan menyeriusi sebuah lelucon (ya, film ini lebih punya sense of humor dibanding para pendahulunya), menjadikannya babak puncak, lalu sebagaimana ucapan Dr. Kelson, "turn this up to eleven."
REVIEW - THE PERIOD OF HER
"Tiap menstruasi rasanya seperti dihukum", ucap salah satu protagonis The Period of Her, omnibus berisi empat cerita seputar perempuan karya empat sutradara. Kalimat di atas bertindak selaku benang merah. Bukan semata soal menstruasi, tapi bagaimana di Indonesia, keperempuanan seolah merupakan bentuk hukuman.
Di Serixad Patah Hati karya Linda Andriyani yang jadi segmen pembuka, dibarengi take panjang yang menghasilkan gambaran utuh atas latar lokasinya, yakni keriuhan persiapan acara kuda lumping, kita melihat keriuhan lain berupa patahnya hati Shela (Ika Dihardjo) kala menangkap basah perselingkuhan sang kekasih, Rendi (Rindang Arga).
Alih-alih dibanjiri penyesalan, Rendi justru menyebut Shela murahan karena "wis ora segelan". Biarpun pertengkaran pasangan ini dikemas dengan diksi banal yang terlampau menyuapi penonton, efektivitasnya dalam menyampaikan pesan terbukti efektif. Di mata masyarakat, hilangnya keperawanan melucuti harga diri perempuan, sedangkan tanpa keperjakaan, laki-laki malah mendapat puja-puji akan maskulinitasnya.
Sebagai anggota kelompok kuda lumping yang bertugas kesurupan, Shela pun mencetuskan ide unik guna membalas kelakuan Rendi. Ketika dunia nyata punya tendensi membungkam para perempuan, mistisisme memberi ruang aman untuk bersuara, biarpun ujungnya, slut-shaming terhadap mereka sering jadi efek samping kala kebejatan laki-laki diungkap. Pada akhirnya perempuan hanya memiliki satu sama lain guna bertukar manis-pahit kehidupan.
Sedangkan Romansa Keparat karya Praditha Blifa menyoroti keinginan Wati (Claresta Taufan) memiliki momongan, yang selama ini senantiasa berujung kekecewaan sewaktu menstruasi menyambanginya lagi dan lagi. Suaminya, Aan (Ben Bening), terus menyalahkan Wati, sembari menampik adanya kemungkinan bahwa dirinya mandul.
Terciptalah komparasi. Jika Wati (perempuan) ingin punya anak demi membagi cinta, maka Aan (laki-laki) hanya berhasrat memamerkan kejantanan. Sebagaimana yang ia tampilkan di Pangku, Claresta Taufan memamerkan kesubtilan seni peran, dengan ekspresi yang mengajak penonton bertandang memasuki isi kepala Wati yang diisi penolakan untuk tunduk pada ego laki-laki, bahkan takdir semesta.
Swim Swimming to the Shore karya Sarah Adilah membawa kita sejenak beralih dari latar Jawa ke Sulawesi, mengamati kegundahan yang dirasakan Annisa (Afiqa Kirana), tatkala keikutsertaannya dalam turnamen renang terancam pasca mendapatkan menstruasi pertama. Pasalnya, pihak sekolah mewajibkan siswi yang sudah balig untuk memakai hijab, yang mana bertentangan dengan standar pakaian turnamen tersebut.
"Terbuka salah, tertutup juga salah", keluh Annisa di satu kesempatan, yang menunjukkan keseimbangan perspektif filmnya. Kekangan sekolah atas tubuh perempuan mendapat kritik, begitu pula diskriminasi aturan turnamen terhadap pemakai hijab. Sekali lagi, menjadi perempuan di Indonesia terasa serba salah.
Tapi tidak ada yang salah dalam performa Afiqa Kirana, yang bersama Omara Esteghlal (Tinggal Meninggal), menyabet piala Best Performance di JAFF 2025 untuk seksi Indonesian Screen Awards. Kendati bibirnya lebih banyak membisu, sorot matanya menyuarakan perlawanan atas penyegelan kebebasan oleh kunci bernama seksisme.
Not Dead Enough garapan Erlina Rakhmawati hadir sebagai penutup menyenangkan lewat presentasi komedi gender-swap absurd miliknya. Alkisah, Kempes (Rendra Bagus Pamungkas) si suami mokondo, mendapati dirinya bertukar peran gender dengan sang istri, Watik (Yessy Yoanne). Kini, Kempes lah yang harus terkurung di rumah sementara sang istri kelayapan, terkekang perihal cara berpakaian, dan dipusingkan oleh "men" yang datang tiap bulan.
Segmen inilah yang paling sesuai dipresentasikan selaku bagian dari omnibus, mengingat humornya bakal segera terasa monoton andai dialihkan ke format feature. Tapi sebagai film pendek berdurasi sekitar 25 menit kejenakaannya luar biasa menghibur. Musiknya menambahkan bumbu penyedap melalui peleburan bunyi-bunyian gamelan dengan vokalisasi unik yang mewakili keheranan dalam benak protagonis (dan penonton) terhadap deretan peristiwa aneh yang filmnya munculkan.
Harus diakui, keterbatasan durasi berujung membatasi eksplorasi mayoritas segmen, pula dampak emosional yang mungkin dihasilkan. Tapi setidaknya keempat cerita The Period of Her berhasil mencapai tujuan paling mendasar, yaitu memberi ruang bersuara bagi perempuan ketika paham patriarki negeri ini acap kali membisukan mereka.
(KlikFilm)
REVIEW - BEAUTY AND THE BEAT
Plaifun (Jacqueline Muench) adalah tipikal diva konvensional. Dipuja berkat kepiawaian menyanyikan balada sendu bernada tinggi, memegang standar kecantikan sebagai syarat mutlak, pula masih memakai samaran lengkap kala makan di tempat umum. Masihkah ada tempat bagi diva masa lalu sepertinya, di tengah era media sosial yang getol menelanjangi kepalsuan para bintang?
Setelah tujuh tahun absen dari belantika musik, Plaifun ingin menjajal peruntungan lagi dengan menggelar konser tunggal. Tapi kini Plaifun ibarat kaset di zaman layanan streaming. Beberapa masih mengidolakan dirinya atas nama nostalgia, namun telah dilupakan kebanyakan orang serta dianggap kuno. Di dalam hatinya ada pita yang secara tersendat memutar lagu kejayaan masa lalu yang sudah ogah didengar publik.
Karenanya, sang manajer, Kob (Bobby Nimit Lugsamepong), memberi saran supaya berkolaborasi dengan trio Gang Takhli—Pitta P. (Thongchai Thongkanthom) si "Ratu Rap", Copter (NuNew Chawarin Perdpiriyawong) si "Pangeran T-pop", dan Laila (Ninew Phetdankaeo) si bintang folk dengan kemampuan mistis—yang tengah menggemparkan internet lewat musik ceria dan aksi panggung heboh.
Citra liar nan apa adanya milik Gang Takhli, yang amat berkebalikan dengan Plaifun, justru jadi alasan ketiganya digemari Gen Z. Gesekan didasari kecemburuan, yang juga dipakai mewakili konflik perspektif antar generasi pun pecah. Apalagi setelah bintang K-pop yang sedang naik daun, Alex Kim (Keng Harit Buayoi), turut bergabung dalam konser tersebut.
Melalui Beauty and the Beat (atau yang punya judul asli Diva, la Vie), Kittiphak Thong-Uam selaku sutradara bak menggelar 125 menit pertunjukan semarak para diva, yang diwarnai barisan kostum meriah kaya warna, juga aksi panggung berdaya hibur tinggi penuh keliaran aksi jajaran pelakon serta lagu pop elektronik yang mustahil dihapus dari otak pendengarnya.
Bagaikan diva ambisius yang saling berebut lampu sorot, tidak satu pun aktornya tampil setengah-setengah, terutama dalam menghantarkan komedi. Jacqueline Muench mengenyahkan segala wujud keanggunan tiap memaksimalkan gestur dan ekspresi miliknya hingga mencapai titik hiperbolis, demikian pula trio Gang Takhli yang tak pernah kehabisan energi dalam upaya menyulut tawa.
Kendati di beberapa titik komedinya seperti peluru yang ditembakkan secara serampangan sehingga tidak selalu menemui sasaran, naskah buatan Kittiphak Thong-Uam, Parames Samranrom, dan Waneepan Ounphoklang tidak pernah lalai menyuntukkan kreativitas, yang acap kali menciptakan kelucuan melalui jalan tak terduga.
Sebagai penonton kita hanya perlu pasrah menyerap segala situasi absurd khas sinema Thailand yang bertebaran. Jangan melawannya dengan memaksakan gagasan-gagasan logis. Terima saja bagaimana alurnya menggiring kita memasuki area mengejutkan di babak ketiga, tatkala Beauty and the Beat secara brilian meleburkan elemen horor ke dalam kisahnya, yang jadi ajang bagi Keng Harit Buayoi menandingi pesona komedik jajaran pemain lain.
Melegakan pula mendapati konklusinya enggan menutup penceritaannya secara naif. Perubahan era yang protagohadapi takkan bisa diakali. Mustahil baginya (serta diva-diva lain setelahnya, bahkan Gang Takhli di kemudian hari) untuk membuat sinar kebintangan selalu menyala seterang mungkin. Satu yang bisa ia lakukan adalah menjaga sinar itu agar tak sepenuhnya luruh ditelan kegelapan, biarpun cuma berupa pendar-pendar kecil.
20 FILM ASING TERBAIK 2025
Dan usai juga saya menyusun konten tahunan pamungkas untuk 2025. Sebuah tahun di mana akses terhadap film-film penyabet piala festival internasional bergengsi maupun kontender ajang penghargaan, biarpun masih cukup terbatas, sudah jauh lebih mudah didapat ketimbang tahun-tahun sebelumnya.
Tengok saja daftar pendek Best International Feature Film untuk Academy Awards 2026, di mana dari 15 judul yang terpilih, 14 di antaranya sudah tayang di Indonesia, baik dalam penayangan reguler di bioskop, pemutaran terbatas (KlikFilm sangat berjasa untuk ini), festival, hingga di layanan streaming. Hanya Palestine 36 yang masih absen, pun kabarnya, perwakilan Palestina tersebut bakal segera dirilis.
Tidak semuanya sempat saya saksikan karena berbagai alasan, namun fakta bahwa 2025 adalah tahun yang menyenangkan bagi pengalaman ber-sinema tidaklah berkurang.
Jadi ini dia daftar 20 FILM ASING TERBAIK 2025 versi Movfreak!
Cara Sunshine menangani perihal kehamilan remaja sejatinya tidak baru, tapi teknik pengadeganan Antoinette Jadaone memberi warna spesial. Bukan air mata yang coba dihasilkan dari penonton, melainkan pemahaman terkait isunya. Kapan Indonesia siap melempar diskursus perihal pro-choice seperti negara tetangganya ini?
Happyend bertindak selaku pengingat, bahwa segala bentuk perlawanan, tidak peduli sekecil dan seremeh apa pun, tetaplah perlawanan. Entah aktivitas menyuarakan "musik bawah tanah" yang dianggap mengganggu oleh para penguasa, atau sebatas mengusili kenyamanan hidup mereka.
Santosh secara tegas menawarkan solusi yang bisa diambil para aparat jika benar-benar menaruh kepedulian terhadap ketidakadilan yang dilakukan instansinya. Angka "1312" pun seolah menampakkan dirinya di wajah si karakter utama.
On Becoming a Guinea Fowl memotret bagaimana mestinya masyarakat bersikap saat ada perempuan bersuara. Satu suara kecil nan lirih pun bakal terdengar keras, pula berdampak besar, bila kita bersedia mengindahkannya.
Anora mengobrak-abrik pakem dongeng Cinderella, membawanya ke latar modern dengan ragam problematika yang lebih liar, dan tidak kalah penting, luar biasa menghibur. Mikey Madison layak menggenggam piala Oscarnya.
Lesbian Space Princess menghadirkan selebrasi liar sarat kebanggaan atas identitas diri, terutama lesbianisme, yang presentasinya sarat akan kreativitas audiovisual yang menolak menyisakan ruang bagi rasa bosan dan kemonotonan.
I'm Still Here ingin membuat penonton merasa terlibat langsung dengan rangkaian peristiwanya guna menciptakan keintiman, dalam kisah soal angkatan bersenjata Brazil, yang alih-alih memberi rasa aman, justru menebar ketakutan, dan bukannya menjaga malah menghilangkan nyawa.
Blue Moon tampil sebagai biopic dengan pendekatan non-konvensional, berisi tragikomedi memilukan penuh nada minor kehidupan. Ethan Hakwe membawa kompleksitas lewat akting yang membuat penonton serasa ditusuk ratusan jarum secara perlahan.
Cerita lintas masa milik All That's Left of You berguna memaparkan bagaimana pengalaman suatu generasi bukan cuma membentuk perspektif generasi tersebut, pula generasi di bawahnya. Termasuk bagi rakyat Palestina yang jadi korban cakar mematikan para zionis dengan segala keculasan dan tipu daya mereka.
Banyak blockbuster sebatas memikirkan cara mempertontonkan spektakel. Tidak keliru, namun Sinners menunjukkan bahwa ada metode pendekatan berbeda, di mana penceritaan dan penokohan ditempatkan di garis depan, terlebih dahulu dipatenkan sebelum melompat ke upaya menghibur penonton.
Sorry, Baby menangani isu soal kekerasan seksual terhadap perempuan dengan sensitivitas tinggi. Tidak ada bagian yang terasa eksploitatif, tiada pula adegan problematik atau kealpaan merangkai kata yang eksistensinya layak dipertanyakan. Sederhananya, semua terasa benar dalam film ini.
Train Dreams membicarakan pergulatan kefanaan "sang nobody" dengan guliran waktu, yang mengalun lirih & membuai lewat audiovisualnya, yang terkadang tampil bak versi modern dari karya-karya Terrence Malick.
Dreams (Sex Love) jadi satu dari sedikit film yang dengan sempurna merangkum rasanya jatuh cinta. Dipaparkannya bagaimana otak mempermainkan emosi kita, untuk menstimulasi fantasi bahagia sekaligus kecemasan berbasis asumsi liar. Lebih dari sekadar romansa, ia membicarakan koneksi antara pikiran dan jiwa.
Melalui Resurrection, Bi Gan membawa medium film, penciptanya, serta penikmatnya, “mewujud” sebagai satu kesatuan, dalam sebuah surealisme epik yang melahirkan mahakarya visual.
Meski berlatarkan dunia puisi, A Poet enggan terjebak dalam keharusan tampil puitis. Sebab ketimbang medium puisi itu sendiri, Simón Mesa Soto lebih tertarik memberi sorotan ke arah penciptanya. Mengenai para manusia yang melahirkan kata-kata, beserta hidup mereka yang tidak melulu puitis.
A Useful Ghost menyajkan keanehan sarat kreativitas yang dipakai menelusuri wajah kelam suatu negeri, penuh alegori yang mengasyikkan untuk dipecahkan, lalu berpotensi mengundang diskursus panjang.
Cerita The Life of Chuck tidak memenuhi kaidah logika, sebab kita memang tidak perlu memandangnya secara logis. Cukup resapi tiap momen dengan hati, rasakan, renungkan, lalu begitu kredit penutup bergulir, kalian akan duduk terdiam melihat ruang kosong yang nampak di layar, kemudian tanpa sadar berujar, "Hidup ini berharga".
Lewat No Other Choice yang masih penuh gaya ini, Park Chan-wook membicarakan suatu jenis mantra. Mantra berbahaya yang dapat menjustifikasi kesalahan, mengoreksinya sebagai sebuah kebenaran, bahkan menyihir orang baik menjadi iblis jahat. Mantra itu berbunyi "Tidak ada pilihan lain."
It Was Just an Accident adalah karya luar biasa yang ditutup secara luar biasa pula, melalui peleburan bahasa visual (membiarkan gambar bercerita tanpa penjelasan) dan audio (suara decitan tidak pernah semencekam ini), juga bentuk penceritaan nonverbal, yang uniknya, memiliki dampak emosi berkat tuturan bersifat verbal yang hadir beberapa menit sebelumnya.
One Battle After Another memberi potret dinamika dunia kita sekarang, di mana pertikaian terus lahir tanpa akhir dan konflik jadi santapan sehari-hari. Sebuah 162 menit penuh kekacauan yang berpotensi jadi bencana sinematik andai bukan ditangani oleh pengarahan jawara seorang Paul Thomas Anderson yang merevolusi genre aksi, memberinya ruang emansipasi dari tuntutan menyuguhkan hiburan tanpa isi.
REVIEW - JANUR IRENG: SEWU DINO THE PREQUEL
Kalau Sewu Dino (2023) ibarat macan muda dengan taring belum seberapa runcing yang diasuh dalam kandang, maka di Janur Ireng selaku prekuelnya, taring itu mulai menajam. Sudah pula ia dikeluarkan dari kurungan. Tapi karena terlanjur dikondisikan sebagai peliharaan, naluri memangsanya belum tumbuh. Si predator masih terlampau jinak.
Meneruskan adaptasi layar lebar bagi cerita Trah Pitu Lakon milik SimpleMan, kini kita diajak menelusuri lebih lanjut dinamika ketujuh keluarga yang saling berkonflik, termasuk awal mula keterlibatan Sabdo (Marthino Lio), si pengirim santet sewu dino dalam film pertama. Marthino Lio memberi jaminan, bahwa setidaknya, ada pelakon di film ini yang melafalkan logat Jawa secara fasih.
Pasca kehilangan seluruh harta benda akibat kebakaran, Sabdo bersama adiknya, Intan (Nyimas Ratu Rafa), pindah ke rumah megah milik sang pakde, Arjo Kuncoro (Tora Sudiro). Bulik mereka, Lasmini (Masayu Anastasia), turut tinggal di sana. Sekilas nampak kejanggalan dari hubungan Arjo dan Lasmini. Tapi toh bagi Sabdo, tak ada yang lebih aneh dari ritual penyembelihan kambing yang berkali-kali mesti ia lakukan atas perintah pakdenya.
Beberapa pentolan Trah Pitu lain juga Sabdo temui: Karsa Atmojo (Karina Suwandi), Pastika Gayatri (Faradina Mufti), Anggodo Prayogo (Epy Kusnandar), dan Lingga Codro (Aqi Singgih). Mereka diam-diam saling membenci, tak ragu melakukan hal-hal bejat, sebutlah mengirim santet bahkan terlibat inses, demi melanggengkan kekuasaan.
Naskah yang ditulis sang sutradara, Kimo Stamboel, bersama Khalid Kashogi, tahu betul cara mengolah konflik keluarga disfungsional ala sinetron dengan bumbu mistis Jawa, untuk menghadirkan 94 menit yang menyenangkan. Serba hiperbolis, penuh intrik pelik, tidak jarang konyol, tapi adiktif. Ya, begitulah cara kerja opera sabun menghipnotis atensi penontonnya.
Sebelum menu utama dihidangkan, sajian pembuka berupa beberapa jumpscare lebih dulu disuguhkan. Skenario terornya cenderung generik, sebutlah penampakan di kamar saat tokoh-tokohnya berusaha terlelap, atau keanehan-keanehan yang mereka saksikan kala mengikuti dorongan impulsif guna mengecek suara ganjil di tengah kesunyian malam seorang diri.
Menu utama itu baru datang sewaktu Intan kerasukan, lalu menyulut kekacauan di kediaman Keluarga Kuncoro. Kimo meledakkan amunisinya di sini, menciptakan sekuen brutal yang diisi beberapa kematian mengenaskan. Kimo begitu ahli mengolah intensitas, bahkan interpretasi Nyimas Ratu Rafa terhadap fenomena kerasukan yang masih berkutat pada teriakan-teriakan serak monoton tidak sampai mengurangi efektivitas momen tersebut.
Sayang, kemunculan intensitas serupa bisa dihitung dengan jari. Kimo dan tim bak belum seutuhnya lepas dari tuntutan horor arus utama untuk bermain aman. Pertumpahan darah baru terjadi lagi memasuki babak ketiganya, yang biarpun tetap menghibur, meninggalkan kesan buru-buru sekaligus kekurangan "gigitan mematikan" sebagai fase puncak dari segala terornya. Oh, dan mengapa sineas ibukota sangat terobsesi pada tarian Jawa? Tidakkah mereka sadar, bahwa alih-alih mencekam, justru kesan konyol yang acap kali terasa?
20 FILM INDONESIA TERBAIK TAHUN 2025
Tidak berlebihan rasanya menyebut 2025 sebagai tahun yang gemilang bagi perfilman Indonesia. Apiknya performa komersil, termasuk potensi adanya dua judul peraih 10 juta penonton (sampai tulisan ini dibuat, Agak Laen: Menyala Pantiku berada di kisaran 9,2 juta), fakta bahwa horor malas tak lagi selalu mendominasi peringkat penjualan tiket, hingga banyaknya film berkualitas yang dirilis sepanjang tahun.
Poin terakhir mendorong saya untuk menambah jumlah daftar, dari yang biasanya diisi 10 film menjadi 20, dengan tujuan mengapresiasi sebanyak mungkin karya sineas kita.
Ada beberapa judul yang saya tonton di festival atau penayangan khusus dan belum tayang secara luas, ada pula film-film yang rilis di bioskop selama 2025 namun sudah disertakan di daftar tahun lalu (Samsara misalnya, yang bercokol di peringkat pertama dalam daftar terbaik 2024) sehingga takkan anda temukan di sini.
Berikut adalah daftar 20 FILM INDONESIA TERBAIK 2025 versi Movfreak:
Tidak semua orang akan cocok dengan humornya yang bakal dengan gampang dicap "aneh" atau "garing", tapi bagi yang familiar dengan gaya bercanda "gojek kere" khas tongkrongan Jawa (terutama Yogyakarta), bisa jadi bukan cuma menikmati, bahkan merasa terwakili seleranya oleh Sah! Katanya...
Mungkin bukan karya luar biasa progresif bila dipandang lewat kacamata penonton kota besar, tapi sebagai orang yang menghabiskan masa muda di latar serupa, saya sadar betapa relevan Judheg karya Misya Latief ini sebagai potret paham patriarki di lingkungannya.
Di tengah kemonotonan horor klenik lokal, Dia Bukan Ibu selaku karya sophomore Randolph Zaini, yang juga jadi panggung bagi performa intimidatif Artika Sari Devi, memberi bukti bahwa selalu ada cara untuk memberi daya tarik serta modifikasi pada adaptasi utas horor.
Koesroyo: The Last Man Standing mengajak penonton mengunjungi ruang personal Koesroyo alias Yok Koeswoyo, selaku satu-satunya personel Koes Bersaudara yang masih hidup, lalu memanusiakannya, di saat negara luput melakukan itu.
Biarpun tak mendobrak pakem klasik horor zombi secara general, Abadi Nan Jaya terasa unik berkat asimilasi antara formula genrenya dengan budaya Indonesia.
Mungkin cara bertuturnya agak repetitif, tapi melihat para queer dengan nyaman dan aman membicarakan identitas mereka, sudah cukup menjadikan Jagad'e Raminten sebuah karya yang spesial.
Lupakan Timur dengan segala propaganda menyebalkan serta eksekusi aksi setengah matanya. Ikatan Darah adalah produksi Uwais Pictures yang semestinya dikedepankan, berkat pengarahan Sidharta Tata yang bak baru lulus dengan nilai cemerlang dari "sekolah pembuatan film aksi Gareth Evans".
Mungkin Kita Perlu Waktu mengedepankan proses observasi terhadap interaksi individu, baik dengan individu lain maupun hatinya sendiri, dalam upaya mereka menangani duka, yang dipaparkan tanpa harus sejalan dengan norma standar masyarakat.
Meleburkan drama keluarga berurai air mata dengan fiksi ilmiah beraroma Black Mirror, Esok Tanpa Ibu mengeksplorasi rapuhnya dinamika ayah-anak, yang terjebak dalam kenyamanan dependensi terhadap figur ibu.
Tatkala banyak horor religi Indonesia melihat salat sebagai ritual sepele, Charlez Gozali enggan memandang sebelah mata kesakralannya. Ketika film adiwira Hollywood membentangkan jurang antara pahlawan dan manusia biasa, Qodrat 2 tidak mengeksklusifkan kekuatan super sang ustaz. Semua bisa memilikinya selama bersedia menguatkan iman.
Banyak sineas tanah air cenderung mengeksploitasi perihal duka guna menjadikan tiap adegan sebagai alat penguras air mata, tapi melalui Tukar Takdir, Mouly Surya menolak pendekatan nirempati dengan menaruh fokus pada keintiman humanis untuk mengajak penonton memahami duka tersebut.
Agak Laen: Menyala Pantiku memberi definisi sejati terhadap istilah "blockbuster comedy" dengan bukan asal mencanangkan ambisi sampai membuatnya kehilangan identitas, tapi penegas bahwa di luar tugasnya sebagai spektakel pengocok perut, komedi patut digarap sungguh-sungguh di segala lini, dari penceritaan hingga artistik.
Pengepungan di Bukit Duri memotret rasisme yang menandai bagaimana pengarahan Joko Anwar mencapai titik termatangnya sejauh ini. Dibantu tata kamera olahan Ical Tanjung yang bergerak begitu dinamis tanpa batasan, Joko menjaga supaya banyaknya kuantitas adegan aksi tak melahirkan banyak momen serba tanggung nan canggung.
Suka Duka Tawa, selaku debut penyutradaraan film panjang solo dari Aco Tenriyagelli, adalah dramedi sarat sensitivitas, di mana kebanyakan tokohnya hidup untuk memproduksi tawa orang lain biarpun hati mereka dihantui luka.
Lewat 1 Kakak 7 Ponakan, Yandy Laurens kembali mengingatkan bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga, beserta segala momen-momen kebersamaan yang semestinya tak terhalang oleh dinding pemisah berbentuk apa pun.
Melalui Pangku, Reza Rahadian yang notabene merupakan salah satu pelakon terbaik negeri ini, memakai kecakapan aktor untuk mengobservasi, kali ini bukan untuk berlaku di depan kamera, melainkan bertutur di belakangnya selaku sutradara.
Di Perang Kota yang punya estetika memanjakan mata ini, Mouly Surya coba mengingatkan bahwa aroma memuakkan peperangan acap kali dipakai untuk menyamarkan bau-bau lain yang diciptakan oleh kebusukan manusia.
Bukan semata karena pencapaiannya sebagai animasi Indonesia, Jumbo terasa bermakna karena ia menolak memandang sebelah mata penonton muda, sehingga bersedia menaruh hormat pada kecerdasan pikir mereka.
Sore: Istri dari Masa Depan menangani elemen perjalanan waktunya lewat pendekatan magical realism alih-alih fiksi ilmiah yang berupaya memberi penjelasan logis. Keajaibannya, yang menelusuri gagasan bahwa cinta mampu menembus ruang dan waktu, memang bukan untuk dijabarkan, tapi dirasakan. Kisah yang indah!
Kristo Immanuel bukan cuma melenggang memasuki industri lewat Tinggal Meninggal yang jadi debutnya sebagai sutradara. Dia mendobrak pintunya hingga hancur, lalu memperkenalkan diri dengan suara begitu lantang bersenjatakan kepercayaan diri yang mampu mengguncang seisi ruangan.

.png)

%20(1).png)

%20(1).png)


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

%20(1).png)

%20JUDHEG%20(13).jpg)
%20JUDHEG.jpg)
%20JUDHEG%20(1).jpg)
%20JUDHEG%20(2).jpg)
%20JUDHEG%20(3).jpg)
%20JUDHEG%20(4).jpg)
%20JUDHEG%20(5).jpg)
%20JUDHEG%20(6).jpg)
%20JUDHEG%20(7).jpg)
%20JUDHEG%20(8).jpg)
%20JUDHEG%20(9).jpg)
%20JUDHEG%20(10).jpg)
%20JUDHEG%20(11).jpg)
%20JUDHEG%20(12).jpg)
%20JUDHEG%20(17).jpg)
%20JUDHEG%20(16).jpg)
%20JUDHEG%20(15).jpg)
%20JUDHEG%20(18).jpg)
%20JUDHEG%20(19).jpg)
%20JUDHEG%20(20).jpg)