REVIEW - JANUR IRENG: SEWU DINO THE PREQUEL

Kalau Sewu Dino (2023) ibarat macan muda dengan taring belum seberapa runcing yang diasuh dalam kandang, maka di Janur Ireng selaku prekuelnya, taring itu mulai menajam. Sudah pula ia dikeluarkan dari kurungan. Tapi karena terlanjur dikondisikan sebagai peliharaan, naluri memangsanya belum tumbuh. Si predator masih terlampau jinak.

Meneruskan adaptasi layar lebar bagi cerita Trah Pitu Lakon milik SimpleMan, kini kita diajak menelusuri lebih lanjut dinamika ketujuh keluarga yang saling berkonflik, termasuk awal mula keterlibatan Sabdo (Marthino Lio), si pengirim santet sewu dino dalam film pertama. Marthino Lio memberi jaminan, bahwa setidaknya, ada pelakon di film ini yang melafalkan logat Jawa secara fasih. 

Pasca kehilangan seluruh harta benda akibat kebakaran, Sabdo bersama adiknya, Intan (Nyimas Ratu Rafa), pindah ke rumah megah milik sang pakde, Arjo Kuncoro (Tora Sudiro). Bulik mereka, Lasmini (Masayu Anastasia), turut tinggal di sana. Sekilas nampak kejanggalan dari hubungan Arjo dan Lasmini. Tapi toh bagi Sabdo, tak ada yang lebih aneh dari ritual penyembelihan kambing yang berkali-kali mesti ia lakukan atas perintah pakdenya. 

Beberapa pentolan Trah Pitu lain juga Sabdo temui: Karsa Atmojo (Karina Suwandi), Pastika Gayatri (Faradina Mufti), Anggodo Prayogo (Epy Kusnandar), dan Lingga Codro (Aqi Singgih). Mereka diam-diam saling membenci, tak ragu melakukan hal-hal bejat, sebutlah mengirim santet bahkan terlibat inses, demi melanggengkan kekuasaan. 

Naskah yang ditulis sang sutradara, Kimo Stamboel, bersama Khalid Kashogi, tahu betul cara mengolah konflik keluarga disfungsional ala sinetron dengan bumbu mistis Jawa, untuk menghadirkan 94 menit yang menyenangkan. Serba hiperbolis, penuh intrik pelik, tidak jarang konyol, tapi adiktif. Ya, begitulah cara kerja opera sabun menghipnotis atensi penontonnya. 

Sebelum menu utama dihidangkan, sajian pembuka berupa beberapa jumpscare lebih dulu disuguhkan. Skenario terornya cenderung generik, sebutlah penampakan di kamar saat tokoh-tokohnya berusaha terlelap, atau keanehan-keanehan yang mereka saksikan kala mengikuti dorongan impulsif guna mengecek suara ganjil di tengah kesunyian malam seorang diri. 

Menu utama itu baru datang sewaktu Intan kerasukan, lalu menyulut kekacauan di kediaman Keluarga Kuncoro. Kimo meledakkan amunisinya di sini, menciptakan sekuen brutal yang diisi beberapa kematian mengenaskan. Kimo begitu ahli mengolah intensitas, bahkan interpretasi Nyimas Ratu Rafa terhadap fenomena kerasukan yang masih berkutat pada teriakan-teriakan serak monoton tidak sampai mengurangi efektivitas momen tersebut. 

Sayang, kemunculan intensitas serupa bisa dihitung dengan jari. Kimo dan tim bak belum seutuhnya lepas dari tuntutan horor arus utama untuk bermain aman. Pertumpahan darah baru terjadi lagi memasuki babak ketiganya, yang biarpun tetap menghibur, meninggalkan kesan buru-buru sekaligus kekurangan "gigitan mematikan" sebagai fase puncak dari segala terornya. Oh, dan mengapa sineas ibukota sangat terobsesi pada tarian Jawa? Tidakkah mereka sadar, bahwa alih-alih mencekam, justru kesan konyol yang acap kali terasa? 

20 FILM INDONESIA TERBAIK TAHUN 2025

Tidak berlebihan rasanya menyebut 2025 sebagai tahun yang gemilang bagi perfilman Indonesia. Apiknya performa komersil, termasuk potensi adanya dua judul peraih 10 juta penonton (sampai tulisan ini dibuat, Agak Laen: Menyala Pantiku berada di kisaran 9,2 juta), fakta bahwa horor malas tak lagi selalu mendominasi peringkat penjualan tiket, hingga banyaknya film berkualitas yang dirilis sepanjang tahun. 

Poin terakhir mendorong saya untuk menambah jumlah daftar, dari yang biasanya diisi 10 film menjadi 20, dengan tujuan mengapresiasi sebanyak mungkin karya sineas kita.  

Ada beberapa judul yang saya tonton di festival atau penayangan khusus dan belum tayang secara luas, ada pula film-film yang rilis di bioskop selama 2025 namun sudah disertakan di daftar tahun lalu (Samsara misalnya, yang bercokol di peringkat pertama dalam daftar terbaik 2024) sehingga takkan anda temukan di sini. 

Berikut adalah daftar 20 FILM INDONESIA TERBAIK 2025 versi Movfreak:

Tidak semua orang akan cocok dengan humornya yang bakal dengan gampang dicap "aneh" atau "garing", tapi bagi yang familiar dengan gaya bercanda "gojek kere" khas tongkrongan Jawa (terutama Yogyakarta),  bisa jadi bukan cuma menikmati, bahkan merasa terwakili seleranya oleh Sah! Katanya...

Mungkin bukan karya luar biasa progresif bila dipandang lewat kacamata penonton kota besar, tapi sebagai orang yang menghabiskan masa muda di latar serupa, saya sadar betapa relevan Judheg karya Misya Latief ini sebagai potret paham patriarki di lingkungannya.

Di tengah kemonotonan horor klenik lokal, Dia Bukan Ibu selaku karya sophomore Randolph Zaini, yang juga jadi panggung bagi performa intimidatif Artika Sari Devi, memberi bukti bahwa selalu ada cara untuk memberi daya tarik serta modifikasi pada adaptasi utas horor. 

Koesroyo: The Last Man Standing mengajak penonton mengunjungi ruang personal Koesroyo alias Yok Koeswoyo, selaku satu-satunya personel Koes Bersaudara yang masih hidup, lalu memanusiakannya, di saat negara luput melakukan itu. 

Biarpun tak mendobrak pakem klasik horor zombi secara general, Abadi Nan Jaya terasa unik berkat asimilasi antara formula genrenya dengan budaya Indonesia. 

Mungkin cara bertuturnya agak repetitif, tapi melihat para queer dengan nyaman dan aman membicarakan identitas mereka, sudah cukup menjadikan Jagad'e Raminten sebuah karya yang spesial. 

Lupakan Timur dengan segala propaganda menyebalkan serta eksekusi aksi setengah matanya. Ikatan Darah adalah produksi Uwais Pictures yang semestinya dikedepankan, berkat pengarahan Sidharta Tata yang bak baru lulus dengan nilai cemerlang dari "sekolah pembuatan film aksi Gareth Evans". 

Mungkin Kita Perlu Waktu mengedepankan proses observasi terhadap interaksi individu, baik dengan individu lain maupun hatinya sendiri, dalam upaya mereka menangani duka, yang dipaparkan tanpa harus sejalan dengan norma standar masyarakat.

Meleburkan drama keluarga berurai air mata dengan fiksi ilmiah beraroma Black Mirror, Esok Tanpa Ibu mengeksplorasi rapuhnya dinamika ayah-anak, yang terjebak dalam kenyamanan dependensi terhadap figur ibu.

Tatkala banyak horor religi Indonesia melihat salat sebagai ritual sepele, Charlez Gozali enggan memandang sebelah mata kesakralannya. Ketika film adiwira Hollywood membentangkan jurang antara pahlawan dan manusia biasa, Qodrat 2 tidak mengeksklusifkan kekuatan super sang ustaz. Semua bisa memilikinya selama bersedia menguatkan iman. 

Banyak sineas tanah air cenderung mengeksploitasi perihal duka guna menjadikan tiap adegan sebagai alat penguras air mata, tapi melalui Tukar Takdir, Mouly Surya menolak pendekatan nirempati dengan menaruh fokus pada keintiman humanis untuk mengajak penonton memahami duka tersebut.

Agak Laen: Menyala Pantiku memberi definisi sejati terhadap istilah "blockbuster comedy" dengan bukan asal mencanangkan ambisi sampai membuatnya kehilangan identitas, tapi penegas bahwa di luar tugasnya sebagai spektakel pengocok perut, komedi patut digarap sungguh-sungguh di segala lini, dari penceritaan hingga artistik. 

Pengepungan di Bukit Duri memotret rasisme yang menandai bagaimana pengarahan Joko Anwar mencapai titik termatangnya sejauh ini. Dibantu tata kamera olahan Ical Tanjung yang bergerak begitu dinamis tanpa batasan, Joko menjaga supaya banyaknya kuantitas adegan aksi tak melahirkan banyak momen serba tanggung nan canggung.

Suka Duka Tawa, selaku debut penyutradaraan film panjang solo dari Aco Tenriyagelli, adalah dramedi sarat sensitivitas, di mana kebanyakan tokohnya hidup untuk memproduksi tawa orang lain biarpun hati mereka dihantui luka. 

Lewat 1 Kakak 7 Ponakan, Yandy Laurens kembali mengingatkan bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga, beserta segala momen-momen kebersamaan yang semestinya tak terhalang oleh dinding pemisah berbentuk apa pun. 

Melalui Pangku, Reza Rahadian yang notabene merupakan salah satu pelakon terbaik negeri ini, memakai kecakapan aktor untuk mengobservasi, kali ini bukan untuk berlaku di depan kamera, melainkan bertutur di belakangnya selaku sutradara.  

Di Perang Kota yang punya estetika memanjakan mata ini, Mouly Surya coba mengingatkan bahwa aroma memuakkan peperangan acap kali dipakai untuk menyamarkan bau-bau lain yang diciptakan oleh kebusukan manusia. 

Bukan semata karena pencapaiannya sebagai animasi Indonesia, Jumbo terasa bermakna karena ia menolak memandang sebelah mata penonton muda, sehingga bersedia menaruh hormat pada kecerdasan pikir mereka. 

Sore: Istri dari Masa Depan menangani elemen perjalanan waktunya lewat pendekatan magical realism alih-alih fiksi ilmiah yang berupaya memberi penjelasan logis. Keajaibannya, yang menelusuri gagasan bahwa cinta mampu menembus ruang dan waktu, memang bukan untuk dijabarkan, tapi dirasakan. Kisah yang indah!

Kristo Immanuel bukan cuma melenggang memasuki industri lewat Tinggal Meninggal yang jadi debutnya sebagai sutradara. Dia mendobrak pintunya hingga hancur, lalu memperkenalkan diri dengan suara begitu lantang bersenjatakan kepercayaan diri yang mampu mengguncang seisi ruangan. 

REVIEW - ANACONDA

Anaconda terasa seperti dua film berbeda yang terpaksa menyatu. Paruh pertamanya adalah suguhan khas komedi arus utama Hollywood yang dibintangi Jack Black. Generik. Serba aman. Barulah di paruh kedua, premis "seksi" miliknya mewujud jadi hiburan liar, seiring memuncaknya amukan si ular raksasa. 

Statusnya bukan sekuel, bukan remake, bukan pula reboot biasa. Film ini menyebut dirinya sebagai "meta-reboot" yang eksis bak realita kita, di mana Anaconda (1997) adalah karya fiktif populer yang digemari oleh empat protagonisnya: Doug (Jack Black) si pembuat video pernikahan yang mesti membuang mimpinya di dunia perfilman, Griff (Paul Rudd) si aktor yang tak kunjung memperoleh peran berarti, Claire (Thandiwe Newton) yang baru bercerai, dan Kenny (Steve Zahn) yang bergulat dengan alkoholisme.  

Semasa kecil keempatnya pernah memproduksi horor amatir didasari kecintaan terhadap film, dan kini, di tengah kungkungan kehidupan dewasa, tercetus ide nekat untuk membuat ulang salah satu judul favorit mereka: Anaconda. Pergilah mereka ke hutan Amazon dengan sumber daya seadanya, menyewa anakonda kepunyaan Santiago (Selton Mello) si pawang, lalu mengambil gambar di kapal milik Ana (Daniela Melchior) yang diam-diam membawa rahasia berbahaya. 

Para pelakon tampil apik mengekspresikan keeksentrikan karakter masing-masing. Black yang seperti biasa habis-habisan mengolah semua kapasitas fisiknya demi kekonyolan, pula Rudd dengan persona "si bodoh serba tidak tahu" yang merupakan keunggulannya. Masalahnya, naskah buatan Tom Gormican (juga menduduki kursi sutradara) dan Kevin Etten nampak kekurangan ide tatkala anakonda raksasa belum dibiarkan memangsa semaunya.

Padahal di situlah titik filmnya berpeluang menghadirkan pembeda dibanding film monster biasa. Mengesampingkan beberapa kameo, unsur metasinema yang jadi jualan utama tak kuasa dikembangkan. Anaconda terlampau malas mengutak-atik formula subgenre natural horror, dan sekadar memindahkan pakem-pakem serupa ke situasi komedik. 

Protagonisnya memasuki Amazon, memproduksi film dengan tim berisi empat orang yang hanya mengantongi modal tak sampai 50 ribu dollar. Bagaimana prosesnya dapat berjalan? Sayangnya, selain secuil montase ala kadarnya, Anaconda lalai mengeksplorasi seluk-beluk pembuatan film secara gerilya kendati potensinya ada di depan mata. Jack Black pernah bermain di film yang mengulik perihal ini dengan lebih menyeluruh, yakni Be Kind Rewind (2008) garapan Michel Gondry.

Untungnya, begitu para jagoan kita bertatap muka dengan anakonda raksasa yang ukurannya lima kali lebih besar dari ular yang disiapkan Santiago, naskahnya mulai terbebas dari kebuntuan. Mendadak segalanya bertransformasi ke arah lebih liar, berkat ketidakterdugaan yang makin sering menampakkan diri, baik dalam hal penceritaan maupun humor. 

Menarik pula menyaksikan sebuah twist di pertengahan durasi, yang secara cerdik mengolah stereotip beberapa jenis karakter (sebutlah perempuan tangguh dan laki-laki bertampang intimidatif), kemudian bermain-main dengan persepsi yang penonton bentuk sendiri berdasarkan ke-familiar-an kita dengan pakem klise Hollywood. Kendati perlu waktu yang tidak sebentar, setidaknya Anaconda mampu membelit atensi penonton setelah berani melangkah pergi dari zona nyaman.

REVIEW - PATAH HATI YANG KUPILIH

Cinta beda agama merupakan isu pelik yang oleh sinema arus utama tanah air kerap disederhanakan menjadi romansa banal, sehingga acap kali memperlakukan agama secara murah, yang bak pakaian, bisa digonta-ganti dengan mudah, semata demi menjaga supaya beberapa kalangan tidak marah. Patah Hati Yang Kupilih setidaknya berhasil menghindari kategori kedua, kendati eksplorasi temanya cenderung generik. 

Pertama-tama, perlu diingat bahwa cinta beda agama tidak harus berujung patah hati maupun transisi kepercayaan. Jika berani menempuh risiko, ada jalur yang dapat ditempuh, biarpun lebih kompleks, pula berpotensi menyulut kontroversi bagi para konservatif. Naskah buatan Junisya Aurelita, Ezra Cecio, dan Karina Nasir pun menempuh jalan aman, yang agak disayangkan namun sangat bisa dimengerti.

Pada permulaan cerita, kita berkenalan dengan Alya (Prilly Latuconsina), ibu tunggal dari buah hatinya yang masih kecil, Freya (Humaira Jahra). Sehari-hari, Alya mendapat bantuan dari ibunya, Rahma (Marissa Anita), pemilik warung mi yang mengedepankan perspektif religi, sehingga dahulu tak merestui hubungan putrinya dengan Ben (Bryan Domani) yang punya agama berbeda. Alya beragama Islam, sementara Ben Kristen. 

Singkat cerita, Ben adalah ayah Freya, tapi tak mengetahui fakta tersebut akibat sebuah kebohongan, yang selama tahun-tahun berikutnya, menyulut kebohongan demi kebohongan lain yang terus mendatangkan luka-luka baru. Baik Prilly Latuconsina maupun Bryan Domani tampil solid sebagai dua individu yang terjerumus dalam pusaran dusta akibat jurang bernama "perbedaan agama". 

Sedangkan di bawah penanganan Marissa Anita, Rahma si ibu ortodoks bukan sekadar jadi penghalang mengesalkan bagi cinta putrinya, melainkan figur yang mampu penonton pahami sudut pandangnya. Jangan lupakan juga bagaimana Humaira Jahra piawai mengatasi momen-momen yang menuntut akting kompleks untuk ukuran pelakon cilik. 

Di ranah teknis, sebagaimana produksi Sinemaku Pictures lain,  lain, Patah Hati Yang Kupilih membuktikan bahwa film drama tidak melulu pasrah dengan presentasi visual yang terkesan mentah, bermodalkan sinematografi garapan Amalia T.S., pula pengolahan warna di proses pasca-produk. Gambar-gambarnya cantik tanpa harus terkesan "sok pamer". 

Babak kedua Patah Hati Yang Kupilih sempat tersandung penceritaan monoton yang hanya berkutat di tarik-ulur khas romantika bertema CLBK generik yang dua protagonisnya lalui, kemudian lalai mengupas lapisan-lapisan soal kepercayaan yang semestinya dikedepankan. Untunglah film ini setia mementingkan perspektif polos Freya. Di hadapan si bocah yang hanya ingin bahagia bersama orang tua, segala keruwetan "aturan hidup" orang dewasa bukan lagi jadi pertimbangan utama. 

Eksplorasi temanya masih berkutat di permukaan akibat dipaksa mengalah supaya memberi ruang untuk elemen cerita yang lebih senada dengan selera pasar. Tidak ada penelusuran beraroma spiritual yang lebih dari sekadar kegalauan dua sejoli yang disakiti cinta mereka, pun perspektif masing-masing agama mengenai fenomenanya luput dikulik lebih jauh. 

Tapi yang patut disyukuri, di fase konklusinya, Patah Hati Yang Kupilih menolak mengobral agama. Biarpun amat terbatas dalam hal kuantitas, didukung pengarahan Danial Rifki yang menjauhi pakem melodrama serba berlebihan, ada ruang bagi karakternya, (khususnya Ben selaku pemeluk agama minoritas yang kerap digambarkan begitu dangkal oleh film kita) guna merenungkan perihal kepercayaannya. 

REVIEW - AVATAR: FIRE AND ASH

Berbeda dengan film pertama (12 tahun selepas Titanic) dan kedua (13 tahun setelah Avatar), Fire and Ash hanya berjarak tiga tahun dari karya James Cameron sebelumnya, The Way of Water. Belum cukup lama waktu berlalu untuk memfasilitasi lompatan teknologi berikutnya. Tidak ada terobosan yang benar-benar baru. Tapi mengapa judul ketiga dari seri Avatar ini terlihat bak "film termahal sepanjang masa" kendati faktanya bukan (berada di urutan keenam dengan biaya 400 juta dollar)?

Poin di atas kerap gagal dilihat oleh barisan pembenci Cameron (dan Avatar). Sebelum berkembang jadi medium bercerita, sinema dirumuskan sebagai eksplorasi teknologi, dan tak satu pun sineas menguasai "wujud murni sinema" tersebut lebih dari Cameron. 

Fire and Ash berlatar hanya beberapa saat pasca konklusi The Way of Water, namun protagonisnya telah mengalami perubahan signifikan. Akibat kematian putra sulung mereka, Neteyam (Jamie Flatters), Jake Sully (Sam Worthington) sang "Toruk Makto" dikuasai amarah, sedangkan Neytiri (Zoe Saldana) si prajurit perkasa menghabiskan hari berdoa dalam lubang duka. 

"Ibuku berduka dengan jalan Na'vi, ayahku dengan jalan manusia", ucap Lo'ak (Britain Dalton) sang putra kedua. Jiwa Jake tetaplah manusia biarpun mengenakan kulit Na'vi. Naskah yang ditulis Cameron bersama Rick Jaffa dan Amanda Silver menggarisbawahi perihal identitas, bagaimana jati diri individu mustahil diubah, tapi tidak dengan cara berpikirnya. 

Kiri (Sigourney Weaver) yang lahir dari avatar Dr. Grace, Spider (Jack Champion) yang selaku manusia tak mampu menghirup udara Pandora, bahkan Kolonel Miles Quaritch (Stephen Lang) yang dihidupkan kembali sebagai avatar, juga melewati ragam dilema terkait identitas. Pilihan terletak di tangan masing-masing. Terus menipu diri, memaksa pihak lain berubah mengikuti mereka layaknya kelakuan penjajah, atau mau berasimilasi? 

Manusia yang tergabung dalam RDA (Resources Development Administration) masih jadi ancaman utama bagi Pandora, namun kali ini bahaya lain yang berasal dari rumah sendiri turut mengintip. Mereka adalah klan Mangkwan, yang di bawah pimpinan Varang (diperankan Oona Chaplin dalam lenggak-lenggok gestur luar biasa), mengasingkan diri di area gunung berapi dan menentang kebesaran Eywa. 

Sejenak kita diajak menyatroni kamp Mangkwan yang tandus, tapi sayangnya, 197 menit durasi Fire and Ash masih didominasi pemandangan hutan dan laut yang sudah secara tuntas ditelusuri oleh dua film pertama. Ada banyak kesempatan bagi naskahnya untuk memperdalam pemahaman atas Varang dan pengikutnya, sehingga mereka bukan sekadar dipotret sebagai suku barbar belaka. 

Untunglah beberapa elemen kultural klan api tersebut tak lalai dipaparkan, sebutlah ritual tari-tarian beraroma psikedelik yang jadi cara mereka berpesta, atau metode ala kamikaze yang digunakan kala perang, di mana prajurit Mangkwan bakal membakar tubuhnya sebelum menabrakkan diri ke arah lawan. Ekspedisi mengungkap kekayaan budaya Pandora memang salah satu menu paling lezat dalam Avatar. 

Tidak bisa ditampik bahwa alurnya cenderung generik karena bak pengulangan yang dipanjang-panjangkan dari judul-judul sebelumnya, namun tiap repetisi itu mulai terasa membosankan, Cameron melempar aksi bombastis berhiaskan parade visual luar biasa. 

Sekali lagi, memang tiada kebaruan dibanding betapa imersif teknologi 3D milik The Way of Water seolah menumpahkan air samudera langsung ke wajah penonton, tapi semuanya tetap memanjakan mata, entah berkat palet warna yang amat kaya, maupun pilihan shot megah yang disusun Cameron bersama sang sinematografer, Russell Carpenter. 

Cameron memandang HFR (High Frame Rate) yang menyusun sekitar 40% dari Avatar: Fire and Ash merupakan media penguat format 3D. Saya setuju. Di luar persoalan "benda-benda menonjol" semisal cipratan air atau percikan bara api yang seolah dapat disentuh, HFR yang memuluskan gerak gambar mampu meningkatkan kejernihan serta kedalaman dari format 3D. Belum lagi kualitas CGI yang serba nyata. Tidak satu sineas pun sanggup menandingi James Cameron mengenai eksplorasi teknologi. 

REVIEW - WAKE UP DEAD MAN: A KNIVES OUT MYSTERY

Melalui Wake Up Dead Man, seri Knives Out kembali menunjukkan bagaimana whodunit modern semestinya dibuat. Misteri bertempo tinggi sarat kejutan yang kaya akan nuansa bersenang-senang lewat eksplorasi teknis bergaya, karakter penuh warna, pula penceritaan progresif yang punya sesuatu untuk diutarakan alih-alih sekadar parade kejeniusan sesosok detektif sombong. 

Kali ini takdir membawa Benoit Blanc (Daniel Craig) mengusut kasus pembunuhan di sebuah paroki pedesaan. Tapi secara berani, Rian Johnson selaku sutradara sekaligus penulis naskah baru memunculkan sang detektif selepas durasi menginjak menit ke-40. Berhiaskan cara-cara jenaka yang terkadang mengingatkan ke gaya bercanda Wes Anderson, kita lebih dulu berkenalan dengan para penghuni paroki. 

Jud Duplenticy (Josh O'Connor) adalah mantan petinju yang kini alih profesi menjadi pendeta muda. Dia baru ditugaskan sebagai asisten bagi Monsinyur Jefferson Wicks (Josh Brolin), selaku pemimpin dari paroki yang dinamai Our Lady of Perpetual Fortitude itu. Ada pula Martha Delacroix (Glenn Close), tangan kanan Monsinyur Wicks yang telah mengenalnya sejak kecil. 

Segera saja Jud menyadari berbagai keanehan di sana, termasuk perihal khotbah berapi-api sarat pesan kebencian yang tiap minggu Wicks lontarkan. Biarpun cuma segelintir jemaat tersisa, nyatanya mereka amat setia, bahkan bak mengultuskan sang monsinyur. 

Para jemaat terdiri atas sekelompok individu menarik: Nat (Jeremy Renner) si dokter yang tenggelam dalam alkohol pasca ditinggalkan istrinya, Vera (Kerry Washington) si pengacara beserta anak angkatnya, Cy (Daryl McCormack) si politikus gagal, Lee (Andrew Scott) yang novelnya tak lagi digandrungi pembaca, dan Simone (Cailee Spaeny) yang terpaksa berhenti menjadi pemain celo akibat cacat fisik. 

Setelahnya mayat ditemukan, TKP menyiratkan sebuah kejahatan mustahil, dan atas persetujuan Geraldine (Mila Kunis) selaku polisi setempat, Benoit Blanc pun turun tangan memandu penonton memungut remah-remah petunjuk dalam kereta misteri yang dibawa melaju kencang oleh Rian Johnson. Gerbong-gerbongnya tak pernah kosong, selalu diisi tanda tanya, kejutan, humor, atau momen-momen menyenangkan lain. 

Wake Up Dead Man tidak melulu tampil serius, kendati digarap dengan luar biasa serius. Pecinta whodunit akan mudah menangkap setumpuk referensi yang Johnson pakai, tidak terkecuali salah satu karya paling legendaris dari Agatha Christie yang telah mengajarkan banyak pembaca untuk mencurigai siapa saja, termasuk sang narator. 

Misteri tetap jadi bahan baku utama, namun Wake Up Dead Man menaburkan bumbu penyedap berupa olahan dinamika Benoit Blanc dan Jud Duplenticy. Sekilas keduanya mewakili kutub berlawanan. Jud selaku pendeta tentunya mengutamakan religiositas, sementara Blanc menolak eksistensi Tuhan. Pada pertemuan pertama keduanya, Johnson memperkenalkan motif visual menarik: cahaya. 

Semburat sinar surya menghangatkan paroki melalui sela-sela jendela. Selepas Blanc mengutarakan skeptismenya, cahaya itu secara subtil meredup, lalu pelan-pelan menggelap, sebelum kembali benderang seiring Jud menyampaikan sudut pandangnya perihal spiritualitas. 

Motif visual di atas diterapkan dengan lebih gamblang di klimaksnya, yang bukan sekadar ajang pamer deduksi penuh eksposisi, pula puncak dari eksplorasi naskahnya mengenai keimanan. Alhasil, selain Daniel Craig yang masih piawai menyulap presentasi hipotesis jadi monolog memikat, jajaran pelakon lain, khususnya Josh O'Connor dan Glenn Close, turut kebagian kesempatan memamerkan akting emosional mereka. 

Wake Up Dead Man bukan hendak mengadu believer dengan non-believer. Sebaliknya, misteri pembunuhan ini merupakan panggung bagi kedua sisi untuk saling melengkapi, dengan mementingkan kebaikan di atas sikap egosentrik yang hanya memedulikan perlombaan tentang "Siapa paling benar?". 

(Netflix)