EL TOPO (1970)

3 komentar
Melihat judul dan sedikit cuplikan filmnya, saya mengira El Topo adalah film western biasa yang mengisahkan tentang petualangan seorang koboi bernama El Topo dan akan berisi banyak adegan tembak-menembak seru ala film-film koboi lawas. Meski saya bukan penggemar film seperti itu, tapi saya pikir toh bukan masalah sekali-kali menonton film koboi klasik sekedar untuk mencari hiburan. Lagipula setelah sekilas melihat beberapa data tentang film garapan sutradara Alejandro Jodorowsky ini, ternyata ini adalah film yang menjadi wakil Meksiko dalam ajang Academy Awards 1972 untuk kategori Best Foreign Language Film meski pada akhirnya gagal masuk daftar nominator final. Tapi hal tersebut sudah cukup untuk menjadi bukti bahwa El Topo bukan sekedar film aksi koboi biasa. Tapi setelah selesai menonton, yang saya dapatkan justru salah satu pengalaman menonton paling aneh dalam hidup saya. Daripada mendapat suguhan film koboi/western yang dibalut dengan cerita apik saya justru mendapati bahwa ini adalah sebuah film absurd penuh filosofi yang dibungkus dengan genre western. 

Cerita di paruh awal film belum terasa aneh. Kita akan dibawa melihat sosok El Topo (Alejandro Jodorowsky) yang berkelana menunggangi kuda melintasi padang gurun Meksiko yang gersang dengan anaknya yang baru berusia 9 tahun. Tidak ada keanehan apapun kecuali sang anak yang telanjang bulat. El Topo dan anaknya mendapati sebuah kampung yang semua penduduknya dibantai dengan sangat sadis. Perjalanannya akhirnya berujung pada pertemuan dengan seorang Colonel (David Silva) dan beberapa anak buahnya yang menjadi dalang dibalik pembantaian tersebut. El Topo berhasil mengalahkan Colonel dan anak buahnya sekaligus menyelamatkan desa tersebut. Setelah itu jagoan kita kembali melanjutkan perjalanannya,tapi kali ini ia meninggalkan sang anak kepada para biarawan yang sebelumnya menjadi budak seks para anak buah Colonel yang homoseksual. Meski meninggalkan anaknya, El Topo justru membawa seorang wanita (Mara Lorenzio) yang sebelumnya menjadi budak seks sang Colonel. El Topo lalu menamai wanita tersebut "Mara". Mara kemudian meminta El Topo untuk mengalahkan "The Four Great Gun Master" supaya menjadi penembak terhebat. Mara meminta hal tersebut sebagai syarat supaya ia bisa mencintai El Topo. Mau tidak mau El Topo memulai perjuangannya mengalahkan keempat orang jago tembak tersebut yang pada akhirnya justru akan mengajarkan El Topo banyak hal tentang hidup.

Paruh pertama film yang aneh ternyata masih berlanjut saat di paruh kedua filmnya tiba-tiba berubah haluan dari petualangan seorang koboi menjadi sebuah film tentang perjalanan hidup seorang biarawan yang ternyata adalah El Topo itu sendiri. Dari sinilah saya makin sadar bahwa ini bukanlah sekedar film absurd biasa, namun sebuah film penuh metafora dan berbagai simbol didalamnya. Awalnya El Topo terlihat hanya sebagai sebuah film western yang penuh dengan adegan sadis yang susah dinikmati. Sebuah film bisa saja punya kadar gore yang lebih dari film ini, namun jarang ada sebuah film yang bisa merangkum berbagai kesadisan dan darah menjadi sebuah tontonan yang sangat tragis seperti film ini. Suasana film yang sedari awal sudah kelam makin menguatkan perasaan tersebut. Pada awalnya, segala momen sadis itu memang membuat saya masih belum berpikir bahwa ini akan menjadi tontonan penuh simbol. Sampai kemudian tingkat keabsurdan film ini mulai meningkat perlahan saat El Topo ditunjukkan sebagai sosok yang mampu mengubah air pahit menjadi manis, lalu memunculkan air dari batu. Lalu semuanya bertambah absurd saat El Topo mulai bertemu dengan keempat master yang akan ia lawan dimana keempatnya punya karakterisasi yang aneh luar biasa. Lalu keanehan juga muncul saat ditengah perjalanan El Topo dan Mara bertemu dengan seorang wanita misterius yang berdandan mirip seperti El Topo dan bersuara laki-laki. Oya, selain tingkat kekerasan yang cukup tinggi, film ini juga punya konten seksual yang juga tinggi. Wanita telanjang hingga unsur homoseksual yang sangat kuat jelas terasa disini.
Bicara soal simbol yang muncul, jelas ada sangat banyak simbol yang saya tidak bisa menangkap apa maksudnya karena sebagian besar dari simbol-simbol tersebut adalah visualisasi versi absurd dari berbagai kisah yang terdapat dalam Alkitab. Sosok El Topo jelas penggambaran dari sosok orang suci. Saya kurang yakin apakah dia adalah gambaran dari Yesus Kristus, Musa (fakta bahwa El Topo bisa membuat air menjadi manis) atau mungkin adalah gambaran universal tentang sosok orang suci atau bisa disebut nabi. Namun yang pasti film ini memang menceritakan tentang seorang tokoh bernama El Topo yang punya berbagai kemampuan luar biasa, namun masih belum menemukan pencerahan dalam hidupnya, dan perlahan selama film ini ia menemukan pencerahan tersebut. Kemudian masih ada berbagai simbol lain yang lebih baik tidak usah dituliskan disini karena akan mengurangi kepuasan penonton dalam menggali berbagai simbol yang ada. Sebuah film yang penuh dengan simbol memang akan lebih asyik ditonton jika kita tidak diberi petunjuk apapun tentang makna ataupun berbagai macam detail metafora yang akan muncul nantinya. 

Pada akhirnya menilai sebuah film yang penuh simbol dan metafora akan menjadi sangat subjektif bagi saya, karena tidak semua penonton bisa menangkap maksud dari segala simbol tersebut dan mereka yang tidak mengerti juga tidak bisa dipersalahkan, karena tidak semua orang mengetahui sumber dari simbol tersebut seperti saya yang memang tidak begitu mengerti kisah-kisah dari Alkitab yang cukup banyak menjadi referensi film ini. Overall, El Topo memang terasa sebagai sebuah visualisasi absurd dari berbagai kisah di Alkitab dengan adanya unsur seperti ke-Nabi-an, okultisme, penyaliban hingga berbagai macam simbolisasi lain. Saya sendiri pada akhirnya tidak terlalu terkesan dengan apa yang ditampilkan Alejandro Jodorowsky disini. Kisah tentang seorang gunfighter yang bertransformasi menjadi seorang biarawan ini malah terasa terlalu dipaksakan. Saya tidak mempermasalahkan berbagai simbol yang ditampilkan, toh hal-hal tersebut memang memberikan saya pengalaman menonton yang unik dan membuat otak ini berpikir. Sayangnya pengemasan alur utamanya bagi saya terasa dipaksakan untuk membuat sosok El Topo dari seorang gunfighter menjadi biarawan yang bahkan sempat dipuja bagaikan Tuhan. Sangat disayangkan, padahal saya merasa bahwa suasana kelam dan tragis yang dibangun film ini sudah sangat menarik dan karakterisasi yang penuh simbol juga terasa absurd dalam konteks yang positif. Bagi saya ini sebuah suguhan sureal yang tidak terlalu berhasil, namun cukup menarik sebagai sebuah alternatif tontonan bagi para penonton yang suka dibuat berfikir oleh sebuah film. El Topo juga bisa menjadi alternatif tontonan bagi genre western sendiri.


3 komentar :

  1. menarik. btw how could you get referred to this kinda unpopular movie? gw jadi tertarik utk tahu lebih banyak film-film yg agak awkward but somewhat cool kayak gini, hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngopy dari temen, dia bilang ini film cult gitu jadi tertarik, secara filem2 cult pasti punya keunikan sendiri yang kadang nggak kepikiran :D

      Hapus
  2. Anonim3:47 AM

    Menonton El Topo seperti menonton sebuah kejadian di alam mimpi, penuh kejutan, tidak realistik, dan betapa mengerikannya jika kejadian itu ada di dunia nyata.

    BalasHapus