MOONRISE KINGDOM (2012)

2 komentar
Sebelum diputar perdana di bulan Mei lalu pada ajang Cannes Film Festival, film terbaru garapan Wes Anderson ini sudah mendapatkan buzz yang cukup kuat dan digadang-gadang sebagai salah satu calon film terbaik tahun ini. Dengan reputasi Wes Anderson sebagai salah seorang sutradara terbaik saat ini dan dibintangi oleh berbagai nama besar macam Bruce Willis, Edward Norton, Bill Murray, Frances McDormand hingga Tilda Swinton, tidak salah rasanya ekspektasi tinggi disematkan pada film ini. Yang menarik meski berhias berbagai nama besar, dua tokoh utama Moonrise Kingdom adalah dua orang aktor dan aktris cilik berusia 13 tahun yang baru menjalani debut filmnya disini. Mereka adalah Jared Gilman dan Kara Hayward. Saya sendiri belum pernah menonton film live action Wes Anderson, dan satu-satunya filmnya yang pernah saya lihat adalah animasi Fantastic Mr.Fox yang sudah bisa sedikit menggambarkan kepiawaian Anderson dalam merangkai kisah yang unik. Lagi pula tanggapan terhadap Moonrise Kingdom bisa dibilang amat positif (nilai 94% di Rotten Tomatoes) jadi tidak ada alasan untuk melewatkan film ini.

Film ini ber-setting di sebuah pulau fiktif bernama New Penzance. Disana kita akan dibawa melihat segala isi dan keindahan pulaunya yang ditinggali penduduk meski tidak dalam jumlah yang besar. Seisi pulau yang biasanya tenang tiba-tiba gempar saat salah seorang anggota Khaki Scout (anggota perkemahan mirip Pramuka yang menghabiskan waktu berkemah selama musim panas) berusia 12 tahun, Sam Shakusky (Jared Gilman) tiba-tiba menghilang dari tenda dan hanya meninggalkan sebuah surat pengunduran diri yang ditujukan kepada sang Scout Master (Edward Norton). Kehebohan bertambah saat Suzy Bishop (Kara Hayward) puteri dari pasangan pengacara Walt (Bill Murray) dan Laura (Frances McDormand) ikut menghilang. Pencarian yang dilakukan pihak Scout dan kepolisian yang dipimpin oleh Kapten Sharp (Bruce Willis) tidak kuncung mendapat hasil. Disisi lain ternyata Sam dan Suzy ternyata memang sudah merencakan "pelarian" in setelah pada pertemuan sebelumnya mereka saling jatuh cinta. Maka dimulailah petualangan penuh keanehan sekaligus penuh cinta (monyet) ini.

Sedari adegan pertama, Moonrise Kingdom  sudah terasa unik dan mencuri perhatian. Pertama adalah konten adegannya dimana diawal kita akan diajak turut mendengarkan sebuah simfoni dari Benjamin Britten dan bagaimana keseluruhan simfoni yang merdu itu juga terdiri dari beberapa part dan alat musik yang berbeda namun bersatu hingga tercipta harmoni. Kita seolah sedang disuguhkan sebuah analogi mengenai beberapa hal yang disinggung oleh film ini dimana salah satunya adalah keluarga. Sama seperti sebuah orkestra yang indah, keluarga juga pada dasarnya terdiri dari bagian-bagian kecil, dimana sebuah keluarga terdiri dari masing-masing anggotanya. Sama dengan sebuah orkestra, jika  tiap-tiap anggota keluarga bisa saling mengisi maka pada akhirnya akan tercipta sebuah harmoni yang indah. Namun sebaliknya jika masing-masing anggota keluarga tidak mampu menjalankan perannya dengan baik pada akhirnya tidak akan tercipta harmoni yang saling mengisi dan menghasilkan ketidak indahan dalam kehidupan keluarga tersebut. Ya, disfungsi keluarga memang juga jadi salah satu pokok bahasan dalam Moonrise Kingdom.
Selain itu, jalan cerita yang dihadirkan oleh film ini juga sangat menarik. Dengan konten yang sebenarnya ringan, polesan dari seorang Wes Anderson membuat hal yang ringan tersebut menjadi punya keunikan dan keanehan tersendiri tanpa harus kehilangan hati. Film ini memang terasa menyenangkan dan lucu, apalagi disaat kisah seputar cinta monyet antara Sam dan Suzy sedang disorot. Akan ada rasa kepolosan dan ketulusan yang sangat kuat terpancar dari hubungan yang terjalin diantara keduanya. Mereka tidak peduli akan hal lain dimana yang mereka tahu hanyalah mereka saling jatuh cinta dan ingin terus bersama. Terkesan sebagai sebuah kisah cinta klise yang sok manis, tapi jangan lupa bahwa kedua tokohnya masih anak-anak dan disitulah yang membuat kisah cinta monyet film ini begitu menarik. Apa yang mereka berdua lakukan saat "berpacaran" seringkali membuat saya tertawa akibat kepolosan yang ada (lihat saja adegan ciuman di pantai). Kelucuan yang ada juga dibangun tidak hanya dari kepolosan tapi juga dari berbagai kejutan. Banyak kejutan yang tersaji disini yang bisa membuat anda melongo dan beberapa detik kemudian tertawa berkat keanehan dalam kejutan tersebut. Tapi pada akhirnya Moonrise Kingdom juga berhasil tampil begitu menyentuh, apalagi saat filmnya berakhir dan ditutup dengan amat manis.

Tidak hanya unggul di sisi cerita, Wes Anderson juga sanggup menampilkan segala keanehan dari segi artistik lainnya mulai dari lokasi, set waktu, karakter hingga beberapa adegan breaking the fourth wall (bicara pada penonton) yang memberikan keunikan tersendiri. Kita akan dibawa melihat-lihat secara detail New Penzance beserta segala lokasi dan peta fiktifnya, dan seiring berjalannya film akan makin terasa bahwa Wes Anderson sudah berhasil membuat dunianya sendiri dan membuat saya ikut tinggal disana. Sebuah dunia yang unik, aneh, tidak masuk diakal namun juga punya berbagai kelucuan, kepolosan dan kehangatan dari dunia anak-anak. Filmnya yang ber-setting di tahun 60-an juga memberikan nilai plus dan justru menambah keindahan sinematografi film ini. Pada akhirnya jika kita berpindah ke sisi artistik lainnya, yang ada hanya penilaian positif seperti sinematografi indah, musik orkestra yang juga indah dan tepat guna, sampai penampilan dua bintang utamanya yang bagus meski ini baru debut mereka. Bagi mereka yang tidak bisa menerima hal diluar nalar ataupun segala keanehan Wes Anderson mungkin ini hanyalah sebuah film aneh, tapi bagi yang bisa, maka Moonrise Kingdom adalah sebuah tontonan indah tentang cinta, keluarga dan manusia yang semuanya berada pada keberagaman yang indah dan akhirnya bersatu membentuk harmoni luar biasa dalam hidup mereka.


2 komentar :

Comment Page:
andreas lim mengatakan...

betul....
gwa juga udah nonton film ini beberapa hari yang lalu...
memang keren ni film...
cerita yang simple tapi sangat menarik..
gak terasa malahan udah selesai filmnya pas the end..haha

Rasyidharry mengatakan...

Yap, simple, manis, keren :D
Endingnya juga lumayan menyentuh