REVIEW - SEND HELP
Terdampar di pulau terpencil, bertahan hidup memanfaatkan hal-hal seadanya, tensi yang perlahan tumbuh di antara penyintas seiring eskalasi terhadap rasa rasa frustrasi. Semua sudah amat sering kita temui di layar sinema hingga pesona genrenya mulai mengendur. Send Help, selaku horor pertama Sam Raimi sejak Drag Me to Hell 17 tahun lalu, membuat saya merasa tengah menyaksikan presentasi baru tanpa harus kabur dari pakem.
Di satu kesempatan, salah satu karakternya tenggelam dan mesti diberi CPR oleh karakter lain. Sebuah pemandangan familiar dalam film survival, setidaknya sampai si pemberi CPR muntah di mulut rekannya berulang kali. Send Help adalah soal ketidakterdugaan, baik terkait gerak alur maupun bagaimana adegan ditangani. Filmnya bermain-main dengan ekspektasi penonton, menggiring kita yakin telah mengetahui segalanya, sembari mengendap-endap di belakang menyiapkan kejutan.
Protagonisnya bernama Linda Liddle (Rachel McAdams), karyawan teladan yang canggung perihal kehidupan sosial. Setelah bertahun-tahun, promosi jabatan pun dijanjikan padanya. Tapi impian tersebut runtuh kala Bradley Preston (Dylan O'Brien) ditunjuk sebagai CEO baru. Alih-alih Linda, karyawan lain lah yang memperoleh promosi, hanya karena ia teman Bradley semasa kuliah, kendati baru bekerja beberapa bulan.
Naskah buatan Damian Shannon dan Mark Swift memberi cerminan realita, saat perempuan bertalenta dikesampingkan demi memberi jalan untuk laki-laki miskin kualitas. Kondisi yang kerap nampak di lingkungan yang tunduk di bawah kuasa berlebih laki-laki seksis. Tapi semua berubah sewaktu pesawat yang ditumpangi Linda dan Bradley dalam perjalanan bisnis ke Bangkok jatuh, sehingga keduanya terdampar di pulau terpencil.
Di pulau tersebut tak ada pemegang kuasa. Individu yang lebih berbakat bakal unggul. Ketika Bradley si anak manja cuma bisa mengeluh, Linda, berkat obsesinya pada acara realitas televisi mengenai upaya pesertanya bertahan hidup di alam liar, begitu gampang beradaptasi. Sementara Bradley kelabakan mencari makanan, Linda bersantai menyantap susyi sambil mengoleskan tabir surya bikinan sendiri.
Bersama alam liar yang gerak-geriknya mustahil diprediksi manusia, alurnya turut berjalan liar ke banyak titik tak terduga dengan efek kejut tinggi. Diiringi musik gubahan Danny Elfman yang rasanya tepat dideskripsikan sebagai "alunan misteri megah khas 90-an", Send Help merangkum persoalan dinamika gender (kerapuhan ego maskulin laki-laki, ketangkasan perempuan yang luput diapresiasi) lewat presentasi yang seolah memodernisasi subgenre screwball dengan meniadakan elemen romansa dan menebalkan sentuhan komedi gelap.
Untungnya, menyuarakan keresahan atas ketidakadilan bagi perempuan tak membuat Send Help merasa perlu menyempurnakan sosok Linda yang tetap penuh sisi problematik. Pada suatu malam, Bradley menceritakan masa lalunya menyakitkan yang diyakini jadi penyebab tabiat buruknya kini. "Monster tidak lahir begitu saja, melainkan dibuat", ucap Linda.
Linda yang perlahan menampakkan wajah liarnya pun ibarat monster yang diciptakan oleh perlakuan Bradley. Bedanya, jika Bradley adalah monster yang meneror semua kalangan, Linda cuma menjadi monster bagi si (mantan) bos. Linda menjadi monster sebagai caranya berbicara memakai bahasa yang bisa Bradley mengerti. Bahasa kekejaman.
Rachel McAdams sempurna memerankan Linda melalui keseimbangan performa dramatik yang memantik simpati, gaya komedik yang selalu efektif menyulut tawa, sekaligus keliaran yang sempat membuat saya curiga Send Help bakal berevolusi menjadi versi masa kini bagi Misery (1990).
Mengenai horornya, Sam Raimi memaksimalkan rating "R" pertama yang ia dapat dalam 26 tahun (The Gift jadi yang terakhir). Send Help adalah tontonan brutal yang menyakitkan sekaligus menjijikkan. Raimi tahu cara mengganggu kenyamanan penonton lewat pengarahannya yang serba hiperbolis. Cairan dari tubuh serangga yang dikunyah muncrat dengan begitu deras, demikian pula darah babi hutan yang bak mengalir lewat pompa pendorong berkekuatan tinggi.
Sebagaimana guliran ceritanya, pengadeganan Raimi, terutama terkait timing kehadiran sebuah teror, juga piawai mengecoh ekspektasi. Dibarengi setumpuk humor gelap yang belakangan memudar dalam karya-karyanya, lewat Send Help, Sam Raimi kembali berbicara memakai bahasa yang dipahami serta digemari para penggemarnya.

.png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar