REVIEW - PRIMATE
Jika membicarakan kebrutalan simpanse, peristiwa yang pertama muncul di ingatan adalah penyerangan Travis, simpanse peliharaan Sandra Herold, terhadap Charla Nash, yang membuatnya cacat permanen, termasuk mengalami kerusakan parah di area wajah. Kasus itu mencuatkan ragam pokok bahasan, dari persoalan psikis hewan, proses mengatasi duka, hingga etika eksperimen. Primate tidak tertarik mengupas hal-hal di atas.
Film karya Johannes Roberts ini lebih tertarik pada fakta bahwa simpanse, bermodalkan kekuatan otot yang 1,35 kali lebih kuat dari manusia serta kemampuan bergelantungan di mana saja, merupakan mesin pembunuh yang efektif. Sebuah nostalgia untuk era 80-an dan 90-an sewaktu natural horror dan slasher mencapai puncak kejayaan dengan menjadikan pembantaian sebagai komoditas hiburan.
Sang simpanse bernama Ben. Dia bukan karakter CGI, bukan pula hewan sungguhan biarpun nampak begitu nyata. Miguel Torres Umba berakting dalam balutan kostum dan tata efek prostetik yang seluruhnya luar biasa. Ben tinggal di rumah mewah di Hawaii bersama keluarga Lucy (Johnny Sequoyah) yang memperlakukannya bak anak kandung.
Setelah bertahun-tahun meninggalkan rumah, Lucy membawa beberapa temannya ke rumah untuk menghabiskan liburan. Ben pun nampak bahagia menyambut kepulangan "si kakak", sampai perlahan diketahui ia telah terjangkit rabies yang mengubahnya dari figur adik menggemaskan jadi monster pembunuh brutal.
Sehari-hari, Ben dirawat oleh Adam (Troy Kotsur), ayah Lucy, seorang novelis ternama yang juga seorang kawan tuli. Komunikasi dilakukan memakai bahasa isyarat, yang oleh Johannes Roberts dibiarkan mengalir dalam kesunyian. Selalu menyenangkan tiap mendapati "film studio" yang tak merasa perlu menciptakan kebisingan demi meniadakan kantuk penonton kasual.
Pendekatan tersebut dipertahankan kala teror Ben dimulai, di mana banyak jumpscare tak memerlukan suara berisik guna mengumumkan kehadirannya. Musik bernuansa 80-an garapan Adrian Johnston lebih berfungsi sebagai alat pembangun suasana daripada senjata penggedor jantung.
Atmosfer mencekam pun tercipta. Terutama saat kita berkesempatan menatap Ben, yang di satu titik menampakkan seringai yang seolah menggaungkan sajak kematian, sementara bulu acak-acakan di tubuhnya menguarkan aroma darah memuakkan.
Sayang, pengolahan ketegangannya cenderung inkonsisten, saat Roberts kerap berlama-lama menggulirkan jalannya adegan, seperti tengah mengulur waktu karena menyadari naskah buatannya bersama Ernest Riera mengandung cerita setipis tisu. Inilah dampak ketiadaan eksplorasi psikologis, entah bagi karakter manusia maupun simpanse. Penonton hanya dibuat menunggu kematian-kematian yang dijembatani oleh kekosongan.
Tapi memang begitulah cara kerja horor old-school yang filmnya jadikan rujukan utama. Setidaknya Primate senantiasa mendatangkan kepuasan tatkala Ben merenggut nyawa korbannya. Ada kecerdikan dalam pengarahan sang sutradara. Di tangan sineas minim kompetensi, deretan kematian film ini bakal penuh ketidakjelasan, entah karena terlalu gelap, atau akibat kamera yang terlalu bergoyang maupun diposisikan terlalu dekat dari objek.
Roberts tahu cara memperoleh keseimbangan dengan tidak mengumbar terlampau banyak, namun tetap membuat penonton merasa sudah diajak mengintip kekerasan yang terjadi dalam takaran memadai. Apakah perlu? Sebenarnya tidak, mengingat kekerasan berlebih termasuk ciri subgenre yang dijadikan kiblat, namun kecerdikan penyutradaraannya tetap layak diakui.

%20(1).png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar