REVIEW - SEBELUM DIJEMPUT NENEK

Tidak ada komentar

Hantu di horor Indonesia seringkali lucu. Para lelembut ini berhenti nampak mengerikan seiring terdongkraknya popularitas horor yang kini hadir minimal sekali seminggu, sehingga memaksa mereka muncul sesering mungkin di layar bak sosok narsis. Di Sebelum Dijemput Nenek, setidaknya hantu-hantu memang disengaja melucu, tanpa peduli lagi akan citra selaku figur penebar teror. 

Semua berawal dari kematian Mbah Siyem (Sri Isworowati), salah satu penghuni Dusun Wangun. Akibatnya, dua cucu kembar simbah yang telah lama berseteru, Hestu (Angga Yunanda) dan Akbar (Dodit Mulyanto) kembali berkumpul. Biarpun kembar, paras keduanya sungguh amat berlainan. Tidak perlu saya jabarkan siapa yang dianggap lebih rupawan. 

Perbedaan muka tersebut tidak dijelaskan, tapi sejak kapan komedi perlu penjelasan logis? Naskah yang ditulis oleh sang sutradara, Fajar Martha Santosa, bersama Sandi Paputungan, tidak memiliki kewajiban tersebut, kendati mereka melewatkan kesempatan untuk melipatgandakan keabsurdan dengan membuat publik menganggap Hestu sebagai si buruk rupa. 

Selepas pemakaman, bukannya kedamaian yang si kembar rasakan, melainkan ketakutan, karena hantu Mbah Siyem menampakkan diri sembari berpesan bakal menjemput mereka dalam tujuh hari. Dibantu Kotrek (Oki Rengga) si preman kampung dan Nisa (Wavi Zihan) yang semasa kecil pernah membuat Hestu jatuh hati, mereka pun mencari cara menggagalkan penjemputan si nenek.

Presentasi horor yang dipenuhi penampakan berisik nan generik tentunya sudah bisa kita duga, tapi memodifikasi pakem horor memang bukan tujuan Sebelum Dijemput Nenek. Kelemahan tersebut ditambal oleh banyolan kreatif yang datang dengan gaya "semau sendiri" khas "komedi tongkrongan" Jawa. Bahkan credits-scene miliknya pun mempertahankan kreativitas menggelitik yang acap kali mengecoh ekspektasi tersebut.

Cukup disayangkan, film ini terjebak dalam tabiat buruk sinema arus utama Indonesia yang memaksa pelakon non-Jawa melafalkan dialog Bahasa Jawa secara ala kadarnya. Oki Rengga sudah berusaha sekuat tenaga, namun logatnya tetap terkesan janggal. Begitu pula Wavi Zihan yang membawa gaya "Jawa FTV" kala berdialog secara dramatis (tutur katanya membaik di situasi yang lebih tenang). 

Untunglah sang aktris sanggup melunasi kealpaan itu saat berhasil menghidupkan karakter paling lucu dan berwarna dalam film ini. Dihempaskannya segala wujud keeleganan, tatkala Nisa yang awalnya terlihat seperti tipikal gadis kampung baik-baik, mendadak berubah 180 derajat pasca sebuah twist yang jadi satu lagi bentuk kreativitas filmnya. 

Twist lain kelak bakal kita temukan di penghujung durasi, yang turut dipakai untuk memberi resolusi bagi elemen dramanya, namun sayangnya tidak secara solid. Naskahnya menerapkan flashback yang luput mengungkap fakta baru maupun menguatkan penokohan, tidak pula menjustifikasi sikap keras salah satu karakternya di masa lalu. Penonton dipaksa menerima bahwa semuanya baik-baik saja. 

Tapi toh humornya senantiasa jadi penolong, dengan puncak keabsurdan terjadi saat Dusun Wangun terjebak dalam suatu serbuan maut yang eksekusinya meminjam formula film zombi, lalu menggesernya ke ranah mistisisme Indonesia. Di momen tersebut harga diri para hantu dilucuti sepenuhnya, tapi setidaknya, mereka bukan lagi sosok-sosok membosankan dengan kehadiran menjemukan sebagaimana di deretan horor medioker tanah air. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: