STAR TREK INTO DARKNESS (2013)

Tidak ada komentar
Saya tidak tumbuh pada masa dimana Star Trek sedang berada di era kejayaan. Pada saat film terakhirnya rilis (Star Trek: Nemesis) saya baru berumur 10 tahun. Apalagi berdasarkan apa yang saya temui di masyarakat, kepopuleran Star Wars mengalahkan Star Trek. Banyak yang menganggap Star Wars dengan segala hal di dalamnya jauh lebih keren dibandingkan Star Trek yang dianggap terlalu geeky. Saya sendiri yang belum pernah menonton satupun film Star Trek tidak bisa membandingkan dua franchise yang saling bersaing ini. Kemudian datang J.J. Abrams dengan reboot miliknya di tahun 2009 lalu. Disaat sang pesaing sedang "tertidur", Abrams membawa Star Trek ke era baru, membuatnya menjadi sebuah tontonan yang keren, menggaet fans baru sekaligus membuat para Trekkies (fans Star Trek) kembali berbangga hati sebagai penggemar fanatik. Kini Abrams pun kembali dipercaya menahkodai sekuelnya yang sempat direncanakan rilis pada 2012 tapi mundur setahun karena Abrams menginginkan hasil yang lebih maksimal. Dengan bujet lebih besar, kembalinya bintang lama seperti Chris Pine, Zachary Quinto dan Zoe Saldana serta munculnya pemain baru macam Benedict Cumberbatch dan Alice Eve, Into Darkness siap membawa kita mengikuti penjelajahan baru dari USS Enterprise. 

Dalam sebuah misi di Planet Nibiru, Kapten Kirk (Chris Pine) melakukan sebuah keputusan menyelamatkan Spock (Zachary Quinto) yang membuatnya melanggar salah satu peraturan utama di Starfleet. Hal itu membuat Kirk harus turun pangkat dan kehilangan Enterprise yang ia pimpin. Namun terjadilah sebuah serangan terhadap markas Starfleet oleh mantan agen Starfleet John Harrison (Benedict Cumberbatch) yang berujung pada tewasnya Admiral Pike (Bruce Greenwood). Kematian terhadap mentornya membuat Kirk bernafsu untuk memburu Harrison yang diketahui kabur ke Kronos, planet tempat tinggal bangsa Klingon yang selama ini bermusuhan dengan Bumi. Mendapatkan jabatannya kembali sebagai kapten, Kirk kembali memimpin USS Enterprise untuk membunuh Harrison di Kronos dalam sebuah misi rahasia yang berbahaya. Karena jika pihak Klingon mengetahui hal tersebut, akan terjadi perang besar-besaran antara Klingon dan Bumi. Namun begitu tiba di Kronos, Kirk mengetahui bahwa ada fakta serta rahasia yang jauh lebih besar mengenai identitas John Harrison dan motivasinya melakukan serangan terhadap pihak Starfleet. Dengan penggarapan dari Abrams, Star Trek Into Darkness tidak hanya menjadi sebuah tontonan blockbuster musim panas yang penuh dengan adegan aksi bombastis serta efek CGI mewah namun juga punya jalan cerita yang begitu menarik, penuh kejutan serta emosional.

Film ini sudah dibuka dengan sebuah adegan yang berujung pada momen dimana Spock menanti kematian menjemputnya di sebuah kawah gunung berapi. Meski pada akhirnya dia selamat, tapi adegan yang dieksekusi dengan begitu epik tersebut seolah sudah menjadi petunjuk bahwa film ini nantinya akan menjadi sebuah tontonan emosional dengan tone yang cukup gelap seperti judul dan apa yang sudah terlihat pada trailer-nya. Into Darkness memang lebih gelap dari film pertamanya, sekaligus lebih emosional dan tidak kalah menegangkan. Kita akan melihat Spock yang nyaris mati diawal, Admiral Pike yang akhirnya meregang nyawa, kemudian momen klimaks di luar angkasa yang membuat kita tidak yakin apakah semua karakter utama sekaligus pendukung di film ini akan mengakhiri misi dalam keadaan hidup, sampai sebuah "kematian" menjelang babak akhir filmnya yang sanggup ditampilkan dengan begitu emosional dan menggugah. Judul filmnya memang sanggup menggambarkan bahwa Star Trek akan berjalan menuju kegelapan disini (Star Trek Into Darkness tanpa ":" di judulnya). Meskipun gelap, tapi naskah yang ditulis keroyokan oleh Roberto Orci, Alex Kurtzman dan Damon Lindelof juga menyertakan berbagai humor segar yang sanggup memancing tawa. Berbagai humor tersebut bisa tereksekusi dengan baik lewat interaksi antar karakternya yang begitu hidup, ditambah lagi karakter-karakter pendukung yang ada juga mendapat porsi yang seimbang.
Hubungan antara Kirk dan Spock masih dinamis. Ada ikatan persahabatan yang begitu kuat hingga mampu menghadirkan konflik perbedaan diantara keduanya, interaksi yang memancing tawa hingga tentunya momen emosional yang begitu kuat. Karakter-karakter lain macam Letnan Uhura (Zoe Saldana) juga punya poris tersendiri khususnya lewat kisah asmaranya dengan Spock. Tokoh lainnya juga mendapatkan porsi yang memadahi untuk menunjukkan karakter mereka masing-masing sepeti Bones yang selalu khawatir, Scotty yang kocak tapi bisa diandalkan, Hikaru Sulu yang kali ini berkesempatan menjadi kapten Enterprise, Chekov yang selalu cemas sampai Dr. Carol Marcus yang diperankan oleh Alice Eve dan sanggup berakhir tidak hanya sebagai pemanis mata belaka. Namun untuk urusan karakter baru, sosok John Harrison yang diperankan Benedict Cumberbatch jelas mencuri perhatian. Tidak hanya aktingnya tapi juga mengenai karakter yang ia mainkan, dimana sebelum filmnya rilis sempat ada spekulasi mengenai siapa sebenarnya John Harrison ini. Pada akhirnya jika bicara soal akting, Cumberbatch sanggup memuaskan saya sebagai karakter villain yang terlihat kalem diawal namun sanggup begitu intimidatif saat sudah memperlihatkan kekejamannya. Karakternya sanggup menghadirkan ambiguitas yang begitu kental dan menciptakan misteri yang menarik untuk diikuti. Apalagi saat karakternya disandingkan dengan Kapten Kirk dimana Kirk sebagai protagonis akan terkadang membuat kita merasa bahwa apa yang ia lakukan seringkali bukanlah hal yang benar, termasuk jika dibandingkan dengan Harrison yang notabene adalah antagonis.

Dengan jeli, naskah dan eksekusi Abrams di film ini juga memberikan begitu banyak referensi pada film Star Trek terdahulu, khususnya film kedua franchise ini (jika anda tidak ingin SPOILER, maka sebaiknya tidak usah mencari tahu apa judul film keduanya). Dengan begitu cerdas, Into Darkness mengadaptasi berbagai aspek dalam film tersebut, lalu mengubah serta memutar balikkannya menjadi sebuah alternate universe yang diciptakan oleh J.J Abrams. Mulai dari elemen plot, hingga sampai beberapa adegan yang termasuk ikonis diadaptasi dalam film ini untuk kemudian menjadi sesuatu yang baru. Tentu saja sebagai film musim panas, Star Trek Into Darkness akan menyuguhkan pada penontonnya berbagai macam adegan aksi bombastis penuh CGI. Lagi-lagi disini ekseksui Abrams membuatnya tidak hanya sekedar rangkaian pameran efek visual belaka, karena semua adegan aksinya sanggup dieksekusi dengan begitu intens dan menegangkan. Skalanya jauh lebih besar jika dibandingkan film pertamanya. Bicara soal CGI dan pengaruhnya terhadap visual film ini, Into Darkness menunjukkan bahwa jika dieksekusi dengan benar, CGI mampu memberikan sebuah pengalaman visual yang begitu luar biasa khususnya dalam hal setting lokasi yang mayoritas berada di luar angkasa dan planet lain. Untuk sementara ini Star Trek Into Darkness adalah film musim panas terbaik tahun ini, dan tentunya menarik menantikan bagaimana J.J. Abrams berpindah kapal untuk menjadi sutradara di Star Wars Epsiode VII.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar