THE RAID 2: BERANDAL (2014)

1 komentar
Ada dua film Indonesia yang paling saya tunggu tahun ini, yang pertama adalah Killers  garapan Mo Brothers yang rilis awal Februari lalu dan yang kedua adalah The Raid 2: Berandal milik Gareth Evans. Kedua film tersebut tidak hanya sama-sama dibuat oleh sutradara yang mumpuni tapi juga sama-sama menjadi official selection dalam Sundance Film Festival awal tahun ini. The Raid 2: Berandal merupakan sekuel yang sudah sangat dinanti menyusul kesuksesan The Raid baik di dalam maupun luar negeri dua tahun yang lalu. Uniknya, film ini awalnya akan dibuat oleh Evans setelah Merantau, bahkan sebuah teaser trailer sudah sempat dirilis. Namun karena faktor kesulitan dana, proyek Berandal pun ditunda dan Gareth Evans berpaling pada sebuah proyek yang berskala lebih kecil dan lebih murah, yaitu The Raid. Pasca kesuksesan besar The Raid yang memberikan standar baru dalam genre film action lewat kebrutalannya, tentu saja ekspektasi sangat tinggi membayangi sekuelnya. Menjanjikan sebuah tontonan dengan skala yang jauh lebih besar dibandingkan film pertama yang hanya berada dalam satu gedung, Berandal tidak hanya membawa kembali Iko Uwais sebagai Rama tapi juga mendapat tambahan suntikan nama-nama besar lain sebut saja Arifin Putra, Oka Antara, Tio Pakusadewo, Alex Abbad, Julie Estelle, sampai Yayan "Mad Dog" Ruhian yang juga kembali tapi memerankan karakter yang berbeda. Semua itu belum termasuk tiga aktor Jepang, Ryuhei Matsuda, Kenichi Endo, serta Kazuki Kitamura.


Kisah dalam Berandal dimulai dua jam setelah film pertamanya selesai, dimana Rama (Iko Uwais) yang masih penuh luka akibat pertarungan brutal yang baru ia jalani dipertemukan dengan Bunawar (Cok Simbara), kepala kepolisian bagian anti-korupsi. Dari situlah Rama mendapat sebuah misi undercover untuk mendekati Uco (Arifin Putra), putera tunggal dari Bangun (Tio Pakusadewo) yang merupakan pucuk pimpinan dari segala kriminalitas di Jakarta. Selama ini Bangun menjalankan aksi kriminalnya dengan bantuan gembong krimina dari Jepang bernama Goto (Kenichi Endo). Misi itu dilakukan untuk mencari informasi tentang para politikus serta petinggi kepolisian yang terlibat korupsi dan mendapat sogokan dari para kriminal tersebut. Untuk menjalankan misinya tersebut, Rama harus mendekam di penjara untuk mengambil perhatian dan mendekati Uco secara diam-diam guna mendapatkan kepercayaannya supaya bisa masuk lebih jauh kedalam bisnis dari Bangun. Tapi tentu saja misi tersebut tidak mudah, karena disisi lain ada juga gangguan dari Bejo (Alex Abbad), seorang gangster ambisius yang memiliki banyak pembunuh berdarah dingin di sekitarnya. Bejo jugalah yang diawal film diperlihatkan membunuh Andi (Donny Alamsyah), kakak Rama dan membuat Rama menyetujui misi itu guna bisa menemukan Bejo.

Seperti yang dijanjikan, Berandal memang punya cerita yang lebih kompleks daripada sekedar usaha melarikan diri dari sebuah gedung, skala yang jauh lebih besar, dan beberapa penjelasan tentang beberapa nama misterius yang disebut pada penghujung film pertamanya seperti Reza dan Bunawar. Gareth Evans tahu benar apa yang harus dilakukan dalam sebuah sekuel. Sekuel yang baik memang harus berani menambah skala atau mengembangkan ceritanya dan bukan hanya mengulang formula yang ada di film sebelumnya. Untuk hal ini, Evans benar-benar mengerti bagaimana membuat sekuel yang punya skala jauh lebih besar tapi tidak asal besar seperti sekuel kebanyakan yang akhirnya malah berujung kekecewaan. Dia memperbesar dan memperluas cakupan ceritanya, membuat ceritanya menjadi lebih kompleks, tapi tetap mempertahankan formula The Raid, yakni rentetan adegan aksi yang tersaji brutal dan terkoreografi dengan indah, Dalam Berandal akan ada banyak unsur dalam ceritanya mulai dari kisah gangster, pihak-pihak korup, perebutan kekuasaan, balas dendam, hingga konfik yang mengiringi sebuah misi undercover. Sekilas mungkin akan terlihat rumit apalagi melihat ada banyaknya karakter yang hadir, tapi sesungguhnya cerita dalam Berandal tetaplah sangat sederhana. Bahkan sesungguhnya banyak konflik yang bisa diperdalam namun hanya tampil secara dangkal, semisal konspirasi gangster dan kepolisian sampai hubungan antar-tokoh termasuk dilema yang biasa dihadapi polisi undercover dalam hal ini Rama dengan Uco yang selalu berada di dekatnya.
Banyak potensi cerita yang tidak dieksplorasi dan terasa sebagai tempelan belaka. Kesan rumit muncul juga bukan karena kisahnya yang kompleks tapi lebih karena Gareth Evans memang kurang piawai dalam merangkai cerita. Tapi toh plot yang ada dalam film ini sudah menjadi pondasi yang cukup untuk membuat filmnya tidak terasa kosong. Lagipula siapa yang menjadikan aspek cerita sebagai alasan utama mereka menonton Berandal? Itu sama saja anda menonton film Jackass untuk mencari kualitas akting sekelas Oscar disana. Biarlah ceritanya tempelan, dan biarlah Gareth kurang piawai merangkum cerita, karena yang paling penting ia begitu hebat dalam menyajikan rangkaian adegan aksi brutal penuh kegilaan yang tiada henti. Darah dimana-mana, suara tulang retak dan tubuh dihantam, sayatan pisau yang menyakitkan, hantaman palu yang membuat ngilu, semuanya jadi sebuah hiburan luar biasa yang tersaji disini. Seperti yang sudah saya sebutkan pula, skala adegan aksinya pun lebih besar. Tidak hanya body count-nya bertambah, tapi juga jenis adegan aksinya lebih luas dengan set piece yang jauh lebih besar. Jika dalam trailer-nya kita sudah melihat adegan mobil menabrak halte busway, dalam filmnya akan ada pula adegan car chase yang seru dan tidak hanya menjanjikan adegan mobil saling tabrak dan saling kejar tapi juga adegan pertarungan dalam mobil yang sempit. Yang paling penting dosis kebrutalannya ditingkatkan lagi. Yang jadi keunggulan The Raid maupun Berandal adalah setiap pukulan atau sayatan yang muncul tidak hanya sambil lalu tapi sanggup meninggalkan rasa nyeri dan sakit bagi penontonnya.
Salah satu peningkatan signifikan film ini dibanding film pertamanya ada pada aspek visual. Baik itu saat adegan pertempuran yang brutal maupun pada saat tidak ada pertarungan, Berandal sering menghadirkan gambar-gambar indah. Sebagai contoh salju yang muncul pada "penutup" kisah Prakoso, atau lampu-lampu neon dalam ruangan yang membuat saya merasa Gareth sedang keranjingan menonton film-filmnya Nicolas Winding Refn saat membuat film ini. Sinematografi yang indah itu membuat film ini tidak hanya terasa brutal tapi juga bisa begitu indah. Selain sinmeatografi indah, pergerakan kamera yang "ajaib" juga membuat berbagai adegannya terasa lebih epic dan menegangkan. Bukti kehebatan gerak kameranya tersaji misal dalam adegan pertarungan penjara yang banyak menampilkan long take ataupun adegan car chase yang mengambil setting di lokasi yang begitu sempit itu. Belum lagi iringan scoring baik yang bisa memacu adrenaline sampai yang terasa menyayat garapan trio Fajar Yuskemal, Aria Prayogi dan Joseph Trapanese. 
Bicara soal kekerasan, banyak pihak yang mengatakan The Raid maupun Berandal hanya menyajikan kekerasan tanpa tujuan, hanya style lebih tepatnya. Saya tidak setuju. Kebrutalannya substansial karena terjadi pada peperangan dunia hitam yang begitu kejam. Beberapa mungkin berlebihan tapi bagi saya banyak yang masuk akal. Tapi jika anda masih mengatakan semuanya berlebihan mungkin anda perlu sesekali "menengok" dunia "bawah tanah" seperti yang hadir disini, dan anda akan sadar betapa kekerasan dunia nyata sudah sampai pada taraf yang tinggi. Tentu saja yang paling bertanggung jawab atas berbagai kebrutalannya adalah karakter-karakter yang tersaji disini. Memang tidak ada lagi Mad Dog, tapi sebagai gantinya ada trio pembunuh gila milik Bejo, yaitu duo kakak beradik sinting Hammer Girl (Julie Estelle) dan Baseball Bat Man (Very Tri Yulisman) serta The Assassin (Cecep Arif Rahman). Saya sangat suka sosok Hammer Girl disini. Jika film pertama didominasi para pria macho, sangat menyenangkan melihat karakter wanita badass dalam film ini. Adegan yang pertama kali memperlihatkan dia beraksi dengan dua palunya juga benar-benar brutal dan gila. 

Lalu ada sosok The Assassin yang bisa dibilang merupakan versi lebih "pendiam" dari Mad Dog. Biarpun lebih pendiam, sosoknya tetaplah mengerikan, apalgi dengan bersenjatakan dua buah Karambit (senjata tradisional Minangkabau). Pertarungannya dengan Rama di klimaks juga tersaji dengan begitu seru, menegangkan serta tentunya penuh darah meski saya masih lebih menyukai pertarungan Rama dan Andi melawan Mad Dog. Yayan Ruhian sendiri kembali sebagai Prakoso yang meski perannya tidaklah banyak tapi memiliki subplot yang cukup menarik, bahkan diakhiri dalam salah satu adegan paling indah dalam film ini. Tapi villain yang mencuri perhatian tidak hanya mereka yang jago bela diri saja, karena Arifin Putra sebagai Uco adalah jawaban atas keinginan saya atas sosok villain yang kompleks dan tidak terasa dua dimensi. Dengan akting yang bagus, Arifin Putra sukses menghadirkan sosok Uco yang mungkin tidak jago bela diri tapi tetap terasa brutal, bengis dan yang paling membuatnya menarik adalah ambisinya yang luar biasa untuk menjadi sosok besar yang ditakuti. Bicara soa akting, mungkin Berandal tidak menghadirkan banyak akting-akting luar biasa, tapi masing-masing karakternya memuaskan. Banyak munculnya aktor senior baik dengan peran yang besar maupun hanya numpang lewat juga jadi faktor pendukung keberhasilan tersebut. Begitu pula dengan Iko Uwais yang sedikit mengalami peningkatan kualitas berakting. Sayangnya salah satu masalah fatal yang juga muncul dalam The Raid kembali terasa, yaitu beberapa dialog yang tidak jelas terdengar, dan beberapa adalah dialog penting yang memberi penjelasan tentang "apa" dan "siapa".

The Raid 2: Berandal adalah sebuah contoh sempurna sebuah sekuel serta definis yang tepat mengenai sekuel harus lebih besar. Lebih besar dalam segala hal, tapi diluar dugaan juga lebih indah. Berandal mungkin tidak setegang film pertamanya dan tidak sampai membuat saya sesak nafas. Masih ada beberapa ruang demi ceritanya yang cukup lebar untuk bernafas sambil bersiap menanti serbuan demi serbuan kebrutalan yang menanti di depan. Alurnya berjalan cukup lambat di beberapa bagian, dan memang durasinya sangat panjang, tapi tidak pernah terasa membosankan. Wajar saja jika tingkat ketegangan dan klaustrofobiknya menurun, karena film pertamanya adalah sebuah action dengan bau sruvival yang tentunya tidak pernah menginjak rem, sedangkan Berandal lebih banyak berfokus pada pengembangan cerita dan karakternya yang cukup banyak sehingga tidak mungkin bagi film ini untuk terus-terusan digeber dengan kecepatan tinggi karena bisa jadi akan terasa terlalu dipaksakan. Kesenangan saya juga bertambah karena salah satu adegan paling keren dalam film ini diambil di sebuah benteng tempat wisata yang terletak di kota tempat asal saya. Pada akhirnya, The Raid 2: Berandal adalah sekuel yang sempurna dengan taraf kegilaan serta kebrutalan yang ditas rata-rata. Sinting! 

1 komentar :

Comment Page:
Izaz Choi mengatakan...

sungguh lucu bila di indonesia dengan iklim tropisnya turun salju