PITCH PERFECT 2 (2015)

4 komentar
Tiga tahun lalu Pitch Perfect membuka jalan bagi Hollywood untuk kembali mendatangkan timbunan uang lewat sajian musikal. Berbekal lagu-lagu radio hits yang dikemas dalam bentuk akapela, film ini menjadi sleeper hit. Pengaruhnya pun begitu kuat pada pop culture dengan begitu banyaknya orang yang meng-cover ulang lagu When I'm Gone dengan bermodalkan gelas plastik sebagai perkusi (even Kira Kazantsev won Miss America 2015 after performing "Happy" with cup as a percussion). Tapi harus disadari bahwa kesuksesan film pertamanya cukup banyak dipengaruhi oleh elemen kejutan yang dirasakan penonton. Saat itu mayoritas dari kita tidak menyangka akapela bisa menjadi sesuatu yang keren dan gelas bisa menjadi perkusi yang menghasilkan ritme menarik. Saat itu juga adalah kali pertama penonton berkenalan dengan anggota Barden Bellas yang memiliki karakterisasi berbeda-beda dengan keunikan masing-masing. Kita dikejutkan oleh semua hal "segar" itu.

Sebagai sekuel, akan percuma bagi Pitch Perfect 2 untuk mengulangi semua itu. Sayangnya hal itulah yang pada mayoritas bagian dilakukan oleh film ini. Tentu ceritanya sudah berbeda, dimana Barden Bellas kini semakin dikenal sebagai grup akapella paling populer di Amerika Serikat khususnya setelah tiga kali beruntun memenangkan lomba nasional. Bahkan mereka mendapat kesempatan tampil di Kennedy Center dalam rangka peringatan ulang tahun Presiden Obama. Namun kesempatan besar itu justru dapat menjadi awal kehancuran mereka setelah kecelakaan memalukan yang menimpa Fat Amy (Rebel Wilson). Akibatnya The Bellas mendapatkan skorsing dan menjadi bahan olok-olok masyarakat. Satu-satunya cara mendapatkan reputasi mereka kembali adalah dengan memenangkan kejuaran dunia akapela yang akan diadakan di Kopenhagen, Denmark. 
Dasar cerita dalam naskah tulisan Kay Cannon sebenarnya sudah bergerak ke arah yang tepat. Kompetisi lebih besar, konflik yang bukan lagi bertemakan "membangun" tapi "mempertahankan", hingga fakta bahwa anggota The Bellas akan segera lulus yang berarti kejuaraan dunia itu mungkin bakal menjadi penampilan terakhir mereka. Ketiganya menjadi formula yang sempurna untuk menggerakkan cerita kearah baru sekaligus modal untuk membangun kisah yang hangat, bahkan bisa jadi emosional. Meminjam istilah Fast & Furious bisa jadi ini merupakan one last ride bagi The Bellas. Tapi sungguh disayangkan kesemua aspek tersebut pada akhirnya tidak ada yang tersaji maksimal. Daripada melakukan eksplorasi kuat, Elizabeth Banks yang kali ini juga berperan sebagai sutradara lebih memilih menjadikan ceritanya sebagai jembatan untuk adegan musikal satu ke yang lain. Konflik tidak pernah benar-benar mencapai titik puncak, dan resolusi hadir begitu cepat lewat cara yang terkesan menggampangkan. Momen graduation dan perpisahan bisa jadi bagian paling emosional, tapi yang kita dapat hanya adegan singkat saat The Bellas berfoto bersama setelah sebelumnya menyanyikan lagu "When I'm Gone" bersama di depan api unggun.

Pitch Perfect 2 seolah melupakan penggalian karakter yang jadi kekuatan penting film pertamanya. Baik mereka yang mendapatkan sub-plot maupun para pemeran pembantu yang tugasnya menyegarkan suasana tidak lagi semenarik dulu. Mereka yang mendapat konflik personal menderita akibat permasalahan yang sama dengan cerita utama film, yakni tidak adanya penghantaran sekaligus resolusi konflik yang mumpuni. Beca (Anna Kendrick) memegang peran penting dalam perpeahan yang terjadi dalam The Bellas saat ia diam-diam magang di sebuah perusahaan rekaman. Tapi perselisihan nyata berkaitan akan hal itu hanya benar-benar terjadi satu kali, dan tidak sampai 10 menit kemudian kita sudah mendapat penyelesaian dengan cara yang amat menggampangkan. Fat Amy yang mendapat porsi romansa disini tidak lebih dari usaha memberikan lebih banyak screen time pada karakter favorit penonton. Sedangkan Emily (Hailee Steinfeld) si anggota baru mendapati tidak adanya ruang lagi bagi pengembangan sub-plot miliknya. Padahal Emily adalah karakter menarik: gadis cantik yang berbakat tapi clumsy dan mendapati impiannya bergabung dengan The Bellas tidak seindah angan-angan. Terlalu banyak yang coba diceritakan film ini hingga tidak ada satupun yang maksimal walau potensi tiap kisah begitu besar termasuk salah satunya "olok-olok" terhadap budaya cover akapela.
Saya juga dikecewakan oleh bagaimana para supporting character dihadirkan. Pada sosok mereka, faktor "kesegaran" yang diawal saya sebutkan benar-benar berpengaruh. Lily (Hana Mae Lee) dengan tingkah absurd yang menjurus creepy adalah karakter favorit saya di film pertama. Kali ini porsi eksploitasi kegilaannya bertambah secara kuantitas tapi menurun secara kualitas. Masih ada beberapa adegan yang mengundang tawa, tapi efek kejut yang telah menurun jelas amat berpengaruh. Ditambah lagi Eliabeth Banks nampak kurang mampu memaksimalkan sosok Lily. Now she's just weird but not hillarious, and I missed her beatbox performance. Stacie (Alexis Knapp) lebih parah lagi. Setelah pembuka yang cukup efektif (that "I'll do whoever" joke) karakternya nyaris menghilang dari peredaran. Hanya Flo (Chrissie Fit) sang imigran dari Guatemala lewat cerita-cerita sedihnya (baca: ekstrim) yang cukup berhasil dimaksimalkan. Permasalahan karakter ini berujung fatal, karena disaat konfliknya membahas tentang kebersamaan, penonton justru tidak lagi terlalu terikat dengan mereka semua, baik secara individu maupun satu kesatuan Barden Bellas.

Tapi biar bagaimanapun Pitch Perfect 2 adalah komedi musikal, dengan aspek musikal sebagai faktor yang lebih dititik beratkan. Meski lagi-lagi tidak sekuat film pertamanya, momen-momen musikal yang dimiliki film ini masih terasa menyenangkan. Saya masih beberapa kali dibuat ingin berdiri, menghentakkan kaki, ikut bernyanyi dan menari menikmati rangkaian lagu yang dibawakan. Puncaknya adalah pada klimaks kejuaraan dunia yang menjadi pertarungan antara The Bellas dengan grup akapela dari Jerman, "Das Sound Machine". Tidak hanya antara keduanya, klimaks itu juga menjadi gambaran sempurna pertarungan antara kesempurnaan teknik dengan kesederhanaan yang menggunakan hati. Sepanjang film, The Bellas disibukkan dengan berbagai koreografi dan gimmick unik yang pada akhirnya justru merugikan mereka. Pada kejuaraan inilah mereka menemukan kembali esensi harmoni The Bellas lewat sebuah nomor musikal yang meski baik secara teknis (opening clap-nya jelas diniati sebagai the next "cups song moment"), tapi performance dari hati yang terasa emosional itu adalah daya pikat utamanya. Setidaknya setelah rangkaian konflik yang kurang maksimal, film ini ditutup dengan klimaks hingga ending memuaskan.

Verdict: The aca-mazing climax and (mostly) crowd-pleasing musical numbers only help a little because of the lack of rich character moments that made the first movie such a joyful ride. Too many promising things mixed into this sequel but none of them were properly developed.


4 komentar :

Comment Page:
Nadia Amie mengatakan...

Halo fella, kapan review chappie?
Cuman sekedar pingin komparasi saja dgn pendapat q sendiri.

Rasyidharry mengatakan...

Hehe kayaknya nggak berniat nonton itu

Nadia Amie mengatakan...

Hehe, brarti q gak salah kalo q bener2 bosen sama itu film.
pemikiran kita sama rupanya.

Rasyidharry mengatakan...

Cuman udah ragu aja sama Blomkamp semenjak Elysium, dan Chappie sepertinya mirip (big ideas, cliche and messy execution)